Sudut Pandang “Freakonomics” (versi gw) atas Merosotnya Prestasi Olahraga Indonesia

Pernah bertanya-tanya nggak, mengapa prestasi olahraga Indonesia cenderung menurun? Hampir di semua cabang olahraga, prestasi Indonesia seolah mengalami stagnansi bahkan degradasi.

Di bulu tangkis, pasca Taufik Hidayat, kita belum menemukan lagi seorang pebulutangkis yang benar-benar hebat. Pada cabang olahraga paling populer, sepak bola, selain prestasi yang masih belum juga bisa membuat bangga, ulah suporter pun tak kalah usangnya.

Setelah menjuarai piala Wimbledon junior, prestasi Angelique Wijaya seperti tenggelam, dan Angie hingga kini adalah satu-satunya petenis Indonesia yang pernah diperhitungkan dunia setelah Yayuk Basuki. Secara keseluruhan, di SEA Games pun, Indonesia tak lagi menjadi negara pendulang emas terbanyak.

Bagaimana dengan bola basket? Kita masih selalu merasa berada di bawah bayang-bayang Filipina.

Penyebab dan keluhan standar

Fasilitas olahraga yang kurang memadai, pembinaan yang tidak rapih, kompetisi dan kejuaraan lokal yang semrawut, penghargaan yang tidak seberapa, kekurangan dana, dan masih banyak lagi segudang alasan yang membuat prestasi cabang maupun keseluruhan olahraga kita mandeg bahkan mundur.

Sudut pandang freakonomics (versi gw..hehe..)

Ada sebuah buku berjudul Freakonomics, ditulis oleh Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner. Buku laris ini dianggap “nyeleneh” karena mencoba melihat penyebab dari suatu peristiwa atau fenomena dari sebuah sisi yang tersembunyi. Sebuah sisi yang terkadang tidak terpikirkan oleh banyak orang, atau mungkin terlalu tidak mungkin untuk dianggap sebagai penyebab namun masih masuk akal dari sudut pandang freakonomics.

Terkait dengan degradasi prestasi olahraga di Indonesia, gw juga sepaham dengan penyebab dan keluhan standar di atas, tetapi gw juga ingin mengemukakan sebuah penyebab dari sudut pandang freakonomics versi gw.

Bagi gw, olahraga saat ini bukanlah sebuah kegiatan yang keren pada umumnya. Dan sesuatu yang tidak keren akan ditinggalkan oleh kebanyakan khalayak. Setiap orang memiliki naluri tanpa sadar untuk diperhatikan oleh orang lain. Naluri untuk tampil keren.

Sayangnya, kita sulit mendefinisikan sendiri apa itu “keren”. Beruntung dunia dan Indonesia akhirnya mengenal televisi. Televisi memberikan “pencerahan” tentang mana yang keren dan mana yang basi.

Apa yang disodorkan televisi sebagai keren, seringkali diaminkan oleh pemirsa untuk ditiru di contoh. Orang-orang di balik dunia pertelevisian sangat sadar akan hal ini. Maka mereka pun menjajakan apa yang menurut mereka keren.

Bagi televisi; sinetron, infotainment, pergelaran musik studio, panggung hiburan, kuis-kuis berhadiah, adalah hal keren oleh karenanya layak disajikan kepada masyarakat.

Akibatnya, program-program televisi menjadi panutan harapan dan cita-cita bagi banyak anak muda Indonesia. Banyak yang ingin menjadi seorang penyanyi terkenal, banyak yang bermimpi menjadi bintang sinetron, tak sedikit yang berangan-angan menjadi seorang superkaya tanpa jelas asal datangnya harta seperti di dalam cerita-cerita sinetron, banyak yang ingin populer diliput infotainment walau dengan prestasi nihil, banyak yang ingin ikut serta ikut masuk kuis berhadiah agar sekadar masuk televisi, bahkan banyak yang ingin jadi “alay-alay” biar nonton musisi idola di studio gratis (bahkan dapat duit!).

Sadari atau tidak, sepertinya acara televisi memicu arah motivasi pemirsanya. Jadi wajar saja prestasi olahraga kita anjlok, karena menjadi atlet bukanlah sebuah hal keren yang patut diimpikan.

Sudut pandang yang aneh? Namanya juga freakonomics (versi gw..hehe)

“Soalnya, televisi nggak memberi alternatif lain mas, selain sinetron dan acara-acara yang mas Idan nggak sukai itu.” Seringkali gw mendengar alasan keluhan ini.

alternatifnya bukan pada acara suguhan di televisi. Tetapi pilihan lain dari televisi itu sendiri; membaca buku, menonton film berkualitas, ikut aktivitas-aktivitas hobi, olahraga bersama, dan lain-lain.

:)

13 pemikiran pada “Sudut Pandang “Freakonomics” (versi gw) atas Merosotnya Prestasi Olahraga Indonesia

  1. Boi, buku yg lo baca dan tulisanlo itu intinya menyimpulkan kalo sports itu harusnya digabung dengan hiburan hingga menjadi sports-entertainment. NBA pun nama perusahaannya adalah NBA Entertainment

  2. knp indonesia gak mencontoh gitu jg ya gabungin entertaiment sm olahraga selain hiburan jg sambil mencari bibit bibit baru…..sapa tw ada calon pemain nba masa depan dr tanah air atau juara all england dan wimbledon dr indonesia hehe

  3. wah iya tuh setujuhhh sama bang idan,, acara2 TV yg seperti sinetron2 striping, dan reality show yg di buat2 sebaiknya di hapuskan saja.. kenapa tidak menayangkan ABL secara Live d tv nasional biar saya bisa nonton,, walau pun tweeport dr bang idan ga kalah seru dibandingkan nonton ABL live di tv hehe

  4. Kalo memang pandangan abang begitu, saya juga setuju itu salah satu penyebabnya. Kalau mau olahraga maju, ya salah satu caranya adalah televisi harus mau menayangkan acara-acara olahraga (di samping sepakbola ya) di salurannya. Indonesia kan dulu sempat disemprot gara2 ga ada yang menayangkan olimpiade. Kalau ga ada acara kompetisi atletik, yang ngikut atletik ya segitu2 aja Kalau ga ada acara kompetisi renang, ya segitu2 aja yg minat. Kalo ga ada acara basket, sapa yg mau nganggep basket keren. Akhirnya bakat yg harusnya bisa sampai ke puncak dunia ga bisa menemukan jalannya… Pendeknya begini, monkey see, monkey do. Kalo ga ada contohnya, gimana bisa.

  5. bener jg bro..
    acara di tv sangat jarang mengekspos olahraga selain sepak bola di idnonesia
    ada juga sport dari luar macam F1 MotoGP dll.
    para atlit dalam negeri kan harusnya juga di beritakan..
    coba aja liat skarang di tivi kbanyakan yg diberitakan itu artis2 doank sampe hal2 yang gak penting mnurut saya (cerai,putus,punya gandengan baru dllll)
    dan yg lagi heboh2nya pnyalahgunaan FB
    kan bisa aja atlit2 kita di beritakan juga misalnya kegiatan latihan2 mereka ato persiapan ssebelum bertanding..
    bisa juga profil beberapa atlit..
    dan tentunya siaran LIVE yg dikemas apik
    pokoknya atlit di anggap STAR juga lah..
    kalu perlu contoh program dari luar negri..

    hmmm.. mungkin yg beruntung tuh kayaknya atlit basket SMA ya
    misalnya di DBL mreka punya media walaupun baru sebatas koran jawapos..
    saya pikir anak2 seneng dan bangga begitu foto dan berita mreka terpampang di koran..
    nah apalagi kalu bisa masuk TV..
    sayang banget TVOne dlu putus kontrak dgn IBL
    tapi dnger2 IBL diambil dbl, smoga ada titik cerah walaupun baru di basket doank..

    weh panjang jg tulisan diatas wkwk ga sadar
    maap belepotan, heheee

  6. @Echigawa, setuju! Pelan-pelan olahraga kita juga kayaknya menuju ke sana :)

    @Elet, soalnya yang punya tivi seleranya rendah. Lebih suka sinetron :P

    @Hay and Anto, kita demo aja yuk bertiga ke DPR. Bagaimana? Heheheee..

  7. gan, nanya dong.. kenapa prestasi basket indonesia selalu di bayang-bayang filipina?
    kalo bisa jelasin dong.. soalnnya buat tugas skolah gtu..
    thanks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s