How David Beats Goliath oleh Malcolm Gladwell (Part 2)

Tulisan ini adalah bagian kedua dari tulisan pertama “How David Beats Goliath oleh Malcolm Gladwell (Part 1)

090511_r18464_p465

Pasukan Arab Badui di bawah komando Lawrence bukanlah tentara yang terlatih. Mereka adalah para nomaden. Sir Reginald Wingate, salah seorang komandan di wilayah tersebut, menjuluki para pasukan Arab Badui ini dengan “sepasukan penjahat tak terlatih, yang sebagian besar bahkan belum pernah memegang senjata api.” Namun mereka sangat tangguh dengan tingkat mobilitas yang sangat tinggi. Tipe seorang serdadu Arab Badui adalah mereka tidak membawa lebih dari sebuah senapan, ratusan amunisi, 22,5 kg tepung, dan sekantung air minum, yang artinya, mereka mampu berjalan sejauh 110 mil perhari di gurun pasir yang panas, bahkan di musim panas! “Keunggulan kami adalah waktu dan kecepatan, bukan kekuatan menyerang,” tulis Lawrence. “Sumber utama sumber daya manusia kami adalah orang-orang dari sebuah suku, di mana mereka sangat tidak akrab dengan kondisi peperangan konvensional, dan aset utama mereka adalah pergerakan, ketahanan, kecerdasan individu, pengetahuan kebangsaan, dan keberanian.” Jendral Maurice de Saxe yang berasal pada akhir abad 18 pernah mengatakan bahwa seni peperangan adalah kekuatan kaki-kaki, bukan senjata. Dalam sebuah pertempuran, di musim semi tahun 1917, pasukannya meledakkan 60 rel kereta api dan memotong jalur komunikasi telegraf di Buair pada tanggal 24 Maret, menyabotase sebuah kereta api dan 25 rel kereta di Abu al-Naam pada tanggal 25 Maret, meledakkan 15 rel kereta api dan memotong jalur telegraf di Istabl Antar pada tanggal 27 Maret, menyergap paskan Turki dan menggulingkan sebuah kereta api pada tanggal 29 Maret, kembali ke Buair dan menyabotasi jalur kereta api kembali pada 31 Maret, meledakkan sebelas rel kereta api di Hediah pada tanggal 3 April, menyergap dan menyerang jalur kereta api di area Wadi Dhaji pada tanggal 4 dan 5 April, serta diserang dua kali pada 6 April.

Serangan paling dahsyat yang dilakukan oleh Lawrence adalah gempuran ke kota pelabuhan, Aqaba. Para tentara Turki sebenarnya telah mempersiapkan diri menghadapi serangan dari patroli kapal-kapal Ingris dari arah barat. Namun Lawrence memutuskan untuk menyerang dari sisi timur, memeasuki kota dari sisi gurun yang tidak dijaga, dan untuk melakukan hal tersebut, Lawrence memimpin tentaranya mengambil jalan memutar sejauh 600 mil—mulai dari Hejaz, ke utara melewati gurun Syria, lalu memutar balik melalui Aqaba. Perjalanan ini dilakukan pada saat musim panas melalui salah satu gurun paling kejam di Timur Tengah, dan Lawrence mengambil jalur di tepian Damaskus, dengan tujuan mengelabui atau mengakali tentara Turki mengenai tujuan sebenarnya dari perjalanan tersebut. “Tahun ini, lembah seperti dipenuhi oleh ular-ular berbisa,” Lawrence menulis di dalam catatan perjalanannya yang berjudul “The Seven Pillars of Wisdom”:

Setelah malam menjelang, kami tidak berani mengambil air karena banyak ular yang berenang di dalam danau, kolam, atau berkumpul di tepi-tepi jurang. Pernah dua kali seekor ular berbisa (puff-adders) datang menghampiri kami saat kami sedang berdiskusi. Tiga orang anggota kami tewas karena gigitan tersebut; empat orang lainnya sembuh setelah melewati penderitaan dan rasa sakit yang panjang, dan lengan yang lembam karena racun gigitan ular. Sebuah metode yang dikenal dengan Howeitat dilakukan dengan cara melilitkan bagian yang terluka menggunakan kulit ular dan kemudian membacakan surat-surat dari Al-Quran bagi sang korban hingga ia meninggal dunia.

Ketika mereka akhirnya tiba di Aqaba, beberapa ratus pasukan dari kubu Lawrence berhasil membunuh dan menangkap sekitar 1.200 orang tentara Turki, sedangkan dari pihak Lawrence hanya dua orang saja yang terbunuh. Orang-orang Turki sama sekali tidak pernah menyangka bahwa lawan mereka akan cukup gila untuk mengambil jalan memutar mengarungi gurun yang ganas sebelum akhirnya mengempur mereka. David mampu mengalahkan Goliath dengan cara menukar usaha menjadi kemampuan—dan mensubstitusi usaha dengan kemampuan berubah menjadi sebuah formula kemenangan bagi golongan yang diremehkan (underdogs) di dalam semua sisi kehidupan, termasuk di dalam ikatan persaudaraan kecil di tim basket “little-blond hair”.

Vivek Ranadivé adalah seorang lelaki yang elegan, langsing dan memiliki struktur tulang yang kokoh, tingkah laku yang sopan dan cara melangkah yang berwibawa. Ayahnya adalah seorang pilot yang dijebloskan ke dalam penjara oleh Indira Gandhi, yang katanya, selalu mempertanyakan tingkat keselamatan penerbangan di India. Ranadivé berkuliah di Massachusets Institute of Technology (M.I.T.), setelah menyaksikan dokumentasi kampus tersebut di sekolahnya. Hal tersebut terjadi di tahun 1970-an ketika seorang warga negara India yang ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri, ia membutuhkan persetujuan pemerintah untuk mendapatkan atau menukarkan mata uang India ke mata uang asing. Ranadivé bahkan harus menginap di halaman bank untuk mendapatkan mata uang asingnya. Keluarga Ranadivé adalah keluarga yang pantang menyerah.

Pada tahun 1985, Ranadivé membangun sebuah perusahaan software di Silicon Valley yang bergerak dalam bidang yang dikenal dunia sebagai pemrosesan “real time”. Jika seorang pebisnis menunggu hingga akhir bulan untuk mengumpulkan dan menghitung surat-surat transaksinya, maka ia dinamakan tengah melakukan “batch processing”. Terdapat sebuah gap atau jarak waktu pemisah antara “events” yang terjadi pada perusahaan—penjualan—dan pemahaman mengenai hal-hal seputar penjualan tersebut. Wall Street pun seringkali mengalami hal yang serupa. Informasi yang melandasi sebuah keputusan yang diambil oleh trader tersebar tak beraturan dalam bentuk angka-angka di dalam basis data. Para trader mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, mengkombinasikannya, menganalisanya, untuk kemudian melakukan perdagangan (trade). Hal yang dilakukan oleh perusahan milik Ranadivé, TIBCO, adalah mengkonsolidai data-data tersebut ke dalam satu jalur aliran, sehingga para trader dapat mengumpulkan semua data secara cepat. Batch processing diambil alih oleh real time processing. Kini, software yang dihasilkan oleh TIBCO memfasilitasi hampir semua transaksi di trading floors di Wall Street.

Ranadivé memandang bahwa peralihan dari batch menuju real time adalah bagaikan sebuah misi suci. Pergantian pola pemikiran adalah salah satu hal penting dari banyak hal. “Kita sudah bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan penerbangan,” kata Ranadivé. “Ketika anda naik ke atas pesawat dan bagasi anda tertinggal, perusahaan penerbangan sebenarnya langsung mengetahui bahwa bagasi anda tertinggal. Tetapi ytak ada orang yang memberitahukannya kepada anda, dan permasalahannya, perusahaan penerbangan tidak memiliki informasi-informasi tersebut terkumpul dalam satu tempat. Ada sebuah sistem mengenai penumpang yang mengetahui di mana seorang penumpang berada. Ada sistem mengenai pesawat dan sistem perawatannya yang melacak posisi pesawat beserta keadaannya. Lalu kemudian terdapat sistem bagasi dan tiket—dan semuanya berada dalam tempat-tempat yang terpisah. Jadi begitu anda mendarat, menunggu bagasi, dan ternyata bagasi anda tidak muncul.” Semua hal buruk sebenarnya telah terskenario, Ranadivé mengatur, karena kebutuhan antara kejadian (bagasi tidak muncul) dan responnya (perusahaan penerbangan mengabari anda bahwa bagasi anda tertinggal). Tidak menyatunya informasi adalah penyebab kita marah. Hal ini membuat kita harus menunggu, dengan sangat mengesalkan di bagian bagasi yang hilang. Kekurangan ini menyebabkan kita “bersumpah” untuk tidak lagi melakukan perjalanan menggunakan pesawat. Satuka semua basis data dan kita tidak akan merasa kecewa. “Hal yang dapat kita lakukan adalah mengirimi anda pesan singkat (SMS) tepat saat bagasi anda tertinggal,” Ranadivé menjelaskan. “kami akan mengirimkannya ke alamat anda.”

(Bersambung ke tulisan ketiga :D )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s