Polisi Sebelas-Dua Belas dengan Wasit (Streetball, Contoh Anarkisme yang Baik?)

Sekuat apapun polisi berusaha memperbaiki citranya di mata masyarakat saat ini (kalau memang ada usaha untuk itu), lebih kuat lagi kecenderungan menghancurkan citra polisi yang dilakukan oleh polisi sendiri.

Posting ini terinspirasi suatu kala ketika gw keluar dari rumah pagi-pagi sekali. Gw perhatikan jalanan sangat ramai oleh orang-orang yang tengah menuju tempat kerja. Polisi berada di setiap sudut jalanan untuk memastikan jalanan tetap lancar.

Tugas polisi pagi itu sangat mulia. Mereka membantu masyarakat. Namun di mata gw -yang kebetulan sedang sinis- gw tidak melihat polisi semulia itu. Gw merasa polisi berada di setiap pojok jalan hanya untuk menunggu kesalahan pengguna jalan sehingga mereka dapat memberi tilang, dan dapat duit sogokan!

Kalian boleh tidak setuju dengan kata-kata gw. Namun itulah yang gw rasakan. Keberadaan polisi di suatu tempat alih-alih memberi rasa aman malah lebih membuat suasana menjadi mencekam.

Kekesalan gw terhadap polisi sedikit bertambah ketika seorang oknum polisi menulis pada status facebook-nya sebuah kalimat yang sangat menyebalkan dan menyakitkan yang kurang lebih berisi “polisi tidak butuh masyarakat, masyarakat yang butuh polisi.” (kepolisian kemudian dengan percaya diri –yang membuat mereka terlihat semakin bego– mengatakan bahwa akun anggotanya itu dibajak, –yeah right!).

Polisi ibarat wasit di dalam permainan basket

Wasit. Posisinya tehormat. Apapun keputusan yang keluar dari wasit selalu dihormati oleh pemain, walau terkadang keliru. Ini bisa terjadi karena wasit memiliki wibawa karena ia menjalankan tugasnya tanpa tujuan lain selain memimpin, mengawasi permainan agar berjalan sesuai aturan.

Gw tertarik pada pernyataan tolol “polisi tidak butuh masyarakat, masyarakat yang butuh polisi” yang katanya ditulis oleh pembajak tersebut (Urrgghhh..gw bisa banget nih berargumentasi bahwa akun facebook yang dibajak itu hanya akal-akalan untuk menyelamatkan muka doang. Tapi nanti malah kepanjangan tulisan ini.). Benarkah masyarakat butuh polisi? Jika masih dalam analogi polisi kurang lebih sama dengan wasit, benarkah sebuah permainan basket membutuhkan wasit?

Entah mengapa pertanyaan ini menggiring gw menjadi seorang pembela anarkisme. Anarkisme yang gw maksud bukanlah anarkisme dalam paham sempit yang populer digunakan di media pada umumnya yang hanya selalu digambarkan sebagai wakil dari brutalisme dan kekacauan. Anarkisme yang gw maksud adalah anarkisme yang ideal. Sebuah kondisi di mana aturan telah dipahami dan ditaati bersama tanpa perlu adanya pengawas atau penegak hukum.

Mungkinkah? Mari lihat permainan basket jalanan. Streetball istilah kerennya. Semua pemain adalah orang-orang yang telah paham tentang aturan dan cara bermain basket yang baik dan benar. Streetball adalah lahan melatih kejujuran. Ketika seorang pemain melakukan pelanggaran (foul), yang dilanggar akan berteriak bahwa ia telah dilanggar (fouled). Pelanggar dengan sukarela mengakui. Permainan berlanjut kembali. Ketika seorang pemain terlihat melakukan kesalahan, pemain lain akan menunjukkan kesalahan tersebut dan yang melakukan kesalahan dengan legawa menerimanya. Tidak ada wasit. Tidak butuh wasit!

Jika ada yang baru belajar basket, pemain-pemain lain membantu membimbing. Tak ada usaha untuk menipu atau membuat pemain yang baru belajar tersebut terus tenggelam dalam ketidaktahuannya sehingga terus-menerus melakukan kesalahan.

Permainan berjalan dengan seru, indah, dan ada yang menang dan kalah dan semua pemain senang dan bahagia. Inilah anarkisme yang ideal. Saking idealnya, banyak orang menganggapnya utopia. Utopia? Hmm, adakah polisi pada masa Nabi Muhammad Saw dulu?

“Federalisasi sukarela sebagai prinsip organisasi nasional” barangkali terdengar terlalu berat. Tetapi pernyataan bahwa gw rasa semua orang harus mengetahui etika dan perannya di dalam masyarakat dan sadar akan konsekuensinya bila melanggar adalah sebuah kalimat yang lebih mudah dimengerti. Mihkail Bakunin, sang bapak anarkisme barangkali mengangguk setuju. Sedangkan, kita-kita masih tetap akan menganggapnya sebagai sebuah utopia.

Jadi, apakah masyarakat butuh polisi? Hmm, gw rasa pertanyaan ini sebelas-dua belas dengan pertanyaan apakah kita butuh wasit untuk bermain basket?

Iklan

2 pemikiran pada “Polisi Sebelas-Dua Belas dengan Wasit (Streetball, Contoh Anarkisme yang Baik?)

  1. Iya bro.. Sebenarnya kita butuh polisi. Tapi sekarang kita kebingungan polisi seperti apa yang kita inginkan karena polisi yang ada saat ini sepertinya jauh dari apa yang kita inginkan. Kalau melihat kasus Cicak vs Buaya di televisi, kita malah bertanya-tanya, “inikah wajah kepolisian kita?”

    Salah satu kutipan favorit gw tentang polisi datang dari The Joker, musuhnya Batman. “Don’t talk like one of them. You’re not! Even if you’d like to be. To them, you’re just a freak, like me! They need you right now, but when they don’t, they’ll cast you out, like a leper! You see, their morals, their code, it’s a bad joke. Dropped at the first sign of trouble. They’re only as good as the world allows them to be. I’ll show you. When the chips are down, these… these civilized people, they’ll eat each other. See, I’m not a monster. I’m just ahead of the curve.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s