Belajar Main Basket dari: David Lee of New York Knicks (Exclusive Interview with David Lee in NBA Madness Surabaya 2009)

Di tengah padatnya kegiatan hari-hari terakhir NBA Madness di Surabaya, David Lee menerima gw dengan ramah untuk sedikit ngobrol tentang main basket di DBL Arena Surabaya.

photo-4

Mengagumkan bagaimana David Lee menekankan betapa belajar merupakan hal terpenting dalam hidup jika kita ingin selalu jago dalam dunia main basket dan atau juga meraih cita-cita dalam hidup.
(Nggak ngerti bahasa Inggris? Makanya belajar! Atau setidaknya mulai bertanya kepada yang lebih tahu; teman, guru, buku, atau Google.)

What was your dream when you were a kid?

I always really enjoy sport. I didn’t know that I was definetelly wanna play basketball. You know my hero is Michael Jordan and I still watch him play a couple of times. But I guess I didn’t have any until highschool that I really knew that I want to be a basketball player.

Who’s your favorite player ever?

Michael Jordan for sure. You know, I grew up in St. Louis which is about three or four hours drive from Chicago and Michael Jordan was with the Bulls, and we used to go up there and watch him two times or three times a year when I was a little, he is my hero.

Who’s the best player in the league now? Why him?

I have to say Kobe Bryant or LeBron James. But probably Kobe right now, but LeBron is younger, in the next couple of years he’ll be the best.

Who is the most inspiring person in your life?

Hmm, it’s a good question. I just think anyone that works hard in what they do, no matter what it is. My parents definetely are the biggest influence and my family. But all, anybody that works hard in what they do, no matter what it is.

When was the first time you playing basketball?

When I was really little, about three or four year old. I just travelled a little minute to the hoop and played all the time. Who taught you? My dad. My dad and I was playing a lot.

What is the most important thing to learn to improve your skill in basketball?

Well I think it’s putting in the time in the effort. I think it’s just the hard work is the most important because you can get better in any part of basketball.

What is the best thing basketball has teach you so far?

I think basketball teaches me how to be competitive. That’s a huge part of anything you do in your life. If you were competitive you could go through of anything.

What is your best moment in basketball?

I think winning the MVP at the rookie-sophomore game. And then I had a tipping in at a buzzer to win a game in The Garden. That was two years ago, that was a pretty cool feeling. It was New York against Charlotte.

What is your favorite book?

I don’t have a favorite book. I’m not a big reader..hahaa. I don’t read that much. But I read magazines.

Any messages for Indonesian youth?

I’ve seen a lot of enthusiasm for the game of the basketball and it seems a lot of people are very happy over here. Keep continue to learn whether it’d be about basketball or anything else and put in time in the effort and you will get better in whatever you decide is important. It will keep you go along the way.

David Lee (New York Knicks), Miami Heat Dancers, dan Gw Ketemuan di Surabaya :D

Pagi jam 7:30 tadi gw akhirnya tiba di Surabaya dan langsung ke tempat teman-teman panitia NBA Madness Surabaya berkumpul. Siangnya jam 11-an gw menuju Sheraton Hotel sebelum kemudian menuju Pakuwon Supermal Surabaya, satu bis bersama Miami Heat Dancer!! Them all beautiful!

Image120

Di Pakuwon Supermal, Miami Heat Dancer mengadakan klinik dance kepada sekitar 25 dancer lokal yang sangat muda-muda dan antusias (sebagian besar masih SD atau SMP sepertinya). Ketakjuban gw muncul ketika ternyata para dancer muda Surabaya ini sama sekali tidak mengalami kesulitan mengikuti gerakan-gerakan yang diajarkan oleh Mady (kalau gak salah nama pemimpin pelatihannya tadi). Malah terkesan seperti langsung hafal begitu suatu gerakan baru diajarkan.

Miami Heat Dancers akhirnya memilih empat orang untuk tampil besok bersama mereka kembali di Pakuwon Supermal. Nggak perlu seorang pengamat dance profesional untuk menilai mengapa empat orang pemenang yang dipilih Miami Heat Dancers bisa terpilih. Semangat dan passion-nya gila-gilaan!

Suasana Pakuwon Supermal pun sangat heboh! Gw belum bisa cerita banyak karena masih menikmati suasana NBA Madness yang luar biasa. Pertanyaan gw, “kenapa di Surabaya ya? Bukan Bandung agar dekat ke rumah gw..hehee”

David Lee (New York Knicks) dan Miami Heat Dance Team Tiba di Surabaya (NBA Madness)

Para bintang utama NBA Madness presented by Jawa Pos tadi malam mendarat di Surabaya. Bintang New York Knicks, David Lee, dan Miami Heat Dance Team tiba di Bandara Juanda bersama rombongan yang berjumlah total 11 orang.

Mulai hari ini sampai Minggu (25-28 Juni), mereka akan menyapa penggemar di weekend penutup NBA Madness di Supermal Pakuwon Indah Surabaya.

NBA Madness

Dari rombongan itu, tentu saja David Lee mendapat perhatian terbesar. Bagaimana tidak, badannya yang tinggi besar (206 cm) menjulang di antara penumpang yang lain. Dandan simpel dengan mengenakan kaus putih dan celana jins, Lee ditemani kekasihnya, Sabina Gadecki.

Meski lelah, Lee tampak santai dan ramah menanggapi semua orang yang menyapanya. Sebelum masuk ke mobil yang mengantarnya ke hotel, dia sempat memberikan komentar kepada barisan media yang menyambut di bandara. 
”Senang sekali bisa datang ke Surabaya. Ini kesempatan pertama saya mewakili NBA di Indonesia. Di sini saya ingin menyuguhkan yang terbaik. Bersenang-senang, bertemu dengan banyak anak-anak,” kata pebasket 26 tahun tersebut.

Menurut Lee, perjalanannya ke Surabaya tidak seburuk yang dikhawatirkan. Meski penerbangan total dari New York mencapai 20 jam, dia tidak terlalu bosan. Apalagi, transitnya di Hongkong (bertemu dengan rombongan lain) tidaklah terlalu lama. “Hanya menunggu sekitar satu jam dan 45 menit. sempurna,” ungkapnya. 
       

Sementara David Lee menyedot banyak perhatian, Miami Heat Dancers keluar dari bandara relatif lebih lancar. Enam personel dance team itu, Maddy, Kristina, Sarah, Jenny, Shea, dan Jackie, kompak mengenakan t-shirt merah Miami Heat dibungkus jaket hitam. Mereka datang ditemani sang manajer, Janine Thompson. 
 “Sambutan yang kami terima di sini luar biasa. Kami akan membalasnya dengan tampil maksimal,” papar Janine Thompson. 
     

Begitu tiba tadi malam, David Lee langsung jalan-jalan di Tunjungan Plaza. Dia mengaku ingin mengatasi jet lag. Yaitu dengan mencoba menjalani sisa malam senormal mungkin, dan tidur pada jam yang semestinya.

Mulai hari ini sampai Minggu, David Lee dan Miami Heat Dancers akan bergantian tampil di arena NBA Madness presented by Jawa Pos, di atrium Supermal Pakuwon Indah. Penampilan pertama mereka hari ini adalah pukul 14.00 WIB, secara resmi membuka weekend penutup even pertama di Indonesia ini. 
       

(Thanks to Aziz for the news)

Bayi Raksasa Nan Lincah Itu Adalah Andi Batam!

4686_88924058214_574388214_1846160_2132350_n

Tidak ada lagi keraguan bahwa Simon Wong, Pelatih Kepala Nuvo CLS Knights Surabaya harus memberikan pengawasan kepada “The Giant Baby” Andi Batam dalam babak play off nanti melawan Pelita Jaya Esia Jakarta.

Gw tidak ingat kapan pertama kali melihat Andi Batam bermain, namun dari beberapa laga terakhir Pelita Jaya, gw semakin ngeri melihat penampilan Andi Batam yang menurut gw adalah seorang pemain yang dapat memperparah mimpi buruk tim-tim lawan yang menghadapi Pelita Jaya.

Saat IBL All Star 2009 di Bandung, Andi Batam menjadi Most Valuable Player dengan raihan angka terbanyak. Hampir semua tembakan tiga angkanya dari sisi kiri masuk. Dalam lanjutan pertandingan-pertandingan kompetisi reguler, Andi Batam mampu melakukan penetrasi dan mengakhirinya dengan lay-up manis yang membuat para pemain tim bertahan tak jarang saling menyalahkan. Jangan pernah pula memberi ruang tembak bagi Andi Batam, eksekusinya akan mempermalukan pemain yang menjaganya.

Pelita Jaya yang selalu menjadi kuda hitam kini semakin berbahaya. Rusta dan Erik Sebayang dan semua skuad Pelita Jaya semakin percaya diri dengan hadirnya Andi Batam. Watch out for the Giant Baby!

(Foto oleh Ino Afiar)

Satu Pemain yang Patut Diawasi, Namanya Xaverius Prawiro!

n556565767_1469380_8083045

Saran ini gw berikan khusus untuk Bima Sakti Nikko Steel Malang yang akan menghadapi XL Aspac Jakarta pada babak play-off nanti. Matikan Xaverius, maka kemungkinan besar Bima Sakti akan kembali membunuh Aspac. Masalahnya, Xaverius tidaklah semudah itu untuk ditaklukan!

Saat melawan Garuda Flexi Bandung pada laga terakhir Putaran II Seri 6 lalu di Bandung, Xaverius adalah otak dibalik kocar-kacirnya pertahanan Garuda. Ia leluasa berputar-putar di area pertahanan Garuda mengacaukan konsentrasi sebelum menusuk dengan tembakan mematikan. Peran Xaverius dalam menjaga Mario Wuysang terlihat efektif. Mario harus bekerja keras melewati kawalan santai Xaverius sembari menata pola serangan Garuda. Garuda pun akhirnya tunduk kembali pada Aspac.

Mental Xaverius pun terbilang sudah mapan. Terkadang seorang pemain tidak lagi tertekan oleh musuh namun lebih kepada otoritas pelatih kepala. Coach Tjetjep terkenal tukang protes wasit dan sering memarahi para pemainnya di pertengahan laga. Pada pertarungan melawan Garuda lalu, gw memperhatikan Coach Tjetjep memarahi Xaverius karena melakukan sebuah kesalahan. Reaksi Xaverius kepada pelatihnya hanya mengangkat tangan sambil tertawa kepada Coach Tjetjep. Coach Tjetjep pun langsung terdiam. Hahaa..

So, Bima Sakti, kalian sudah mengantongi satu keunggulan sebagai tuan rumah. Sisanya, kunci dan matikan satu pemain ini. Bukan Thoyib, bukan Vinton, bukan Riko, tapi Xaverius Prawiro!

“Kemungkinan besar Andre sudah bisa main di babak final nanti.” Hendrik, Garuda Flexi Bandung

Babak play-off tinggal menunggu hari. Nuvo CLS Knights Surabaya akan bertemu Pelita Jaya Esia Jakarta. XL Aspac Jakarta menghadapi Bima Sakti Nikko Steel Malang. Semua pertandingan tersebut akan digelar di Malang. Dua tim yang berhasil mengalahkan lawan-lawannya masing-masing akan bertanding (kemungkinan) di Bandung melawan Garuda Flexi Bandung dan Satria Muda Britama Jakarta dalam babak Final Four.

Tiara Dunk

Hari Sabtu lalu, seorang teman penggemar Nuvo CLS Knights mengajak gw untuk bermain basket bersama teman-temannya di Meteor Arena, Molis, Bandung. Kebetulan banget karena hari Kamis sebelumnya gw batal main karena lapangan indoor Stamford International School digunakan untuk acara wisuda siswa sekolah tersebut. Awalnya gw ragu menerima ajakan untuk bergabung dan main basket bareng di Meteor Arena (karena mainnya pagi benar), namun setelah gw pikir-pikir, keuntungannya lebih banyak!

Benar saja, gw mendapatkan sepuluh orang lebih teman baru. Salah satunya yang ikut bermain adalah Hendrik, center dari Garuda Flexi Bandung. Dalam obrolan di sela-sela istirahat, Hendrik menjelaskan bahwa Garuda sedang libur latihan beberapa hari sebelum kembali mempersiapkan diri.

Tiba-tiba tanpa dipersiapkan sebelumnya gw bertanya “(Andre) Tiara apa kabar?” Hendrik menjelaskan bahwa Tiara tengah menjalani terapi pemulihan akibat cideranya saat melawan SM di Seri 1 lalu. “Kemungkinan besar Andre sudah bisa main di babak final nanti.” jawab Hendrik dengan optimis!

Gw langsung teringat bahwa kekalahan Garuda atas SM dan Aspac dalam lanjutan Seri 6 lalu salah satunya karena Andre Tiara tidak main! Dan sebaliknya, kemenangan-kemenangan Garuda sebelumnya atas SM dan Aspac dikarenakan kontribusi Andre Tiara! Nah lho?! Semoga segera pulih Andre Tiara!

Hands Up! Hands Up!

2067045755_16ed2c1664

Saat dalam posisi bertahan, salah satu rekan satu tim biasanya selalu mengingatkan anggota tim yang lain untuk “Hands up!” alias mengangkat tangan. Satu gerakan sederhana dan mudah ini sangat sering terlupakan saat bermain atau bertanding. Gw pikir hanya gw saja, ternyata para pemain IBL pun sering begitu jika gw perhatikan, sehingga tak jarang gw mendengar teriakan “Hands up!” dari dalam lapangan.

Gerakan ini mudah dan sederhana sekali namun efeknya sangat besar bagi pertahanan. Pemain yang menyerang akan merasa bahwa pertahanan lebih rapat dan kuat jika pemain bertahan melakukan “Hands up!”. Penyerang pun akan berpikir dua kali untuk menembak karena khawatir akan terjangkau dan terkena block.

Sayangnya, gerakan sederhana yang berpengaruh besar ini seringkali terlupakan. Padahal seharusnya ia adalah salah satu teknik dasar dalam bertahan. Lagi-lagi gw berpikir bahwa main basket terkadang adalah cermin mungil dari yang namanya kehidupan. Kita terkadang lupa melakukan hal-hal kecil yang impaknya justru cukup besar. Misalnya? Ah silahkan cari sendiri deh. Terima kasih :D

“Come Out Come Out Wherever You Are!”, My Neighbor Totoro oleh Hayao Miyazaki

Minggu-minggu yang cukup padat beberapa waktu belakangan ini. Kejuaraan FIBA Championship di Jakarta yang kemudian dilanjutkan dengan Putaran II Seri 5 di Surabaya. Selang beberapa hari kemudian ada SEABA Championship For Men di Medan yang kemudian dilanjutkan dengan Putaran II Seri 6 di Bandung. Di antara kegiatan-kegiatan tersebut, kita juga disuguhi babak play-off dan final NBA di televisi, di mana LA Lakers keluar menjadi juara.

Di Surabaya, rangkaian kegiatan NBA Madness sedang berlangsung dan semarak. Begitu juga LA Lights Streetball yang sedang dan semakin bergelora (Gw pengen banget menulis tentang kegiatan ini tapi belum pernah sempat). Minggu depan pula, Pemain New York Knicks, David Lee dan para pemandu sorak dari Miami Heat akan beraksi di Surabaya.

——————

totoro-tree

Ah, ok, rehat sejenak! Gw harus cari buku dan atau film untuk menenangkan dan menyegarkan kembali saraf-saraf yang mulai penuh dan padat oleh main basket dalam waktu yang sangat singkat.

Gw menemukan “My Neighbor Totoro”, sebuah film animasi buatan Jepang tahun 1988 yang ditulis dan diarahkan oleh Hayao Miyazaki, Seorang sutradara animasi yang pernah mendapatkan Oscar untuk karyanya Spirited Away di tahun 2003.

My Neighbor Totoro berkisah tentang persahabatan dua cewek bersaudara Satsuki Kusakabe dan Mei Kusakabe, (putri-putri dari seorang dosen Tatsuo Kusakabe) dengan roh (spirit) penjaga sebuah pohon besar yang diberi nama oleh Mei dengan nama Totoro.

Ceritanya berawal ketika ayah dan dua putrinya ini mulai menempati sebuah rumah baru di satu desa yang asri. Rumah tersebut kabarnya dihuni oleh roh dan hantu gentayangan. Di sinilah awal mula menariknya film ini. Berbeda dengan kebanyakan orang di dunia terutama di Indonesia yang super paranoid dengan hantu, Tatsuo, Satsuki, dan Mei justru sangat antusias mengetahui rumah mereka berhantu. Mei malah tak ingin hantu-hantu tersebut pergi dari rumahnya.

Di hari pertama mereka tiba di rumah, mereka langsung merasakan dan melihat hantu-hantu kecil berwarna hitam yang bergerombol di sekitar rumah. Bukannya takut, mereka malah mencari tempat persembunyian hantu-hantu tersebut. Satsuki dan Mei mencari sambil berteriak “come out come out wherever you are!”

Film ini mengangkat kisah dengan nilai-nilai yang mulai dianggap remeh oleh masyarakat zaman sekarang; sopan santun, kewiraan atau rasa ksatria, berpikir rasional, hormat kepada orang tua dan orang-orang yang lebih tua, keberanian, rasa gotong-royong, kasih sayang dalam keluarga, kebahagiaan dalam kesederhanaan, kesabaran, persahabatan, dan nilai-nilai luhur kehidupan lain.

Totoro sebagai sosok spirit penunggu pohon dipandang sebagai karakter yang lucu, bahkan dalam geraman dan teriakannya yang kadang sangat menyeramkan. Bukannya malah ketakutan, Satsuki dan Mei justru kegirangan mendengar geraman Totoro. Film yang sangat bagus! Sekali tonton, film ini langsung masuk dalam kategori film favorit gw! :D

Karakter Mei mengingatkan gw pada Alice di Alice in Wonderland karya Lewis Carroll, Toto Chan-nya Tetsuko Kuroyanagi, Mary Lennox di The Secret Garden karya Frances Hodgson Burnett, dan Matilda-nya Roald Dahl.
Seorang putri riang, cerdas, dan kaya imajinasi!

Anak basket kayaknya perlu deh nonton film ini! Lol :D

Dear Darling #5

Dear Darling 5

“I wanna love you and treat you right; I wanna love you every day and every night: We’ll be together with a roof right over our heads; We’ll share the shelter of my single bed; We’ll share the same room, yeah! – for Jah provide the bread. Is this love? Is this love that I’m feeling? I wanna know, wanna know now! I got to know, got to know now!“

Bob Marley seperti bernyanyi sendiri dengan gitar akustiknya di dalam benakku setiap kali aku mencuri pandang saat kamu serius dan bersemangat meneriaki wasit yang sepertinya lebih memihak lawan dari tim basket favoritku.

Bob Marley tiba-tiba berhenti bernyanyi sembari cepat-cepat menyembunyikan gitarnya dan buyar dari pikiran aku ketika kamu menoleh dan bertanya, “kenapa?”

“Nggak apa-apa, ada bulu mata kamu nempel di pipi kanan. Diem deh, aku ambilin.”

Garuda Flexi Bandung Salah Satu Kunci Jika IBL Ingin Maju!

Kekalahan Garuda Flexi Bandung dari dua seteru utamanya di kandang sendiri pada lanjutan Putaran II Seri 6 IBL 2009 benar-benar membuat gw sedih. Ada dua penyebab kesediahan gw dari kekalahan Garuda. Kesedihan pertama adalah karena Garuda Flexi Bandung adalah tim favorit gw. Layaknya seorang fan sebuah tim olahraga di mana pun di dunia, kekalahan tim yang didukungnya adalah hal yang sangat tidak diharapkan. Seorang fan kadang kala sering berlaku emosional, kita tidak peduli apakah materi, kondisi fisik, kemampuan teknik, kekompakan bermain, atau kehandalan strategi sedang bobrok, yang kita para fans ketahui dan inginkan adalah tim kita menang. Dengan sportif tentunya.

3086_69359473214_574388214_1586179_595536_n

Kesedihan kedua lebih dikarenakan pandangan subyektif gw yang merasa bahwa Garuda Flexi Bandung sebenarnya adalah sebuah tim yang sangat diharapkan dapat mengangkat kembali pamor IBL yang semakin meredup. Miskin inovasi sebagai alternatif hiburan dan dominasi Satria Muda Britama Jakarta serta XL Aspac Jakarta membuat IBL bukan menjadi pilihan utama untuk memperoleh kesenangan alternatif.

Sekitar tiga tahun lalu, saat Garuda masih bernama Garuda Panasia Bandung, GOR C-Tra arena tak pernah dikerubuti penonton yang antusias untuk menyaksikan pertandingan. Menyaksikan IBL ibarat menonton sinetron yang menyebalkan yang hasil akhirnya sudah sangat-sangat bisa ditebak. Kalau tidak SM ya Aspac.

Satu tahun berikutnya, ketika Kelly bergabung ke Garuda dari Kalila (Pelita Jaya Esia Jakarta), pendukung Garuda seperti mendapatkan harapan baru. Kelly adalah sosok yang atraktif. Permainannya indah dan Kelly adalah persona yang ramah di luar lapangan. Masuknya Kelly pun membawa kekuatan baru bagi Garuda. Aspac mulai mendapatkan kompetitor yang sepadan walau SM masih merupakan lawan yang agaknya cukup sulit dikalahkan.

Denny Sumargo hengkang dari SM untuk kemudian bergabung pula dengan Garuda. Setiap kali Garuda datang bertanding di rumah, GOR C-Tra Arena mulai menampakkan “kehidupan”. Aksi Kelly dan Denny benar-benar memukau. Puncaknya adalah ketika Garuda berhasil mengalahkan Aspac pada semi final IBL tahun 2008. Sesuatu yang sungguh tidak disangka-sangka. Dua kemenangan Garuda atas Aspac saat itu hanya terpaut dua poin yang diraih di detik-detik akhir berkat perjuangan Kelly dan Denny.

Di final yang menggunakan sistem the best of five, Garuda bertemu SM. Kemampuan Garuda mencuri satu kemenangan atas SM di game ke tiga memberi secercah harapan baru. Walau saat itu Garuda akhirnya tetap harus mengakui keunggulan SM 1-3. SM kembali juara IBL di tahun 2008.

Pada Turnamen IBL, sebuah ajang pemanasan sebelum memasuki tahun kompetisi 2009, Garuda mengalahkan SM di final dan keluar sebagai juara. Pecinta IBL seperti mendapat magnitude (daya tarik) baru untuk menyaksikan IBL. Garuda menjadi idola segar. Bukan hanya bagi warga Bandung, namun semua pecinta basket IBL yang sudah jengah dengan SM dan Aspac.

IBL, dan pecinta basket memberi apresiasi atas kemajuan Garuda dengan memprediksi Garuda akan menjuarai IBL 2009. Saat itu semuanya terlihat sangat-sangat mungkin dan menjanjikan. Kini yang ada adalah munculnya keraguan akankah Garuda mampu memenuhi harapan penggemarnya. Bukan hanya penggemar Garuda, namun juga penggemar IBL yang sekali lagi gw tegaskan sudah sangat jenuh melihat aksi SM lagi-SM lagi.

Trofi Juara NBA yang Baru Diraih LA Lakers Menuju Surabaya (Jadi Bintang Tamu Baru di Weekend Penutup NBA Madness Surabaya)

31

NBA Madness presented by Jawa Pos, even basketball lifestyle interaktif pertama NBA di Indonesia, bakal kedatangan bintang tambahan. Bukan orang, tapi paling diburu oleh tim dan pemain basket terbaik di dunia.

Larry O’BrienTrophy, tanda juara NBA yang baru dimenangkan oleh Los Angeles Lakers Minggu lalu (14/6, Senin pagi WIB), bakal terbang ke Surabaya. Trofi ini bakal ikut menjadi tontonan penting di weekend penutup NBA Madness presented by Jawa Pos, di Supermal Pakuwon Indah, 25-28 Juni mendatang.

Dengan hadirnya Larry O’Brien Trophy, semakin maraklah NBA Madness pertama di Indonesia ini. Sebab, pada weekend tersebut, juga dijadwalkan tampil bintang New York Knicks, David Lee, plus enam personel Miami Heat Dancers, juara favorit dance team NBA selama empat tahun berturut-turut.

“Kami senang sekali ketika diberi tahu Trofi Larry O’Brien bakal ke Surabaya. Sebab, sebelumnya belum ada kepastian, mengingat final NBA sedang berlangsung bulan Juni ini,” kata Azrul Ananda pimpinan DBL Indonesia, penyelenggara NBA Madness di Indonesia. “Semoga saja semua prosesnya lancar, dan trofi itu bisa hadir dan menyapa penggemar basket di Indonesia,” tambahnya.

Larry O’Brien Trophy sendiri bukanlah trofi biasanya. Didesain oleh Tiffany’s, sebuah rumah desain mewah di New York, pada 1977. Memiliki tinggi sekitar 62 cm dengan bobot sekitar tujuh kilogram, trofi tersebut terbuat dari bahan kuningan dan dilapisi emas 24 karat.

Dulunya, trofi ini punya nama World Championship Trophy. Baru pada 1984, ketika David Stern menjadi commissioner NBA, trofi itu berganti nama menjadi Larry O’Brien. Itu adalah nama commissioner ketiga NBA yang menjabat sebelum Stern.

30

Kobe Bryant dan Los Angeles Lakers berhasil menjadi pemenang terakhir trofi tersebut. Secara keseluruhan, tim itu telah meraih gelar juara 15 kali, sepuluh di antaranya mendapatkan Larry O’Brien Trophy (Lakers lima kali juara sebelum trofi itu dibagikan).

NBA Madness presented by Jawa Pos sendiri masih menyisakan dua weekend. Mulai Kamis besok sampai Minggu (18-21 Juni), even ini menyapa Royal Plaza Surabaya.

Walau tanpa bintang tamu, penyelenggara yakin even ini tetap menjadi magnet yang luar biasa.
“Semua permainan ditampilkan di sana, gratis dan terbuka untuk segala usia dan kalangan. Juga ada 15 besar Flexi Dance Competition, berebut lima besar dan kesempatan tampil bareng Miami Heat Dancers,” ingat Masany Audri, general manager DBL Indonesia.

Permainan-permainan yang diselenggarakan antara lain Jawa Pos Slam Dunk Contest, Honda Beat 3-Point Shootout, Mie Sedaap 3×3 Challenge, DHL Speed Challenge, NBA 2 Ball, NBA Shooting Stars, dan NBA Free Throw Conga. Selain itu, masih banyak lagi permainan lain di booth-booth para partner penyelenggara.

Main Tanpa Gairah, Garuda Flexi Bandung Takluk Dari XL Aspac Jakarta 86-74

2671_66899458214_574388214_1557484_6634129_n

“Aura XL Aspac Jakarta sebagai tim yang tangguh mulai meredup sejak ditinggal oleh Andi Batam, Yayan, dan Mario. Namun bukan berarti taring mereka sudah patah. Xaverius, Vinton, dan Riko tetaplah lawan-lawan yang menakutkan. Tak terkecuali bagi Garuda Flexi Bandung.”

Kalimat di atas adalah kalimat awal dari tulisan gw pada posting sebelumnya. Dan terbukti Xaverius menggila menggebuk Garuda di hadapan para pendukungnya sendiri. Garuda Flexi Bandung bermain tanpa semangat. Dingin, tanpa gairah, nggak ada api-apinya, lalu tergopoh-gopoh di dua menit terakhir. Sangat buruk!

Who’s to blame? The Coach? Denny? Mario? Kelly? Wiwin? Aguy? you name it! And it won’t change nothing!!

(Foto oleh Ino)