Hari 1 Turnamen Gubernur DKI, Tim IBL Atasi Tim Kobatama

Aspac Jakarta membuktikan bahwa mereka memang satu tingkat di atas Pacific Caesar Surabaya. Dalam laga perdana kemarin, Aspac sebagai tim IBL menunjukkan bahwa mereka lebih unggul. Pacific menyerah di 89-43.

Demikian pula Pelita Jaya Esia Jakarta yang nampaknya benar-benar mulai membidik target juara di setiap turnamen apapun belum mampu dihadang oleh sebuah tim Kobatama Aliansi Jakarta. Skor akhir 82-36 menunjukkan siapa yang berada di level lebih atas.

Pada laga ketiga, Bima Sakti Nikko Steel Malang melawan Citra Satria Aceh, Bima Sakti 72-68 menang atas sesama tim IBL ini.

Ada Apa Dengan Mahasiswa (Makassar dan Bandung) Masa Kini?

Mari rehat sekitar 5 menit dari main basket dan menoleh kepada ulah mahasiswa di 2 kota ini. Barangkali ini salah satu sebab mengapa Libama akhir-akhir ini juga menjadi sepi!

Makassar

Sekitar dua tahun lalu gw berkunjung ke Makassar dan bertemu salah seorang teman di sana. Dalam salah satu perbincangan, gw bertanya kepada dia, “Bro, kenapa sih mahasiswa Makassar saat ini sepertinya mudah sekali melakukan aksi kekerasan dan sering berkelahi antar kampus?” Saat itu berita di media memang kerap diisi oleh berita perkelahian antar mahasiswa di Makassar.

“Gw juga nggak ngerti Dan,” kata teman gw, “gw malah pernah menyaksikan sendiri ada dua tukang becak berkelahi dan dilerai oleh temannya yang berteriak ‘hoi, jangan berkelahi kalian! Memalukan, kalian seperti mahasiswa saja!’, gw benar-benar malu saat itu.”

Kemarin mahasiswa Makassar kembali mempertunjukkan kekuatan otot untuk sebuah masalah yang seharusnya dipecahkan dengan kekuatan nalar otak. Mahasiswa bentrok dengan aparat kepolisian dan bikin onar. Teman gw di twitter sampai berceletuk kurang lebih “Kurikulum mahasiswa di Makassar apaan sih? Mahasiswanya buas begini.”

Gw yakin tujuan mahasiswa Makassar tersebut adalah (mungkin) kebaikan. Namun caranya jelas sangat memalukan. Gw nggak yakin orang Makassar sendiri bangga punya generasi mahasiswa seperti itu.

Agar tidak terjadi salah paham, mari kita menganggap bahwa hal itu hanya dilakukan oleh segelintir mahasiswa saja. “Nila setitik merusak susu sebelanga.” sentil gw dalam hati.

Bandung

Sebuah niat yang baik jika diungkapkan dengan cara yang salah akan merusak semuanya. Mahasiswa di Makassar memberi contoh yang “cerdas” dalam hal ini.

Ibarat setali tiga uang, mahasiswa di Bandung bagi gw melakukan hal yang kurang-lebih sama. Hanya saja bentuknya berbalik 180 derajat. Gw sangat bingung. Sangat-sangat-sangat bingung dengan kelakuan beberapa (agar tidak terlihat menggeneralisasi) mahasiswa di Bandung beberapa tahun belakangan ini pula.

Ada satu kegiatan atau kelakuan yang (gw yakin) niatnya baik, namun caranya menyebalkan (bahkan saat menulis ini pun gw masih merasa sangat gemas!). Apakah itu? NGAMEN BARENG DI PEREMPATAN JALAN!

Entah apa yang ada di otak mahasiswa-mahasiswa itu. Kreatif? Solidaritas? Sok asik? Iseng? Mengumpulkan dana amal? Atau apa? Yang jelas, bagi gw sebagai pengguna jalan raya, mahasiswa-mahasiswa ini sangat tidak kreatif, memalukan, dan mengganggu ketertiban umum!

Mengganggu ketertiban umum karena mereka menghambat laju kendaraan di lampu merah. Mereka membahayakan diri mereka sendiri dan para pengguna jalan. Bila mereka merasa keren, well, bagi gw tidak sama sekali. Mahasiswa-mahasiswa ini terlihat menyebalkan dan sangat mengganggu. Lagunya jelek. Meminta duit dengan sedikit memaksa.

Enough said. I just don’t have no idea what the hell do those students have in their minds. I dare say this because I didn’t do that when I was a college student. I did better. Way better!