Cerita dari Orlando

Manajer tim IBL CLS Knights Surabaya sedang berjalan-jalan ke Amerika menikmati liburan akhir tahun 2009 dan awal tahun 2010. Di sela-sela liburannya Mas Chris (panggilan akrabnya) sempat mengirimkan sebuah cerita tentang uniknya sebuah pertemanan dalam sebuah tim di NBA, serta rasa salutnya terhadap kapten dari Miami Heat, Dwayne Wade. Selamat membaca. Oh, terima kasih Mas Chris :)

Cerita dari Orlando
Oleh: Christopher J. Tanuwidjaja

Menarik sekali ketika saya mengetahui bahwa seorang pemain muda dari Miami Heat, Dorrell Wright (#1) meminta Dwayne Wade (#3) & Quentin Richardson (#5) untuk menjadi “godfather” atau “Bapak Baptis” bagi anaknya.

Kepercayaan besar seperti itu dibentuk setelah melalui perjalanan bersama beberapa tahun, yang mana kabarnya sejak masa Rookie Dorrell Wright di Miami Heat, Dwayne Wade selalu membimbing dia baik di dalam maupun di luar lapangan.

Bahkan jika Dwayne Wade mendapat inspirasi baru tentang permainan yang dapat dia terapkan di pertandingan, orang pertama yang akan diajak diskusi olehnya adalah Dorrell Wright. Biasanya pemain bintang sekelas Dwayne Wade jarang sekali ditemui mau berdiskusi dan membimbing rekan2 mudanya.

Kepemimpinan D. Wade sangat terlihat di lapangan saat saya menonton langsung. Dia menunjukkan permainan yang luar biasa, mengarahkan teman-temannya dan tidak terlihat marah-marah jika teman-temannya salah (sangat berbeda dengan Kobe Bryant).

Meski saya fans berat Lakers, saya rasa jika saya sebagai pemain saya akan lebih memilih kapten seperti D. Wade yang punya kesabaran dalam membimbing rekan-rekannya daripada Kobe Bryant yang perfeksionis.

Nah berikut adalah cerita dari game kemarin malam (Orlando Magic vs Milwaukee Bucks):

Awalnya sebelum saya dan Sherly (istri) berangkat ke Orlando dari Miami, saya sudah berusaha mencari tiket utk game Bucks vs. Magic melalui internet. Kita menemukan tiket yang lumayan cocok, yaitu di level/lantai 1, dengan 2 tempat duduk berdampingan.
Namun sayangnya tiket tersebut tidak bisa dibeli dengan kartu kredit Indonesia, dan ketika seorang teman di L.A. mencoba membantu untuk membelikan utk kami, untuk alasan keamanan dia pun tidak diperkenankan oleh pihak Orlando Magic untuk membelikan melalui internet, karena tiket akan diambil oleh orang yang berbeda.

Akhirnya kami putuskan untuk mencoba langsung datang ke Amway Arena satu hari sebelum pertandingan, dan mencoba untuk membeli di ticketing office.

Saat kami tiba, tiket yang tersisa tinggal 3 kursi yang saling terpisah; di pinggir lapangan, Level 1, dan Level 2.
Awalnya saya sudah tidak mau, karena harus saling terpisah cukup jauh, tapi Sherly memaksa untuk tetap membeli dengan keadaan terpisah karena dia tahu bahwa Magic adalah tim favorit saya kedua setelah Lakers. Bahkan dia juga memaksa untuk duduk di Level 2 yang jauh di atas sendiri agar saya dapat menonton lebih enak di Level 1.

Akhirnya kita pun membeli tiket terpisah di Level 1 & Level 2.

Besoknya ketika kami tiba di Amway Arena, kami melihat banyak orang di pinggir jalan memegang tulisan “I Need Tickets”, bahkan ada yang berani sampai berdiri di Jalur Keluar Jalan Tol.

Ternyata mereka adalah calo tiket, karena masih penasaran saya ajak Sherly menghampiri salah satu dari mereka.
Luar biasa! orang yang saya temui, punya 2 tiket untuk pinggir lapangan secara berdampingan dan rela melakukan tukar tambah dengan tiket kami dengan harga yang murah.

Ini benar2 pengalaman luar biasa, karena bangku kami yang awalnya jauh dan terpisah di atas, menjadi hanya beda 4 bangku dari bench Tim Orlando Magic!

Game-pun berlangsung seru, Magic yang sempat tertinggal cukup jauh di awal akhirnya bisa bangkit berkat duo Vince Carter & Jason Williams di kuarter 3 dan kuarter 4.

Melihat rookie spektakuler dari Milwaukee Bucks, Brandon Jennings, dari dekat membuat saya merinding, kecepatannya tidak dapat dibendung hanya oleh satu orang saja. Butuh minimal dua orang untuk menjaganya, padahal dia hanya seorang rookie.

Yang juga membuat saya salut di Amway Arena adalah penonton yang fair, namun sangat mencintai Magic. Saat Magic tertinggal dari Bucks di awal, banyak terdengar dari penonton sekitar saya yang memberikan semangat kepada para pemain Orlando Magic. Kata-kata seperti, “Come On Dwight, It’s OK we still can make it”, “Vince we believe you can lead this team”, “Jason we love you!”, dan lain – lain. Saya merasakan Cinta yang sangat besar dari penonton bagi Tim ini.

Demikian cerita dari saya, sampai ketemu di Indonesia!

Iklan

3 pemikiran pada “Cerita dari Orlando

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s