Idan Mainbasket, Sang Komentator. Sebuah Pengalaman Berharga Tinggi (2 dari 2 tulisan)

Yup, ini sambungan dari tulisan pertama dengan judul yang sama. Waktu itu gw janji akan menulis sambungannya tepat esok hari setelah tulisan pertama tersebut keluar, namun apa daya, Turnamen IBL 2009 begitu menggoda untuk lebih diutamakan.

Ini tautan ke tulisan pertama.

Seringkali gw mengomentari komentator yang tampil kurang memuaskan di televisi. Kesempatan untuk menjadi komentator di JTV dalam rangkaian Surabaya International Challenge yang lalu menjadi semacam tantangan buat gw, “buktikan kalau lu lebih baik!” Waduh :(

Menjadi komentator benar-benar menjadi pelajaran berharga tinggi bagi gw. Setidaknya hal-hal di bawah ini adalah hal-hal yang gw dapatkan selama menjadi komentator;

1. Ngomong itu gampang. Komentator memang paling jago kalau melihat sebuah pertandingan. Memuji, dan lebih sering mencela permainan dua tim yang dikomentarinya. Mengapa? Karena ngomong memang gampang. Nggak sesulit menjalani yang sesungguhnya. Jadi, sebenarnya saat menjadi komentator, gw berada di posisi orang yang suka gw katain “enak aja lu ngomong, kayak lu bisa aja..” Heheee..

2. Ngomong itu gampang, tapi nggak segampang itu juga. Karena menjadi komentator bukan hanya melaporkan sebuah pertandingan, tetapi juga memberikan informasi-informasi terkait pertandingan tersebut. Entah itu timya, pemainnya, wasitnya, stadionnya, eventnya, dan lain-lain. Jadi harus punya persiapan ekstra :P

3. Tak boleh jadi “gagak hitam”. Gagak hitam? Yup, burung gagak sudah pasti hitam. Nggak perlu dijelaskan lagi warnanya. Kurang lebih sama. Gw sering tergoda untuk menjelaskan kepada pemirsa, “Mario Wuysang mendrible bola saat ini pemirsa..” WTF? Semua orang juga sedang melihat di tivi mereka kalau Mario memang sedang mendrible. Sebagai komentator, gw merasa dituntut untuk menampilkan sisi lain dari sebuah tampilan Mario yang sedang mendrible.

4. Banyak belajar lagi. Ini sih sudah pasti. Kekurangannya banyak. Ketika gw bertanya kepada teman-teman gw bagaimana penampilan gw menjadi komentator, mereka menjawab “lumayan lah..” Wah ini sih eufemisme yang harus dibaca, “lu harus belajar lagi Dan.” :D

3 pemikiran pada “Idan Mainbasket, Sang Komentator. Sebuah Pengalaman Berharga Tinggi (2 dari 2 tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s