How To Coach Basketball, Sebuah Buku Tipis Kenang-kenangan Dan Karya David Zamar

Tahun Kompetisi IBL 2006-2007, David Zamar atau akrab dipanggil Boyce melatih Garuda Panasia (Sekarang Garuda Bandung). Latihan selalu dipusatkan di GOR C-Tra Arena Cikutra, Bandung. Gw sering melihat dia bekerja menggembleng anak-anak Garuda. Tidak terlihat galak. Namun skuad Garuda terlihat ngos-ngosan dengan materi pelatihan Boyce. Walau hanya menempati tempat ketiga pada musim kompetisi itu, gaya bermain Garuda jadi sangat meningkat. Setidaknya itu yang gw lihat.

Ketika akan balik lagi ke Filipina, Boyce meninggalkan sebuah kenang-kenangan berupa sebuah buku. Jarang banget seorang pelatih menulis buku. Bukunya tipis sekali, hanya terdiri dari 24 halaman ukuran A5. Sampulnya buruk. But hey, in this matter, u really don’t wanna judge a book by its cover lho yaa.

Judulnya “How To Coach Basketball”. Berisi teori prinsip-prinsip dasar yang harus dikuasai seorang pelatih basket. Mendribel bola, menembak, dan mengoper. Disertai pula dengan beberapa pola latihan agar kemampuan teknis tersebut semakin terasah.

Bukunya singkat dan padat. Cocok buat orang-orang yang males baca tapi bisa bahasa Inggris. Nah lho?!

Ps: Maaf bgt guys, saya nggak bisa kirim fotokopiannya. Tapi sudah saya scan dan beberapa teman sudah saya kirimkan versi Jpg-nya. Ntar menyusul saya buatin Pdf-nya.

Barack Obama, Calon Presiden Amerika Serikat Dari Partai Demokrat Jago Main Basket (2)

Barack Obama dulunya adalah seorang pemain basket jalanan. Kalau sekarang kita menyebutnya streetballer. Main basket yang tidak membutuhkan wasit. Cukup teriakan “foul” dan kita akan mendapat lemparan ke dalam. Tidak ada wasit menyebabkan banyak sekali sikut-sikutan. Obama rajin bermain basket, dari yang berlantai aspal hingga kayu keras yang mewah. Gaya ofensifnya cepat dan lay-up kidalnya handal.

Foto di atas berbicara banyak. Seorang anak pemain basket SMA yang tersenyum melihat kamera. Lagi-lagi, siapa sangka dia adalah calon presiden negara yang menyebalkan itu, Amerika Serikat! Hahaa..

Obama dulu adalah anggota tim Punahou School di Hawaii.

(Disadur dari nytimes.com)

Barack Obama, Calon Presiden Amerika Serikat Dari Partai Demokrat Jago Main Basket (1)

Sebagai anak muda, dulu Obama memiliki sebuah poster Julius Erving di kamarnya. Foto di atas adalah aksi one on one Obama melawan S.L. Price, seorang wartawan senior di sebuah majalah olahraga terkemuka di Amerika pada tanggal 17 Desember 2007 di sebuah lapangan indoor di Iowa. Obama sengaja menggunakan bola berwarna biru, putih, merah, karena warna-warna tersebut mewakili lambang kampanyenya.

Sarah Palin Calon Wakil Presiden Amerika Serikat Dari Partai Republik Dulu Jago Main Basket

Calon wakil presiden Amerika Serikat dari Partai Republik yang cantik jelita, Sarah Palin, sejak menjadi pasangan dari John McCain untuk pemilu pemilihan presiden Amerika nanti ternyata memiliki banyak julukan yang menempel pada dirinya. Mrs. Mayor, Madam Governor, Miss Congeniality, dan di SMA dulu dia mendapatkan julukan “Sarah Barracuda” dari teman-temannya.

Julukan Sarah Barracuda didapat ketika ia menjadi kapten dari tim basket putri Wasilla High, atau SMA Wasilla. Dalam kompetisi di negara bagian yang sangat ketat, Sarah bermain dengan sangat baik. Dia bahkan mencetak beberapa poin yang menentukan kemenangan timnya. Tak jarang ia harus mengalami cedera engkel untuk hal tersebut.

Tuh kan, siapa sangka mantan pemain basket pas SMA sekarang menjadi calon wakil presiden negara yang menyebalkan, Amerika Serikat :)

Belajar Main Basket dari: Billy Sheehan, Basis Mr. Big

Untuk mengejar cita-cita, katakanlah bermain basket yang baik bahkan jago banget terkadang kita butuh seorang panutan. Idola untuk ditiru cara bermainnya, sikapnya, flair-nya, bahkan gayanya. Idola ini lama kelamaan bisa berubah menjadi seseorang yang berpengaruh dalam hidup kita. Ia menjadi sumber inspirasi. Tidak melulu dari dunia basket. Bisa dari mana saja.

Sumber inspirasi pertama kita kali ini adalah Billy Sheehan.

Billy who? Kalau yang bukan pecinta gitar atau gitar bass sepertinya kurang akrab dengan nama Billy Sheehan. Tapi ketika mendengar lirik lagu “I’m the one who wants to be with you, deep inside I know you feel it too.” Semua orang pasti tahu kalau itu adalah bagian refrain dari lagu To Be With You-nya Mr. Big. Billy Sheehan adalah sosok yang kebagian membetot bass dalam band yang dipimpin oleh Eric Martin itu. Di kalangan pecinta gitar, Billy Sheehan dikenal jauh lebih luas daripada sekadar basis Mr. Big. Dia adalah salah satu basis terbaik di dunia.
Tanggal 20 Oktober lalu, jauh-jauh dari Buffalo, New York, Amerika Serikat, Billy datang ke Bandung tepatnya ke Score Ciwalk untuk mempromosikan bass Yamaha yang diproduksi dan didesain khusus. Gelaran promo yang diadakan oleh Score sangat menarik. Acara yang sedianya dimulai jam 7 malam digeser sedikit menjadi setengah 8. Penonton? Penonton telah memenuhi Score sejak jam 5 sore.
Billy memasuki panggung dengan setelan hitam-hitam plus topi hitam. Lilitan kalung rantai yang terlihat di video klip To Be With You di tahun 90-an masih ada di lehernya. Setelah menyapa penonton dengan ramah dan mengeluarkan pujian betapa bahagianya dia setiap kali mengunjungi Indonesia, Billy langsung membetot bassnya dengan atraktif. Pengunjung bersorak-sorai untuk kemudian larut dalam kekaguman. Jurus-jurus maut dalam membetot bass dikeluarkannya. Billy terlihat sangat menikmati aksinya.
Setelah menyelesaikan performa selama kurang lebih 15 menit, Billy membuka sesi tanya jawab dan memberikan beberapa tips tentang cara bermain bass yang baik. Tentu saja kesempatan ini disambar oleh para pengunjung yang berebut untuk bertanya. Semua pertanyaan dijawab kecuali sebuah permintaan untuk memainkan To Be With You dengan teknik betot bass yang canggih.
Saran-saran yang diberikan oleh Billy umumnya berdasarkan pertanyaan dari pengunjung. “yang terpenting adalah tangan, gitar bass, kemudian amplifier.” Billy menanggapi pertanyaan penting tidaknya material sebuah gitar bass. Untuk menjadi seorang yang handal seperti dirinya, seseorang harus rajin berlatih menempa diri. Billy sendiri telah dan selalu berlatih selama lebih dari 40 tahun! Tak jarang jari-jarinya sampai berdarah saking semangatnya ia tatkala berlatih. “Practice makes perfect!” Amazing! Acara ditutup dengan pemberian tanda tangan oleh Billy Sheehan kepada ratusan pengunjung yang datang.

(tulisan ini juga dimuat di Suave Magazine edisi #51, Oktober 2008)

Liga Basket Mahasiswa Nasional, Bandung 17 – 22 Oktober 2008

GOR Padjadjaran Bandung, 17 – 22 Oktober 2008

Di tengah minimnya kompetisi olah-raga antar mahasiswa, Liga Basket Mahasiswa Nasional atau disingkat Libama Nasional kembali digelar. Kali ini digelar di Bandung untuk mendapatkan beberapa finalis yang nantinya berlaga di Jakarta. Libama adalah kompetisi basket yang rutin diadakan setiap tahun. Selain tingkat nasional, kompetisi ini juga mempertandingkan tingkat regional atau tingkat provinsi. Juara dari divisi tingkat provinsi inilah yang berlaga di tingkat nasional. Walau dipenuhi dengan semangat dan ambisi untuk menjadi juara, tim putra dan putri basket yang bertanding berlaga dengan sportif.

Tapi kenapa ya, kok seperti nggak gereget!

REF Basketball Clothing at Concept Magazine, Volume 4 Edisi 25, Oktober 2008

REF Basketball Clothing adalah sebuah clothing basket dengan cita-cita menjadi sebuah perusahaan clothing yang identik dengan Indonesia. Seperti Adidas dan Puma terhadap Jerman, Nike dan And1 terhadap Amerika. REF muncul karena sebuah kekecewaan terhadap minimnya pilihan di Indonesia. Sebelum REF, hanya ada 2 jenis clothing olahraga. Perusahaan yang kerjanya bikin jersey, celana dan kaos Nike palsu, Jordan palsu, Adidas palsu, dll. Perusahaan ini memasarkan price oriented customer. Ada lagi perusahaan luar negeri seperti Nike, dll. Mereka menyasar product oriented customer.

REF hadir untuk memuaskan kebutuhan kepada pasar VALUE oriented customer. Yang percaya akan nilai sebuah desain, yang enggan beli barang palsuan, namun juga tidak punya kantong untuk beli barang-barang brand besar. DESAIN jadi tumpuan utama karena desain mencerminkan karakter. Kami tidak ingin mirip siapa-siapa. Kami hanya mau jadi diri sendiri. Dari ini, REF ingin mengirimkan pesan kepada seluruh “anak basket” di Indonesia, bahwa basketball bukanlah hanya sebuah olahraga, tapi sebuah identitas. Kini untuk yang mau mengidentifikasikan dirinya sebagai anak basket, ada REF Basketball Clothing. Clothing basket pertama di Indonesia. Cek aja desain kami di http://www.ref-id.com

(Jawaban Pandji tentang REF di halaman 63 Concept Magazine, Volume 4 Edisi 25, Oktober 2008)