Keunggulan DBL Bukanlah Kekurangan IBL

antreanjpg-500-x-256

Setelah menyaksikan langsung hari pertama Deteksi Basketball League (DBL) di Bandung sore kemarin, malam sebelum tidur Gw melamun membayangkan mengapa DBL bisa begitu ramai dan IBL biasa saja bahkan umumnya di beberapa pertandingan cenderung sepi bahkan sangat sepi.

DBL bukanlah IBL. Dari luar keduanya terlihat sama-sama merupakan sebuah liga bola basket. Namun ketika memasuki sedikit lebih ke dalam, akan tampak dua perbedaan besar mendasar yang menjadi pembeda antara dua liga besar ini. DBL adalah liga pelajar dan IBL adalah liga profesional. Ok, semua orang juga tahu itu.

DBL selama lebih dari empat tahun berhasil membangun reputasinya sebagai sebuah liga basket pelajar yang selalu heboh. Hal ini di beberapa daerah membuat DBL selalu dinanti-nantikan kehadirannya. Anak-anak SD di Jawa Timur katanya telah mulai berlatih main basket dengan serius agar nantinya dapat tampil di DBL. Anak-anak SMA berupaya memacu semangat belajarnya agar kelak prestasi sekolahnya tidak di bawah standar peserta yang boleh ikut DBL. Ketika akhirnya DBL bergulir kembali, penampilan di DBL adalah kebanggan bagi sekolah. Para pemain luar biasa girang karena akan mengalami sebuah pengalaman berkesan dalam hidupnya, teman-teman SMA lain antusias dan bersemangat mendukung sekolahnya, guru-guru semakin memotivasi anak-anak didiknya. Tatkala sebuah sekolah menang atas sekolah lain, di sinilah efek kedua yang membuat DBL semakin ramai. Para pemain bertambah semangat dan motivasinya dalam menghadapi pertandingan selanjutnya. Teman-teman sekolah lainnya bahagia yang membuat Gw yakin bahwa mereka akan kembali mendukung sekolahnya pada laga berikutnya. Mereka akan mengajak semakin banyak teman-teman yang pada laga pertama tidak hadir memberi dukungan. Guru-guru pun demikian, mereka akan mengajak guru-guru yang lain untuk menonton menambah amunisi motivasi anak-anak murid yang mengemban nama harum sekolah. Jangan lupakan para pemain, mereka juga akan cerita kepada orang tua, keluarga, dan teman-teman dan meminta dukungan dari mereka. Efeknya adalah akumulasi jumlah penonton di setiap pertandingan babak selanjutnya. Kebanggaan adalah kata kuncinya. Tepat sekali penggunaan kata “Pride” sebagai tag line DBL.

image026

Ini tidak bisa disamakan dengan IBL. Jika DBL adalah liga basket yang kental unsur “kebanggaannya”, IBL adalah lebih daripada itu. Ia adalah hiburan. Entertainment barangkali padanan kata yang terasa lebih gereget. IBL adalah entertainment. “More Than Just A Game” begitu slogan IBL. “Lebih Dari Sekadar Sebuah Permainan” itu adalah entertainment bagi pemain terlebih bagi para pemirsanya. Tapi rasanya saat ini IBL belum bisa memenuhi kategori sebagai entertaining show yang baik. IBL masih terasa sebagai benar-benar liga olah raga yang sedikiiit sekali unsur entertainment-nya. Gelaran IBL sebagai sebuah hiburan harus dikemas sedemikian rupa agar tampil cantik menarik dan mengundang masyarakat untuk mau menikmatinya. IBL belum sampai ke sana.

Alternatif hiburan masyarakat Indonesia tidak banyak sebenarnya. Dengan tv sebagai salah satu media penyampai hiburan yang dominan, maka program-program televisi adalah hiburan utama saat ini. Sinetron (baca: junk show) menjadi primadona. Untuk menggaet penonton lebih banyak penyelenggara IBL harus berpikir “Bagaimana caranya agar IBL menjadi pilihan hiburan utama mengalahkan sinetron di tv, nonton bioskop, atau jalan-jalan ke mall.” Ini adalah sebuah tantangan.

NBA sudah ramai sejak dulu. Namun kehadiran David J. Stern sebagai komisaris utama membuat NBA meledak! Kabarnya kunci utama adalah kemasan. Lebih spesifik lagi adalah kemasan di televisi. David berhasil “menjual” NBA sebagai sebuah hiburan berkelas. Nonton NBA di stadion menjadi alternatif pasangan muda-mudi untuk berkencan bahkan menjadi ajang berkumpul bersama keluarga. Nonton NBA di televisi pun jadi opsi nomor satu tatkala harus berdiam diri di rumah. Efeknya, penonton dan pemirsa NBA membludak. Dari segi bisnis pun menjadi peluang yang menjanjikan melalui penjualan segala hal yang berbau NBA, mulai dari pin kecil, stiker, sepatu, baju, pendapukan atlet (endorsement) hingga hak siar televisi.

Raam Punjabi bersama para dedengkot lain berhasil menjadikan sinetron sebagai pilihan utama tontonan masyarakat (dulu pun sinetron tidak seheboh sekarang). Tidak hanya itu, mereka bahkan berhasil membuat masyarakat menjadi adiktif alias ketagihan terhadap sinetron. Padahal kita tahu sendiri bagaimana mutu sinetron kita. Main basket, lewat IBL punya potensi kandungan yang jauh lebih bermutu. Hanya saja belum banyak digemari orang-orang.

Gw pikir kunci utama keberhasilan IBL dalam meraih penonton adalah televisi. IBL harus punya kemasan yang sangat baik di televisi. Mulai dari iklannya, tayangan pertandingannya (baik langsung maupun tunda), dan juga program-program pendukungnya (Misalnya NBA Action, NBA Inside Stuff, dan NBA Cares).

(foto paling atas dari deteksibasketball.com)

5 pemikiran pada “Keunggulan DBL Bukanlah Kekurangan IBL

  1. bro, tulisan lu keren…..emang pengamat basket kelas kakap juga neh….thanks buat apresiasinya, krn gw (honda) sebagai sponsornya jadi ikut bangga juga…

  2. kalo tantangan IBL adalah bagaimana menggaet peminta melalui TV,maka menurut aku tantangan DBL adalah apakah mereka benar2 menjadi bibit potensi basket masa depan Indoensia? Artinya mereka “harus” masuk IBL dulu yang nota bene masih kurang penonton. Dapatkan mereka memompa semangat mereka sendiri tanpa mengandalkan “kehebohan” dari luar?
    Atau setelah lulus nanti,apakah basket tetap menjadi pilihan mereka, melihat LIBAMA tidak semeriah DBL?
    Well,aku cuman pendapat bahwa kedepannya mudah2an apa yg sedang dilakukan DBL dapat berlanjut ke tingkat2 selanjutnya (LIBAMA,KOBATAMA) sehingga makin banyak atlit yang bermain dengan cara yg menghibur sebagaimana mereka “dihibur”oleh penonton pada saat mereka muda dulu (masih bermain di DBL). Salam basket !! ;)

  3. untuk perbandingan,,rasa nya tak adil klo kita hanya membangingkan IBL & DBL,,karna apa ???? karna dibumi Indonesia ini memiliki banyak sekali Kompetisi sekelas Libama,,Kobanita,,Kobatama,,de el el yang mengisi varian hidup basket seperti saat ini,,,Mereka bisa disebut sebagai KOMPETISI yang mumpuni,tapi apa yang membedakan DBL,dan kompetisi basket lainnya,,,Bukan hanya Kemasan yang telah disebutkan,,tetapi juga inti dari kompetisi itu sendiri,,

    Tengoklah DBL yang memiliki juntrungan yang jelas,,sampai-sampai mereka bisa mendatangkan seorang Danny Granger dan bisa membuat coaching klinic hingga ke negri Kangguru,,,lantas kemana perginya IBL,,LIBAMA,,KOBATAMA,,KOBANITA yang setelah kegiatan itu selesai maka selesai pula-lah ‘isi’ dari kegiatan tersebut,,,

    Memang gw akui,,kemasan juga menjadi salah 1 daya jual suatu kegiatan,,tapi apakah mereka akan hilang seperti itu saja…??

    Sangat disayangkan betapa meruginya BIBIT” yang telah lahir akan hilang seperti itu saja…(jujur gw ngedengrja aja dah miris duluan),,

    Jadi itulah KETIKA REALITA,UANG & SPORTIFITAS dipertnayakan…..

    Mau ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s