Mungkin Kita Perlu Belajar Mengelola Basket dari Semangat Anak-anak Australia Ini

DBL Australia Games Logo

TIDAK semua pemain bintang DBA punya kesempatan untuk berkunjung ke Surabaya. Sebab, untuk tinggal di Kota Pahlawan selama seminggu, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Yakni, sekitar 1.100 dolar Australia (sekitar Rp 9,3 juta) per kepala.

”Karena itu, kami tidak bisa full team 12 orang, hanya sembilan pemain. Ada beberapa teman yang tidak kuat membayar,” terang Aaron Smith, forward tim putra DBA.

DBA adalah sebuah lembaga independen yang dikelola secara mandiri oleh beberapa pencinta basket dengan model manajemen swasta. Artinya, mereka sama sekali tidak dibiayai pemerintah. Karena itu, untuk membiayai setiap kegiatan pun, mereka harus bekerja keras sendiri. Termasuk, mengirim tim untuk bertanding di Surabaya ini.

Menurut Development Manager DBA Don Sheppard, selama beberapa pekan sebelum berangkat ke Indonesia, Claire Humphrey dkk giat menggalang dana. Bentuknya, antara lain, membuka stan barbeque di Top End Challenge, turnamen pramusim Liga Basket Nasional Australia (NBL).

Australia Games 2009

Tidak hanya pemain yang bekerja keras. Para pengurus DBA seperti Don dan istrinya, Meredith, serta Allan Hilzinger (executive officer DBA) pun turun tangan. Mereka tidak segan ikut memanggang daging dan sosis atau melayani pelanggan. Cara itu cukup efektif. Jualan mereka yang terdiri atas hot dog, sandwiches, dan burger seharga 5 dolar Australia (sekitar Rp 43 ribu) laris manis.

Meski begitu, untungnya tidak banyak. hanya mencapai 100 dolar Australia. Tentu saja, jumlahnya jauh dari cukup untuk membiayai seluruh tim ke Indonesia. Tidak ada jalan keluar lain, mereka harus meminta tambahan dana dari satu-satunya sumber yang tersisa, yakni orang tua masing-masing.

Umumnya, para orang tua mau bermurah hati justru karena anak mereka sudah berusaha mengumpulkan uang sendiri. ”Mungkin kalau kami hanya sekadar minta uang saku untuk ke Indonesia, permintaan belum tentu dikabulkan. Tapi karena mereka melihat kerja keras kami, orang tua kami jadi tergerak untuk membantu,” terang Jayden Hinsen, guard tim cowok DBA.

”Kami sangat beruntung, para orang tua sangat supportive. Mereka bersedia mengeluarkan uang dari rekening bank masing-masing untuk membiayai perjalanan anak-anak mereka,” ungkap Don. ”Lebih dari itu, mereka menanggung biaya untuk pelatih dan manajer,” lanjutnya. (na/ang)

——

Nuhun Aziz :)

Iklan

2 pemikiran pada “Mungkin Kita Perlu Belajar Mengelola Basket dari Semangat Anak-anak Australia Ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s