How David Beats Goliath oleh Malcolm Gladwell (Part 1)

Sebelum memulai tulisan dari Malcolm Gladwell, gw ingin menyampaikan sesuatu. Ini adalah posting¬-an gw yang ke-500. Ketika mengetahui bahwa ini akan menjadi posting-an ke-500, gw langsung berpikir bahwa tulisan ini haruslah istimewa. Gw lalu menemukan tulisan Malcolm Gladwell yang dimuat pada tanggal 11 Mei 2009 di The New Yorker.

Bagi sebagian teman-teman, Malcolm Gladwell bukanlah nama yang asing. Ia adalah seorang pengarang buku yang karyanya laris manis di seluruh dunia. Gw sudah membaca dua bukunya yang berjudul Tipping Point dan Blink. Buku lainnya yang berjudul Outliers akan segera menjadi santapan gw.

“How David Beats Goliath, When underdogs break the rules” mengulas fenomena si (yang dianggap) lemah mengalahkan si (yang dianggap) sangat perkasa. Fenomena ini mengacu kepada kisah Alkitab teman-teman Nasrani, David versus Goliath (Muslim, Nabi Daud a.s. versus Jalut). Hal yang menarik adalah, Malcolm Gladwell menggunakan analogi permainan basket (dan kisah-kisah basket yang nyata) untuk menggambarkan bahwa fenomena yang dianggap jarang terjadi ini sebenarnya hal yang bisa dilakukan siapa saja. (Gw langsung berpikir Indonesia mengalahkan Amerika dalam pertandingan basket! Hehee..)

Karena tulisannya relatif panjang, gw membagi tulisan ini menjadi tujuh bagian yang akan gw posting dua kali seminggu. Selamat membaca :)

090511_r18464_p465

How David Beats Goliath, When underdogs break the rules
oleh Malcolm Gladwell

Ketika Vivek Ranadivé memutuskan untuk menjadi pelatih bagi tim basket putrinya, Anjali, ia menekankan pada dua prinsip utama. Pertama, ia tidak akan meninggikan suaranya.

Tim basket putrinya akan bertanding di National Junior Basketball—sebuah liga bola basket yang sangat kecil. Tim ini kebanyakan terdiri atas putri-putri berusia 12 tahun, dan anak-anak yang berusia 12 tahun, seperti yang ia ketahui, tidak menanggapi dengan baik kata-kata yang keluar dalam bentuk teriakan. Ranadivé akan mengarahkan/melatih tim basket ini sama seperti ia menjalankan firma software-nya di Silicon Valey. Ia akan berbicara dengan tenang dan lembut, dan meyakinkan anggota timnya mengenai strategi bermain dengan cara yang masuk akal.

Prinsip kedua jauh lebih penting. Ranadivé sedikit bingung dengan cara orang Amerika bermain basket. Ia berasal dari Mumbai yang besar dan akrab dengan olahraga kriket dan sepak bola. Ranadivé tak akan lupa pertama kali ia melihat permainan bola basket. Sebuah permainan yang ngawur. Setelah Tim A mencetak angka, mereka akan kembali ke area pertahanannya. Tim B lalu melakukan lemparan ke dalam dan bergerak menyerang ke daerah pertahanan Tim A, di mana Tim A bertahan dan siap menerima serangan. Proses ini akan terus bergantian sepanjang waktu pertandingan.

Sebuah lapangan basket memiliki panjang 94 kaki, namun biasanya sebuah tim akan berkonsentrasi bertahan pada 24 kaki bagian dari lapangan saja, dan menafikan 70 kaki lainnya. Jarang sekali sebuah tim melakukan permainan full-court press. Seolah-olah ada sebuah konspirasi tentang “cara yang benar” di dalam bermain basket, dan Ranadivé berpikir bahwa konspirasi atau kesepakatan tak tertulis inilah yang justru memperlebar pemisah antara tim-tim yang bagus dan tim-tim yang lemah.

Tim yang bagus memiliki pemain-pemain yang tinggi, mampu mendribel dan menembak bola dengan baik. Mereka mampu memainkan bola dengan sangat baik dan menutupnya dengan raihan angka. Lalu, mengapa tim-tim lemah cenderung bermain dengan gaya yang justru membuat tim-tim bagus terlihat semakin bagus?

Ranadivé menatap anggota tim basketnya. Morgan dan Julia adalah dua pemain basket yang jago. Tetapi Nicky, Angela, Dani, Holly, Annika, dan putrinya, Anjali belum pernah bermain basket sama sekali sebelumnya. Mereka tidak memiliki postur tubuh yang tinggi. Mereka tidak bisa menembak. Mereka tidak mampu mendribel bola dengan baik. Mereka bukanlah tipe anak-anak yang bermain basket setiap sore hari. Mereka kebanyakan adalah, dalam kalimat Ranadivé, “gadis-gadis pirang mungil” (little blond girls) dari Menlo Park dan Redwood City, jantung kota Silicon Valley. Anak-anak ini adalah putri-putri dari para pemrogram komputer dan para sarjana. Mereka lebih terbiasa mengerjakan proyek-proyek sains, membaca buku, berlibur dan bermain ski bersama orang tua mereka, dan bercita-cita menjadi ahli biologi laut. Ranadivé paham, jika mereka bermain dengan cara konvensional, mereka pasti akan kalah telak. Ranadivé datang ke Amerika pada usia 17 tahun dengan uang 50 dolar di sakunya. Ia adalah sosok yang pantang menyerah. Prinsip kedua Ranadivé ketika itu adalah bermain full-court press sepanjang permainan dalam setiap pertandingan. Tim ini akhirnya mampu menembus kejuaraan nasional (national championships). “Aneh banget.” Kata Anjali Ranadivé. “Ayah saya tidak pernah bermain basket sama sekali sebelumnya.”

——–

Kemenangan David atas Goliath, di dalam Alkitab, dianggap sebagai sebuah anomali. Padahal sebenarnya tidak. Ahli politik, Ivan Arreguín-Toft baru-baru ini melakukan pengamatan atas setiap peperangan antara pasukan lemah dan kuat yang terjadi pada kurun waktu 200 tahun ke belakang. Ia menemukan bahwa para Goliath (pasukan kuat), memenangkan 71,5% pertempuran. Ini adalah sebuah fakta. Arreguín-Toft menganalisa konflik-konflik yang melibatkan dua kekuatan di mana salah satu kekuatan memiliki kemampuan sepuluh kali lipat dari lawannya (baik dari sisi persenjataan maupun jumlah pasukan), dan walaupun hal ini kerap terjadi, kekuatan yang lemah (underdog) memenangkan sepertiga dari pertempuran-pertempuran yang terjadi.

Dalam kisah Alkitab David melawan Goliath, David mengenakan baju zirah, helm yang terbuat dari logam, dan menggenggam sebilah pedang: ia siap bertarung secara konvensional melawan Goliath. Tetapi tiba-tiba David berhenti dan mengatakan “Saya tidak terbiasa dengan ini, saya bahkan tak bisa berjalan.” David lalu memungut lima buah batu kecil. Arreguín-Toft berpikir, apa yang terjadi ketika orang-orang yang dianggap lemah (underdogs) akhirnya menemukan kelemahannya dan memilih strategi yang tidak lazim? Arreguín-Toft kembali mengolah datanya. Dalam kasus David versus Goliath, persentase kemenangan David meningkat tajam dari 28,5% menjadi 63,6%. Ketika orang-orang lemah (underdogs) menolak mengikuti aturan para Goliath, mereka akan menang. Arreguín-Toft menyimpulkan, “bahkan di saat hal tersebut sangatlah tidak mungkin.”

Perhatikan pula jalan yang ditempuh oleh T. E. Lawrence (lebih terkenal dengan julukan Lawrence of Arabia) ketika memimpin pemberontakan melawan pasukan Ottoman yang menguasai Arab pada sekitar akhir Perang Dunia I. Pasukan Inggris membantu pemberontakan orang-orang Arab, dan yang menjadi fokus saat itu adalah kota Madinah, sebuah kota ujung dari rel kereta api yang dibangun oleh orang-orang Turki, membentang ke selatan dari Damaskus dan melewati gurun Hejaz. Orang-orang Turki memiliki kekuatan yang sangat besar di Madinah, dan pucuk-pucuk pimpinan Inggris menginginkan agar Lawrence mengumpulkan orang-orang Arab dan menggempur serdadu-serdadu Turki di sana, sebelum ancaman Turki semakin meluas.

Namun Lawrence menoleh kepada pasukan Arab Badui yang sangat amburadul dan menyadari bahwa serangan langsung ke arah Madinah ibarat menggali kubur sendiri. Lagipula, untuk apa memusingkan Madinah? Orang-orang Turki di Madinah berada dalam kondisi “difensif, statis, tidak bergerak.” Kebanyakan dari penduduk Madinah mendapatkan makanan, air, dan bahan bakar melalui jalur gurun yang berat.

Alih-alih menyerang orang-orang Turki di Madinah secara langsung, Lawrence berpandangan, ia seharusnya mencari titik kelemahannya—sepanjang urat nadi, umumnya jalur rel kereta api menuju Damaskus tidak dijaga dengan ketat. Daripada fokus langsung ke Madinah, Lawrence mengalihkan sasarannya ke arah teritori yang lebih luas.

(Bersambung. Kisah Ranadivé dan tim basketnya masih berlanjut dan lebih seru)

How David Beats Goliath oleh Malcolm Gladwell (Part 2)

5 pemikiran pada “How David Beats Goliath oleh Malcolm Gladwell (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s