Pemain Basket, Matikan TVmu! Seriously!

2d28e2dfd4498f17fff5b755bb29c8a8138d1716_m

Untuk dapat bermain di NBA, seseorang harus menamatkan kuliahnya. Beberapa pemain memang ada yang langsung masuk NBA sejak tamat SMA, namun sangat sedikit. Kobe Bryant dan LeBron James di antaranya.

Menjadi pemain basket di kampus universitas pun bukan perkara mudah. Selain prestasi di lapangan, prestasi akademik pun harus sangat bagus. Seorang pemain basket kampus harus menjalani jadwal latihan padat dan keras agar prestasi tim basket di kompetisi NCAA bisa tinggi. Di sisi lain, prestasi akademis harus dikejar dengan mengikuti kuliah, mengerjakan tugas dan membaca literatur dan buku-buku terkait.

Jadi bisa dikatakan bahwa NBA adalah kumpulan pemain berstatus sarjana!

Hal tersebut bisa terjadi di Amerika Serikat, sebuah negara yang sangat-sangat menjunjung tinggi pentingnya pendidikan dan juga olah raga. Negara memberikan segala bentuk fasilitas agar masyarakatnya dapat berprestasi secara akademik maupun berprestasi di bidang olah raga. Kesadaran ini bukan hanya milik pemerintah saja, namun juga semua kalangan.

Cerita di bawah ini adalah kekesalan gw terhadap Trans Tv dan juga televisi-televisi lain yang tampaknya tidak memiliki usaha dalam mendukung hal-hal agar tercapainya tujuan untuk menjadi bangsa yang cerdas dan berprestasi. Tidak terkait langsung dengan dunia main basket, namun beberapa nilainya gw rasa terkait sangat kuat.

Begini ceritanya,

Tadi malam adalah salah satu waktu terlama yang pernah gw habiskan di depan televisi dalam sepuluh tahun terakhir. Sejak dulu gw sudah nggak doyan bahkan cenderung membenci acara-acara televisi di negeri kita ini.
Acara apa yang membuat gw terpana agak lama di depan tv tadi malam? Gw terpana melihat sebuah acara di Trans Tv yang menurut gw sangat-sangat mengerikan! Sangat mengerikan! Entah apa efek menonton program tersebut bagi orang lain, tapi buat gw efeknya jelas; Gw merasa sebal, kesal, jijik, marah, sedih semuanya menjadi satu. “Bagaimana mungkin sebuah acara televisi yang menurut gw sangat merusak, bisa hadir pada jam tayang utama dan diharapkan menjadi kegemaran masyarakat Indonesia?” Tanya gw dalam hati.

Nama acaranya adalah (kalau tidak salah) “Religi”. Sebuah acara yang mengungkap keburukan seseorang ke hadapan keluarga atau kerabat dekatnya dengan harapan orang yang berperangai atau berkelakuan buruk tersebut berubah tabiatnya di ujung acara.

Entah apa yang ada di kepala para pengusung acara tersebut mencoba menjadi pahlawan memperbaiki keburukan orang lain, mencoba beraksi sok jagoan, sok alim, namun di lain pihak menjadi sangat munafik dengan mengeruk keuntungan ratusan juta bahkan milyaran rupiah dari slot iklan yang berjubel saat acara tersebut ditayangkan.

Dalam episode Religi (atau apapun nama acara itu) tadi malam, seorang ibu menangis tersedu bahkan nyaris pingsan mendengar laporan mengenai kelakuan putranya yang disangkanya baik namun ternyata sebaliknya. Singkat cerita, ia bersama putrinya (kelihatannya kakak dari anak yang bermasalah) mencari di mana putranya berada. Dibantu oleh para kru Trans Tv, mereka akhirnya berhasil menangkap basah anaknya sedang berada di dalam kamar (yang awalnya tertutup) bersama seorang wanita (mungkin pacarnya). Sang putri, si ibu dan kru Trans Tv tentunya dengan kamera-kameranya menggerebek sang putra dengan (mungkin) pacarnya.

Si putri, kakak dari anak tersebut langsung merangsek masuk ke dalam kamar, memukul adiknya bertubi-tubi sambil menangis kecewa. Sang ibu juga menangis hancur hatinya melihat kejadian tersebut. Si putra pun langsung bersujud menangis sambil disorot televisi, ia menangis entah karena malu, merasa berdosa, atau apa, gw nggak bisa menebak.

Si anak yang digerebek tadi, di tengah jalan pulang berhadapan dengan salah seorang warga yang mengatakan (kurang lebih) “anak anda itu gigolo!” Na’udzubillah.

Setelah selesai konflik dan klimaks penyergapan, si Ibu, putrinya, dan para kru Trans Tv mengajak sang putra untuk “berobat” kepada kiai untuk mengeluarkan aura negatif dalam tubuhnya (entah apa maksud aura negatif itu). Kiai terlihat memberikan wejangan dan doa kepada semua yang hadir dan tentunya kepada si putra tadi. Semua terlihat menangis. Pada tayangan televisi, terdengar alunan lagu yang berlirik ayat-ayat Al-Quran sebagai latar belakang musiknya. Jika ini adalah sebuah alur cerita yang lengkap, barangkali plot tadi adalah bagian akhir yang happy ending.

Timbul pertanyaan dalam benak gw?

Siapakah keluarga yang rela tampil di televisi dengan “menepuk air di dulang terpercik muka sendiri” ini? Apakah ia mendapat bayaran? Atau sukarela? Sadarkah mereka dengan apa yang mereka lakukan?

Potret kebodohan

Buat gw, inilah potret kebodohan masyarakat kita. Ya, keluarga tersebut memiliki masalah dengan salah satu anggotanya. Namun apakah ini satu-satunya cara mencari solusi memperbaikinya? Mengorbankan harga diri semua anggota keluarganya?

Anggota keluarga merasa dengan begini sang anak yang nakal tersebut jadi kapok lalu tobat dan bisa kembali ke jalan yang benar. Padahal, menurut gw, ia justru semakin dihancurkan. Muka, tampang dan parasnya terlihat di mana-mana. Ia dikenali oleh semua teman-temannya, dari teman SD sampai..ah semua temannya! Teman yang tidak nonton akan mendapatkan cerita dari teman yang menonton. Sang kakak mempermalukan dirinya sendiri juga dihadapan orang-orang yang mengenalnya. Teman-temannya pun akan mengenalinya sebagai keluarga dengan aib dan masalah. Begitu pula sang ibu, yang barangkali akan mendapat cibiran atau banyak prasangka oleh orang-orang dekatnya.

Sang anak yang bermasalah yang dipertemukan dengan sang kiai terlihat menangis tersedu dan mungkin menyesal ketika kiai menasihatinya dan membacakannya doa-doa. Demikian pula kakaknya, ibunya, bahkan kru Trans Tv ikut menangis. Seolah dengan begitu masalah dalam diri sang anak jadi terhapus. Beres semua problema. Kiai yang baik hati menjadi penyelamat, penyegar, penyejuk, obat atas masalah keluarga tersebut.

“Hey yo! Bangun! Sadarlah! Tak ada yang mencerahkan selain pendidikan dan kemauan merubah diri sendiri!!!” pikir gw. Merubah nasib, mengganti karakter tak semudah membalik telapak tangan. Ia butuh proses. Proses itu bernama belajar. Kalau gak percaya, tanyakan kepada semua pakar di dunia! Ok, tanyakan pada Tuhan, pada Allah atau pada siapapun yang kalian anggap Maha di dunia ini. Berharap pada sentuhan ajaib sang kiai barangkali bisa benar-benar ajaib. Namun gw yakin, kiai tersebut pun setuju bahwa “Allah tidak akan merubah keadaan lu selain diri lu sendiri yang merubahnya.” Bukan sang kiai!

“Bacalah!” perintah Allah yang pertama kepada Nabi Muhammad Saw. Baca! Belajar!

Televsi munafik!

Dengan acara tersebut Trans Tv barangkali berharap mereka berhasil memecahkan masalah dalam satu keluarga tersebut. Benarkah? Apa indikasinya? Siapa bisa menjamin kalau anak nakal tadi tidak kembali ke perilakunya semula beberapa hari kemudian? Tidak ada yang bisa menjamin. Gw malah menyangka ia akan semakin terpuruk karena kelakuannya disaksikan puluhan juta pemirsa televisi yang mungkin menyantap habis rasa percaya diri sang anak dan keluarga tadi. Depresi.

Gw meragukan kalau keluarga yang diangkat kisahnya di televisi tersebut menyadari bahwa mereka tengah “diperalat” oleh televisi. Keluarga tersebut tidak tahu bahwa televisi meraup keuntungan yang sangat besar dengan mempertontonkan aib mereka. Mempertontonkan aib keluarga “disponsori” miliaran rupiah oleh para pengiklan. Kasihan.

Bagian paling mengerikan buat gw adalah saat terdengar alunan lagu dengan lirik-lirik ayat-ayat Al-Quran sebagai latar belakang suara ketika sang putra tadi “diobati” oleh kiai. Mungkin si pengarah acara berpikir bahwa lagu tersebut dapat menyentuh atau menggetarkan hati para penonton. Lagu rohani, lagu religius, atau lagu Islami diharapkan dapat menyentuh kalbu. Ok, buat sebagian orang mungkin ya. Tapi buat gw, semua lagu yang bisa mengingatkan diri kepada-Nya adalah lagu rohani. Entah itu lagunya Metallica, Rancid, Iwan Fals, Bob Marley, Slank, The Beatles, atau bahkan Aura Kasih yang tidak ada ayat-ayat Al-Quran-nya. Well, ini mungkin karena iman gw yang masih tipis. Sangat tipis.

Sebagai orang Islam, gw diajarkan untuk menutupi aib saudara sesama muslim. Menggunjingkan orang lain saja diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal dunia! APALAGI INI MEMPERTONTONKANNYA DI TELEVISI! Televisi berlagak ingin memperbaiki karakter orang lain, padahal buat gw, ia mengajarkan kita “bagaimana cara memakan daging dari tubuh saudara sendiri.” Jijik dan munafik!

Belajar dari Kareem Abdul-Jabbar (LA Lakers)

Tulisan ini buat gw sangat-sangat emosional. Malah sedikit sekali hubungannya dengan main basket. Kareem Abdul-Jabbar pernah bilang, “gw mendukung anak-anak untuk mengejar impiannya di dunia basket, namun jangan jadikan itu sebagai satu-satunya cita-cita.”

Buat gw, Kareem Abdul-Jabbar secara tidak langsung bilang agar kita berlatih main basket dengan giat namun juga belajar keras untuk mencapai semua impian. Gw iri pada kondisi negara-negara lain di mana pemerintah, sekolah, sistem pendidikan, media massa, televisi, dan semua perangkat negaranya ada agar masyarakatnya menjadi semakin cerdas dan makmur. Di Indonesia, televisi cenderung membodohkan dan pemerintah tak mau ambil pusing. Dengan alasan ratting yang tinggi, sinetron dengan kualitas sampah bahkan sekelas tahi pun disiarkan setiap hari pada jam tayang utama.

Di sekolah kita diajar untuk menghapalkan bahwa pengarang roman Siti Nurbaya adalah Marah Rusli, semua siswa/i tahu itu. Namun ada berapa siswa/i yang benar-benar pernah membaca roman perjuangan nan indah tersebut?

Setiap tanggal 21 April kita merayakan hari Kartini, namun berapa orang yang pernah membaca kumpulan surat ibu Kartini dalam bundelan “Habis Gelap Terbitlah Terang”?

Hey, substitusi untuk nonton televisi sangatlah banyak. Kalian bisa membaca, nonton film bermutu, membaca buku pelajaran, koran, majalah, komik, dll.

Perekonomian Argentina tidaklah lebih baik daripada kita, Indonesia. Tetapi mereka bisa menghasilkan pemain basket sekelas Manu Ginobili dan bahkan pernah mengalahkan tim nasional Amerika Serikat. Pun Filipina demikian, kita jauh lebih maju daripada negara si petinju Pac Man itu, tetapi basket kita tertinggal cukup jauh.

Sekali lagi, main basket tidak akan pernah cukup. Imbuhi dengan selalu belajar. Membaca tiada henti. Dengan begitu insyaAllah bangsa ini bisa semakin maju memanfaatkan sumber daya alam yang katanya melimpah. Gw yakin, imbasnya akan berbanding lurus dengan dunia bola basket kita. Amiin.

6 pemikiran pada “Pemain Basket, Matikan TVmu! Seriously!

  1. suka banget gw dgn

    “Hey yo! Bangun! Sadarlah! Tak ada yang mencerahkan selain pendidikan dan kemauan merubah diri sendiri!!!” pikir gw. Merubah nasib, mengganti karakter tak semudah membalik telapak tangan. Ia butuh proses. Proses itu bernama belajar. Kalau gak percaya, tanyakan kepada semua pakar di dunia! Ok, tanyakan pada Tuhan, pada Allah atau pada siapapun yang kalian anggap Maha di dunia ini. Berharap pada sentuhan ajaib sang kiai barangkali bisa benar-benar ajaib. Namun gw yakin, kiai tersebut pun setuju bahwa “Allah tidak akan merubah keadaan lu selain diri lu sendiri yang merubahnya.” Bukan sang kiai!”

    mantaapppsss

  2. Gw sangat2 suka artikel ini, mudah2an para pemimpin bangsa ini ga cuma mikirin Just du it melulu, tetapi Just Do It menuju bangsa yg maju, cerdas & non KKN (now or never).

    Majulah Basket Indonesia !
    I love this game !

  3. whtzup man…
    bnr bgt kata lw diatas.. dan skrng gw berpikir lw harus jd raper dan bwt smw kata2 di atas bagian dari lyric lw
    GBu

  4. Weiss… Keren bener ne tulisan! Klo ne ne tulisan nyampe ke Eminem or Will I am, pasti dijadikan lagu utk rapper.
    Setuju bgt, tayangan TV indonesia emang ga benar. Terutama sinetron yg punya rating tinggi, dimana pemain yg mati bisa hidup lg, byk berderai air mata dan berjubel konflik dr pemain antagonis. Selain tu, terlalu byk tayangan gosip yg ga mendidik.
    Semuanya hanya ngajari supaya masyarakat indonesia selalu cengeng, kejam, dan bikin sensasi biar dpt popularitas.
    Coba yg ditayangin tu game liga basket pasti lbh mendidik. Karna
    trik dlm bermain basket membutuhkan kecepatan berpikir dlm hal jump,operan dll. Setiap detiknya merupakan harapan kemenangan!
    Jadi, bermain basket sama dgn belajar berpikir dan bertindak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s