Untuk Generasi yang Akan Datang (Catatan Jalan-jalan Menyaksikan NBA Madness Surabaya. 28 Juni 2009)

Usai acara Meet and Greet with David Lee and Miami Heat Dance Team di DBL Arena, seluruh rombongan kembali bergerak menuju Supermal Pakuwon. Hari ini adalah hari terakhir. Miami Heat Dance Team akan berkolaborasi dengan empat orang pemenang Dance Competition yaitu Sherly dan Abiel (keduanya cewe dan sepertinya masih duduk di bangku sekolah dasar) dan juga Andry dan Diego (keduanya cowo dan mungkin sudah SMA).

photo-3 dance collaboration

Lagu Boom Boom Pow oleh Black Eyed Peas yang mengiringi tarian Miami Heat Dancers dan para pemenang Dance Competition benar-benar terngiang-ngiang di kepala gw (bahkan hingga gw tiba di Bandung)! Ketika kolaborasi berlangsung, semuanya berjalan sempurna! Tak ada kesalahan gerakan yang dilakukan oleh keempat pemenang Dance Competition. Mengagumkan! Padahal mereka hanya berlatih kurang dari satu hari.

Cukup banyak rangkaian acara pada hari terakhir ini. Namun selain penampilan kolaborasi Miami Heat Dance Team dengan para pemenang Dance Competition, ada satu lagi yang gw tunggu-tunggu yaitu pelatihan atau coaching clinic yang diberikan oleh David Lee kepada 16 orang anak siswa sekolah dasar. David Lee mengajarkan dasar-dasar dan cara-cara bermain basket yang baik yang diterima dengan sangat antusias oleh para peserta coaching clinic.

Setelah kegiatan coaching clinic selesai, gw mulai berpikir bahwa kegiatan NBA Madness ini sebenarnya bukanlah untuk gw atau orang-orang seumuran gw (yang berumur kepala lima silahkan angkat tangan! Hahaa..). Tetapi lebih kepada generasi yang sangat seumuran Abiel, Sherly, dan anak-anak yang mengikuti coaching clinic.

Begini (hmm, bingung juga gw harus mulai dari mana), ok begini, gw besar dalam sebuah lingkungan dan budaya pendidikan di mana seorang anak yang pintar dan dikatakan cerdas adalah mereka yang berprestasi dan mendapatkan nilai-nilai bagus pada mata pelajaran Matematika dan IPA. Mereka yang nilai Matematika dan IPA-nya pas-pasan seperti gw akan dicap sebagai seorang anak yang (hmm..) tidak terlalu pintar.

photo-5 coaching clinic

Hasilnya, walau kata hati dan minat gw sebenarnya tidak begitu besar pada mata pelajaran-mata pelajaran tersebut, karena ingin dikatakan sebagai anak pintar, tidak mengecewakan orang tua, dan membanggakan keluarga, maka gw harus belajar ekstra keras agar nilai-nilai Matematika dan IPA gw tidak jeblok. (Jika dulu gw jago Matematika dan atau IPA, gw sekarang mungkin sudah rajin menulis di jurnal-jurnal sains dan teknologi internasional..Hehee). Gw rasa, banyak anak yang nilai-nilainya bagus pada Matematika dan IPA padahal sebenarnya mereka kurang menikmati proses mempelajarinya.

Jago menggambar bukanlah anak pintar. Lincah berolah-raga bukanlah anak pintar. Merdu bernyanyi atau mengaji bukanlah anak pintar. Gemulai menari bukanlah anak pintar. Piawai bermain instrumen musik bukanlah anak pintar. Rajin bertanya malah disangka otak udang alias bloon. Sekali lagi, anak pintar adalah yang nilai-nilai Matematika dan IPA-nya bagus! (Bahasa Inggris juga!).

NBA Madness Surabaya 2009 seharusnya bisa membuka mata para orang tua atau orang-orang dewasa mengenai hal ini. Jika tolok ukurnya adalah materi, seorang pemain basket seperti David Lee mampu menghasilkan puluhan milyar rupiah pertahun hanya dari bermain basket, belum termasuk pendapukan (endorsement) dari produk-produk terkait. Begitu pula dengan para penari dari Miami Heat, mereka semua berkesempatan berkeliling dunia hanya dari kegiatan menari! Kembali lagi, jika tolok ukurnya adalah materi, seorang anak pintar menurut kaca mata budaya pendidikan kita yang karirnya berakhir sebagai seorang pegawai negeri sipil atau pegawai perusahaan swasta belum tentu bisa seperti David Lee dan Miami Heat Dancers. Jika yang menjadi ukuran adalah kepuasan, olah-raga dan kesenian adalah rajanya. Berkarya dan berkompetisi memberikan kepuasan tersendiri bagi para penggelutnya.

Eh, pada mengerti kan maksud gw? Hahaa..

(Foto-foto dari Jawa Pos)

5 pemikiran pada “Untuk Generasi yang Akan Datang (Catatan Jalan-jalan Menyaksikan NBA Madness Surabaya. 28 Juni 2009)

  1. jadi?
    maksudnya, kalo sebenarnya apayg kita pelajari di sekolah tuh belum tentu bisa bikin kita sukses?
    tapi ada hal – hal lain yg ga diajarin di sekolah yang bisa bikin kita sukses?

    kalo maksudnya kayak gitu sih gw 100% setuju

  2. jadi?
    kalo maksudnya pelajaran di sekolah belum tentu bikin kita sukses di masa depan, tapi ada hal – hal lain di luar itu yang bisa bikin kita sukses, gw 100% setuju!

  3. Kalau kata orang-orang sih, sukses adalah akibat yang disebabkan oleh sebuah usaha :)

    Kamu naik kelas nggak Priscill? Atau mau masuk kuliah? Eh ini Priscill yang di twitter kan? (sok tahu gw..hahahaaa)

  4. Ikut nimbrung ah…..
    Gw pernah denger salah 1 motivator dari Amrik sono (dah lupa namanya).
    Di skala Amrik sono, klo yg namanya orang pinter itu orang yg KREATIF.
    Nah klo utk skala ASIA, klo orang pinter, pasti yg jago hapal (lebih ter-fokus ke Sains & ngitung).
    Itu semua bagaimana cara kita melihat antara 1 sisi dengan sisi yg laenya.
    Bayangin klo 2 skala diatas digabung jd 1…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s