Yes, pindah ke mainbasket.com.
Yes, sampai jumpa :)
Tissue please :(
Video ini juga ada di mainbasket.com :)
Tonton dengan seksama, lalu praktekan!
*Tulisan ini terinspirasi dari salah satu artikel majalah Slam beberapa hari yang lalu.
Terlepas dari pendapatannya yang melimpah ruah bak air sekolam renang dan fans-fans NBA yang mengeluh harga tiket yang kemahalan sementara gaji mereka hanya setengah gayung di dalam bak mandi, keluhan Dwight Howard kepada para penggemar Orlando Magic ini cukup menyentuh :)
Dwight Howard beberapa waktu lalu nge-twit mengenai kondisi Amway Arena yang kerap sepi di musim reguler dan baru terdengar hiruk pikuk tatkala telah memasuki babak play off,
“@tstreetz77 and that’s not good cuz (because) I sense that. And that upsets me cuz (because) I don’t wait till the playoffs to play hard. I give y’all (you all) my best everynite (every night). Y (why?) becuz (because) some people don’t get a chance to be at everygame (every game). And I want them to always remember the nite (night) they saw me play. So. I play for y’all (you all). I feed off the fans. ESP (especially) at home. It’s a different atmosphere in the playoffs at the arena. That same atmosphere should be during the season.”
Howard kurang lebih mengatakan bahwa ia ingin agar fansnya tahu bahwa ia memperlakukan setiap laga dengan sepenuh hati. Ia tidak menunggu hingga babak play off untuk bermain sekuat tenaga. Howard melakukan hal tersebut karena tidak semua penonton memiliki kesempatan untuk datang setiap saat, oleh karenanya ia menghargai setiap laga dengan sungguh-sungguh. Jika Dwight Howard memberikan segalanya di setiap laga, demikian pula hal yang ia ingin rasakan dari para fans Orlando Magic. Memenuhi setiap laga Magic dan memberi dukungan di laga-laga musim reguler sekencang dukungan ketika Magic bermain di Play off.
Mendengar nama klub baru NBL Indonesia 2011-2012, NSH GMC, rasanya setiap orang tergoda untuk mengetahui apa kepanjangan dari inisial tersebut. Setelah menyelidiki selama dua hari, salah seorang teman yang pertama gw tanyakan mengatakan, “yang jelas NSH itu inisial dari pembesar klub tersebut, dan GMC itu kalau gak salah kependekan dari Gank Motor Club.”
Apa?! Gank Motor Club?!! Kemarin gw gak berani memublikasikan temuan ini :)) *gak yakin gw..hahaa
Lalu seorang teman twitter (@reecot) mengatakan bahwa GMC adalah kependekan dari Gaya Motor Cilincing. Sebuah klub basket yang berada di kompleks Gaya Motor di daerah Cilincing, Jakarta Utara. **Aha, mulai ketemu titik terang.
Kemudian teman yang lain (@MikeHoei) lagi menjelaskan bahwa NSH adalah inisial donatur klub tersebut, Na Si Hau, dan GMC adalah Gaya Motor Club. ***sepertinya ini yang paling meyakinkan :P
Apapun kepanjangan dari NSH GMC, yang jelas nama klub ini sebagai peserta NBL Indonesia mulai musim 2011-2012 adalah tetap NSH GMC, tanpa ada kepanjangan. Mengenai makna kepanjangan inisial NSH GMC yang benar-benar tepat, semoga nanti ada kesempatan mewawancara pihak-pihak NSH GMC :)
Awalnya ada sebuah komentar berbahasa Inggris di salah satu posting di blog ini. Gw gak ingat yang mana. Gw langsung tahu bahwa ia bukan orang Indonesia yang berbahasa Inggris. Ketika gw tanya, ia menjawab bahwa ia adalah orang Filipina dan membaca blog ini dengan bantuan google translate.
Senang mengetahui bahwa blog ini ternyata dibaca juga oleh penggemar basket dari Filipina. Lama-kelamaan, ternyata jasa google translate digunakan tidak hanya untuk membaca artikel di blog ini. Tetapi juga untuk ikut berdiskusi ketika memberi komentar.
Baca deh beberapa komentar “mencurigakan” ini :))
“Benarkah? Terhadap bintang basket kampus dan SMA. Hmmmm, mungkin tapi jika, pintar gilas (ini pasti maksudnya Smart Gilas) tim, 12pts longgar terhadap bintang NBA?”
“Smart pemain Gilas dunk lebih dari Kevin Durant.”
“Pernyataan saya sangat subjektif. Sama seperti Pelatih Blair (tergantung pada jenis tim lawan akan mengirim). Adalah baik bahwa kita memiliki perkembangan seperti ini, tapi kita tidak bisa mencapai tujuan kami segera. Sulit untuk menerima kenyataan, yang benar?”
“Pramuka Laporan: U-16 Filipina dilatih oleh Pelatih Spoelstra (Miaimi Panas pelatih).”
“Cuman punya vincent adalah U-16 pusat? Dia baik?”
“Hi, aku Filipina dan aku sangat senang melihat bahwa kalian ingin mengalahkan kami dan Anda berencana bergerak Anda. Ini berarti bahwa kalian yang besar lingkaran penggemar. Satu besar cinta dari Filipina! Mari kita menikmati permainan bersama-sama. Kalian akan menemukan rumus bahasa Indonesia yang tepat untuk mengalahkan kami. Jika Anda membutuhkan bantuan kita untuk meningkatkan saham basket Anda, jangan ragu untuk datang, Anyways kita adalah satu dan orang yang sama sebelum Eropa pecah kita. Suatu hari kita akan kehilangan terhadap Anda. Ini akan datang. Sementara itu, bekerja di dalamnya dan terus percaya. Tapi ingat ketika kita kalah, kita juga akan kembali pada Anda dan mencoba untuk memenangkan permainan untuk pihak kita karena itu adalah basket. Damai, cinta dan hormat!” Komentar ini dengan terus terang mengatakan bahwa ia menggunakan jasa google translate :)
To all of my friends in Philippines and all around the world who read this blog, it is really really an honor and such a pleasure for me to know you guys do read this blog even with a little help from Mr. Google Translate. Thank you very much for reading Mainbasket Blog. I really appreciate it :D
Bergabungnya Agustinus Dapas Sigar dari Garuda Bandung serta Ngurah Teguh dari Citra Satria tidak serta merta menambah kebahagiaan kepada para pendukung MUBA Hangtuah Indonesia Muda Sumatera Selatan. Pengumpul angka terbanyak mereka di musim 2010-2011 lalu, Buggi Setyawan justru memutuskan untuk berhenti bermain basket dan bekerja pada salah satu televisi swasta.
Buggi yang sepanjang musim 2010-2011 hanya sekali tak tampil membela MUBA, mencatat rekor total 339 poin atau rata-rata 13 poin per game. Catatan ini adalah salah satu catatan terbaik dalam deretan pencatat angka terbanyak di NBL Indonesia.
“Mulai Agustus ini, dia sudah resmi tidak di Muba lagi. Buggi memutuskan bekerja di stasiun televisi. Kami sudah berusaha membujuk, namun pilihan hidup seseorang tentunya tidak bisa terlalu kami campuri. Kami menghargai sekali pilihan Buggi,” ujar General Manager Muba Hangtuah IM Sumsel, Ferri Jufry (via Indopos).
“Saya bisa seperti sekarang, karena basket. Saya memilih bekerja (di luar basket), bukan berarti dunia basket tidak bisa menghidupi pemain. Namun, dengan pindah kerja ini saya berharap bisa lebih punya kesempatan melanjutkan kuliah S-2,” kata Buggi (via Indopos).
Perginya Buggi dari basket profesional akan membuat kita merindukan karakter seorang pemain yang berani menembak ketika pemain penjaga lengah atau sengaja memberi ruang tembak kepada penyerang. Buggi adalah tipikal pemain lengkap yang membuat triple threat adalah benar-benar tiga ancaman yang menyeramkan. Banyak pemain tidak sekomplit Buggi.
Pasca perseteruan antara Reggie Miller dan fans New York Knicks, beberapa pengamat NBA mengatakan bahwa NBA tak lagi seseru dulu. Rivalry, yang dalam Bahasa Indonesia gw padankan sebagai “seteru” adalah salah satu bumbu “penyedap” sebuah laga basket. Dengan bumbu seteru, pertandingan basket semakin terasa lezaattt!
“era NBL menurut gw blom ada yg levelnya kaya era Kobatama: @ThomasKurniady vs M.Rifky. Inal vs Kiki.” kata @wiwaha melalui twitter. Ada benarnya. Aksi Thomas Teddy melawan M. Rifky juga antara Inal melawan Kiki bagi banyak penggemar NBL (Kobatama) sangatlah legendaris. Apalagi saat itu perseteruan mereka bisa disaksikan lebih sering melalui televisi.
Tetapi, bukan berarti perseteruan masa kini tidak seheboh dulu. Kayaknya sih sama saja. Hanya saja harus diakui memang belum banyak dinikmati oleh penggemar basket seluruh Indonesia. Yes, televisi lebih suka menayangkan seteru protagonis vs antagonis di sinetron :D
Dalam obrolan twitter beberapa waktu lalu tentang perseteruan terseru di NBL Indonesia, banyak nama-nama seteru yang muncul. Faisal vs Kelly, Dimaz vs Faisal, Roni Gunawan vs Isman Thoyib, dan lain-lain. Bagi gw, dari semua laga NBL Indonesia 2010-2011 yang gw saksikan, setidaknya ada tiga perseteruan yang paling teringat jelas sampai sekarang:
Robert Santo Yunarto vs Budi Sucipto, Muba Hangtuah Indonesia Muda vs Angsapura Satyawacana, 24 Oktober 2010.
Inilah laga di mana point guard Muba Hangtuah, Robert Santo Yunarto mulai terlihat sangat menonjol. Robert bergerak begitu lincah dan berani melakukan penetrasi ke pertahanan Angsapura. Meskipun hanya membukukan 4 poin dan 5 assist, Robert berhasil menyelamatkan Muba Hangtuah dengan kemenangan tipis, 68-62.
Aksi Robert di Muba Hangtuah menemukan lawan yang seimbang melalui kecepatan dan kelincahan point guard Angsapura, Budi Sucipto. Budi Sucipto yang merupakan pemain terpendek di NBL Indonesia tak mampu dibendung oleh Muba Hangtuah. Robert vs Budi terlihat menonjol saat itu. Jika diadu secara statistik individu, meskipun timnya kalah, Budi Sucipto berhasil mencetak 21 poin!
Merio Ferdiyansyah vs Xaverius Prawiro, Stadium vs Aspac, 9 Maret 2011
Laga ini cukup mudah ditebak. Demikian barangkali asumsi kebanyakan penggemar basket Indonesia saat itu. Namun siapa sangka, Merio Ferdiyansyah menggila menghajar Aspac habis-habisan dengan total 27 poin. Aspac pasti ketar-ketir saat itu.
Beruntung, Xaverius Prawiro juga sedang wangi. Setiap kali Merio menghasilkan angka, Xaverius langsung membalas. Jika saja Xaverius sedang bau, sulit membayangkan Aspac akan menang 71-65.
Faisal J. Achmad vs Fans Garuda di C-Tra Arena, selalu!
Sudah terlalu sering rasanya cerita tentang perseteruan Faisal melawan fans Garuda di Bandung. Mirip, mirip seperti Reggie Miller vs New York Knicks di Madison Square Garden.
—
Mari berharap, rivalitas alias perseteruan keras antara dua pemain atau lebih atau bahkan antara dua tim di NBL Indonesia 2011-2012 semakin sering terjadi. Tentunya dalam batas yang selalu menjunjung tinggi sportifitas yaak :D
Pemain U-16 asal Jawa Barat yang semula memilih untuk ikut DBL Camp dan tidak bergabung dengan skuad nasional yang akan membela Indonesia di SEABA U-16 akhirnya bergabung di Pelatnas Semarang. Hal ini terjadi setelah akhirnya Perbasi dan DBL menemukan jalan tengah terbaik dalam dilema membela sekolah atau membela negara.
Satu hal yang sangat melegakan, selain akhirnya memiliki kesempatan membela Indonesia di ajang SEABA U-16, para pemain pelajar ini tetap memiliki kesempatan terbuka untuk kembali memperkuat tim sekolahnya di DBL musim depan.
“Kami telah menyampaikan surat resmi kepada DBL bahwa tim yang membawa nama Indonesia di ajang SEABA U-16 ini bukanlah tim nasional, melainkan Indonesia Selection. Saat ini kami menganggap bahwa tim dengan persiapan panjang seperti SEA Games lebih pas dikatakan sebagai Tim Nasional. Sedangkan untuk U-16 ini, lebih cocok dikatakan sebagai Indonesia Selection yang dikarenakan seleksi dan juga persiapannya yang sangat singkat. Dengan demikian, para pemain yang masih bisa bermain di DBL juga masih bisa bermain musim depan karena mereka adalah anggota skuad Indonesia Selection, bukan Tim Nasional,” jelas Pelatih Kepala Danny Kosasih.
Dalam sebuah majalah basket terkemuka yang baru saja saya baca beberapa lalu, seorang pendeta Katolik di Manila mengatakan, “my countrymen’s loyalty to basketball may be greater than the country’s considerable devotion to the Catholic Church.” Sebuah lelucon ringan yang menarik, dan tidak terlalu saya masukan ke hati.
Hingga akhirnya sebuah kunjungan singkat selama dua hari untuk menyaksikan Kobe Bryant di Kobe Manila Tour 2011 benar-benar meyakinkan saya, “basket barangkali memang seperti ‘agama’ bagi rakyat Filipina.”
Tiba di Manila
Supir taxi yang mengantarkan saya ke hotel mengatakan bahwa saat ini Kobe Bryant tengah berkunjung ke Manila dan menginap di hotel yang sama dengan yang akan saya tempati. Kunjungan pertama di Manila ini memberi kesan bahwa kota ini mirip dengan kota-kota pada umumnya di Indonesia. Keluar dari bandara, saya disambut senyum lebar Many Pacquaio yang menjadi model iklan sepeda motor lokal. “The Pacman” seolah berkata “selamat menikmati riuhnya lalu-lintas kota Manila.”
“Supir-supir di Manila gila semua!” kata supir taxi yang mengantarkan saya ke hotel. Ia perempuan, dan sangat lincah mengendalikan taxinya di antara lalu lintas Manila yang tidak konsisten di satu lajur.
“Kobe tiba tadi siang,” ungkap supir taxi. Saya langsung membayangkan bagaimana Kobe tentunya mendapat kawalan polisi yang tentunya dengan mudah mengatasi lalu lintas kota Manila yang dianggap gila oleh supir taxi ini. Tapi perkataan selanjutnya dari si supir taxi membuyarkan lamunan saya, “setelah tiba di bandara Ninoy Acquino, Kobe langsung naik helikopter menuju hotel!”
Rangkaian kegiatan, 13 Juli 2011
Kegiatan utama kunjungan Kobe Bryant di mulai pada tanggal 13 Juli pukul 12.00 waktu Manila (sama dengan Waktu Indonesia Tengah). Sebelum rangkaian acara dimulai, saya menyempatkan diri bertanya kepada salah seorang panitia penyelenggara, “benarkah kemarin Kobe menggunakan helikopter dalam perjalanannya dari bandara menuju hotel?” Panitia penyelenggara sedikit terheran-heran bagaimana saya mendapatkan informasi tersebut dan menertawakan saya, “hahaa, supir taximu berlebihan, Kobe naik mobil biasa dengan pengawalan tentunya.”
Meskipun merasa kecele karena cerita supir taxi yang hiperbola, setidaknya saya mulai menerka, Kobe Bryant pastilah bukan sekadar mega bintang bola basket di Filipina.
Jam 12.00 tepat, puluhan wartawan dari berbagai media massa di Filipina berkumpul di salah satu ruangan hotel. Banyak wartawan mengeluhkan betapa kecilnya ruangan tersebut. Bagi saya, ini sih wartawannya yang terlalu banyak.
Kobe menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tampaknya sudah disortir terlebih dahulu. Wartawan dilarang menanyakan hal-hal yang terlalu pribadi serta yang berkaitan dengan NBA Lockout. Ketika salah seorang wartawan melanggar dengan menanyakan sesuatu terkait NBA Lockout, Kobe terlihat kurang senang menanggapinya.
Salah satu pertanyaan menarik yang dijawab oleh Kobe Bryant adalah tujuannya datang ke Manila untuk yang ketiga kalinya. Kobe mengatakan bahwa ia datang kembali ke Manila untuk melihat perkembangan “anak-anak” didiknya setelah sekian lama ia tinggalkan.
Coaching clinic singkat
Setelah melakukan konferensi pers, Kobe Bryant dan rombongan menuju Barangay Pinagsama, Taguig, untuk memberikan sebuah klinik pelatihan singkat. Barangay Pinagsama adalah lokasi di mana melalui Yayasan Gawad Kalinga Community, Kobe menyumbangkan sebuah lapangan basket terbuka namun dilengkapi atap. Di tempat ini, ribuan warga telah berjam-jam menunggu kedatangan Kobe. Termasuk sang Walikota.
Dalam sebuah kawasan yang sangat padat, penduduk setempat memadati jalanan menuju lokasi, berkumpul di teras lantai dua rumah, berdesekan di kaca jendela yang mengarah ke lapangan basket, hingga di pucuk-pucuk pohon sekitar lapangan basket. Ketika rombongan Kobe Bryant tiba, semua orang menyambut dengan teriakan, “Kobe! Kobe! Kobe!” Beberapa terlihat histeris melihat idolanya.
Di lapangan, sekitar 20 orang anak-anak asuh Yayasan Gawad Kalinga Community telah siap berlatih bersama Kobe. Meskipun hanya berlatih kurang dari 30 menit, semua anak terlihat antusias dan sangat bahagia bertemu Kobe. Setelah itu, Kobe sudah harus berangkat lagi menuju salah satu mal yang bernama The Fort untuk memromosikan sepatunya.
Nongkrong di mal
Jumlah penggemar yang menanti Kobe di The Fort tak kalah banyaknya dengan yang berada di Barangay Pinagsama. Ribuan orang berdesakan menanti kemunculan Kobe di atas panggung yang sudah disediakan. Mayoritas pengunjung mengenakan sepatu basket yang khusus bertandatangan Kobe, yang lainnya mengenakan jersey Lakers nomor 8, 24, serta jersey tim nasional USA nomor 10. Saya kembali berpikir, “tak heran mengapa Kobe rela hingga tiga kali datang ke Manila.”
Kemunculan Kobe di atas panggung kembali mengundang histeria. Seorang bapak di sebelah saya yang jauh-jauh datang dari Hong Kong tak henti-henti berteriak, “Kobe, I love you!” Anak-anak muda Manila berdesak-desakan agar bisa melihat langsung Kobe dalam jarak dekat sambil berteriak “Kobe Bryant!” Bahkan salah seorang wanita di dekat saya mengatakan “I want him to marry me.”
Smart Gilas vs UAAC All Star +
Puncak acara kunjungan Kobe Bryant di Manila adalah mengunjungi Araneta Coliseum, sebuah arena basket dengan kapasitas 15.000 penonton, terbesar di Filipina. Hari itu, Araneta Coliseum terisi penuh! Semua orang berteriak mengelu-elukan nama Kobe Bryant. Ketika akhirnya Kobe Bryant muncul di lapangan, Araneta Coliseum “meledak”! Saya takjub melihat apa yang terjadi. Setiap kata-kata Kobe disambut bak “sabda”. Semua orang terlihat seperti “tercerahkan”.
Setelah memberikan kalimat sambutan dan menjawab beberapa pertanyaan dari pembawa acara, Kobe dipersilahkan untuk melempar bola tip-off pertandingan eksebisi antara Smart Gilas Philippines (tim nasional Filipina) melawan tim UAAP All Star, gabungan pemain-pemain terbaik liga mahasiswa Filipina. Laga rencananya hanya berlangsung selama dua babak, dua kali 10 menit bersih.
Selama babak pertama berjalan, saya pehatikan tak banyak penonton yang mengikuti laga dengan serius. Apalagi Smart Gilas terlihat jauh lebih dominan daripada UAAC All Star. Ribuan penonton lebih tertarik menyaksikan Kobe yang duduk di tepi lapangan yang kerap tersorot kamera dan muncul di layar lebar di atas lapangan. Setiap kali Kobe bergerak atau hanya menoleh dan tersenyum, setiap kali itu pula Araneta Coliseum meledak dalam suara-suara histeris. Ajaib bin luar biasa!
Memasuki babak kedua, Kobe Bryant bangkit dari duduknya lalu menghampiri tim UAAC All Star. Semua pemain mengerubuti Kobe seolah tengah mendengarkan instruksi pelatih. Ketika pemain kembali berpencar untuk bersiap memasuki babak kedua, Kobe terlihat telah mengenakan jersey Far Eastern University. Kobe bergabung dengan tim UAAC All Star. Reaksi penonton kembali tertebak. Saya menutup telinga.
Bergabungnya Kobe bersama UAAC All Star menambah semangat tim tersebut. Smart Gilas kini menghadapi lawan yang seimbang. Chris Lutz (Smart Gilas) yang bertugas menjaga Kobe tak mampu berbuat banyak. Kobe bahkan berhasil melayangkan dua buah slam dunk yang sangat cantik. Satu dunk pada kondisi traffic-jam di bawah ring Smart Gilas, dan satu lagi sebuah dunk indah ketika Kobe melaju sendiri setelah berhasil melakukan steal dari point guard Smart Gilas. UAAC All Star yang awalnya tertinggal jauh, menutup laga dengan kekalahan tipis 44-40.
“Apakah kedatangan Kobe di Araneta sesuai dengan harapanmu?” tanya saya kepada salah seorang pengunjung seusai laga di luar arena.
“Ini sangat-sangat melebihi harapan saya. Luar biasa! Saya datang hanya untuk melihat Kobe berbicara. Itu saja. Menyaksikan Kobe bermain dan melakukan dua slam dunk seperti tadi, sungguh tak bisa diungkapkan dengan kata-kata!” jawab seorang pengunjung yang terlihat sangat-sangat bahagia.
Ribuan penonton lain terlihat terus-menerus membicarakan apa yang terjadi di lapangan beberapa menit yang silam. Semua orang berbagi cerita dalam ekspresi yang sangat-sangat girang. Jika, para penggemar basket Filipina ini saling berebut untuk dapat foto bersama dengan para pemain basket dari liga mahasiswa, saya tidak bisa membayangkan jika Kobe Bryant juga berada di tengah-tengah mereka saat itu tanpa pengawalan. Kobe benar-benar menjadi pujaan bak “nabi” dalam sebuah agama bernama bola basket di Filipina!
Pada saat akan berangkat ke Manila untuk bertemu dan mewawancara Kobe Bryant, gw berpikir akan mendapatkan waktu istimewa untuk melakukan obrolan berhadap-hadapan dengan Kobe. “Hahahaaa, I thought the same way like you bro. Look all around, these journalists, they also had the same thought like us,” canda seorang teman yang datang dari Malaysia :D
Lagian siapa gw juga yaa mau ngobrol berdua dengan Kobe Bryant, hahahaaa :))
Hasil wawancara di bawah ini adalah kumpulan tanya jawab antara wartawan yang hadir di Manila dan jawaban yang diberikan oleh Kobe Bryant. Selamat mengikuti :D *buka kamus!
Which of your games do you consider the most important? (yang hurufnya tebal adalah pertanyaan yaa..)
I think it would be Game 7 against the Boston Celtics. It was the most challenging.
What advice can you give to help enhance the game in Asia?
Continue to learn, continue to teach. Practice, practice, practice.
Given the NBA lockout, how do you keep your rhythm? (ini pertanyaan kecolongan, harusnya gak boleh bertanya tentang NBA lockout)
Keep on practicing. Don’t stop. I make sure that when it does end, I’m ready.
What do you think contributed to the lockout? (kecolongan lagi)
I haven’t spent enough time to actually choose a favorite.
Ending the season on a bad note, what are your plans for next season?
Payback. I’m gonna make them feel my pain.
What are your thoughts on the retirement of Yao Ming?
I haven’t had the chance to reach out yet, but his contribution to the NBA has been amazing. He opened a lot of doors for other players. When he was healthy, he was phenomenal.
Tell us about the foundation you built with your wife.
The foundation fights homelessness, which is such a big problem that has been swept under the rug but definitely something that we can solve. We are growing the foundation and hopefully, it becomes something global.
What do you want to instill in kids?
There is no secret formula. The more you do it, the better you get at it.
Are you interested in once again joining the 2012 Olympics?
I’m more than happy to join.
How do you achieve greatness?
Greatness is very subjective. People have different goals, and whenever someone achieves their goals, that’s greatness.
What made you change your number from 8 to 24?
8 represents the first chapter of my life and 24 is where I am now. It also represents the 24 hours in a day. It reminds me that I should take each day as it comes.
Why aren’t you on Twitter?
I don’t feel like it. If I want to contact someone, I can call or text him. I don’t need everyone else to know what it is I want to say to that person.
What are your thoughts about your dad becoming a coach for the Los Angeles Sparks?
I’m really excited for him. He’s a natural at being a coach and I’m not just saying that because he’s my dad. I’ve been extremely lucky that I have him as a role model.
If you can pick 2 other player to form a Big 3, which players (who are not from your team) will you pick?
That question is very hard to answer. I have to consider a lot of things like chemistry, skills, etc.
What do you want to achieve outside the court?
Help other people. It’s our responsibility to do that.
Who do you think will win in a fight between Manny Pacquiao and Lloyd Mayweather?
Manny is a good friend. His tenacity and competitiveness will win him the title. I’m with Manny.
What is the most important thing you learned from Phil Jackson?
Patience. He was the kind of person who allowed people to grow at their own pace.
What are your thoughts about Shaq’s retirement and his possible stint as a broadcaster?
He’s had a great career. This career change is very interesting. We’ll see. (agak malas-malasan Kobe menjawab pertanyaan ini)
*Bonus: Suasana wawancara :D
Sesaat sebelum Kobe datang, semua wartawan tampak mengetahui dari mana Kobe akan muncul. Kecuali satu orang :D
Aha! Dari sana rupanya :D
Sekarang paham kan, kenapa wawancara hadap-hadapan antara gw dan Kobe Bryant gak mungkin terlaksana? :D
**yang ingin membaca tulisan pertama dari rangkaian cerita kunjungan Kobe Bryant di Manila, silahkan klik di sini.
Mulai hari ini, gw akan bercerita tentang pengalaman gw berkunjung ke Manila untuk menyaksikan Kobe Bryant sang “Venomenon”. Sebuah pengalaman yang gw rasa sangat-sangat tak terbayarkan oleh apapun. Seperti gw bilang sebelumnya, bukan hanya karena Kobe Bryant-nya, tetapi juga karena kegilaan rakyat Filipina terhadap bola basket!
Sejujurnya, gw sudah gak bisa lagi merangkaikan cerita tentang kunjungan Kobe ke Manila ini dalam satuan cerita dalam runut waktu berurut. Gw bercerita berdasarkan pengalaman-pengalaman unik yang gw alami saja yak!
Filipina yang gila basket
Jika, jika Filipina adalah salah satu provinsi di Indonesia di mana setiap provinsi memiliki baju adat daerahnya masing-masing, maka jenis baju adat Filipina adalah jersey basket. Atau setidaknya memiliki asesoris yang berbau basket; entah sepatu basket, celana pendek basket, atau sekadar head band basket penyeka keringat kepala.
Demikian pula sepanjang waktu perjalanan gw mengelilingi Manila, setiap kali melihat orang-orang yang kebetulan berada di tepi jalan, gw bisa menemukan sebagian besar mengenakan salah satu pernak-pernik basket. Jika gw melihat seseorang mengenakan celana pendek, celana pendeknya hampir pasti adalah celana pendek basket. Di mal, ketika gw berhadapan dengan seorang Satpam, ia mengenakan sepatu basket. Dan dalam teriknya matahari Manila, baju kutang adalah pilihan terbaik untuk dikenakan. dan kutang terbaik adalah jersey basket! Orang-orang Manila terlihat mengenakan berbagai macam jersey basket. Mulai dari NBA, PBA, tim universitas, sekolah, hingga jersey-jersey mirip NBA tetapi dengan nama-nama asing (mungkin) berbahasa Tagalog. Gw berasumsi, ini pasti jersey tim-tim lokal wilayah entah profesional atau pun tidak.
Basket adalah olah raga utama di Filipina. Gw tahu itu, dan mereka bangga akan hal tersebut. Gw penasaran, lalu apakah olah raga terpopuler kedua di Filipina? Gw menanyakan pertanyaan tersebut ke beberapa orang di Manila, dan jawaban terbanyak adalah, “tidak tahu!”
Salah seorang yang gw tanya mencoba berpikir sejenak, lalu dengan serius mengatakan, “golf!” Gw tertawa terbahak-bahak. Saking serius dan melekatnya basket di Filipina, orang-orangnya sampai gak peduli dengan olah raga lain! Gw jadi teringat ajang piala sepak bola AFF beberapa waktu lalu, ketika Filipina bertemu Indonesia di semi final. Filipina dinyatakan tak layak menjadi tuan rumah salah satu laga semi final karena tidak memiliki lapangan sepak bola yang layak untuk laga standar internasional.
Sebaliknya, memasuki Araneta Coliseum, arena basket terbesar di Filipina, seorang teman yang beberapa kali menyaksikan laga NBA mengatakan “meskipun sudah agak tua, Araneta Coliseum mirip arena-arena di NBA!” (lihat foto di atas, sesaat sebelum Kobe Bryant muncul di tengah lapangan)
*besok insyaAllah gw akan cerita rangkaian kegiatan Kobe Bryant di Manila :D
“I remember once speaking with a Filipino Catholic priest, who laughed in resignation as he said his countrymen’s loyalty to basketball may be greater than the country’s considerable devotion to the Catholic Church.” Gregory Dole, Slam Magazine.
Sekitar satu minggu lalu, ketika para pembaca blog ini sedang meributkan kekalahan telak Tim Nasional Indonesia dari Filipina di ajang SEABA Championship di Jakarta beberapa waktu lalu, tiba-tiba terbersit dan berkhayal untuk suatu saat nanti mengunjungi Filipina. Negara di mana olah raga yang dimainkan pertama kali oleh James Naismith menjadi bagian budaya yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Gw gak membayangkan apakah basket di Filipina seperti sepak bola di Indonesia, tetapi gw lebih mengkhayalkan bak main petasan di bulan Puasa di kampung-kampung seperti yang pernah gw alami dulu. Walau mungkin tidak nyambung sama sekali :)
Seorang teman bercerita, jika di Indonesia, pada kaca depan angkutan umum (bis, angkot, mikrolet, dan lain-lain) atau pantat truk kita sering menemukan kutipan-kutipan lucu yang membuat tersenyum, di Filipina, angkutan umum kerap dihias dengan gambar logo NBA dan tim-tim NBA. Bahkan tak jarang wajah-wajah pemain basket juga mendominasi estetika angkutan kota.
Katanya, basket dimainkan di mana-mana. Di kampung-kampung, di kota, di lapangan terbuka, indoor, bahkan di jalanan di mana para pemain sesekali harus menerima panggilan timeout dari pengguna jalan lain seperti sepeda motor ataupun mobil yang ingin mengambil haknya :) Bahkan dulu pula ceritanya, seorang politisi memiliki kesempatan besar terpilih dalam pemilihan umum ketika ia berjanji akan menyiarkan pertandingan-pertandingan NBA di televisi. LOL! Filipina, sebuah negara di mana masyarakatnya lebih cinta kepada bola basket dari pada agamanya, demikian kira-kira terjemahan lepas dari kalimat yang gw temukan di salah satu artikel majalah Slam di atas.
Sekitar satu minggu lalu, beberapa menit setelah gw menghabiskan lamunan dan segera menuju warung terdekat untuk mengisi energi agar bisa melamun lagi, sebuah telepon masuk, “Mainbasket, bisa ke Manila gak minggu depan untuk bertemu Kobe Bryant?”
Gw keselek sebentar, menjaga diri agar tetap tenang, lalu balas “hmm.. kayaknya bisa.” Heheheee..
“Kayaknya bisa???” silahkan dibaca “BISA BANGEETTT!” :)
Gw gak tahu mana yang membuat gw lebih bersemangat, ke negara yang memiliki liga basket kedua tertua di dunia setelah NBA atau ketemu Kobe Bryant-nya :D
Dapat kiriman tulisan dalam Bahasa Inggris dari Gita Tri Rahayu. Katanya, ini adalah Tugas Akhir di tempatnya les Bahasa Inggris dan hasrus dipresentasikan ke hadapan para pembimbingnya. Nice writing :D
Indonesian Basketball: Who Is Responsible?
by: Gita Tri Rahayu
As we all know our daily life cannot be separated with sport. If we want to be a healthy person, we need to do some sports. In Indonesia there are a lot kinds of sports, such as football, badminton, basketball and many more. Both badminton and football have enough attention from the government, the society, and the media. It can be seen from the number of impressions of football and badminton on the TV. And also from the number of viewers who come directly to the game or the viewers who watch it on TV. But it’s not happened in basketball, although, Indonesian basketball has a lot of achievement. So, to make it better and better to get more achievement, Indonesian basketball needs support from various aspects. Indonesian basketball needs more attention from the government, the society, and the media.
First of all, one of national basketball competition is held by private company. It is something that really embarrassing to know. Maybe there are a lot of questions that appear like, why it is hold by private company? or, why the government won’t hold it?. The answer of that question is because the government doesn’t have enough budget for basketball than if we compare it with other sports like football and badminton. The government won’t hold it because to organize basketball competition needs big amount of money. Other reason why it isn’t held by the government is because the government think that they will lose if they hold it. Why? Because just a few people want to watch it. And the last reason is because the lack of sponsorship to organize the competition Second, Indonesian basketball has a lot of achievement. Although, there are many problems to hold a competition in Indonesia, there are a lot of achievement that Indonesian Basketball get. But only a few people know about it. Why? Because it is something that very rare to see an impression from Indonesian basketball on TV, on radio or other media. Having the same reason with the government, the media won’t show it because media think they will lose to show it. Because to show an impression, media need a big amount of money, and if there are only few people want to watch it, they will be lose. The other achievement is that Indonesian basketball still achieve in Asean even in international competition. These are some of the achievement that Indonesian basketball got (national team):
• 2nd champion in Ganefo competition : 1963, 1966
• Runner up ASEAN student competition : 1991
• 7th times got bronze medal in Sea Games : 1979, 1989, 1993(men & women), 1997, 1999, 2001
• Silver medal in Sea Games: 1991, 2001, 2007
And we hope in 26th Sea Games that will be hold in Indonesia , Indonesian basketball can get silver medal or even gold medal.
Third, there are some negative opinions about our national basketball, such as people are pessimistic about the ability of national basketball. People are pessimistic because they don’t know really well about the achievement that Indonesian basketball got. Other opinion is people think that it is a kind of boring sport. They think that other kind of sports in Indonesia is better than basketball. Whereas, if we compare it with other sports like football, basketball is not a boring sports. Can you imagine, to make a goal in football need a long time. And it is different with basketball that to make score only in seconds. Our eyes cannot be moved from the game. So, the reason that it is a boring sport is a big mistake. The last opinion is that basketball can only be enjoyed by certain people. It is a really wrong opinion, because they who don’t know, think that they need a big amount of money to watch basketball. Otherwise, if they know, they won’t say like that. For example, one of the basketball competitions in Indonesia like NBL (National Basketball League) they only need Rp. 20.000, with that amount people can enjoy to watch. And something that really make us proud in Indonesian basketball is the viewers or supporters are so supportive. In the history of Indonesian Basketball, there is no riot, because the team that they support is lose. Really different with football supporter in Indonesia.
Fourthly, Indonesian Basketball needs support from various aspects, such as the government, the society, and the media. To make Indonesian Basketball has a better future, it really needs a big support from those aspects. It really needs sponsorship. We can’t deny that to organize a competition needs a big amount of money that some of the money can be gotten from the sponsorship. So, if Indonesian Basketball has enough sponsorship, it will be easier to organize a competition. Besides that, the government should give more budget to basketball. So, with enough budget to hold a competition is something that is easy. And the most important support is from the society. People can support Indonesian Basketball by coming directly to the event or at least watching it on TV. This is something that very difficult, because it is about the sense of the society. But if you don’t like you should try to watch it before you say that you don’t like. So, you have a reason to say that you don’t like, or maybe you will say that you like basketball.
The last but not least, basketball should be socialized from an early age to be closer to Indonesian people. So, basketball in Indonesia will be something that very usual that we can see. Besides that, if it socialized from an early age, it will increase the ability to play basketball in Indonesia. And also to increase the endearment to Indonesians. If it happen to get better achievement in the future is something which is not impossible.
In conclusion, Indonesian Basketball has a lot of proudly achievement, but it doesn’t have enough support from the government, the society, and the media. So, to support our national basketball to have a better future, Indonesian basketball needs more attention and support from the government, the society, and the media, such as the government gives more budget to basketball, the media gives more support by increasing the number of basketball impressions on TV, on the radio or other program. And the most important, the society can support by coming directly to the game or just watching it when it air on TV.