Mengapa Begitu Banyak Lapangan Basket di Indonesia Namun Minim Prestasi?

fb8c0c20ee5b79923bb1355d8edc7d9997e70994_m

Seorang teman yang gw tanyakan tentang hal ini sedikit tidak percaya. “Dari mana lu tahu kalau di Indonesia banyak lapangan basket?” Barangkali kalian juga bertanya hal yang sama dengan teman gw itu.

Sebenarnya, ini hanya asumsi gw saja berdasarkan pengalaman gw dulu. Saat gw SMP, SMP gw punya lapangan basket. Begitu juga SMP-SMP lain. Ketika masuk SMA, SMA gw punya lapangan basket yang bagus walau hanya di luar ruang. Begitu juga SMA-SMA yang lain. Ketika kuliah pun demikian.

Gw berasumsi, semua SMP dan SMA di Indonesia memiliki lapangan basket, baik indoor dan tentunya kebanyakan outdoor. Asumsi gw bisa bahkan mungkin salah. Tetapi, berdasarkan asumsi ini gw malah bertanya dalam hati, “Mengapa justru bulu tangkis yang memberi kita emas di olimpiade? Bukan basket?”

Pelita Jaya Esia Jakarta (A Very Brief History)

n1188564709_30371686_3030014

Tulisan ini adalah rangkaian pertama dari dua tulisan mengenai tim peserta Indonesian Basketball League (IBL) asal Jakarta, Pelita Jaya Esia Jakarta. Dalam beberapa hari ke depan, gw akan menampilkan hasil wawancara gw dengan manajemen tim ini, pemain unggulan, dan bahkan pelatihnya. Enjoy :D

Sejarah singkat

Klub ini didirikan tahun 1987. Saat itu, Bapak Indra Bakrie sebagai Presiden Klub dan kemudian dari dukungan Coach Net Kensen, mulai membangun PB Pelita Bakrie dengan tujuan membesarkan olahraga basket di kalangan masyarakat Indonesia.

Setelah tiga tahun membangun tim, tahun 1990 dan 1991 Pelita Jaya berhasil menjuarai (saat itu) Kobatama. Dua bintang di logo Pelita Jaya melambangkan dua kemenangan itu. Antara tahun 1994 sampai tahun 2005, manajemen klub ditangani oleh Toto Sudarsono dan pada tahun 2005 sampai pertengahan 2008 diganti lagi oleh Ino Afiar.

Antara tahun 1994-2008, pemilik klub tidak terjun langsung seperti halnya pada tahun 1987-1993. Memasuki pertengahan tahun 2008, Pelita Jaya melakukan perombakan manajemen total, di mana pemilik klub, Bapak Eda Bakrie dan Aga Bakrie dengan antusias ingin mengembalikan Pelita Jaya ke zaman keemasannya dengan orientasi dan moto “Kekeluargaan di luar lapangan dan profesionalisme di dalam lapangan” di bantu oleh Bapak Andiko, Bapak Ronald Simanjuntak, dan Bapak Rastafari. Pelita Jaya ingin membawa bola basket tanah air ke level yang lebih tinggi.

Mulai Bertanya-tanya Lagi

2671_66319803214_574388214_1552064_6843251_n

Ke mana ya para tim IBL saat bulan Puasa begini? Ngapain saja? Terakhir yang gw baca lewat facebook Garuda Flexi Bandung, mereka akan mengadakan acara berbuka puasa bersama dengan anak-anak yatim piatu di salah satu panti asuhan. Tim-tim yang lain? Hehee, entahlah.

Tunggu wawancara gw dengan tim-tim unggulan IBL 2010 (Selain Satria Muda Britama Jakarta, karena sudah pernah gw wawancara)! Garuda Flexi Bandung, Nuvo CLS Knights Surabaya, Pelita Jaya Esia Jakarta, dan Aspac Jakarta!

Semangat Kebangsaan (A repost from pandji.com)

Tulisan di bawah ini adalah sebuah repost dari tulisan yang sama di pandji.com. Gw sengaja melakukannya karena tulisan ini terasa sangat menggugah semangat kebangsaan di tengah isu-isu yeng tengah semarak belakangan ini; hari kemerdekaan, prestasi olah raga, kelakuan Malaysia yang kurang etis, hingga tentunya semangat membangun bangsa mengisi kemerdekaan dalam bidang apapun, tak terkecuali main basket!

01a337a7109af34d2c019ad75adec53b5e8f5999_m

Di sekitar ujung Perang Dunia kedua, ada seorang Laksamana Inggris (namanya lupa) berkata “Di dalam wilayah Britania Raya, matahari tidak pernah tenggelam.”

Dia tidak sembarangan berkata begitu. Tanah jajahan Inggris sedemikian luasnya, sehingga matahari tidak menemukan ujung wilayah. Sebelum sempat tenggelam, dia sudah sampai ke bagian lain dari wilayah kekuasaan Inggris. Kalimat itu menjadi kebanggaan orang Inggris, sebagai bangsa penakluk. Sampai-sampai sebegitu luasnya wilayah jajahannya.

Kira-kira pada era yang sama, banyak orang Indonesia yang melontarkan kata-kata yang di alamatkan kepada para pejuang kemerdekaan kita “Jangan sok pintar! Mau apa sih? Belanda sudah bercokol dinegara kita 350 tahun lamanya!”.

Sebuah kalimat pasrah, pengakuan sebagai bangsa pecundang. Menjadi bangsa terjajah, sudah suratan nasib yang tak terelakan. Tak ada kebanggaan sama sekali sebagai sebuah bangsa. Menerima perlakuan istimewa dari penjajah, yang memberinya hak-hak sama dengan bangsa penjajah, akan lebih membanggakan (gelijkgesteld), daripada menjadi bagian dari bangsanya sendiri.

Dua semangat yang sangat kontradiktif antara bangsa Inggris dan Indonesa ketika itu.

Sebenarnya kesadaran sebagai bangsa, dan keinginan untuk merdeka, tumbuh juga meski sedikit demi sedikit. Mendapat inspirasi dari kemenangan Jepang atas Rusia, pada tahun 1905, Kebangkitan Nasional terjadi juga. Sejarah mengatakan terbentuknya organisasi Boedi Oetomo menjadi tanda-tanda itu (1908).

Oktober 1928, diselenggaraakan Kongres Pemuda yang mencetuskan Sumpah Pemuda: ”Berbangsa satu, bertanah air satu dan berbahasa satu INDONESIA“.

Kita semua tahu itu.

Semangat untuk merdeka-pun sampai kepada puncaknya, ketika kita mem-proklamasikan kemerdekaan kita pada tanggal 17 Agustus 1945. Jadi ketika kita merdeka, kesadaran untuk Berbangsa dan Bernegara sudah mendahului langkah perjuangan.

Apa lagi, masih menurut sejarah yang kita dengar, ketika Belanda datang kemari pada abad ke lima belas, Bangsa ini sudah berbudaya tinggi. Kekaguman Belanda atas negara yang dijajahnya, terbukti dari banyaknya benda-benda kebudayaan yang dikumpulkan di negeri Belanda. Maka boleh disimpulkan, identitas sebagai bangsa sudah definitif ada, bahkan jauh sebelum kita merdeka.

Ada budaya yang tinggi dan ada semangat kebangsaan. Atas kesadaran itulah kita berjuang untuk merdeka.

Tidak semua bangsa-bangsa jajahan bangkit dengan melalui proses yang demikian. Berakhirnya perang Dunia Kedua dengan kemenangan Sekutu atas Jerman-Italy–Jepang memberi hikmah kepada bangsa-bangsa terjajah. Karena kemudian terjadi persaingan antara dua kekuatan, Rusia dengan kubu komunisnya, melawan Amerika –Inggris dengan sekutu-sekutunya yang menamakan dirinya Negara-negara Bebas.

Franklin Delano Roosevelt (FDR), Presidan Amerika Serikat, menyadarkan para sekutunya, bahwa mereka akan kalah bersaing dengan komunis kalau tidak memberi kemerdekaan kepada tanah jajahan mereka. Karena komunis berkampanye dengan mendukung perjuangan untuk merdeka kepada bangsa-bangsa terjajah.

Kampanye FDR ampuh. Suaranya memang didengar dan dituruti.

Indonesia memang menyatakan merdeka ketika terjadi ke-vacum-an, karena Jepang telah menyerah pada tanggal 14 Agustus 1945 dan kekutan sekutu belum sampai di Indonesia. Tapi kemudian Indonesia harus berjuang secara fisik maupun diplomasi, karena Belanda enggan melepas daerah jajahannya yang terlanjur menjadi andalan hidup mereka.

Dan doktrin FDR inilah yang memenangkan Indonesia dimeja diplomasi.

Churchill, Perdana Menteri Inggris, menerima saran FDR untuk memerdekakan jajahannya dengan menggerutu. Menolak tidak bisa, menuruti tidak rela. Tapi kemudian Inggris menemukan jalan keluar yang cerdik. Inggris memberi kemerdekan kepada tanah-tanah jajahannya, tapi langsung menampungnya dalam sebuah organisasi yang mereka sebut Negara Persemakmuran (Commonwealth Countries). Negara –negara yang baru merdeka itu ditampung dalam wadah persemakmuran itu, masih dalam sebuah Sistem Ekonomi dan Pertahanan bersama Inggris.

Dua hal yang sangat membebani negara –negara baru, yang belum tahu bagaimana caranya mengelola sebuah negara. Belenggu yang dipasang Inggris justru disambut senang oleh negara-negara jajahan yang baru merdeka.

Dengan cara seperti ini, berbeda dengan Belanda yang langsung kehilangan Indonesia sebagai lumbung kemakmurannya selama ini, Inggris melalui sistem commonwealth masih bisa mempertahankan sistem ekonominya dengan tetap mengandalkan tanah jajahan.

Termasuk dalam sejumlah negara-negara yang baru diberi kemerdekaan oleh Inggris itu adalah Malaysia dan Singapura. Malaysia dan Singapura merdeka karena perubahan administratif tanpa proses seperti yang dialami Indonesia. Negara-negara itu belum mempunyai perangkat yang menjadi ciri negara dan bangsa itu.

Dengan dadakan dikaranglah bendera dan lagu kebangsaan. Entah dengan pertimbangan apa, Malaysia mengambil lagu rakyat “Terang Bulan” dijadikan lagu kebangsaan dengan menyesuaikan liriknya.

Lagu Indonesia Raya dan bendera Merah Putih sudah ada sejak sebelum kita merdeka. Tidak hanya itu, sejumlah lagu-lagu perjuangan ikut mendampingi Indonesia Raya. Sebut saja; Sorak-sorak Bergembira, Hari Merdeka, Maju Tak Gentar, Halo-halo Bandung, Tanah Pusaka, Rayuan Pulau Kelapa, Gugur Bunga, Butet, Sepasang Mata Bola dan masih banyak yang lain. Dan diseluruh persada Indoneia berserak berbagai monumen perjuangan. Belum lagi sejumlah budaya yang definitif menjadi identitas dan kebanggaan Bangsa..

Lepas dari pengaruh ataupun kemiripan dengan yang dipunyai penjajah. Ada batik, keris, rencong, tari serimpi, gending, berbagai tari Bali, ukiran Bali dan Jepara, kerajinan perak Kotagede. Karya-karya seni dan budaya yang tak terkira jumlahnya.

Sementara kita melihat tetangga kita Malaysia dan Singapura, canggung melihat dirinya sendiri dalam status yang “katanya” merdeka. Orang Melayu Malaysia lebih merasa sebangsa dengan sesama Melayu dari Singapura, meski masing-masing berpaspor lain. Begitu juga China Malaysia, dengan China Singapura dan India Malaysia dengan India Singapura. Dan tidak merasa sebagsa dengan sesama warga negara Malaysia dan Singapura, kalau etnisnya berbeda.

Bahasa Melayu di Malaysia dijadikan bahasa resmi pemerintahan, tapi orang Melayu yang hanya bisa berbahasa Melayu, tidak bisa berharap mencapai kedudukan tinggi, baik dalam pemerintahan maupun pada kantor-kantor swasta. Bandingkan saja dengan para pejabat kita yang masih gagap berbahasa asing. Ini karena Bahasa Indonesia berdaulat, tidak seperti di Malaysia.

Malaysia bahkan tidak berdaya ketika bahasa Melayu “diperkosa” dengan kaidah-kaidah Inggris yang merusak. Dengarlah mereka mengatakan “Bile-bile mase“ untuk mengatakan “any time” dan “yang mana satu“ untuk mengatakan “which one“. Dan kita melihat yang lebih kejam lagi dari itu.

Banyak oang-orang China, kendatipun terlahir di Malaysia, tidak pandai berbahasa Melayu. Para eksekutif China di Malaysia kalau perlu pergi ke kantor-kantor pemerintahan, seperti imigrasi dan sebagainya terpaksa membawa stafnya yang orang Melayu, karena sekedar mengisi formulir pun dia tak pandai.

Kita membandingkan dengan China Solo yang tahu gending, serimpi dan batik lebih dari orang-orang Jawa sendiri! China Solo lebih Jawa dari orang Jawa sendiri.

Orang-orang Malaysia dan Singapura memang tidak melihat identitas bangsa pada dirinya sendiri. Kegagapan inilah kemudian yang mendorongnya mengakui Reog (Ponorogo), batik, keris, bahkan lagu Rasa Sayange sebagai miliknya, tanpa tahu apa akar yang menumbuhkan semua itu.

Inggris memang berhasil menjaga kestabilan ekonomi dalam kawsannya. Tapi membiarkan yang selebihnya. Perasaan rendah diri orang Melayu menatap orang Inggris tak pernah sirna. Inferior complex sebagai bangsa terjajah, tetap saja tidak hilang.

Pada tahun 2009 ini Indonesia merdeka 64 tahun lamanya. Malaysia Singapura hanya kurang sedikit dari itu. Banyak yang berubah dimakan keharian selama itu. Ada yang tumbuh menjadi besar, dan ada yang menyusut dan terkikis. Syahdan, karena masalah –masalah politik yang tidak kondusif untuk tumbuh dan stabilnya ekonomi, Indoneisapun tertinggal.

Sedemikian sehingga pergi ke Malaysia dan Singapura, negara tetangga yang terdekat untuk mencari rejeki, kemudian menjadi pilihan. Bencana-bencana pun terjadi di luar kewajaran. Kekejaman-kekejaman yang tidak masuk akal bisa terjadi, justru terjadi terus menerus, tak terbilang banyaknya. Karena orang-orang Malaysia yang belum ”kelas majikan” ini tiba-tiba menjadi majikan. Mereka belum tahu membentuk hubugan kerja majikan –pegawai selain “hubungan uang“saja. Bahkan seorang pangeran Kelantan, tega meninggalkan ibu mertuanya, di landasan pacu Jedah, ketika melarikan istrinya Manohara untuk di bawa ke Kelantan. Suatu tindakan yang jauh dari kesantunan sebagia orang berbudaya. Kekasaran yang mustahil terjadi dalam peradaban terkini, di Indonesia maupun tempat lain di Dunia ini. Dan sejumlah tindakan “aneh” sang pangeran terhadap Manohara.

Kejadian Manohara dibarengi dengan peristiwa Siti Hajar. Lalu ada Modesta. Keduanya Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di sana. Mungkin ini akan berkanjut terus. Kekejaman atau kelainan perilaku seorng dua orang majikan barang kali biasa. Tapi kalau menjadi gejala umum yang tak terbilang jumlahnya, tentu kita patut menduga ada ketimpangan yang lebih mendasar di sana.

Fakta yang nampak disini, “Orang jajahan yang minder“ menjadi majikan “orang merdeka yang berbudaya”.

Ada juga kemajuan Indonesia yang luar biasa.

Salah satunya di bidang olahraga. Sejak akhir tahun lima puluhan atau awal enam puluhan Indonesia patut disebut BANGSA BESAR di arena bulutangkis. Menjuarai All England, Thomas Cup dan Uber Cup sudah terlalu sering. Nama-nama besar seperti Tan Yu Hok, Ferry Sonneville, Liem Swie King, Christian Hadinata, Ade Chandra, Chunchun–Johan Wahyudi, Rexy Mainaki, Ricky Subagja dan masih banyak lagi. Bahkan Rudy Hartono menjurai All England sampai delapan kali! Sebuah prestasi yang tidak bisa disamai siapapun. Ada istilah “King Smash“, “Indonesia Service” dan lain sebagainya.

Juga ada kejuaraan dunia beregu dengan nama Piala Sudirman. Mengambil nama salah seorang tokoh bulutangkis Indonesia.

Tapi belakangan kejayaan Indonesia seperti layu. Dalam kejuaraan final Indonesia Open 21 Juni 2009 di Jakarta, kejayaan itu tidak tampak sama sekali. Taufik Hidayat, satu-satunya pemain tuan rumah yang mencapai final, dikalahkan dengan mudah oleh Lee Chong Wei dari Malaysia. Bahkan pada game pertama Taufik hanya diberi point 9 dalam dua belas menit saja.

Dalam nomor tunggal putri, Saina Nehwal dari India mengalahkan Wang Lin (20) dari China. Sedangkan putri-putri Indonesia yang lebih tinggi usianya sudah berguguran di babak-babak sebelumnya.

Berarti kesenggangan yang semakin jauh akan terjadi antara Indonesia dengan level dunia. Indonesia-pun berkabung, tak bisa bicara. Sudah semestinyakah kita berkabung?

Ingggris penyelenggara Thimas Cup dan All England diajang bulutangkis dan Wimbledon untuk cabang tenis, sudah lama tidak pernah menjuarai arena-arena itu. Tapi Inggris ternyata tenang-tenang saja, tidak terusik. Sebenarnya di manakah harga diri sebagai anak bangsa itu bersemayam?

Ada lagi yang rasanya aneh.

Tgl 18 Juni pada ajang Indonesia Open juga, dalam jenjang quarter final, bertemu dua pasangan ganda putra tangguh.

Markis Kida – Hendra Setiawan dari Indonesia dengan pelatih Sigit Pamungkas melawan Hendra Saputra – Hendri Wijaya dari Singapura dengan pelatih Eng Hian. Yang menarik keenam orang itu belum lama berselang masih menjadi atlet Pelatnas di Indonesia. Atlet-atlet Singapura itu, baru saja mendapat kewarga-negaraan Singapura.

Tapi kejadian ini tidak mengusik masyarakat Indonesia. Bahkan audiens Indonesia bisa membiarkan mereka bertanding tanpa gangguan ataupun ejekan kepaada pemain Pelatnas yang ganti warga negara itu.

Beda dengan nasib Abdulkadir, putra Indonesia yang menjadi Ketua Delegasi Belanda ketika tahun 1947 Komisi Tiga Negara (KTN) PBB sedang mengajak Belanda dan Indonesai ke meja peundingan. Ketika datang ke Jogja dengan kereta dari Jakarta, Abdulkadir di Stasiun Tugu mendapat serangan fisik oleh sekelompok pemuda Indonesia. Bahkan ada cerita sampai diludahi.

Tidak bisa segala masalah kita jadikan masalah pribadi. Karena soal pemihakan dan kewarganegaraan bukanlah masalah pribadi, tapi komitmen kita bersama terhadap ibu pertiwi.

Mengganti kewarganegaraan, bukanlah jalan keluar untuk mengejar kepentingn pribadi!!!

Bagi kita itu mengherankan. Sebegitu mudah mendapatkan kewarganegaraan Singapura. Kita membandingkan dengan perjuangan Ivana Lie, pemain bulutangkis kita yang bersusah payah berjuang untuk mendapatkan kewarganegaraan Indonesia. Padahal Ivana Lie, tidak saja terlahr di Indonesia dia bahkan sudah malang melitang di arena internasional membela Merah Putih. Hanya dengan campur tangan orang-orang besar Ivana mendapatkan kewarganegaraan itu.

Tapi bagi Singapura itu hanya hal biasa. Singapura juga “membeli ‘pemain-pemain Brazil untuk kesebelasan sepak bola Singapura. Ini hanya mungkin karena Singapura menjadi sebuah negara hanya dengan perubahan administratif saja. Tak lebih dari itu.

Kiranya wujud Indonesai dalam perbandingan cukup jelas. Akan lebih jelas lagi kalau soal-soal yang seperti remeh –temeh itu, kita anggap penting juga.

Ketika FDR mengumandangkan kemerdekaan bagi bangsa–bangsa terjajah, dia bersama sekutunya telah mempertimbangkan banyak hal. Dengan alasan mencegah tragedi kemanusiaan seperti yang terjadi pada Perang Dunia yang baru usai, sebagai pihak yang menang perang, mereka terpanggil untuk menjaga dunia dan membentuknya seideal mungkin.

Tolok ukurnya tentu saja kepentingan mereka sendiri Amerika–Inggris dan sekutunya. Mereka juga tahu, semua bangsa akan bergerak maju dan semakin sadar akan kepentingannya sendiri. Betapapun kemajuan bangsa –bangsa bekas jajahan itu harus bisa dikontrol. Seperangkat alat untuk mengontrol duniapun dibentuk.

Alat-alat itu adalah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Mahkamah Internasional, Bank Dunia dan lain-lain yang disodorkan seolah untuk membantu bangsa-bangsa teertinggal.

Kalau kita mengerti itu semua, kita juga mengerti bahwa segalanya tentang Indonesia yang cukup mengundang kekhawatiran negara-negara “pemilik” dunia itu. Bangsa dengan semangat kebangsaan yang tinggi. Tidak seperti Malaysia yang belum mengerti arti kebangsaan.

Bangsa dengan budaya yang definisinya jelas. Negara Indonsia juga luas dan kaya akan sumber alam. Jumlah penduduk pun besar. Semuanya mengarah kepada potensi untuk menjadi Bangsa dan Negara yang kuat.

Karena itu laju kemajuan Indonesia harus bisa “dikendalikan”.

Dalam pemberontakan–pemberontakan separatisne, terbukti berkali-kali keterlibatan Amerika. Dalam peristiwa Timor Timur kita kalah karena permasalahannya diserahkan kepada PBB yang dibentuk untuk menjaga kepentingan Amerika dan kawan-kawan.

Pulau Sepadan lepas karena diserahkan kepada Mahkamah Interasional, yang juga alat untuk membela kepentingan Amerika dan para sekutunya. Seakan dengan “alat” yang bernama Malaysia, kita dirong-rong pada blok Ambalat. Sementara masih ada masalah Separatisme Papua, dan Gerakan Separatisme Maluku.

Yang dikehendaki adalah pecah-belahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Lalu bagaimana? Apa keinginan kita? Kita tidak bisa menyepelekan segala hal yang nampak seperti remeh-temeh. Sekian banyak jalan untuk menuju jenjang ke atas, sedemikian juga banyaknya cara orang untuk membenamkan kita!

Peristiwa Manohara, kekejian terhadap TKI kita, pengakuan terhadap kekayaan budaya kita , blok Ambalat, separatisme di Papua dan Maluku, harus dimengerti sebagai gangguan dalam sebuah lay-out desain.

KEDAULATAN KITA SEBAGAI BANGSA DAN NEGARA MERDEKA SEDANG DIRONG-RONG.

Mereka menyangsikan kita bisa membela diri. Sejumlah kelemahan dijadikan senjata. Kekuatan Angkatan Bersenjata kita yang kurang bujet. Hukum dan Pengadilan yang tidak meyakinkan kewibawaannya.

Tertinggalnya Indonesia dalam ekonomi dan sejumlah faktor lain untuk meremehkan “Nation of Servants“ ini. Semakin sukar kita menerima panggilan “saudara serumpun”. Karena kalau memang YA demikian, Malaysia harus membuktikan diri sebagai Bangsa yang Berbudaya, sama dengan Indonesia.

Malaysia harus mebuktikan sebagai Bangsa yang Beradab, yang hukum dan pengadilannya tidak membolehkan kekejian terjadi di wilayah hukumnya.

Dan “PE –ER” kita, Indonesia, kalau masih ingin mengaku sebagai bangsa merdeka, kita harus bisa mempertahankan kedaulatan kita. Kita harus mampu mempertahankan setiap jengkal wilayah kita dari jamahan bangsa lain. Kita harus bisa membela setiap warga negara kita, seberapa hinanya sekalipun dia. Kita tidak membiarkan siapapun untuk merendahkan martabat bangsa kita.

Bagi kehormatan dan martabat bangsa tak ada sesuatu apapun yang sepele.

M e r d e k a ! ! !

Knock Out Shoot Game, Game Menyenangkan Sehabis Latihan (Indonesia Development Camp 2009. Surabaya, 16-18 Agustus 2009)

Walau pelatihan di Indonesia Development Camp 2009 (IDC) terasa panjang dan melelahkan, tak satupun peserta atau campers yang mengeluh. Semuanya malah bersyukur dan bahagia melewati tiga hari pelatihan yang diberikan oleh Kevin Martin dan tiga pelatih NBA.

IMG_2491

Salah satu faktor yang membuat pelatihan IDC ini terasa menyenangkan dan tidak membosankan adalah game pendinginan yang selalu diadakan oleh Coach Brooks di setiap sore hari sebelum bubar. Knock out shoot game adalah salah satunya. Publik Surabaya yang sudah pernah menyaksikan game ini sebelumnya di NBA Madness 2009 mengenalnya dengan free throw conga.

Para pemain knock out shoot game berbaris berbanjar ke belakang di luar garis three point. Dua pemain pada barisan paling depan memegang bola. Pemain paling depan melakukan tembakan pertama. Jika bola masuk, ia harus mengambil bola dan memberikan kepada pemain di belakang pemain kedua yang memegang bola lalu kemudian kembali masuk ke barisan paling belakang. Jika bola tembakan tidak masuk, ia harus mengulang tembakan secepatnya dari posisi mana pun. Sebelum didahului oleh pemain di belakangnya.

Begitu bola oleh pemain pertama sudah ditembakkan, pemain kedua langsung boleh menembak. Jika pemain pertama gagal memasukkan bola dan pada percobaan selanjutnya ternyata didahului oleh tembakan pemain kedua yang berhasil, maka ia dinyatakan K.O. (knocked out) dan harus keluar barisan. Pemain di belakang pemain kedua tadi melanjutkan tembakan dan aturan ini berlanjut seterusnya.

Pemain yang berhasil berdiri sendiri dan mengalahkan semua pemain lainnya adalah pemenangnya! Serruuu!!!

Bulan Ramadhan Adalah Camp Pelatihan! Hustle Up!

Dalam Indonesia Development Camp 2009, Kevin Martin selalu mengulang-ulang bahwa jika kita bekerja keras dan berlatih tekun, suatu saat kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan, apakah itu dalam dunia basket maupun cita-cita kehidupan.

Coach Brooks, juga mengatakan hal yang kurang lebih serupa. Melatih kemampuan teknik tidak harus di lapangan. Kita bisa berlatih passing, menembak, pivot, dan teknik-teknik lainnya dari dalam kamar kita. Ketika kita sering mengulang-ulangnya, tanpa kita sadari kita perlahan-lahan menjadi jago.

KevinBesar

Hubungannya dengan bulan Ramadhan?

Ok gw akan bikin ini sesingkat mungkin. Buat gw, bulan Ramadhan adalah bulan pelatihan. Targetnya mungkin jelas yaitu ketakwaan (Q.S. Al Baqarah 183). Semua orang (termasuk gw) ingin menjadi orang yang bertakwa di ujung Ramadhan. Tetapi apakah indikator sebuah ketakwaan? Apakah sesuatu yang kita rasakan? Bisa saja, namun berhati-hatilah, ketika kita merasa diri bertakwa, bisa jadi itu adalah sebuah jebakan yang bernama riya’ atau ujub!

Kata orang, indikator orang bertakwa adalah perilakunya yang semakin membaik. Nah, itu dia kata kuncinya, “kata orang”! Bukan kata kita sendiri. Jadi, bulan puasa alias bulan Ramadhan adalah ajang melatih diri memiliki perilaku yang lebih baik. Nggak usah pedulikan hasilnya :P

Mengaji hingga tamat satu Al Quran dalam satu bulan barangkali agak sulit, shalat tarawih penuh juga mungkin tak begitu mudah. Tentukan salah satu perilaku baik yang ingin kita miliki yang sederhana-sederhana saja, misalnya; bersedekah seribu perak sehari, selalu mengucapkan terima kasih kepada siapapun, atau memberi senyuman tulus kepada orang asing, dan kemudian ulangi terus setiap hari selama bulan Ramadhan (persis seperti petuah Kevin Martin dan Coach Brooks)!

Menurut salah satu teori psikologi, kebiasaan baru bisa melekat pada diri kita jika kita melatihnya berulang-ulang tanpa putus selama 21 hari. Nah lho, Ramadhan ada sekitar 30 hari! Jadi, mari kita jadikan Ramadhan sebagai bulan pelatihan. Targetnya yang sederhana-sederhana saja. Kalau akhirnya di “Mata” Allah kita termasuk orang bertakwa, itu adalah bonus! Perilaku yang baik adalah fundamental masyarakat yang baik (sok tahu lu mas..hahahaaa).

Let’s do it!

(Foto dari Deteksi Basketball)