Favorite Basketball Quotes #49

8840c0abe67d184498ce2128cda021a65177e7af_m

Iklan

Transisi Dua Kota (Mataram-Bandung)

Gak mirip sama sekali dengan transisi dari offense ke defense atau pun sebaliknya. Barangkali agak sedikit serupa ketika kita bermain cepat lalu tiba-tiba melambankan tempo permainan atau pun kebalikannya.

a65a7fd8d9387cee609fbdc9528cdad6da8b3fb2_m

Ini lah yang gw rasakan ketika kembali ke Bandung setelah selama lebih dari sepuluh hari menghabiskan waktu di Mataram, Lombok, NTB. Gw gak banyak kerjaan karena memang ke Lombok demi keperluan mengunjungi keluarga. Waktu terasa tak seburu-buru Bandung. Lama-lama terbawa dan mulai terbiasa.

Namun tiba-tiba hari ini sudah di Bandung lagi. Blah-bloh, buru-buru, setumpuk rencana dan agenda rasanya ingin segera dibereskan. Ada waktu transisi tetapi sangat sempit. Hmm, syukurnya, adaptasi nggak begitu bermasalah.. Hohoo..

Hoi Hoi Mataram, Tim Basket Gw

Nama timnya rada aneh, “Hoi Hoi”. Diambil dari lirik lagu dangdut yang gak jelas. Para pemain tim ini awalnya adalah orang-orang yang sore hari berkumpul di lapangan basket Lawata, Mataram, untuk membunuh waktu.

Saat gw balik ke Mataram, gw mengunjungi mereka latihan. Sepertinya saat ini mereka jauh lebih serius daripada saat dulu gw masih bermain di sana. Pernah beberapa kali juara provinsi kabarnya.

Sulit mendapatkan foto anggota timnya. Sepenggal foto lapangan dan beberapa anak yang sedang berlatih ini cukup mewakili Hoi Hoi yang ternyata masih menggeliat.

Image038

Mari Optimis Basket Indonesia!

DBL Indonesia All-Star PERTH

Tinggalkan semua pernyataan-pernyataan banci pengecut yang sering kalian dengar atau bahkan mungkin pernah kalian ungkapkan sendiri saat ngobrol dengan teman-teman kalian;

“Payah nih basket kita.”

“Ah, IBL mah begitu-begitu saja.”

“Selama masih dia-dia saja yang juara, pertandingan IBL nggak akan seru.”

“Main basket? Mau jadi apa?”

***

DBL Indonesia All-Star PERTH

Perhatikan semangat teman-teman DBL Indonesia All Star 2009 yang baru saja mengalahkan tim basket Australia Barat yang membuat bangga diri gw menjadi Orang Indonesia.

Lihat semangat Pelita Jaya Esia Jakarta dan Garuda Flexi Bandung dan juga Nuvo CLS Knights Surabaya dalam menggelar pertandingan amal dalam usaha membantu saudara-saudara kita di Sumatera Barat.

Jangan anggap remeh semangat Nuvo CLS Knights Surabaya yang demi mempersiapkan timnya menghadapi musim kompetisi IBL tahun mendatang, mereka bahkan akan melakukan latih tanding dengan Tim Nasional Hong Kong.

Contoh pula pemuda-pemuda berseragam Satria Muda Britama Jakarta yang membawa nama Indonesia di pentas ASEAN Basketball League.

Dan tentu saja, semangat anak-anak Surabaya dan anak-anak basket seluruh Indonesia yang belajar dengan gigih dan giat di sekolah dan berlatih keras di lapangan agar bisa mengikuti kompetisi DBL dan mengejar gelar juara membanggakan bagi diri sendiri, keluarga, teman-teman, sekolah, daerah, juga bangsa!

Menyingkir saja kalian yang terjangkit virus pesimis!!!

Di Balik Kemenangan DBL Indonesia All-Star 2009 di Australia oleh Azrul Ananda

Tim DetEksi Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2009 punya satu keinginan untuk mengakhiri tur di Perth: Membawa cerita yang manis untuk dibawa pulang. Mereka berhasil dengan gemilang.

Catatan AZRUL ANANDA

DBL Indonesia All-Star PERTH

Di dinding ruang ganti DetEksi Basketball League (DBL) Arena di Surabaya, ada tulisan penyemangat. Bunyinya: Every man suffers pain. Either the pain of hard work, or the pain of regret.

Artinya, setiap orang merasakan sakit. Apakah itu sakit karena kerja keras, atau sakit karena penyesalan.
Saya percaya, semua sukses harus diraih lewat sebuah proses. Di dalam proses itu, ada pula yang namanya growing pain. Masa-masa “sakit” sebelum akhirnya merasakan kepuasan atau kesenangan luar biasa.

Dan untuk sukses yang sesungguhnya, masa sakit itu hukumnya wajib untuk dijalani. Di dunia ini tidak ada yang gampang, dan yang sulit tidak bisa begitu saja dihindari.

Tim DetEksi Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2009 kembali membuktikan pentingnya proses itu. Tim ini dibangun lewat proses panjang. Dimulai dengan kompetisi Honda DBL 2009 di 15 provinsi di Indonesia, yang berjalan sejak 15 Januari di Papua hingga 15 Agustus lalu di Jawa Timur.

Sebanyak 160 pemain (80 putra, 80 putri) lantas ikut Indonesia Development Camp 2009, selama tiga hari berlatih bersama bintang NBA, Kevin Martin, serta pelatih-pelatih dari liga basket paling bergengsi tersebut.

Di penghujung IDC, dipilihlah 12 pemain putra dan 12 pemain putri. Plus lima pelatih. Mereka inilah anggota DBL Indonesia All-Star 2009. Mereka mungkin bukanlah yang benar-benar terbaik di Indonesia. Tapi, mereka merupakan student athlete terbaik yang dipilih lewat sebuah proses yang sehat. Bukan sekadar main comot dari sana atau dari sini.

Memilih adalah satu proses melelahkan tersendiri. Menyatukan mereka jadi satu tim, adalah proses melelahkan selanjutnya.

***

Meski sudah saling mengenal di IDC 2009, Tim DBL Indonesia All-Star 2009 pada dasarnya hanya bersama selama dua minggu. Kumpul di Surabaya pada 12 Oktober, berpisah lagi pada 26 Oktober.

Ingat, mereka ini merupakan kumpulan pemain-pemain SMA terbaik. Di sekolah atau daerah masing-masing, mereka ini superstar yang biasanya diberi keleluasaan oleh sekolah atau pelatih masing-masing. Sekarang, mereka harus punya peran yang berbeda-beda. Ada bintang di atas bintang, ada bintang yang harus rela mengalah.

Bukan proses yang mudah. “Kita ini mungkin mengalami masalah yang dialami (tim sepak bola) Real Madrid,” kata Puji Agus Santoso, Manager Basketball Operations and Events DBL Indonesia.

Dalam hati, saya berpikir ini lebih sulit. Paling tidak Real Madrid penuh pemain profesional yang benar-benar profesional. Lha tim kami ini penuh anak-anak SMA yang masih mudah ngambek satu sama lain! Selain itu, tim ini harus kompak dengan cepat. Hanya dalam hitungan hari.

Untuk mempercepat proses, hampir setiap hari ada pertandingan pemanasan di Surabaya. Hasilnya lumayan, tim putra benar-benar tak terkalahkan. Tim putri juga relatif mantap ketika harus berhadapan dengan tim-tim uji coba.

DBL Indonesia All-Star PERTH

Saya selalu percaya: If it’s too good to be true, then it is not true. Kalau sesuatu berjalan terlalu indah, maka itu bukanlah hal yang nyata. Sekali lagi, tidak ada yang segampang itu di dunia ini.

Benar, hari-hari awal itu adalah “bulan madu.” Masa growing pain segera menyusul…

***

Dari awal, kami sudah sadar. Tim putri DBL Indonesia All-Star 2009 merupakan “tim inspirasi.” Tugas mereka bukanlah untuk menang. Tugas mereka adalah untuk membuat pemain-pemain putri lain tertarik ikut berpartisipasi. Kelak, baru kita mengejar kemenangan. Sekarang, kita bermodal semangat.

Pada Sabtu, 17 Oktober 2009, di DBL Arena Surabaya, tim putra DBL Indonesia All-Star 2009 tampil luar biasa. Melawan Darwin Basketball Association dari kawasan Northern Territory, Australia, Randika Aprilian dkk bukan hanya sempat membuat lawan getar. Mereka juga menghibur ribuan penonton.

Sempat memimpin delapan angka di kuarter ketiga, tim ini kemudian tunduk di tangan Darwin. Mirip sekali dengan pertandingan DBL Indonesia All-Star tahun lalu saat melawan tim muda Western Australia di Perth pada Oktober 2008. Waktu itu juga sempat memimpin di kuarter ketiga, sebelum tunduk di kuarter keempat.

Bedanya, tahun lalu tim tidak punya kesempatan melakukan pembalasan. Tahun ini, tim masih punya kesempatan lagi di Perth. Hanya saja, sebelum meraih sukses itu, tim harus terpuruk lagi ke satu jurang. Tahap kedua (dan terakhir) dari proses growing pain.

Bermodalkan penampilan baik (meski tidak menang) di Surabaya, tim DBL Indonesia All-Star 2009 penuh semangat terbang ke Perth (via Bali) pada 19 Oktober lalu. Pada laga pemanasan pertama, lawan tim junior sekolah Woodvale, tim juga menang sangat mudah.

Pada laga pemanasan serius di Bunbury, melawan anak-anak pilihan di South West Academy of Sports, barulah tim Indonesia seperti kena setruman hebat. Halusnya kena “siraman yang membangunkan.” Kasarnya kena “tempelengan.”

Tim putra dan putri sama-sama kalah telak. Masalahnya, kalah telak bukan karena murni kalah “kelas.” Dalam semangat dan upaya, tim juga tampak sangat kendur. “Sebanyak 40 persen poin lawan karena kesalahan kita sendiri,” kata Njoo Soen Eng, pelatih tim putri dari SMA Frateran Surabaya.

Ketika nonton pertandingan itu, saya sendiri sangat kecewa. Tapi dalam hati saya bersyukur. Sebab, anak-anak sendiri sadar mereka tampil mengecewakan. Bisa dilihat dari gerak tubuh dan perilaku usai pertandingan itu. Biasanya ceria, kali ini muram.

Kalau benar mereka sadar sendiri, maka itu pertanda baik. Kalau benar mereka sadar sendiri, maka saya yakin mereka akan bangkit dan membuat semua bangga.

***

Rabu malam itu (21/10) di Bunbury (sekitar tiga jam dari Perth), tim putra dan putri bergantian mengajak bicara di chalet (rumah kecil penginapan) saya dan panitia dari DBL Indonesia.

Saya terenyuh juga, karena mereka bergantian bilang minta maaf. Ketika saya minta memberi penilaian kepada diri masing-masing, semua memberi nilai buruk. Bahkan, tim putri merasa mereka hanya layak dapat nilai 1 dari 10.

Waktu itu, terus terang saya bingung juga mau bilang apa. Tapi kemudian saya ingat SMS yang saya dapat setelah tim kami kalah dari Darwin di Surabaya. Datang dari Putu Gde Kamajaya, fans DBL di Surabaya. Bunyinya: “Our greatest glory is not in never failing. But in rising everytime we fail. And winners are not those who never fail. But those who never quit. Go DBL Indonesia All-Star!

Kepada dua pemain yang tahun lalu juga ikut ke Perth, Arif Hidayat (SMAN 2 Jember) dan Amelia Herawati (SMA Karangturi Semarang), saya bertanya perjalanan 2008. Waktu itu, kami juga sempat “ditempeleng” pada laga pemanasan melawan Woodvale. Namun setelah itu, tim bangkit dan selalu tampil habis-habisan. Meski tak pernah menang, tapi selalu fight. Kalahnya selalu puas.

Tim 2008 punya karakter kuat. Mereka tak mau menyerah. Sekarang, karakter tim 2009 sedang diuji. Dan tim 2009 hanya punya satu kesempatan untuk menunjukkan itu, yaitu pada pertandingan puncak melawan tim muda Western Australia.

Kalau harus kalah, maka kami akan kalah berjuang. Malam itu, semua pemain dan pelatih sepakat, bahwa kami akan pulang membawa cerita indah. Cerita yang bisa dibagi ke teman-teman di daerah masing-masing, cerita yang bisa disampaikan ke adik-adik dan generasi selanjutnya.

Malam itu, semua anggota tim sudah bicara semangat. Tapi itu masih sebatas talk. Untuk benar-benar membuat cerita yang indah, mereka masih harus “walk the talk.” Menjalani, bukan sekadar bicara.

***

Sebelum laga internasional melawan tim Western Australia, anak-anak DBL Indonesia All-Star 2009 terlihat “beda.” Kamis malam (22/10), Randika Aprilian dkk rapat sendiri di ruang seminar penginapan. Pelatih tak boleh ikut, yang lain tak boleh ikut.

Jumat malamnya (23/10), meski seharian sudah menjalani program, mereka menjalani latihan ekstra di Perry Lakes Stadium. Latihan malam itu benar-benar menjadi pertanda baik. Semangat semua sangat terasa.

Sabtu pagi (24/10) sebelum pertandingan, tim juga jogging dan latihan ringan bersama di sisi Danau Monger, dekat penginapan. Sekali lagi, semua tampak semangat.

Pagi itu, kami juga melakukan prosesi “tumbal.” Melempar Puji Agus Santoso dan Arizal Perdana Putra dari DBL Indonesia ke pinggir danau. Saya tidak dilempar, tapi saya janji akan terjun sendiri kalau malamnya tim menang.

Siangnya, seluruh tim istirahat total. Tidur nyenyak, menunggu sore tiba untuk berangkat ke stadion.

Sore itu, hujan turun. Padahal di Perth sedang transisi menuju musim panas, bukan masanya untuk hujan. Diam-diam, kami berharap ini adalah pertanda baik.

Sore itu pula, sebelum berangkat ke Perry Lakes, seluruh tim meeting dulu. Saling menyemangati, saling menjaga fokus. Mereka semua berniat pulang membawa cerita indah. Malam itu adalah momen untuk melakukannya. Kalau memang harus kalah, maka harus kalah dengan indah.

Game time. Tim putri benar-benar berupaya keras. Marisya Rizkia dari SMAN 1 Bandung benar-benar ngotot meski hanya bertinggi badan 158 cm. Veti Vera dari SMA Stella Duce 1 Jogjakarta tak takut menabrak lawan-lawan yang lebih tinggi dan lebih besar.

Pada akhirnya, tim putri masih kalah 32-72. Tapi mereka telah membuat kami puas. Karena mereka telah berjuang habis-habisan. Tim lawan sangat kuat. Apalagi, salah satu pemain lawan baru saja dipilih sebagai pemain terbaik di Australia Barat.

Usai bertanding, tim putri pun mengambil peran beda. Mereka naik ke tribun, bersama puluhan suporter Indonesia menyoraki tim putra.

Hebat. Sejak menit pertama, tim putra sudah menunjukkan niatan menang. Okky Arista, power forward dari SMA Theresiana 1 Semarang tidak takut berhantaman badan dengan lawan yang jauh lebih tinggi. Arif Hidayat dan Alvin (SMA Trinitas Bandung) mampu bergantian menjadi jenderal lapangan. Sang kapten, Randika Aprilian dari SMAN 9 Bandung terus berjuang meski dahi harus dibalut perban karena berdarah kena sikut lawan.

Semua pemain bergantian masuk lapangan, memainkan peran masing-masing dengan baik. Momen komedi juga sempat muncul. Di tengah permainan yang mendebarkan, Arif Hidayat sempat berjalan kembali ke bench, bertanya kepada pelatih soal pola “High” yang ingin diterapkan.

High iku opo? Aku lali (High itu apa? Saya lupa),” ucapnya.

Waktu mendengar itu, saya tak tahu harus khawatir atau tertawa. Pola High itu sangat penting untuk mengalahkan tim lawan yang lebih besar. Fungsinya menarik pemain besar lawan keluar, membuka ruang tembak di bagian samping lapangan.
Dijelaskan sebentar, Arif kembali menjalankan tugas di lapangan.

Kurang 1 menit dan 46 detik, tim putra masih unggul enam angka. Namun lawan tak pernah menyerah. Kurang empat detik, tim putra hanya unggul dua angka. Dan bola di tangan Western Australia.

Terus terang, saya tak tahu apa yang terjadi pada empat detik terakhir itu. Saya tak berani melihat. Khawatir kekecewaan tahun lalu kembali terulang. Kata teman-teman, lawan mencoba menembak tiga angka, tapi gagal. Lawan lalu dapat bola lagi, tapi tetap gagal memasukkan bola.

Indonesia menang! Sejarah! Cerita indah untuk dibawa pulang!

Semua pun berhamburan ke lapangan.

Di saat tim putra berpesta, beberapa pemain putri tampak menangis. Khususnya Marisya Rizkia, yang biasa dipanggil Echa, yang biasa saya panggil Chipmunk.

Dia mengaku sedih tidak bisa menang seperti yang putra. Saya pun ingatkan lagi, tugas mereka hari itu bukan menang. Tugas mereka hari itu untuk memberi inspirasi kembali di Indonesia. Tugas mereka adalah pulang, lalu mengajak adik-adiknya untuk berlatih lebih bersemangat. Bantu basket Indonesia, bantu DBL.

Kalau kelak tim Indonesia menang, mereka bakal punya peran besar.

***

What’s next?

Jalan masih jauh. Kemenangan ini belum tentu terulang tahun depan. Lawan –siapa pun– tidak akan diam. Growing pain pertama mengembangkan DBL dan membentuk tim All-Star yang mampu menang sudah dilalui. Sekarang waktunya menjalani growing pain selanjutnya, dan selanjutnya, dan selanjutnya, sampai mencapai target tertinggi.

Satu bukit dilalui, masih banyak gunung lain.

Mohon dukungannya…

Catatan tambahan: Kemenangan di Perth ini jatuh sehari setelah ulang tahun ke-56 PB Perbasi. Jadi ini hadiah dari kami untuk Ibu Noviantika Nasution sebagai ketua umum dan teman-teman basket yang lain. Usai pertandingan, saya juga menepati janji. Bedanya, karena tidak mungkin di danau, malam setelah menang saya dicemplungkan ke kolam renang di penginapan. Tapi saya happy, karena saya tidak nyemplung sendirian! (*)

Bangga! DBL Indonesia All-Star Kalahkan Australia Barat

Bayangkan kembali momen di saat kalian begitu bahagia setelah berhasil meraih sesuatu. Entah itu kegembiraan karena naik kelas, mendapat nilai yang bagus, mendapat pujian dari cowok kecengan, ditelepon oleh cewek yang ditaksir, keberhasilan memanjat puncak pohon pinang di acara 17 Agustusan, atau yang lebih besar lagi kadar bahagianya misalnya memenangkan sebuah lomba yang prestisius, atau berhasil memecahkan sebuah misteri yang bikin otak mumet setelah sekian waktu. Nah, kalau kalian sudah bisa membayangkan perasaan bahagia tersebut, kalikan seribu!!

Barangkali itulah yang dirasakan oleh Indonesia DBL All Star saat mengalahkan tim Australia di Perth dua hari yang lalu! Gw pun merinding! Yay!!

DBL Indonesia All-Star PERTH

Menang Tegang di Perth, Tim DBL Indonesia All-Star Kalahkan Tim Australia Barat

PERTH – Kemenangan bersejarah diraih tim putra DetEksi Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2009 dalam laga internasional melawan tim muda Western Australia tadi malam (24/10). Bertempat di Perry Lakes Stadium, Randika Aprilian dkk meraihnya lewat perjuangan keras dan ketangguhan mental, 68-66.

Sejak tip off, pertandingan berlangsung sangat ketat. Mengandalkan speed dan umpan-umpan pendek, tim DBL Indonesia All-Star dan tim muda Western Australia bergantian memimpin. Okky Arista, center asal SMA Theresiana 1 Semarang, mencetak poin pertama dalam pertandingan kemarin. Di akhir kuarter pertama, tim DBL Indonesia All-Star unggul sangat tipis, setengah bola, 17-16.

Masuk kuarter kedua, student athlete pilihan peserta Honda DBL 2009 di 15 provinsi tersebut makin panas. Akurasi tembakan tiga angka makin menajam. Alvin, guard asal SMA Trinitas Bandung dan Arif Hidayat, guard asal SMAN 2 Jember, membawa tim menjauh 36-31 saat jeda turun minum.

Tim muda Western Australia tidak mau kalah. Di kuarter ketiga, meski sempat tertinggal sepuluh poin, 37-47, Nate Illodis dkk terus tampil menekan. Pada akhir kuarter tersebut, tim DBL Indonesia All-Star masih berhasil mempertahankan keunggulan. Skor 58-55.
Di kuarter keempat, tim DBL Indonesia All-Star melanjutkan pertandingan dengan sedikit ”pincang”. Herdanu Yudistira, center asal SMKN 1 Balikpapan, terkena foul trouble (empat kali foul, satu lagi keluar dari pertandingan) di akhir kuarter ketiga. Lantas berlanjut dengan foul trouble Arif Hidayat di awal kuarter keempat.

DBL Indonesia All-Star PERTH

Akan tetapi, pertandingan terus berjalan seimbang. Meski pilar utama tim DBL Indonesia All-Star Arif Hidayat sempat cedera ketika pertandingan menyisakan 1 menit dan 20 detik, tim Indonesia terus mampu mempertahankan keunggulan. Ketika waktu tinggal empat detik, Indonesia sudah unggul 68-66. Namun, bola di tangan tim Western Australia. Berkat ketenangan, kedudukan itu tetap bertahan sampai akhir.

Bintang tim DBL Indonesia All-Star pada pertandingan kemarin adalah Arif Hidayat dan Alvin. Kemarin, masing-masing mengoleksi 15 poin.

”Yes! Yes! Kita menang! Tadi teman-teman sukses bermain pakai hati. Instruksi pelatih untuk play hard and play with your heart dijalankan teman-teman dengan baik. We love Indonesia!” seru Alvin.

Arif Hidayat menambahkan, kesabaran tim DBL Indonesia All-Star benar-benar teruji kemarin. ”Mas (Wahyu) Budi (pelatih, Red) terus mengingatkan. Jangan menembak kalau shot clock belum sisa sepuluh detik. Tujuannya, kalau shoot gagal, lawan hanya punya sedikit waktu menyerang. Yes, menang!” ucapnya.

Sementara di laga putri, tim DBL Indonesia All-Star harus mengakui keunggulan tim muda Western Australia. Bermain di hadapan para pelajar Indonesia yang datang mengisi tribun Perry Lakes Stadium, Amelia Herawati dkk kalah 32-72.

”Pertandingan yang cukup sulit. Kami harus bekerja keras. (DBL) Indonesia banyak melakukan dribble dan shooting, permainan yang menarik. Sayang, pressure yang diberikan lawan belum stabil. Di akhir, kami bisa lepas dan sedikit demi sedikit menjauh,” ujar Craig Mansfield, head coach putri tim muda Western Australia.

Tim muda Western Australia lantas memberi beberapa masukan pada tim putri DBL Indonesia All-Star. ”Kami menang di dekat ring. Tapi, tinggi badan kami yang unggul seharusnya bisa diimbangi dengan meningkatkan jump power. Saya ingin bertemu lagi dengan mereka yang sudah lebih kuat tahun depan,” papar Amy Kidner, guard sekaligus kapten putri tim muda Western Australia.
Sesuai standar laga internasional, kemarin pertandingan dibuka dengan dikumandangkannya lagu kebangsaaan kedua negara, Indonesia Raya dan Advance Australia Fair. Presiden Basketball Western Australia Elizabeth Woods datang langsung menyaksikan laga yang sudah kali kedua digelar itu (tahun 2008 pertama kali digelar).

DBL Indonesia All-Star PERTH

”Program ini memberi banyak pengalaman baru, tidak hanya untuk Indonesia tetapi juga kami. Pola permainan di sini dan di Indonesia sangat berbeda. Semoga masing-masing tim bisa melihat apa yang lebih dan apa yang kurang,” ujar Elizabeth.

Azrul Ananda, commissioner DBL, mengaku sangat bangga dengan kemenangan ini. “Kemenangan di Australia ini menunjukkan betapa pentingnya program yang konsisten dan konsekuen. Tapi ini hanyalah awal. Langkah Indonesia masih jauh. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terus memberikan dukungan, sehingga DBL bisa berkembang dan sekarang bisa mengirimkan tim yang mampu menang di Australia,” ucapnya.

Kepada tim putri, Azrul memberikan ucapan penyemangat. “Tugas mereka bukanlah menang di Perth. Tugas mereka adalah memberi inspirasi kepada yang lain untuk mengikuti langkah yang telah dijalani. Masa depan masih panjang,” tandasnya.

—–

(Thank you Diatmana Parayuda)

Charity Game for Padang, Kepedulian Anak Basket Indonesia Untuk Indonesia

9

Jakarta , 23 Oktober 2009

DOPE MAN! Kayanya cuma itu yang dapat saya katakan saat memasuki, duduk dan menikmati ’Charity Game’ antara tim Pelita Jaya Esia Jakarta [PJE] vs Garuda Flexi Bandung [GFB] di Hall. A. Basket Senayan kemarin [Kamis, 22 Oktober 2009]. Dari mulai acara yang dibuka oleh duo Mc kocak [Mas Bagot & Bang Karo], hingga acara penutupan yang makin terlihat penuh dengan kehangatan insan bola basket. Ada sesi foto, interview media, sesi tanda tangan, ramah tamah beberapa orang-orang penting di dunia perbolabasketan Indonesia sampai dengan Press Confrence ’dadakan’ Nia Ramadhani dan Anindra Ardiansyah Bakrie [putra salah satu orang terkaya di Indonesia, Aburizal Bakrie]. Hehehe, Asik banget deh atmosfir malam itu, makin berwarna dengan hadirnya selebrity. Gitu dong kaya di NBA !! J

So, how does it start anyway? All da Charity concept!! Who’s idea? Ok. Lets find out. ”Awalnya kami membuat ini diawali dari pemikiran untuk menyumbang sejumlah dana bagi korban gempa Padang dengan konsep ada eksebisi game biasa antara PJE & GFB. Tapi setelah beberapa kali pertemuan dengan kedua pihak tim, manajemen dan sponsor. Akhirnya mereka [pihak sponsor & manajemen] sepakat untuk menggarap acara ini secara intens dan serius. Ini juga kami lakukan untuk sekaligus memperkenalkan pemain-pemain baru di kubu PJE & GFB kepada pihak-pihak lain,” jelas Ronald Simanjuntak panjang lebar, selaku Manajer PJE.

8

Dashyat !! Acara Charity Game For Padang persembahan Pelita Jaya Esia dan Garuda Flexi Bandung memang amat sangat terlihat hebat. Bagaimana tidak? Dengan nilai total lelang yang berjumlah Rp. 44.100.000,- ditambah dengan total jumlah pengunjung 1433 orang dikalikan Rp. 10.000,- itu semua akhirnya menghasilkan dana Charity sebesar Rp. 100.020.000,- Hmmm, sebuah hasil yang amat baik untuk pengumpulan dana yang dilakukan temen-teman dan para pelaku bola basket tanah air. Hebat!! Two Tumbs Up For All of you.

10

Acara malam itu [22/09] di Jakarta, memang sempat diguyur oleh hujan lebat. Tetapi tidak mempengaruhi dasyatnya dan hingar bingar, teriakan serta yel-yel di setiap detik pertandingan anatara ke dua tim besar. Seluruh penonton malam itu benar-benar dimanjakan oleh aksi-aksi pemain basket hebat seperti Kelly Purwanto, Koming, Andi Batam dari PJE dan Mario Wuysang serta Lolik di kubu GFB. Hmmm, ada yang kurang nih? Yup. Deny Sumargo koq nggak ada? Densu ada cuma tidak dapat main. ”Sebenernya gue pengen banget main, apalagi ini acara Charity. Tetapi karena gue baru balik dari beberapa meeting penting & kerjaaan yang cukup menguras tenaga ditambah gue juga belum sempet istirahat jadi gue lebih baik memilih untuk menikmati eksebisi ini aja. Gue juga ingin melihat beberapa pemain baru GFB yang nantinya akan menjadi partner main gue,” papar Deny Sumargo saat saya hubungi via telepon.

Sayang memang Densu tidak dapat main malam itu, padahal banyak penonton yang ingin melihat aksinya di lapangan. ”Densu nggak main sih, GFB jadi kalah deh. Padahal kalo ada Densu kan, Mario dkk jadi ada tambahan tenaga untuk memborbardir PJE,” kata Sandra, salah satu penonton yang mendukung GFB malam itu.

Hasil akhir Charity Game For Padang memang milik PJE. Dengan perolehan angka 60-66, GFB akhirnya harus mengakui keunggulan PJE malam itu. Permainan memang terlihat serius. Lihat saja catatan angka per quarter yang saya lampirkan. Quarter awal GFB memimpin dengan score 13-7. Sementara di quarter ke dua PJE unggul satu bola atas GFB 23-21. Di quarter ke tiga PJE masih bisa bertahan mengungguli GFB dengan score 40-38. Dan kehebatan anak asuh Rastafari Horongbala, PJE makin terlihat meski GFB sempat ingin mengejar lewat aksi individu point guard Mario Wuysang. Tetapi Charity Game malam itu memang milik PJE, hasil akhir yang hanya berbeda 3 bola [66-60] telah membuka mata insan bola basket tanah air akan peta kekuatan & persiapan yang telah dilakukan oleh manjemen tim PJE dalam menyongsong kompetisi IBL 2010. Mantap!!

Maju Terus Bola Basket INDONESIA !! Yeah .. Yeah ..

Berikut data lelang di Charity Game PJE vs GFB for Padang :

1. Lelang Bola Basket yang di tanda tangani oleh seluruh pemain & manajemen GFB terjual dengan harga Rp. 2.000.000,- oleh Bpk. Agus Mistah [Telkom Flexi]

2. Lelang Bola Basket yang di tanda tangani oleh seluruh pemain & manajemen PJE terjual dengan harga Rp. 30.000.000,- oleh Bpk. Anindra Ardiansyah Bakrie.

3. Lelang Sepatu Basket & Kostum Tim-Nas SEABA Deny Sumargo [GFB] terjual dengan harga Rp. 2.000.000,- oleh Ibu Heny [Telkom Flexi]

4. Lelang Sepatu Mario Wuysang [GFB] terjual dengan harga Rp. 2.000.000,- oleh Ibu Ediyanti [penonton]

5. Lelang Poster NBA Allstars Tim West terjual dengan harga Rp. 2.000.000,- oleh Deny Sumargo [pemain GFB]

6. Lelang Jersey Kelly Purwanto PJE [yang dipakai pas main malam itu] terjual dengan harga Rp. 6.000.000,- oleh Bpk. Benjamin Pandelaki [Manajemen PJE]

7. Lelang Nomer Cantik Esia berikut Hand Phone’nya dengan harga Rp. 2.000.000,-

——-

Regards,

Richard ‘insane’ Latunusa
follow me on my twitter
email: insane_minusplus@yahoo.com