Berbanding Lurus

2671_66898698214_574388214_1557478_508143_n

Gw gak paham apa indikatornya, namun katanya tingkat pendidikan masyarakat Indonesia masih lah rendah. Sangat rendah malah kata beberapa orang yang disebut ahli (walau lagi-lagi Gw juga gak kenal siapa saja mereka itu).

Gw mencoba mencari indikator sendiri. Barangkali akan terasa ngawur bagi beberapa orang. Indikator pertama adalah kegemaran masyarakat menikmati sesuatu yang seolah-olah pasti padahal semu. Menyaksikan sinetron contohnya. Mengkonsumsi sesuatu yang tidak bermutu. Akting para aktor dan aktris sinetron sangat-sangat buruk. Ceritanya tertebak. Kok Gw merasa bahwa orang Indonesia lebih senang menikmati sesuatu yang terlihat pasti! Padahal kita semua tahu bahwa di dunia ini satu-satunya kepastian adalah ketidakpastian. Kecuali mati. Semua yang bernyawa pasti akan mati!

Film Holywood pun akan jeblok di pasaran kalau cerita atau alurnya sudah tertebak dari awal. Sepertinya ini memang terkait dengan tingkat pendidikan. Sistem pendidikan kita tidak mengajarkan siswa untuk punya sifat penasaran. Rajin membaca buku membuat tingkat penasaran kita tinggi. Kita semakin merasa bodoh ketika selesai menyelesaikan sebuah bacaan yangmenggiring dan membuat kita penasaran ingin menambah pengetahuan kita lebih banyak lagi. Ini adalah indikator yang kedua. Kegemaran membaca yang kurang.

Jika masyarakat kita rajin membaca, insyaAllah bangsa kita akan maju. Tentunya didukung oleh moral yang baik.

Main basket adalah olah raga cerdas. Sebenarnya sih, semua olah raga melatih kecerdasan, disadari maupun tidak. Menyaksikan pertandingan basket adalah menyaksikan ketidakpastian. Hal ini menimbulkan ketegangan yang berujung pada kenikmatan jika tim yang didukung menang. Serta sedikit kekecewaan kala tim yang didukung kalah.

Menurut Gw, penonton basket adalah orang-orang cerdas. Itulah mengapa ketika Garuda atau Satria Muda melawan tim-tim di bawah kelas mereka, tidak akan banyak yang menonton karena hasilnya sangat tertebak. Tapi jika Garuda melawan Satria Muda, penonton disuguhi ketegangan akan ketidakpastian.

Jika hanya menikmati kemenangan yang sudah pasti. Ketegangannya sirna. Orang cerdas tidak begitu suka hal ini. Berbalik dengan orang-orang bodoh.

Indikator ketiga adalah tingkat ekonomi. Tingkat kemajuan ekonomi kita yang tidak begitu maju membuat kecerdasan bangsa jadi rendah pula. Tapi mirip-mirip paradoks telur dan ayam juga sih. Apakah ayam duluan atau telur duluan. Apakah belajar dulu untuk menghasilkan kemakmuran atau kemakmuran melahirkan kesejahteraan pendidikan. Hmm, jalani dua-duanya aja lah.

Jika kita rajin membaca dan menjadi cerdas, ekonomi akan membaik, tingkat kecerdasan bangsa semakin meningkat, penggemar main basket semakin membludak. Semuanya berbanding lurus!

(Foto: Garuda Flexi Bandung di Manila oleh Ino Afiar)

3 pemikiran pada “Berbanding Lurus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s