Musik, Main Basket, dan Isu Global

rollingstone_49_052009

Gw bukan seorang pengamat musik, namun gw mengapresiasi musik sebagai sesuatu yang tanpanya hidup serasa ada yang kurang. Pagi ini gw membeli majalah Rolling Stone terbaru dan mendapatkan sebuah bonus CD God Bless berisi empat lagu demo untuk album terbaru mereka, 36.

Tidak sulit melihat/mendengar perbedaan antara God Bless dan band-band populer baru yang bermunculan sekarang. God Bless masih kuat karakter rock-nya (katanya sih rock progresif) melalui skill edan dari gitar dan bas oleh Ian Antono dan Donny Fattah. Satu hal yang paling menonjol dalam perhatian sekilas gw adalah salah satu lagu mereka yang berjudul Prahara Timur Tengah.

Gw jarang menemukan lagi band-band sekarang yang menulis lirik dan membuat lagu tentang isu-isu internasional, atau kepedulian sosial yang sifatnya global. Dulu ada Iwan Fals dan juga Rhoma Irama, serta tentunya God Bless.

Band-band sekarang mencurahkan perhatiannya pada kisah cinta menye-menyee dalam berbagai sudut pandang. Bukan berarti hal tersebut tidak penting, tetapi setidaknya banyak hal lain pula yang tak kalah penting. Hebatnya, tema musik ini justru tengah sangat digemari.

Pertanyaan terbersit di benak gw, apakah ini adalah cerminan anak-anak muda zaman sekarang? Lebih peduli kepada kisah cinta dan kehidupan pribadinya ketimbang isu-isu global? Mungkin. Eh, entahlah.

Apa hubungannya dengan main basket?

Musik telah lama disadari sebagai sebuah media dalam menggugah masyarakat untuk ikut memerhatikan masalah-masalah bersama. Lihat Bono dan U2, The Beatles, Bob Dylan, Bob Marley, dan lain-lain. Lagu mereka berhasil menggugah banyak orang untuk melakukan sesuatu atas masalah global yang tengah melanda.

Dapatkah dunia olah raga melakukan peran yang sama? Tentu saja! Dalam sepak bola, klub Barcelona menjadi duta Unicef dalam menjalankan program-programnya di seluruh dunia. Individu-individu tajir dalam sepak bola melakukan kegiatan-kegiatan sendiri namun teroganisir dalam membantu memecahkan problematika yang banyak melanda dunia ketiga.

Nah di dunia main basket hal ini pun sudah dijalankan. Tengok saja NBA. Banyak kegiatan yang mereka lakukan di luar main basket yang orientasinya sosial kemasyarakatan. Contoh? Tidak perlu jauh-jauh, tahun lalu Danny Granger (Indiana Pacers, NBA) selain memberikan pelatihan singkat bermain basket ke Surabaya, ia juga mengunjungi beberapa tempat untuk kegiatan sosial.

Garuda Flexi Bandung menempelkan logo World Food Programme di jersey mereka. Satria Muda Britama Jakarta menempelkan emblem “Peace For Gaza” dan “Back to School” di belakang kostum kebanggaannya.

Tidak gw ragukan bahwa kita semua adalah orang-orang yang memiliki kepedulian yang tinggi, rasa sosial yang sangat baik, motivasi untuk membantu yang ikhlas, serta semangat membantu yang tidak diragukan lagi. Namun terkadang kita tidak tahu harus ngapain.

Kepedulian datang karena pengetahuan. Pengetahuan didapat karena belajar. Salah satu cara belajar paling efektif namun kurang digemari adalah membaca. Anak basket tidak suka membaca? Unwell, ini gak baik. Anak-anak yang senang main basket adalah anak-anak yang punya motivasi tinggi, semangat yang tinggi, rasa empati dan simpati dan setia kawan yang tinggi, dan kerjasama tim yang terasah, tetapi apa gunanya jika malah “nggak tahu harus ngapain”?

Main basket saja tidak akan pernah cukup :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s