Bagus Buat Otak (Sebuah Tanggapan)

Tulisan di bawah ini (setelah gambar) adalah komentar gw di blognya Pandji. Mungkin kalian akan bertanya, ada hubungannya dengan basket nggak mas? Well, secara langsung mungkin nggak ada. Namun secara tidak langsung, ah, semua hal di dunia ini kan berhubungan secara tidak langsung :D

Ada baiknya sebelum kalian membaca tulisan ini, baca dulu tulisan Pandji “Bagus Buat Otak” di blognya.

04e010e0ce3e20213331845f0797f4677697ce9b_m

Selamat membaca:

@Havban, “Orang seenak jidad aja ngomong perang.. tanpa mikirin apa akibatnya. Jangan emosi lah.. jangan ngomong doang jg.. yuk berkreasi.. :)” Tentu saja nggak boleh seenaknya ngomong perang. Kecuali seorang yg biadab maka dia akan ngomong seenak jidad. Perang adalah pilihan terakhir.

@Ucup, “Nabi SAW sendiri setahu saya sebelum mulai perang pun pakai diplomasi dulu kepada lawannya.” See? Pada akhirnya beliau mengambil cara kekerasan.

@Achill, “BETULLL!!! kekerasan jangan pernah dibales dengan kekerasan.. apa bedanya kita sama mereka kalo begitu… memalukan…” Jika negara kita telah mengambil langkah-langkah yang perlu dan pantas namun masih saja dilecehkan dengan pencurian karya budaya, pengklaiman atas wilayah, bahkan penyiksaan atas warga negara kita di sana. Langkah kekerasan gw rasa bukanlah sebuah langkah yang memalukan. Tapi membanggakan (silahkan untuk tidak setuju)

Peperangan memang selalu membawa dampak buruk. “Menang jadi arang kalah jadi abu.” Standar benar-salah pun sering dianggap relatif. Nilai kebenaran yang dianut Amerika berbeda dengan yang dianut oleh Afganistan dan Irak. Nilai kebenaran Belanda tidak sama dengan nilai kebenaran di otak para pahlawan bangsa dulu. Walau sebenarnya pun semua orang tahu dari dalam lubuk hatinya mana yang benar dan mana yang salah. Ada kendali yang namanya hati dan otak.

Gw pun anti peperangan. Seriiing gw menangis kalau melihat gambar korban peperangan di berbagai penjuru dunia. Namun di satu sisi gw pun punya pendirian, apalah artinya perdamaian jika harga diri mereka/kita diinjak.

Dulu kita punya semboyan “Merdeka atau mati!”. Pilihannya ada dua Merdeka dan Mati. Gw memaknai kata Atau di antara dua kata itu sebagai perjuangan. Entah itu dengan cara diplomasi sopan nan cerdas ataupun angkat senjata. Dan akhir dari perjuangan itu adalah merdeka, atau, mati. Titik.

Gandhi adalah salah satu teladan gw, namun jangan lupa, Inggris juga segan atas keberanian para pejuang India selain Gandhi yang juga melakukan perlawanan kekerasan.

Contoh perilaku Nabi SAW yang diambil oleh sahabatnya Pandji di atas gw rasa tepat sekali. Beliau adalah manusia paling sabar, paling pemaaf, paling cerdas, dan jangan lupa, paling berani di medan perang (dan ini adalah pilihan terakhir beliau dalam menyelesaikan sengketa)!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s