Oleh: mainbasket | November 3, 2009

Baru! Majalah Deteksi Basketball League

IMG0005A

Lengkap sudah. Kini berita dan cerita seputar Deteksi Basketball League pun sudah ada dalam bentuk majalah. Sampul edisi pertama bergambar tiga orang pemain NBA yang pernah main basket bareng anak-anak DBL; Danny Granger, David Lee, dan Kevin Martin.

IMG0007Apotong

Edisi pertama majalah ini menampilkan hampir semua hal yang ingin kalian ketahui tentang DBL. Sejarah, perkembangan, visi, cerita-cerita seru di belakangnya hingga tulisan dari beberapa asisten pelatih NBA yang pernah membagi ilmunya pada DBL Indonesia Development Camp 2009 lalu. Foto gw pun ada! Yay! Love it.

Dari situs resmi DBL tertulis bahwa majalah ini sudah bisa didapatkan di toko-toko buku terdekat (masalah dekat mana, itu gw juga gak tahu). Silahkan dicari, siapa tahu ada foto kalian saat mengikuti ajang DBL di seluruh Indonesia, atau mungkin foto keponakan, kakek, nenek, tetangga, atau mungkin kecengan :D

1700457p

Walau finish di urutan kedua di race kedua di Sirkuit Okayama, Jepang, Minggu (1/11) dan masih menyisakan satu seri laga lagi, pebalap Indonesia, Rio Haryanto dipastikan meraih gelar juara umum Formula BMW Pacific 2009. Rio berpotensi menjadi pebalap pertama Indonesia yang akan ikut trek-trekan di arena Formula 1 nantinya.

Pencapaian Rio bukanlah hal yang mudah. Ia “dikawal” seorang pelatih fisik yang sangat disiplin. Seabreg pola dan paket latihan harus ia jalani setiap hari. salah satu yang pernah gw ketahui dari koran adalah Rio harus berlari setidaknya sejauh 10 km per hari dan berenang menempuh jarak yang juga cukup jauh per hari. Hasilnya? kita akhirnya menyaksikan sendiri.

Rio adalah manusia tercepat di ajang Formula BMW Pacific 2009. Kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa kecepatan Rio adalah kecepatan mobilnya, bukan orangnya. Tetapi jangan lupa, semua peserta dibekali mobil yang sama. lalu mengapa Rio bisa lebih cepat? Banyak yang kita –anak basket- harus pelajari dan contoh.

Kata “tercepat” di atas gw garis bawahi karena menurut gw olahraga basket pun mengandalkan kecepatan. Lihat para pemain Singapore Slingers yang mengalahkan Satria Muda Britama di ajang ABL kemarin. Mereka mengandalkan kecepatan dan mampu membuat big man Satria Muda, Theo Little harus istirahat karena tak mampu mengimbangi.

Jika Coach Ito mengatakan dengan nada tinggi bahwa kekalahan kemarin adalah masalah mental, jangan lupa, mental pemain Satria Muda menurun karena mereka kalah cepat!

Singapore Slingers baru saja mempermalukan Satria Muda yang menjadi tamu mereka sore tadi pada lanjutan ajang ASEAN Basketball League. Kedudukan akhir adalah 96 – 72.

251009a_img1

(Theo Little. Foto diambil dari situs resmi ABL)

Permainan cepat anak-anak Slingers benar-benar tidak bisa dipatahkan oleh para pemain Satria Muda. Operan-operan cepat mengalahkan dribel-dribel berlebihan dan penetrasi mubazir yang diperagakan Satria Muda. Mengetahui persentase angka dari hasil menembak yang buruk seharusnya Fictor Roring mencoba strategi lain dalam pola menyerang. Namun tampaknya permainan lamban dari Theo Little yang juga sangat jarang diturunkan memaksa Coach Ito tetap mempertahankan pola menyerang yang lebih sering menunjukkan kemandulan tersebut.

Pertahanan yang sangat buruk dan pola serangan yang payah adalah kesimpulan gw atas pertandingan Satria Muda melawan Slingers tadi sore. Semakin kesal saja rasanya menyaksikan persentase tembakan masuk para pemain Indonesia sangatlah rendah. Semoga menjadi pelajaran tim-tim lain di IBL. Pola menyerang yang tangguh akan terasa memble oleh eksekusi tembakan yang tidak lebih baik daripada orang yang baru belajar main basket satu hari. Peace :)

Oleh: mainbasket | Oktober 31, 2009

Favorite Basketball Quotes #49

8840c0abe67d184498ce2128cda021a65177e7af_m

Oleh: mainbasket | Oktober 30, 2009

Transisi Dua Kota (Mataram-Bandung)

Gak mirip sama sekali dengan transisi dari offense ke defense atau pun sebaliknya. Barangkali agak sedikit serupa ketika kita bermain cepat lalu tiba-tiba melambankan tempo permainan atau pun kebalikannya.

a65a7fd8d9387cee609fbdc9528cdad6da8b3fb2_m

Ini lah yang gw rasakan ketika kembali ke Bandung setelah selama lebih dari sepuluh hari menghabiskan waktu di Mataram, Lombok, NTB. Gw gak banyak kerjaan karena memang ke Lombok demi keperluan mengunjungi keluarga. Waktu terasa tak seburu-buru Bandung. Lama-lama terbawa dan mulai terbiasa.

Namun tiba-tiba hari ini sudah di Bandung lagi. Blah-bloh, buru-buru, setumpuk rencana dan agenda rasanya ingin segera dibereskan. Ada waktu transisi tetapi sangat sempit. Hmm, syukurnya, adaptasi nggak begitu bermasalah.. Hohoo..

Oleh: mainbasket | Oktober 29, 2009

Hoi Hoi Mataram, Tim Basket Gw

Nama timnya rada aneh, “Hoi Hoi”. Diambil dari lirik lagu dangdut yang gak jelas. Para pemain tim ini awalnya adalah orang-orang yang sore hari berkumpul di lapangan basket Lawata, Mataram, untuk membunuh waktu.

Saat gw balik ke Mataram, gw mengunjungi mereka latihan. Sepertinya saat ini mereka jauh lebih serius daripada saat dulu gw masih bermain di sana. Pernah beberapa kali juara provinsi kabarnya.

Sulit mendapatkan foto anggota timnya. Sepenggal foto lapangan dan beberapa anak yang sedang berlatih ini cukup mewakili Hoi Hoi yang ternyata masih menggeliat.

Image038

Oleh: mainbasket | Oktober 27, 2009

Mari Optimis Basket Indonesia!

DBL Indonesia All-Star PERTH

Tinggalkan semua pernyataan-pernyataan banci pengecut yang sering kalian dengar atau bahkan mungkin pernah kalian ungkapkan sendiri saat ngobrol dengan teman-teman kalian;

“Payah nih basket kita.”

“Ah, IBL mah begitu-begitu saja.”

“Selama masih dia-dia saja yang juara, pertandingan IBL nggak akan seru.”

“Main basket? Mau jadi apa?”

***

DBL Indonesia All-Star PERTH

Perhatikan semangat teman-teman DBL Indonesia All Star 2009 yang baru saja mengalahkan tim basket Australia Barat yang membuat bangga diri gw menjadi Orang Indonesia.

Lihat semangat Pelita Jaya Esia Jakarta dan Garuda Flexi Bandung dan juga Nuvo CLS Knights Surabaya dalam menggelar pertandingan amal dalam usaha membantu saudara-saudara kita di Sumatera Barat.

Jangan anggap remeh semangat Nuvo CLS Knights Surabaya yang demi mempersiapkan timnya menghadapi musim kompetisi IBL tahun mendatang, mereka bahkan akan melakukan latih tanding dengan Tim Nasional Hong Kong.

Contoh pula pemuda-pemuda berseragam Satria Muda Britama Jakarta yang membawa nama Indonesia di pentas ASEAN Basketball League.

Dan tentu saja, semangat anak-anak Surabaya dan anak-anak basket seluruh Indonesia yang belajar dengan gigih dan giat di sekolah dan berlatih keras di lapangan agar bisa mengikuti kompetisi DBL dan mengejar gelar juara membanggakan bagi diri sendiri, keluarga, teman-teman, sekolah, daerah, juga bangsa!

Menyingkir saja kalian yang terjangkit virus pesimis!!!

Tim DetEksi Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2009 punya satu keinginan untuk mengakhiri tur di Perth: Membawa cerita yang manis untuk dibawa pulang. Mereka berhasil dengan gemilang.

Catatan AZRUL ANANDA

DBL Indonesia All-Star PERTH

Di dinding ruang ganti DetEksi Basketball League (DBL) Arena di Surabaya, ada tulisan penyemangat. Bunyinya: Every man suffers pain. Either the pain of hard work, or the pain of regret.

Artinya, setiap orang merasakan sakit. Apakah itu sakit karena kerja keras, atau sakit karena penyesalan.
Saya percaya, semua sukses harus diraih lewat sebuah proses. Di dalam proses itu, ada pula yang namanya growing pain. Masa-masa “sakit” sebelum akhirnya merasakan kepuasan atau kesenangan luar biasa.

Dan untuk sukses yang sesungguhnya, masa sakit itu hukumnya wajib untuk dijalani. Di dunia ini tidak ada yang gampang, dan yang sulit tidak bisa begitu saja dihindari.

Tim DetEksi Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2009 kembali membuktikan pentingnya proses itu. Tim ini dibangun lewat proses panjang. Dimulai dengan kompetisi Honda DBL 2009 di 15 provinsi di Indonesia, yang berjalan sejak 15 Januari di Papua hingga 15 Agustus lalu di Jawa Timur.

Sebanyak 160 pemain (80 putra, 80 putri) lantas ikut Indonesia Development Camp 2009, selama tiga hari berlatih bersama bintang NBA, Kevin Martin, serta pelatih-pelatih dari liga basket paling bergengsi tersebut.

Di penghujung IDC, dipilihlah 12 pemain putra dan 12 pemain putri. Plus lima pelatih. Mereka inilah anggota DBL Indonesia All-Star 2009. Mereka mungkin bukanlah yang benar-benar terbaik di Indonesia. Tapi, mereka merupakan student athlete terbaik yang dipilih lewat sebuah proses yang sehat. Bukan sekadar main comot dari sana atau dari sini.

Memilih adalah satu proses melelahkan tersendiri. Menyatukan mereka jadi satu tim, adalah proses melelahkan selanjutnya.

***

Meski sudah saling mengenal di IDC 2009, Tim DBL Indonesia All-Star 2009 pada dasarnya hanya bersama selama dua minggu. Kumpul di Surabaya pada 12 Oktober, berpisah lagi pada 26 Oktober.

Ingat, mereka ini merupakan kumpulan pemain-pemain SMA terbaik. Di sekolah atau daerah masing-masing, mereka ini superstar yang biasanya diberi keleluasaan oleh sekolah atau pelatih masing-masing. Sekarang, mereka harus punya peran yang berbeda-beda. Ada bintang di atas bintang, ada bintang yang harus rela mengalah.

Bukan proses yang mudah. “Kita ini mungkin mengalami masalah yang dialami (tim sepak bola) Real Madrid,” kata Puji Agus Santoso, Manager Basketball Operations and Events DBL Indonesia.

Dalam hati, saya berpikir ini lebih sulit. Paling tidak Real Madrid penuh pemain profesional yang benar-benar profesional. Lha tim kami ini penuh anak-anak SMA yang masih mudah ngambek satu sama lain! Selain itu, tim ini harus kompak dengan cepat. Hanya dalam hitungan hari.

Untuk mempercepat proses, hampir setiap hari ada pertandingan pemanasan di Surabaya. Hasilnya lumayan, tim putra benar-benar tak terkalahkan. Tim putri juga relatif mantap ketika harus berhadapan dengan tim-tim uji coba.

DBL Indonesia All-Star PERTH

Saya selalu percaya: If it’s too good to be true, then it is not true. Kalau sesuatu berjalan terlalu indah, maka itu bukanlah hal yang nyata. Sekali lagi, tidak ada yang segampang itu di dunia ini.

Benar, hari-hari awal itu adalah “bulan madu.” Masa growing pain segera menyusul…

***

Dari awal, kami sudah sadar. Tim putri DBL Indonesia All-Star 2009 merupakan “tim inspirasi.” Tugas mereka bukanlah untuk menang. Tugas mereka adalah untuk membuat pemain-pemain putri lain tertarik ikut berpartisipasi. Kelak, baru kita mengejar kemenangan. Sekarang, kita bermodal semangat.

Pada Sabtu, 17 Oktober 2009, di DBL Arena Surabaya, tim putra DBL Indonesia All-Star 2009 tampil luar biasa. Melawan Darwin Basketball Association dari kawasan Northern Territory, Australia, Randika Aprilian dkk bukan hanya sempat membuat lawan getar. Mereka juga menghibur ribuan penonton.

Sempat memimpin delapan angka di kuarter ketiga, tim ini kemudian tunduk di tangan Darwin. Mirip sekali dengan pertandingan DBL Indonesia All-Star tahun lalu saat melawan tim muda Western Australia di Perth pada Oktober 2008. Waktu itu juga sempat memimpin di kuarter ketiga, sebelum tunduk di kuarter keempat.

Bedanya, tahun lalu tim tidak punya kesempatan melakukan pembalasan. Tahun ini, tim masih punya kesempatan lagi di Perth. Hanya saja, sebelum meraih sukses itu, tim harus terpuruk lagi ke satu jurang. Tahap kedua (dan terakhir) dari proses growing pain.

Bermodalkan penampilan baik (meski tidak menang) di Surabaya, tim DBL Indonesia All-Star 2009 penuh semangat terbang ke Perth (via Bali) pada 19 Oktober lalu. Pada laga pemanasan pertama, lawan tim junior sekolah Woodvale, tim juga menang sangat mudah.

Pada laga pemanasan serius di Bunbury, melawan anak-anak pilihan di South West Academy of Sports, barulah tim Indonesia seperti kena setruman hebat. Halusnya kena “siraman yang membangunkan.” Kasarnya kena “tempelengan.”

Tim putra dan putri sama-sama kalah telak. Masalahnya, kalah telak bukan karena murni kalah “kelas.” Dalam semangat dan upaya, tim juga tampak sangat kendur. “Sebanyak 40 persen poin lawan karena kesalahan kita sendiri,” kata Njoo Soen Eng, pelatih tim putri dari SMA Frateran Surabaya.

Ketika nonton pertandingan itu, saya sendiri sangat kecewa. Tapi dalam hati saya bersyukur. Sebab, anak-anak sendiri sadar mereka tampil mengecewakan. Bisa dilihat dari gerak tubuh dan perilaku usai pertandingan itu. Biasanya ceria, kali ini muram.

Kalau benar mereka sadar sendiri, maka itu pertanda baik. Kalau benar mereka sadar sendiri, maka saya yakin mereka akan bangkit dan membuat semua bangga.

***

Rabu malam itu (21/10) di Bunbury (sekitar tiga jam dari Perth), tim putra dan putri bergantian mengajak bicara di chalet (rumah kecil penginapan) saya dan panitia dari DBL Indonesia.

Saya terenyuh juga, karena mereka bergantian bilang minta maaf. Ketika saya minta memberi penilaian kepada diri masing-masing, semua memberi nilai buruk. Bahkan, tim putri merasa mereka hanya layak dapat nilai 1 dari 10.

Waktu itu, terus terang saya bingung juga mau bilang apa. Tapi kemudian saya ingat SMS yang saya dapat setelah tim kami kalah dari Darwin di Surabaya. Datang dari Putu Gde Kamajaya, fans DBL di Surabaya. Bunyinya: “Our greatest glory is not in never failing. But in rising everytime we fail. And winners are not those who never fail. But those who never quit. Go DBL Indonesia All-Star!

Kepada dua pemain yang tahun lalu juga ikut ke Perth, Arif Hidayat (SMAN 2 Jember) dan Amelia Herawati (SMA Karangturi Semarang), saya bertanya perjalanan 2008. Waktu itu, kami juga sempat “ditempeleng” pada laga pemanasan melawan Woodvale. Namun setelah itu, tim bangkit dan selalu tampil habis-habisan. Meski tak pernah menang, tapi selalu fight. Kalahnya selalu puas.

Tim 2008 punya karakter kuat. Mereka tak mau menyerah. Sekarang, karakter tim 2009 sedang diuji. Dan tim 2009 hanya punya satu kesempatan untuk menunjukkan itu, yaitu pada pertandingan puncak melawan tim muda Western Australia.

Kalau harus kalah, maka kami akan kalah berjuang. Malam itu, semua pemain dan pelatih sepakat, bahwa kami akan pulang membawa cerita indah. Cerita yang bisa dibagi ke teman-teman di daerah masing-masing, cerita yang bisa disampaikan ke adik-adik dan generasi selanjutnya.

Malam itu, semua anggota tim sudah bicara semangat. Tapi itu masih sebatas talk. Untuk benar-benar membuat cerita yang indah, mereka masih harus “walk the talk.” Menjalani, bukan sekadar bicara.

***

Sebelum laga internasional melawan tim Western Australia, anak-anak DBL Indonesia All-Star 2009 terlihat “beda.” Kamis malam (22/10), Randika Aprilian dkk rapat sendiri di ruang seminar penginapan. Pelatih tak boleh ikut, yang lain tak boleh ikut.

Jumat malamnya (23/10), meski seharian sudah menjalani program, mereka menjalani latihan ekstra di Perry Lakes Stadium. Latihan malam itu benar-benar menjadi pertanda baik. Semangat semua sangat terasa.

Sabtu pagi (24/10) sebelum pertandingan, tim juga jogging dan latihan ringan bersama di sisi Danau Monger, dekat penginapan. Sekali lagi, semua tampak semangat.

Pagi itu, kami juga melakukan prosesi “tumbal.” Melempar Puji Agus Santoso dan Arizal Perdana Putra dari DBL Indonesia ke pinggir danau. Saya tidak dilempar, tapi saya janji akan terjun sendiri kalau malamnya tim menang.

Siangnya, seluruh tim istirahat total. Tidur nyenyak, menunggu sore tiba untuk berangkat ke stadion.

Sore itu, hujan turun. Padahal di Perth sedang transisi menuju musim panas, bukan masanya untuk hujan. Diam-diam, kami berharap ini adalah pertanda baik.

Sore itu pula, sebelum berangkat ke Perry Lakes, seluruh tim meeting dulu. Saling menyemangati, saling menjaga fokus. Mereka semua berniat pulang membawa cerita indah. Malam itu adalah momen untuk melakukannya. Kalau memang harus kalah, maka harus kalah dengan indah.

Game time. Tim putri benar-benar berupaya keras. Marisya Rizkia dari SMAN 1 Bandung benar-benar ngotot meski hanya bertinggi badan 158 cm. Veti Vera dari SMA Stella Duce 1 Jogjakarta tak takut menabrak lawan-lawan yang lebih tinggi dan lebih besar.

Pada akhirnya, tim putri masih kalah 32-72. Tapi mereka telah membuat kami puas. Karena mereka telah berjuang habis-habisan. Tim lawan sangat kuat. Apalagi, salah satu pemain lawan baru saja dipilih sebagai pemain terbaik di Australia Barat.

Usai bertanding, tim putri pun mengambil peran beda. Mereka naik ke tribun, bersama puluhan suporter Indonesia menyoraki tim putra.

Hebat. Sejak menit pertama, tim putra sudah menunjukkan niatan menang. Okky Arista, power forward dari SMA Theresiana 1 Semarang tidak takut berhantaman badan dengan lawan yang jauh lebih tinggi. Arif Hidayat dan Alvin (SMA Trinitas Bandung) mampu bergantian menjadi jenderal lapangan. Sang kapten, Randika Aprilian dari SMAN 9 Bandung terus berjuang meski dahi harus dibalut perban karena berdarah kena sikut lawan.

Semua pemain bergantian masuk lapangan, memainkan peran masing-masing dengan baik. Momen komedi juga sempat muncul. Di tengah permainan yang mendebarkan, Arif Hidayat sempat berjalan kembali ke bench, bertanya kepada pelatih soal pola “High” yang ingin diterapkan.

High iku opo? Aku lali (High itu apa? Saya lupa),” ucapnya.

Waktu mendengar itu, saya tak tahu harus khawatir atau tertawa. Pola High itu sangat penting untuk mengalahkan tim lawan yang lebih besar. Fungsinya menarik pemain besar lawan keluar, membuka ruang tembak di bagian samping lapangan.
Dijelaskan sebentar, Arif kembali menjalankan tugas di lapangan.

Kurang 1 menit dan 46 detik, tim putra masih unggul enam angka. Namun lawan tak pernah menyerah. Kurang empat detik, tim putra hanya unggul dua angka. Dan bola di tangan Western Australia.

Terus terang, saya tak tahu apa yang terjadi pada empat detik terakhir itu. Saya tak berani melihat. Khawatir kekecewaan tahun lalu kembali terulang. Kata teman-teman, lawan mencoba menembak tiga angka, tapi gagal. Lawan lalu dapat bola lagi, tapi tetap gagal memasukkan bola.

Indonesia menang! Sejarah! Cerita indah untuk dibawa pulang!

Semua pun berhamburan ke lapangan.

Di saat tim putra berpesta, beberapa pemain putri tampak menangis. Khususnya Marisya Rizkia, yang biasa dipanggil Echa, yang biasa saya panggil Chipmunk.

Dia mengaku sedih tidak bisa menang seperti yang putra. Saya pun ingatkan lagi, tugas mereka hari itu bukan menang. Tugas mereka hari itu untuk memberi inspirasi kembali di Indonesia. Tugas mereka adalah pulang, lalu mengajak adik-adiknya untuk berlatih lebih bersemangat. Bantu basket Indonesia, bantu DBL.

Kalau kelak tim Indonesia menang, mereka bakal punya peran besar.

***

What’s next?

Jalan masih jauh. Kemenangan ini belum tentu terulang tahun depan. Lawan –siapa pun– tidak akan diam. Growing pain pertama mengembangkan DBL dan membentuk tim All-Star yang mampu menang sudah dilalui. Sekarang waktunya menjalani growing pain selanjutnya, dan selanjutnya, dan selanjutnya, sampai mencapai target tertinggi.

Satu bukit dilalui, masih banyak gunung lain.

Mohon dukungannya…

Catatan tambahan: Kemenangan di Perth ini jatuh sehari setelah ulang tahun ke-56 PB Perbasi. Jadi ini hadiah dari kami untuk Ibu Noviantika Nasution sebagai ketua umum dan teman-teman basket yang lain. Usai pertandingan, saya juga menepati janji. Bedanya, karena tidak mungkin di danau, malam setelah menang saya dicemplungkan ke kolam renang di penginapan. Tapi saya happy, karena saya tidak nyemplung sendirian! (*)

Oleh: mainbasket | Oktober 26, 2009

Bangga! DBL Indonesia All-Star Kalahkan Australia Barat

Bayangkan kembali momen di saat kalian begitu bahagia setelah berhasil meraih sesuatu. Entah itu kegembiraan karena naik kelas, mendapat nilai yang bagus, mendapat pujian dari cowok kecengan, ditelepon oleh cewek yang ditaksir, keberhasilan memanjat puncak pohon pinang di acara 17 Agustusan, atau yang lebih besar lagi kadar bahagianya misalnya memenangkan sebuah lomba yang prestisius, atau berhasil memecahkan sebuah misteri yang bikin otak mumet setelah sekian waktu. Nah, kalau kalian sudah bisa membayangkan perasaan bahagia tersebut, kalikan seribu!!

Barangkali itulah yang dirasakan oleh Indonesia DBL All Star saat mengalahkan tim Australia di Perth dua hari yang lalu! Gw pun merinding! Yay!!

DBL Indonesia All-Star PERTH

Menang Tegang di Perth, Tim DBL Indonesia All-Star Kalahkan Tim Australia Barat

PERTH – Kemenangan bersejarah diraih tim putra DetEksi Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2009 dalam laga internasional melawan tim muda Western Australia tadi malam (24/10). Bertempat di Perry Lakes Stadium, Randika Aprilian dkk meraihnya lewat perjuangan keras dan ketangguhan mental, 68-66.

Sejak tip off, pertandingan berlangsung sangat ketat. Mengandalkan speed dan umpan-umpan pendek, tim DBL Indonesia All-Star dan tim muda Western Australia bergantian memimpin. Okky Arista, center asal SMA Theresiana 1 Semarang, mencetak poin pertama dalam pertandingan kemarin. Di akhir kuarter pertama, tim DBL Indonesia All-Star unggul sangat tipis, setengah bola, 17-16.

Masuk kuarter kedua, student athlete pilihan peserta Honda DBL 2009 di 15 provinsi tersebut makin panas. Akurasi tembakan tiga angka makin menajam. Alvin, guard asal SMA Trinitas Bandung dan Arif Hidayat, guard asal SMAN 2 Jember, membawa tim menjauh 36-31 saat jeda turun minum.

Tim muda Western Australia tidak mau kalah. Di kuarter ketiga, meski sempat tertinggal sepuluh poin, 37-47, Nate Illodis dkk terus tampil menekan. Pada akhir kuarter tersebut, tim DBL Indonesia All-Star masih berhasil mempertahankan keunggulan. Skor 58-55.
Di kuarter keempat, tim DBL Indonesia All-Star melanjutkan pertandingan dengan sedikit ”pincang”. Herdanu Yudistira, center asal SMKN 1 Balikpapan, terkena foul trouble (empat kali foul, satu lagi keluar dari pertandingan) di akhir kuarter ketiga. Lantas berlanjut dengan foul trouble Arif Hidayat di awal kuarter keempat.

DBL Indonesia All-Star PERTH

Akan tetapi, pertandingan terus berjalan seimbang. Meski pilar utama tim DBL Indonesia All-Star Arif Hidayat sempat cedera ketika pertandingan menyisakan 1 menit dan 20 detik, tim Indonesia terus mampu mempertahankan keunggulan. Ketika waktu tinggal empat detik, Indonesia sudah unggul 68-66. Namun, bola di tangan tim Western Australia. Berkat ketenangan, kedudukan itu tetap bertahan sampai akhir.

Bintang tim DBL Indonesia All-Star pada pertandingan kemarin adalah Arif Hidayat dan Alvin. Kemarin, masing-masing mengoleksi 15 poin.

”Yes! Yes! Kita menang! Tadi teman-teman sukses bermain pakai hati. Instruksi pelatih untuk play hard and play with your heart dijalankan teman-teman dengan baik. We love Indonesia!” seru Alvin.

Arif Hidayat menambahkan, kesabaran tim DBL Indonesia All-Star benar-benar teruji kemarin. ”Mas (Wahyu) Budi (pelatih, Red) terus mengingatkan. Jangan menembak kalau shot clock belum sisa sepuluh detik. Tujuannya, kalau shoot gagal, lawan hanya punya sedikit waktu menyerang. Yes, menang!” ucapnya.

Sementara di laga putri, tim DBL Indonesia All-Star harus mengakui keunggulan tim muda Western Australia. Bermain di hadapan para pelajar Indonesia yang datang mengisi tribun Perry Lakes Stadium, Amelia Herawati dkk kalah 32-72.

”Pertandingan yang cukup sulit. Kami harus bekerja keras. (DBL) Indonesia banyak melakukan dribble dan shooting, permainan yang menarik. Sayang, pressure yang diberikan lawan belum stabil. Di akhir, kami bisa lepas dan sedikit demi sedikit menjauh,” ujar Craig Mansfield, head coach putri tim muda Western Australia.

Tim muda Western Australia lantas memberi beberapa masukan pada tim putri DBL Indonesia All-Star. ”Kami menang di dekat ring. Tapi, tinggi badan kami yang unggul seharusnya bisa diimbangi dengan meningkatkan jump power. Saya ingin bertemu lagi dengan mereka yang sudah lebih kuat tahun depan,” papar Amy Kidner, guard sekaligus kapten putri tim muda Western Australia.
Sesuai standar laga internasional, kemarin pertandingan dibuka dengan dikumandangkannya lagu kebangsaaan kedua negara, Indonesia Raya dan Advance Australia Fair. Presiden Basketball Western Australia Elizabeth Woods datang langsung menyaksikan laga yang sudah kali kedua digelar itu (tahun 2008 pertama kali digelar).

DBL Indonesia All-Star PERTH

”Program ini memberi banyak pengalaman baru, tidak hanya untuk Indonesia tetapi juga kami. Pola permainan di sini dan di Indonesia sangat berbeda. Semoga masing-masing tim bisa melihat apa yang lebih dan apa yang kurang,” ujar Elizabeth.

Azrul Ananda, commissioner DBL, mengaku sangat bangga dengan kemenangan ini. “Kemenangan di Australia ini menunjukkan betapa pentingnya program yang konsisten dan konsekuen. Tapi ini hanyalah awal. Langkah Indonesia masih jauh. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terus memberikan dukungan, sehingga DBL bisa berkembang dan sekarang bisa mengirimkan tim yang mampu menang di Australia,” ucapnya.

Kepada tim putri, Azrul memberikan ucapan penyemangat. “Tugas mereka bukanlah menang di Perth. Tugas mereka adalah memberi inspirasi kepada yang lain untuk mengikuti langkah yang telah dijalani. Masa depan masih panjang,” tandasnya.

—–

(Thank you Diatmana Parayuda)

9

Jakarta , 23 Oktober 2009

DOPE MAN! Kayanya cuma itu yang dapat saya katakan saat memasuki, duduk dan menikmati ’Charity Game’ antara tim Pelita Jaya Esia Jakarta [PJE] vs Garuda Flexi Bandung [GFB] di Hall. A. Basket Senayan kemarin [Kamis, 22 Oktober 2009]. Dari mulai acara yang dibuka oleh duo Mc kocak [Mas Bagot & Bang Karo], hingga acara penutupan yang makin terlihat penuh dengan kehangatan insan bola basket. Ada sesi foto, interview media, sesi tanda tangan, ramah tamah beberapa orang-orang penting di dunia perbolabasketan Indonesia sampai dengan Press Confrence ’dadakan’ Nia Ramadhani dan Anindra Ardiansyah Bakrie [putra salah satu orang terkaya di Indonesia, Aburizal Bakrie]. Hehehe, Asik banget deh atmosfir malam itu, makin berwarna dengan hadirnya selebrity. Gitu dong kaya di NBA !! J

So, how does it start anyway? All da Charity concept!! Who’s idea? Ok. Lets find out. ”Awalnya kami membuat ini diawali dari pemikiran untuk menyumbang sejumlah dana bagi korban gempa Padang dengan konsep ada eksebisi game biasa antara PJE & GFB. Tapi setelah beberapa kali pertemuan dengan kedua pihak tim, manajemen dan sponsor. Akhirnya mereka [pihak sponsor & manajemen] sepakat untuk menggarap acara ini secara intens dan serius. Ini juga kami lakukan untuk sekaligus memperkenalkan pemain-pemain baru di kubu PJE & GFB kepada pihak-pihak lain,” jelas Ronald Simanjuntak panjang lebar, selaku Manajer PJE.

8

Dashyat !! Acara Charity Game For Padang persembahan Pelita Jaya Esia dan Garuda Flexi Bandung memang amat sangat terlihat hebat. Bagaimana tidak? Dengan nilai total lelang yang berjumlah Rp. 44.100.000,- ditambah dengan total jumlah pengunjung 1433 orang dikalikan Rp. 10.000,- itu semua akhirnya menghasilkan dana Charity sebesar Rp. 100.020.000,- Hmmm, sebuah hasil yang amat baik untuk pengumpulan dana yang dilakukan temen-teman dan para pelaku bola basket tanah air. Hebat!! Two Tumbs Up For All of you.

10

Acara malam itu [22/09] di Jakarta, memang sempat diguyur oleh hujan lebat. Tetapi tidak mempengaruhi dasyatnya dan hingar bingar, teriakan serta yel-yel di setiap detik pertandingan anatara ke dua tim besar. Seluruh penonton malam itu benar-benar dimanjakan oleh aksi-aksi pemain basket hebat seperti Kelly Purwanto, Koming, Andi Batam dari PJE dan Mario Wuysang serta Lolik di kubu GFB. Hmmm, ada yang kurang nih? Yup. Deny Sumargo koq nggak ada? Densu ada cuma tidak dapat main. ”Sebenernya gue pengen banget main, apalagi ini acara Charity. Tetapi karena gue baru balik dari beberapa meeting penting & kerjaaan yang cukup menguras tenaga ditambah gue juga belum sempet istirahat jadi gue lebih baik memilih untuk menikmati eksebisi ini aja. Gue juga ingin melihat beberapa pemain baru GFB yang nantinya akan menjadi partner main gue,” papar Deny Sumargo saat saya hubungi via telepon.

Sayang memang Densu tidak dapat main malam itu, padahal banyak penonton yang ingin melihat aksinya di lapangan. ”Densu nggak main sih, GFB jadi kalah deh. Padahal kalo ada Densu kan, Mario dkk jadi ada tambahan tenaga untuk memborbardir PJE,” kata Sandra, salah satu penonton yang mendukung GFB malam itu.

Hasil akhir Charity Game For Padang memang milik PJE. Dengan perolehan angka 60-66, GFB akhirnya harus mengakui keunggulan PJE malam itu. Permainan memang terlihat serius. Lihat saja catatan angka per quarter yang saya lampirkan. Quarter awal GFB memimpin dengan score 13-7. Sementara di quarter ke dua PJE unggul satu bola atas GFB 23-21. Di quarter ke tiga PJE masih bisa bertahan mengungguli GFB dengan score 40-38. Dan kehebatan anak asuh Rastafari Horongbala, PJE makin terlihat meski GFB sempat ingin mengejar lewat aksi individu point guard Mario Wuysang. Tetapi Charity Game malam itu memang milik PJE, hasil akhir yang hanya berbeda 3 bola [66-60] telah membuka mata insan bola basket tanah air akan peta kekuatan & persiapan yang telah dilakukan oleh manjemen tim PJE dalam menyongsong kompetisi IBL 2010. Mantap!!

Maju Terus Bola Basket INDONESIA !! Yeah .. Yeah ..

Berikut data lelang di Charity Game PJE vs GFB for Padang :

1. Lelang Bola Basket yang di tanda tangani oleh seluruh pemain & manajemen GFB terjual dengan harga Rp. 2.000.000,- oleh Bpk. Agus Mistah [Telkom Flexi]

2. Lelang Bola Basket yang di tanda tangani oleh seluruh pemain & manajemen PJE terjual dengan harga Rp. 30.000.000,- oleh Bpk. Anindra Ardiansyah Bakrie.

3. Lelang Sepatu Basket & Kostum Tim-Nas SEABA Deny Sumargo [GFB] terjual dengan harga Rp. 2.000.000,- oleh Ibu Heny [Telkom Flexi]

4. Lelang Sepatu Mario Wuysang [GFB] terjual dengan harga Rp. 2.000.000,- oleh Ibu Ediyanti [penonton]

5. Lelang Poster NBA Allstars Tim West terjual dengan harga Rp. 2.000.000,- oleh Deny Sumargo [pemain GFB]

6. Lelang Jersey Kelly Purwanto PJE [yang dipakai pas main malam itu] terjual dengan harga Rp. 6.000.000,- oleh Bpk. Benjamin Pandelaki [Manajemen PJE]

7. Lelang Nomer Cantik Esia berikut Hand Phone’nya dengan harga Rp. 2.000.000,-

——-

Regards,

Richard ‘insane’ Latunusa
follow me on my twitter
email: insane_minusplus@yahoo.com

Oleh: mainbasket | Oktober 24, 2009

Pelita Jaya Esia Jakarta Adalah Ancaman Serius

Kiriman tulisan dari sobat gw, Richard Insane mengenai Charity Game antara Garuda Flexi Bandung kontra Pelita Jaya Esia Jakarta tidak berhasil gw buka. Namun skor akhir pertandingan ini bisa gw dapatkan dari teman yang lain. Pelita Jaya Esia Jakarta 66 – Garuda Flexi Bandung 60.

10431_1193785963320_1188564709_30624008_7014446_n

Catatan pertemuan antara Garuda dan Pelita Jaya memang cukup imbang. Kedua tim sering saling mengalahkan dan dikalahkan. Tahun ini, baik di Turnamen IBL 2009 maupun musim kompetisi 2010, Pelita Jaya Esia Jakarta adalah sebuah ancaman serius bagi Garuda, Satria Muda maupun tim-tim lainnya. Mereka punya Andi Batam, Kelly Purwanto, dan pemain yang baru mereka rekrut dari Bima Sakti, Koming.

Walau tak bisa dijadikan acuan, hasil dari pertandingan Charity Game dua hari yang lalu adalah sebuah peringatan. Watch out!

(Foto dari facebook Pelita Jaya. Thank you :P)

Oleh: mainbasket | Oktober 24, 2009

Kelly’s Fine and Garuda Must Win!

Tulisan ini gw “curi” dari seorang teman yang juga punya antusiasme sangat tinggi pada dunia main basket. Hebatnya, kita adalah pendukung tim IBL yang sama. Selamat membaca :)

Garuda Juara Turnamen

(Ingin melihat Garuda seperti ini lagi tahun ini)

Kelly’s Fine and Garuda Must Win!

Terjawab sudah pertanyaan gue beberapa bulan belakangan ini. Kelly Purwanto sehat-sehat saja ternyata. Bahkan dengan manis dia bersama tim baru tapi lamanya, Pelita Jaya Esia Jakarta, berhasil mengalahkan tim kebanggan saya Garuda Flexi Bandung di Charity Game untuk Korban Gempa Padang, semalam (22/10) di Hall Basket A Senayan.

Sehat sih sehat, tapi kenapa Garuda Bandung kalah ya? Ada yang salah di manakah? Memang sih yang semalam itu hanya pertandingan charity, tapi sebaiknya segeralah berbenah wahai tim kebanggaanku! Tournament sudah dekat, dan kompetisi pun semakin mendekat… So, GO GARUDA!!! Fly with your Eagle’s wings!

(Thank you @butetomato for this. Click here for the original post.)

Oleh: mainbasket | Oktober 24, 2009

DR 18 EL, Pantai dan Main Basket

Ok, ini bukan mobil gw. Gw nemu mobil ini parkir di Bangsal. Pelabuhan penyeberangan bagi mereka yang ingin mengunjungi tiga pulau indah di utara pulau Lombok; Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan.

Menyenangkan melihat ada orang yang senang pantai tapi punya gairah pada “hal lain”. Hohoo..

Image039

(Semoga yang punya mobil nggak protes.)

Oleh: mainbasket | Oktober 22, 2009

My Lovely Hometown (Runjoy The City, Mataram)

Image024

Ketika mengetahui gw berasal dari Lombok, ekspresi teman-teman gw biasanya berubah dari yang biasa-biasa saja menjadi takjub. Mereka spontan akan mengungkapkan betapa mereka sangat menginginkan mengunjungi pulau yang terkenal, maaf, sangat terkenal karena keindahan pantai-pantainya ini. Pantai dengan air laut yang super jernih. Saking jernihnya, pantulan warna air laut di pantai-pantai pulau Lombok bukan lagi biru, namun terlihat hijau cerah. Butiran pasirnya yang sebesar telur ikan (rasanya banyak juga yang belum pernah melihat telur ikan yaa) dan berwarna putih pun menjadi alasan tersendiri untuk mengagumi keindahan paradiso alias surga di bumi ini.

Tetapi bagi gw, keindahan pantai-pantai di Lombok bukanlah alasan utama mengapa gw terkadang begitu rindu pada pulau ini. Pantai hanyalah sebagian kecil alasan gw merindukan Lombok. Alasan terbesar gw justru adalah Kota Mataram. Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Barat. Mataram adalah Kota Kelahiran gw. Mataram adalah tempat pertama kali gw mengenal basket. Mataram adalah kota tempat gw besar. Mataram adalah kota sejuta kenangan bagi gw. Kecintaan gw pada Mataram melebihi kecintaan kepada kota-kota lain yang pernah gw kunjungi. Gw bahkan memiliki cinta yang lebih besar terhadap Mataram daripada kota tempat tinggal gw selama 12 tahun terakhir, Bandung.

Lari sore di Mataram seperti dulu. Nikmat sekali :)

——–

ran 4.96 km on 22/10/2009 at 3:00 PM with a pace of 7′05″/km

DBL Australia Games Logo

Pelajaran dari Tim Terbaik

Tim DetEksi Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2009 mendapat “siraman air yang membangunkan” pada laga pemanasan kedua di Eaton Recreation Centre, Bunbury, Australia Barat. Tadi malam (21/10), tim putra dan putri sama-sama kalah telak di tangan South West Academy of Sport (SWAS). Tim putri kalah 16-53, tim putra 26-86.

“Kalau mau cari alasan, sebenarnya banyak. Pertama, ini pertandingan serius pertama anak-anak di Australia. Kedua, suhu udara sangat dingin. Ketiga, anak-anak lelah setelah pagi latihan dan perjalanan bus tiga jam. Keempat, kalah postur. Kelima, tim lawan kami (SWAS, Red) adalah juara negara bagian tiga tahun berturut-turut,” kata Azrul Ananda, Commissioner DBL yang mendampingi tim di Australia.

DBL Australia Games

“Tapi, kami merasa kekalahan ini penting. Karena ini membuat anak-anak bangun. Membuat mereka lebih fokus mengatasi kelemahan, menghadapi pertandingan internasional lawan tim Western Australia Sabtu nanti (24/7, Red),” tambah Azrul. Azrul menjelaskan, tim DBL All-Star tahun lalu juga mengalami hal yang sama. Kalah telak pada pertandingan pemanasan. “Waktu itu, tim jadi sangat fokus dan bermain habis-habisan pada laga-laga selanjutnya. Setelah itu selalu tampil memuaskan meski selalu kalah tipis. Usai pertandingan, tim langsung berkumpul, sepakat ingin membuat cerita yang indah ketika nanti pulang ke Indonesia,” lanjutnya.

Ucapan penyemangat juga datang dari kubu SWAS. “Mereka bermain seperti layaknya pemain Asia, speed. Tapi sayangnya, mereka kalah power di bawah ring. Pergerakan mereka dengan banyak bermain outside sebenarnya cukup menyulitkan kami. Beruntung kali ini sentuhan tembakan mereka belum seratus persen,” ujar Greg Worthington, pelatih kepala tim putra SWAS.

Kapten tim putra SWAS Jeremy Paull menambahkan, tim DBL Indonesia All-Star sebaiknya bermain lebih berani. ”Berani menembak, jangan ragu. Tembakan ragu tidak akan membuahkan poin. Kadang, melakukan drive inside juga perlu. Percayalah, kami juga manusia yang bisa melakukan foul. Itu pasti bisa dimanfaatkan,” paparnya. Meski laga melawan SWAS kemarin bukan merupakan pertandingan resmi, sejak awal pertandingan dibuat semiformal.

Sebelum dimulai, lagu kebangsaan kedua negara, Indonesia Raya dan Advanced Australia Fair, dikumandangkan. Laga pemanasan tersebut juga dinikmati penonton yang datang mengisi tribun Eaton Recreation Centre. ”Ini pertandingan internasional pertama yang diselenggarakan di sini. Saya sangat senang daerah di luar Perth bisa didatangi tim negara lain. Tentu saja ini bukan soal menang dan kalah. Pembinaan di sini sudah beberapa tahun lebih maju,” tutur Jane Watkins, warga Bunbury.

Beberapa warga Indonesia yang tinggal di Bunbury juga ikut menyaksikan laga tersebut. Salah satunya, Nela Sidabutar yang berasal Medan, Sumatera Utara. ”Tadi saya melihat siaran televisi. Ada tim Indonesia bertanding. Nggak mungkin saya lewatkan. Sambil mengobati rasa kangen dengan Indonesia,” cerita Nela. (dat)

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »

Kategori