Membangun Bangsa Melalui Libamanas (2/2), Namun Cukupkah dengan IP 2,00?

Judulnya mungkin masih selebay dan se-orde baru tulisan yang pertama, Membangun Bangsa Melalui Libamanas (1/2), Kiat-kiat Mendapat 5 Juta untuk Pendaftaran, tapi ya sudahlah.. :D

Sebelum mengumumkan bahwa biaya pendaftaran mengikuti Liga Bola Basket Mahasiswa Nasional (Libamanas) adalah lima juta rupiah, @perbasi_ina, twitter resmi Perbasi lebih dulu mengungkapkan bahwa standar indeks prestasi (IP) mahasiswa yang boleh mengikuti Libamanas adalah 2,00. Waks?! :(

Dunia luar punya alternatif yang lebih baik dari IP 2,00

Berapa persen kah para pemain Libamanas yang usai kuliah akan bermain basket profesional? NBL Indonesia? Banyak. Banyak banget. Itu harapan kita di masa nanti. Saat ini, rasanya belum akan sebanyak itu. Akan banyak para pemain Libamanas yang usai kuliah nanti memilih berkarir di bidang lain selain basket. Di bidang-bidang di mana dunia luar menilai seseorang salah satunya karena prestasi akademiknya di kampus. IP 2,00 jelas tak masuk hitungan bagi kebanyakan dunia kerja. Pegawai negeri sipil saja mensyaratkan IP minimal 2,75. Itu dulu. Entah kalau kini.

Bahkan ketika tujuannya adalah bermain untuk NBA, para pemain kampus di Amerika Serikat yang mendapatkan beasiswa karena kemahirannya bermain basket masih sangat merasa betapa pentingnya prestasi akademik. Sebagian kecil saja yang akan berhasil nyemplung dan main-main di kolam NBA. Sisanya ke mana-mana.

Pada kenyataannya, untuk mendapatkan beasiswa sebagai atlet kampus, standar IP-nya pun cukup tinggi. Seorang teman yang pernah berkuliah di Amerika Serikat mengatakan bahwa untuk menjadi anggota tim basket kampus, IP-nya minimal 3,00. Ia dan teman-temannya yang terbilang jago basket harus berusaha, belajar tekun memenuhi target tersebut.

Apa “kata” 2,00?

IP 2,00 mengatakan cukup banyak mengenai prestasi akademik seorang mahasiswa. Entah malas, bodoh, sebenarnya pintar tapi tidak serius, tidak mementingkan akademik, kebanyakan main basket atau apa lagi, silahkan tambahkan sendiri. Apakah pemain basket Libamanas kita akan seperti itu? Amit-amit dah.. :)

Membangun Bangsa Melalui Libamanas (1/2), Kiat-kiat Mendapat 5 Juta untuk Pendaftaran

Judulnya agak lebay dan orde baru. Tetapi yaa sudahlah.. :D

Kemarin, twitter resmi Perbasi, @perbasi_ina mengkonfirmasi kebenaran sebuah pertanyaan dari salah seorang followernya yang bertanya apakah benar biaya pendaftaran Liga Bola Basket Mahasiswa Nasional adalah lima juta rupiah. Usai itu, salah seorang follower Mainbasket dan juga follower Perbasi memberi tahu seakan “protes” bahwa biaya pendaftaran tersebut mahal banget dan dalam twit yang lain oleh follower yang lain juga menyinggung seolah biayanya bak “ujung-ujungnya duit” banget (nanti kapan-kapan gw bahas juga deh, kenapa juga harus “ujung-ujungnya duit” banget).

Twitter Perbasi kemudian mengatakan bahwa mereka akan membantu dalam hal meyakinkan pihak kampus agar membantu mahasiswanya memenuhi biaya tersebut. Karena tampaknya, bagi beberapa mahasiswa/kampus, lima juta rupiah adalah banyak.

Lalu ada yang meminta agar biaya pendaftaran diturunkan. Gw gak setuju. Lalu ada yang bertanya kembali, “berarti kalau ada tim yang jago tapi gak punya duit berarti gak ikut?” Bagi gw, ya jelas gak usah ikutan. Sederhana :)

Belum apa-apa sudah patah arang!

Entah ada apa dengan mahasiswa sekarang. Belum-belum sudah patah arang. Bagi gw, jika keinginan untuk berkompetisi basket antar mahasiswa sedemikian besarnya, maka gak punya uang lima juta rupiah hanyalah kendala seujung kelingking. Hanya memiliki tiga orang yang bisa bermain basket, itu baru masalah besar.

“Tapi kami memang gak punya uang lima juta, dan kampus hanya bisa bantu nol rupiah.”

Jika kalian benar ingin ikut Libamanas, punya pemain bagus, disiplin, berkualitas, dan pekerja keras, tetapi gak punya uang lima juta untuk mendaftar, berikut kiat-kiat halal untuk mendapatkan uang tersebut:

1. Minta sumbangan ke teman-teman (kencleng/kotak amal)

Ini adalah cara pertama, utama, dan wajib dilakukan! Bikin cara meminta yang sopan. Jelaskan keperluan membutuhkan dana tersebut untuk apa. Untuk kompetisi Libamanas. Mintalah dana dan putar kotak sumbangan ke semua mahasiswa dan dosen dan karyawan kampus tanpa terlewat seorang pun! Jangan hanya membawa kotak saja. Bikin papan pengumuman berjalan, poster-poster di papan pengumuman, blekberi messenger untuk menyampaikan pesan, facebook, twitter dan lain-lain. Jelaskan kepada para donatur apa itu Libamanas, keuntungan bagi kampus, kapan jadwal tandingnya, lawan kampus mana (bikin skenario beberapa kampus lawan yang akan menjadi lawan sengit), di arena mana, dan info-info terkait lainnya, dan lain-lain. Kalau cara ini berhasil mengumpulkan dana lima juta rupiah pas! Alhamdulillaah. Kalau kurang, jalani langkah kedua.

2. Cari sponsor

Perusahaan besar seperti Pertamina atau Telkom tentu saja oke banget. Kalau gak bisa atau sulit, yang lebih kecil lagi, lebi kecil lagi, dan seterusnya. Ke warung-warung juga gak apa-apa. Bahkan ke perorangan yang dianggap mampu juga sah-sah saja semisal dosen yang kaya raya atau memiliki perusahaan. Koperasi kampus, atau perusahaan yang dimiliki kampus juga sangat baik. Sebagai imbal balik, tawarkan bahwa nama, logo, pesan atau apapun yang mewakili mereka mendapat hak untuk menempel di jersey kampus. Dan tentu saja, laporan semua hal yang terkait dengan pertandingan baik sebelum atau sesudah, sebaiknya dilaporkan. Siapa tahu mereka malah tertarik untuk menonton langsung. Cari sponsor sebanyak-banyaknya! InsyaAllah, uang pendaftaran tertutupi. Amiin :P

3. Bisnis alias dagang

Gw gak tahu apakah mahasiswa zaman sekarang masih melakukan bisnis-bisnis kecil seperti mengumpulkan koran dari rumah teman-teman atau dosen atau perpustakaan kampus untuk dijual. Atau mengumpulkan botol bekas yang masih bisa dijual, atau melakukan garage sale, atau membuka gerai jualan limun, dan lain-lain. Ini sangat-sangat efisien. Gw melakukannya saat (bahkan) SMA dulu.

4. Hutang!

Yes, jikalau keinginan untuk mengikuti Libamanas sedemikian besarnya dan semua usaha di atas tidak berhasil. Berhutang saja, dan pikirkan cara membayarnya. Lima juta memang uang yang besar nilainya -pada tahun 80-an, saat ini, relatif keciil.

Andai, bila empat kiat ini dijalankan, rasanya bukan hanya berhasil mengumpulkan lima juta saja. Tetapi juga tim kampusnya rasanya akan melangkah lebih jauh dalam kompetisi Libamanas. Karena untuk menjalankan kiat-kiat ini dibutuhkan kemauan, keberanian, kerja keras, disiplin.

Penting!

Ketika masih mahasiswa, gw hanya berkompetisi antar fakultas. Setiap sebelum bertanding, sehari atau bahkan seminggu sebelumnya, kami membuat poster kecil dan besar. Kecil seukuran A5 yang kami fotokopi dan tempel di sekitar kampus, besar hingga berukuran lebih dari 3 x 3 meter dan kami gantung di dalam kampus. Semuanya memberi tahu jadwal pertandingan kami. Hasilnya, setiap kami bertanding, dukungan dari teman-teman selalu melimpah.

Ketika nanti kita melakukan kiat-kiat di atas, memberi tahu kapan akan bertanding dan hasil pertandingan yang lalu akan menjadi sangat penting. Poster-poster tersebut adalah bentuk penghargaan para pemain basket kampus kepada para pendukungnya.

Hubungannya dengan membangun bangsa? Yaa begitulah, kita jadi mandiri pada intinya. Padahal awalnya kan hanya ingin ikutan pertandingan basket doang :D

Tulisan ini dapat pula di baca di mainbasket.com

3 Perseteruan (Rivalry) Terseru di NBL Indonesia 2010-2011

Pasca perseteruan antara Reggie Miller dan fans New York Knicks, beberapa pengamat NBA mengatakan bahwa NBA tak lagi seseru dulu. Rivalry, yang dalam Bahasa Indonesia gw padankan sebagai “seteru” adalah salah satu bumbu “penyedap” sebuah laga basket. Dengan bumbu seteru, pertandingan basket semakin terasa lezaattt!

era NBL menurut gw blom ada yg levelnya kaya era Kobatama: @ThomasKurniady vs M.Rifky. Inal vs Kiki.” kata @wiwaha melalui twitter. Ada benarnya. Aksi Thomas Teddy melawan M. Rifky juga antara Inal melawan Kiki bagi banyak penggemar NBL (Kobatama) sangatlah legendaris. Apalagi saat itu perseteruan mereka bisa disaksikan lebih sering melalui televisi.

Tetapi, bukan berarti perseteruan masa kini tidak seheboh dulu. Kayaknya sih sama saja. Hanya saja harus diakui memang belum banyak dinikmati oleh penggemar basket seluruh Indonesia. Yes, televisi lebih suka menayangkan seteru protagonis vs antagonis di sinetron :D

Dalam obrolan twitter beberapa waktu lalu tentang perseteruan terseru di NBL Indonesia, banyak nama-nama seteru yang muncul. Faisal vs Kelly, Dimaz vs Faisal, Roni Gunawan vs Isman Thoyib, dan lain-lain. Bagi gw, dari semua laga NBL Indonesia 2010-2011 yang gw saksikan, setidaknya ada tiga perseteruan yang paling teringat jelas sampai sekarang:

Robert Santo Yunarto vs Budi Sucipto, Muba Hangtuah Indonesia Muda vs Angsapura Satyawacana, 24 Oktober 2010.

Inilah laga di mana point guard Muba Hangtuah, Robert Santo Yunarto mulai terlihat sangat menonjol. Robert bergerak begitu lincah dan berani melakukan penetrasi ke pertahanan Angsapura. Meskipun hanya membukukan 4 poin dan 5 assist, Robert berhasil menyelamatkan Muba Hangtuah dengan kemenangan tipis, 68-62.

Aksi Robert di Muba Hangtuah menemukan lawan yang seimbang melalui kecepatan dan kelincahan point guard Angsapura, Budi Sucipto. Budi Sucipto yang merupakan pemain terpendek di NBL Indonesia tak mampu dibendung oleh Muba Hangtuah. Robert vs Budi terlihat menonjol saat itu. Jika diadu secara statistik individu, meskipun timnya kalah, Budi Sucipto berhasil mencetak 21 poin!

Merio Ferdiyansyah vs Xaverius Prawiro, Stadium vs Aspac, 9 Maret 2011

Laga ini cukup mudah ditebak. Demikian barangkali asumsi kebanyakan penggemar basket Indonesia saat itu. Namun siapa sangka, Merio Ferdiyansyah menggila menghajar Aspac habis-habisan dengan total 27 poin. Aspac pasti ketar-ketir saat itu.

Beruntung, Xaverius Prawiro juga sedang wangi. Setiap kali Merio menghasilkan angka, Xaverius langsung membalas. Jika saja Xaverius sedang bau, sulit membayangkan Aspac akan menang 71-65.

Faisal J. Achmad vs Fans Garuda di C-Tra Arena, selalu!

Sudah terlalu sering rasanya cerita tentang perseteruan Faisal melawan fans Garuda di Bandung. Mirip, mirip seperti Reggie Miller vs New York Knicks di Madison Square Garden.

Mari berharap, rivalitas alias perseteruan keras antara dua pemain atau lebih atau bahkan antara dua tim di NBL Indonesia 2011-2012 semakin sering terjadi. Tentunya dalam batas yang selalu menjunjung tinggi sportifitas yaak :D

Wakili Bangsa Sebagai Indonesia Selection dan Tetap Boleh Mengikuti DBL Musim Depan

Pemain U-16 asal Jawa Barat yang semula memilih untuk ikut DBL Camp dan tidak bergabung dengan skuad nasional yang akan membela Indonesia di SEABA U-16 akhirnya bergabung di Pelatnas Semarang. Hal ini terjadi setelah akhirnya Perbasi dan DBL menemukan jalan tengah terbaik dalam dilema membela sekolah atau membela negara.

Satu hal yang sangat melegakan, selain akhirnya memiliki kesempatan membela Indonesia di ajang SEABA U-16, para pemain pelajar ini tetap memiliki kesempatan terbuka untuk kembali memperkuat tim sekolahnya di DBL musim depan.

“Kami telah menyampaikan surat resmi kepada DBL bahwa tim yang membawa nama Indonesia di ajang SEABA U-16 ini bukanlah tim nasional, melainkan Indonesia Selection. Saat ini kami menganggap bahwa tim dengan persiapan panjang seperti SEA Games lebih pas dikatakan sebagai Tim Nasional. Sedangkan untuk U-16 ini, lebih cocok dikatakan sebagai Indonesia Selection yang dikarenakan seleksi dan juga persiapannya yang sangat singkat. Dengan demikian, para pemain yang masih bisa bermain di DBL juga masih bisa bermain musim depan karena mereka adalah anggota skuad Indonesia Selection, bukan Tim Nasional,” jelas Pelatih Kepala Danny Kosasih.

Bela Sekolah atau Indonesia? Mari Pahami Konteksnya (Dilema U-16, DBL Camp 2011, 24-28 Juli 2011)

Salah satu komentar di dalam bolg ini mengelitik gw untuk menyinggung mengenai kasus pemain pelajar yang lebih memilih bermain di DBL daripada ikut bergabung di skuad Indonesia dalam kejuaraan SEABA U-16 di Malaysia. Saat itu, gw lalu bertanya kiri-kanan, “memangnya ada kasus apa?”

Semua terjawab setelah gw membaca artikel mas Eko Widodo di Bola Edisi 2.224, 18-20 Juli 2011, “Persiapan SEABA U-16, Mayoritas Cinta Timnas”

Tulisan ini adalah pendapat pribadi gw yang berusaha atau sekadar menunjukan perspektif alternatif dalam kasus tersebut. Bukan mendebat. Sekali lagi, sebuah perspektif yang berbeda saja :D

Bela Sekolah atau Bela Indonesia? Mari Pahami Konteksnya :D

Jika saya adalah seorang pebasket yang diminta memilih untuk berlaga mewakili sekolah atau mewakili negara, Indonesia, tentu saja saya akan memilih mewakili negara. Sebagai seorang warga negara yang ingin dan wajib berbakti, berjuang mewakili Indonesia adalah pengabdian yang tak ternilai. Apalagi usia saya masih sangat muda. Lagian, itu pilihan yang terlalu sederhana. Semua orang pasti pilih bela negara lah daripada bela sekolah. Kita semua berpikir jernih kan? :)

Kenyataannya, ada pemain pelajar yang diminta untuk membela Indonesia untuk Kejuaraan SEABA U-16, 9-13 Agustus, memilih untuk membela sekolahnya di ajang DBL daripada negara. Nah loh? :D

Kok bisa? Kok mau?

Liga pelajar DBL memiliki sebuah aturan yang telah mereka terapkan dari tahun 2004 yang kurang lebih menyatakan bahwa jika seorang pemain telah bermain untuk NBL, Kobatama, Kobanita, dan Tim Nasional Indonesia maka ia tak lagi boleh bermain di DBL. DBL menganggapnya telah bermain pada tingkatan yang lebih tinggi melebihi teman-temannya yang lain.

Nah, tampaknya, ada pemain yang dipanggil untuk membela Indonesia di ajang Kejuaraan SEABA U-16, 9-13 Agustus di Selangor, Malaysia juga terpilih sebagai pemain pilihan pertama yang mewakili sekolah dan daerahnya untuk mengikuti DBL Indonesia Development Camp 2011 yang diadakan di Surabaya, 24-28 Juli lalu.

DBL Indonesia Development Camp adalah sebuah kemah pelatihan yang juga akan menyeleksi para pemain dari daerah-daerah di seluruh Indonesia untuk mencari 12 pemain DBL All Star yang akan dikirim ke Amerika Serikat untuk berlatih dan bertanding di sana. Membawa nama Indonesia juga tentunya, walau barangkali nggak resmi :P Yang melatih kali ini kebetulan adalah Nate Robinson (Oklahoma City Thunder) dan beberapa pelatih besar dari Australia. (DBL Camp yang pertama dilatih oleh Kevin Martin -saat itu Sacramento Kings- serta beberapa pelatih NBA yang salah satunya adalah seorang asisten pelatih tim yang sudah punya dua cincin juara NBA).

Balik lagi, oleh karena aturan tersebut, seorang pemain pelajar yang terpilih mengikuti DBL Development Camp dan juga terpanggil untuk membela Tim Nasional mau tidak mau harus memilih salah satu. Ia tidak bisa mengikuti development camp dulu lalu pergi membela Tim Nasional setelah itu. Dan lagi, Pelatihan Nasional U-16 dilaksanakan pada tanggal 25 Juli. Bentrok.

Tapi masalahnya bukan itu. Jika saja waktunya tidak bentrok, apakah yang terpilih masuk Tim Nasional tetap tidak boleh lagi bermain di DBL? Yup, tampaknya demikian. Aturan ini sudah ada dan sudah ditegakan sejak tahun 2004. Dan barangkali tidak akan berubah.

DBL Jahat?

Apakah teman kita yang lebih memilih untuk bermain membawa nama sekolahnya dan menolak panggilan Tim Nasional itu tidak patriotik? Tidak berpikir jernih?

Hmm.. Ada dua pertanyaan yang berkecamuk di kepala kita. -Setidaknya gw :P

Tenang, mari coba lihat dengan kaca mata baru pelan-pelan :D

Dalam kaca mata hitam-putih, jelas keputusan untuk lebih memilih sekolah daripada negara adalah keputusan yang memalukan. Tidak patriotik. Tetapi bagi gw, kita tak bisa memandang dunia sebagai hitam putih (maybe that’s why I don’t watch Corbuzier show but that episode with Nate as the guest). Kita butuh abu-abu sebagai pertimbangan. Dan semua orang juga harus melihat sisi putih maupun sisi hitam dan menjadi abu-abu terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk memilih hitam atau putih. Sekali lagi, pastikan kita paham hitam-putihnya dulu.

Tetapi tetap saja laah, kepentingan negara itu nomor satu! Betul. Tetapi negara juga harus mengakomodasi sudut pandang warga yang akan membelanya. Negara harus adil meskipun susah. Negara harus memastikan bahwa tuntutan kepada warganya tidak sebaliknya malah merusak atau menghancurkan diri warga yang akan membelanya itu.

Maksudnya?

Mari ambil contoh ekstrim. Semisal negara akan membuat jalan raya yang ternyata harus menggusur beberapa rumah. Jalan raya adalah kepentingan negara. Rumah adalah kepentingan pribadi. Haruskah kepentingan pribadi dikorbankan untuk kepentingan negara? Jika memakai logika hitam-putih, jelas harus berkorban! Namun jika mau masuk ke zona abu-abu, negara harus adil dengan mengajak pemilik rumah untuk berunding dulu guna mendapatkan solusi terbaik. Misalnya sebuah kompensasi ganti rugi yang layak dan adil. Jika negara memaksakan kehendak, itu namanya lalim. Semena-mena! Emang ada negara yang seperti itu? Banyaakkk.. Negara kita salah satunya :D

Kembali lagi ke cerita beberapa anak yang lebih memilih untuk membela sekolah di DBL daripada Indonesia. *Gila, bahkan gw sendiri masih bingung kenapa ada anak yang mau melakukan ini. Tapi bagaimanapun gw (dan semoga kita semua) kudu bisa sedikit obyektif.

Jika ada anak-anak yang lebih memilih membela sekolahnya di DBL daripada membela Indonesia, sebagai masyarakat (yang juga bagian dari negara) harus bertanya terlebih dahulu, “mengapa anak tersebut lebih memilih membela sekolah daripada Indonesia?”

“Gw masih belum paham dengan analogi di atas, coba jelaskan lagi..”

Pada tahun 2004, Tracy McGrady, Shaquille O’Neal, Kobe Bryant, Karl Malone, Kevin Garnett, Ray Allen, Jason Kidd, Mike Bibby, Jermaine O’Neal, Vince Carter, Elton Brand, Kenyon Martin, dan Ben Wallace sempat menolak membela negaranya di ajang Olimpiade Athena karena alasan keamanan.

Alasan keamanan? Yup! Waktu itu para pemain NBA itu takut menjadi sasaran terorisme. Ok, Ray Allen gak termasuk, karena alasannya tidak mau bergabung dengan Tim Nasional USA saat itu adalah karena istrinya akan melahirkan. Tapi namanya menolak yaa menolak :P

Tunggu, jadi para pemain NBA juga pernah menolak untuk bergabung dengan tim nasionalnya?

Yup! Dan mereka saat itu menjadi sasaran cemooh warga Amerika. Salah satu cemooh yang paling pedas dan perih adalah “Gila yaa, kalian enggan dan takut pergi bermain basket di Athena, Yunani, negara yang aman sentosa. Padahal kalian mendapat pengamanan ekstra ketat dari angkatan bersenjata Amerika dan lokal. Bandingkan dengan saudara-saudara kita yang lain yang benar-benar berperang di Iraq dan Afganistan! Dasar pengecut!”

Meskipun akhirnya berangkat ke Athena, setidaknya kita tahu bahwa pernah ada peristiwa penolakan menjadi pemain nasional karena alasan tertentu, dan itu terjadi di salah satu level kompetisi tertinggi bola basket, olimpiade!

**Tim USA ini adalah tim USA terburuk sepanjang masa. Kalah dari Puerto Rico dengan selisih 19 poin (terburuk sepanjang sejarah saat pemain NBA mewakili Amerika), dan pulang dengan membawa perunggu. Emas milik Argentina!

Hmm itu di Amerika yaa..

Kasus serupa pernah terjadi di Indonesia. Dalam analogi yang mirip dengan penggusuran rumah karena jalan raya di atas. Bedanya, ini terjadi di sepak bola :)

Boaz Solossa, salah satu striker terbaik Indonesia yang kini kembali mengenakan jersey Merah-Putih, pula pernah menuai kritik sebagai pemain yang tidak patriotik karena “enggan” bermain untuk Tim Nasional dengan cara mangkir latihan, sebelum kemudian dicoret dari Timnas.

Tahun lalu, Boaz akhirnya dicoret oleh Alfred Riedl dari skuad Tim Nasional AFF Cup karena tak juga kunjung datang berlatih bersama skuad Tim Nasional lainnya. Padahal, Boaz sudah diberikan kelonggaran waktu hingga lima hari. Alasan Boaz kala itu adalah ia harus menjaga dan merawat anak serta istrinya yang sedang sakit.

Itu alasan Boaz. Namun opini yang berkembang adalah Boaz enggan bermain dengan Tim Nasional Indonesia karena Tim Nasional dulu pernah menelantarkannya dan berujung pada terancamnya karir jangka panjangnya.

Apa yang terjadi pada Boaz dahulu?

Selama bermain membela Merah-Putih, Boaz mengalami dua kali cidera parah. Pertama kali ketika Indonesia menghadapi Singapura di leg pertama final AFF Cup tahun 2004. Ketika itu, pemain Singapura, Baihakki Khaizan melanggar Boaz dengan keras. Boaz yang cidera tak mampu tampil di leg kedua final AFF Cup 2004. Indonesia pun kalah.

Tahun 2007, ketika Indonesia menghadapi Hong Kong dalam persiapan menghadapi Piala Asia, Boaz cidera patah kaki. Cidera kedua inilah yang rumornya-tampaknya membuat Boaz kecewa kepada Tim Nasional. PSSI menolak membiayai pengobatan dan perawatannya. Beruntung, klubnya, Persipura bersedia menanggung semua biaya perawatan dan pengobatan Boaz. Boaz merasa ditelantarkan.

Nah..

Jika kita merasa Boaz tidak patriotis dengan “menolak” bergabung dengan Tim Nasional, mungkin kita akan berpikir dua kali untuk berkata demikian jika tahu apa yang terjadi pada Boaz. Ada sisi ketidak-adilannya :(

Kembali lagi ke pertanyaan di atas tadi..

Apakah teman kita yang lebih memilih untuk bermain membawa nama sekolahnya dan menolak panggilan Tim Nasional itu tidak patriotik? Tidak berpikir jernih?

Gw akhirnya bertemu dengan pemain U-16 yang dipanggil untuk mewakili Indonesia tersebut. Ia berlatih keras mengikuti DBL Indonesia Development Camp agar terpilih menjadi salah satu wakil DBL untuk ke Amerika Serikat. Gw menanyakan perihal penolakannya mengikuti Tim Nasional U-16.

“Kenapa lu gak mau ikut Timnas boy?” -semua anak gw panggil ‘boy’- tanya gw.

“Saya mau ikut DBL saja. Ini pilihan saya. Saya sekolah dengan biaya bea siswa. Jika saya mengikuti Timnas, maka otomatis saya gak boleh lagi ikut DBL, yang artinya bea siswa saya dicabut,” ia menjelaskan. Pemain tersebut juga kurang mengerti mengapa ia bisa terpilih masuk Timnas U-16 (dalam hati sih gw mikir, “yaa karena kamu basketnya jago boy” :P)

DBL Jahat?

Lah? Kalau begitu, solusinya seharusnya mudah saja bukan? Izinkan ia bermain untuk Timnas dan juga tetap bermain di DBL. Selesai! Beres! Susah amat!

Nah, di sinilah gw rasa banyak sekali yang belum paham tentang DBL dan beberapa hal penting yang terkait dengannya.

Pertama, liga pelajar DBL adalah sebuah event atau kegiatan olah raga yang mengutamakan partisipasi. DBL berusaha melebarkan sayap dari yang hanya dimulai dari Surabaya, kini berkembang ke puluhan kota dan berencana akan terus mengembangkan diri. Kasarnya, penyelenggara ingin agar olah raga bola basket dimainkan oleh sebanyak-banyaknya anak Indonesia. Dalam kata lain, partisipasi!

Benar, pasrtisipasi. Liga DBL kini sudah diikuti oleh lebih dari 25.000 pelajar dari seluruh Indonesia yang benar-benar mendapatkan kesempatan beradu basket. Mulai yang jago-jago, hingga yang baru belajar dribble bola! DBL tidak mengutamakan kegiatan ini sebagai ajang prestasi, walau tentu saja juaranya adalah pebasket-pelajar yang berprestasi.

Dalam kasus pemain DBL yang tidak memilih untuk bermain di Timnas U-16, dalam kaca mata kegiatan olah raga yang mengutamakan partisipasi, jika ia bermain di Timnas U-16 dan juga bermain di DBL Camp, maka ia akan menutup kesempatan anak lainnya untuk menutupi satu tempat di DBL Camp.

“Gak apa-apalah, kan demi prestasi Indonesia..”

Yes, demi prestasi Indonesia, tetapi dengan demikian, menurut aturan DBL maka ia otomatis menutup kesempatan rekannya yang lain yang kemungkinan juga sangat berbakat dalam bermain basket. Tentunya dengan tidak melupakan bahwa jika ia meninggalkan DBL, maka beasiswanya akan dicabut.

“Bagaimana jika aturan tersebut dirubah?”

Tentu saja tidak semudah itu. DBL telah konsisten menegakkan aturan ini sejak pertama kali berdiri di tahun 2004 dan dipatuhi oleh beberapa pemain yang pernah melewati kasus yang sama.

Jika DBL telah menegakkan aturan ini dari tahun 2004, berbeda halnya dengan kejuaraan SEABA U-16 yang baru pertama kali akan dilaksanakan tahun ini. Ujug-ujug mau merubah aturan akan menjadi preseden buruk bagi pembelajaran dalam mematuhi aturan-aturan (bukan hanya di basket).

Jika sedikit-sedikit ada kasus yang tidak sesuai aturan, lalu yang harus mengalah adalah aturannya yang harus dirubah agar “semua senang”, maka kita gak akan pernah belajar menegakan aturan, baca: hukum!

Dalam tulisan di Bola itu, mas Eko Widodo mengatakan, “Jika ternyata ada peraturan sebuah liga yang direkomendasi (Perbasi) berpeluang merugikan pembinaan pebasket, ada baiknya dikaji lagi.”

Hemat gw, jika memang DBL dari dulu direkomendasi Perbasi (dan memang direkomendasi Perbasi), maka artinya Perbasi pun sebenarnya dari dulu sudah setuju dengan semua aturan-aturan DBL.

Diancam skors oleh Perbasi

Dari sebuah sumber yang sangat bisa gw percaya (bukan dari pihak DBL), pemain yang menolak mengikuti Timnas U-16 ini terancam mendapatkan skors dari Perbasi berupa tidak boleh mengikuti kompetisi-kompetisi Perbasi dalam beberapa tahun :(

Jika pemain yang menolak bermain untuk Timnas U-16 itu baru diancam akan diskors oleh Perbasi, gw gak kaget. Karena salah satu peserta DBL Camp 2011 yang lain justru sudah ada yang diskors Perbasi karena ogah mewakili daerahnya di Pra-PON. Pemain tersebut lebih memilih ikut DBL Camp.

Beberapa tahun lalu, salah seorang pemain pelajar putri dari Jawa Tengah juga mengalami hal serupa. Ia memilih ikut kompetisi DBL, dan menerima skorsing dari Perbasi kotanya untuk tidak main dalam kompetisi Perbasi dalam jangka waktu sekian tahun. Dalam hati gw berpikir “cool! masih muda sudah pernah di-bann! That is rebellious! Sebuah keberanian mempertahankan kehendak apapun risikonya!”

Penutup

Panjang juga yak tulisan yang ini :P

Benak gw berkecamuk, “lah, pasti ada yang ‘salah’ jika anak-anak ini justru lebih memilih main di DBL daripada kompetisi-kompetisi Perbasi atau mewakili Timnas.”

Liga DBL pasti punya magnet tersendiri yang membuat mereka berani memilih DBL dan menerima resiko diskors bahkan dicemooh di media massa.

Secara pribadi, gw miris membaca keterangan foto pada tulisan Persiapan SEABA U-16, Mayoritas Cinta Timnas di tabloid Bola tersebut tertulis “Para pebasket timnas muda usia ini masih berpikir jernih dengan membela Tim Merah-Putih.”

Bagi gw, anak yang tidak memilih untuk bermain untuk U-16 berhak menentukan pilihan dengan pikiran jernihnya sendiri. Bagi gw, baik yang ikut Timnas U-16 ataupun yang memilih ikut DBL, dua-duanya berpikiran jernih. Hanya saja perspektifnya berbeda. Dan kita perlu mengembangkan orang-orang Indonesia yang memiliki multi perspektif dalam melihat suatu permasalahan.

Bagi gw, DBL telah membuat bola basket sebagai sebuah olah raga dan kompetisi yang dinanti-nanti dengan antusias di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah partisipasi anak Indonesia seeeebanyak-banyaknya. Dari yang hanya tujuannya partisipasi, melalui DBL muncul anak-anak Indonesia yang berprestasi dalam hal basket. Ini buah yang tidak disengaja.

“Jangan tujuan mulia pembinaan itu malah berubah menjadi pembinasaan.” Kalimat tersebut menutup artikel di tabloid Bola tersebut. Gw langsung melamun. DBL melakukan pembinaan yang sangat-sangat luar biasa yang merata hampir di seluruh Indonesia. 25.000 lebih anak bermain basket di DBL. Beberapa di antaranya muncul sebagai pemain yang jago. Jika hanya gara-gara gak ikut Timnas U-16 atau Pra-PON atau apapun ia malah diskors, gw kembali bertanya-tanya, ini siapa yang sebenarnya membina? Dan yang siapa membinasakan?

Masalah membela Tim Nasional, pemain-pemain muda yang masih SMA ini masih sangat muda. Gw masih berharap mereka nanti akan bermain bersama, kembali membela Merah-Putih, kelak dalam ajang yang bergengsi seperti FIBA Asia, SEA Games, atau SEABA. Mereka bermain kompak sebagai pemain matang dalam tim yang solid! Amiin :)

Tambahan 30 Juli: Beberapa menit setelah tulisan ini gw posting, mas Agus Mauro, Sekjen Perbasi melalui sms memberi jaminan bahwa pemain yang menolak bergabung dengan Tim Nasional U-16 tidak akan diskors, seperti ancaman yang gw tulis di atas. Ini melegakan :D

“Kami dari Perbasi selalu berkomunikasi dengan pihak DBL mengenai permasalahan ini, Insya Allah semuanya yang terbaik untuk kemajuan Bolabasket Indonesia. Mohon dukungannya, terima kasih.” Agus Mauro, Sekjen Perbasi.

Ibu-ibu Penonton DBL Camp (DBL Camp 2011, 24-28 Juli 2011)

Gak kerasa, DBL Camp sudah melewati hari ke-empat. Sebagai penikmat basket yang masih belajar, gw rasa camp ini sangat bagus dan berguna bagi siapapun yang ingin belajar mengenai basket, atau sekadar mengetahui betapa seriusnya yang memiliki keinginan agar olah raga bola basket berkembang di Indonesia.

Selama DBL Camp berlangsung, gw yang lebih banyak muter-muter di sekitar lapangan mengikuti camp, sesekali menoleh ke tribun penonton DBL Arena, “hmm.. gak ada yang menyaksikan.” :)

Tetapi ketika gw berbalik badan dan melihat sisi tribun penonton yang berlawanan, gw melihat ada beberapa orang ibu-ibu yang sedang menonton. Gw senyum, “ngapain ini ibu-ibu nonton camp basket? Oh, barangkali tontonin anaknya yang ikutan camp.. Eh atau mungkin lagi bolos kantor..” :D

Pada hari berikutnya, camp berjalan semakin ketat, keras, dan intensif. Bagi gw yang hanya menyaksikan dari sekitar lapangan, camp ini semakin seru. Walau tentu saja para peserta camp barangkali (pasti) kecapean :)

Hari berikutnya, masih ada ibu-ibu lagi yang nonton DBL Camp. Bukan ibu-ibu yang kemarin lagi kelihatannya. Ia datang dengan seorang anak perempuan. Tampaknya seperti anaknya. Terlihat menonjol di antara deretan bangku penonton DBL Arena yang memang kosong.

DBL Camp memang tidak di desain untuk ditonton. Dan para peserta camp juga tak terlalu ambil pusing dengan ada atau tidaknya penonton yang menyaksikan, karena sibuk dan keasyikan sendiri :D Tetapi jika ada penggemar basket yang ingin menyaksikan DBL Camp, pintu masuk DBL Arena terbuka lebar bagi siapa saja yang menyaksikan camp atau mungkin mengambil manfat dari camp ini. Gratis!

Yes, gratis! Sayangnya, gak ada yang mau mengambil manfaat ilmu gratis yang sedang disebarkan oleh para pemberi materi camp. Gak ada pelatih lokal (selain pelatih DBL yang terpilih untuk kumpul di Surabaya), gak ada pemain basket lokal, gak ada wakil Perbasi, gak ada wasit.

Kenapa pelatih lokal seharusnya nonton DBL Camp? Setidaknya mereka bisa belajar langsung mengenai fundamental bermain basket dari para pelatih dan pemain yang pernah bermain di level kompetisi tertinggi dalam kejuaraan basket.

Kenapa pemain basket lokal seharusnya nonton NBL Camp? Hmm.. siapa tahu setelah nonton menjadi tambah jago!

Kenapa Perbasi seharusnya nonton DBL Camp? Siapa tahu jadi tertarik membuat camp-camp basket lain dan lebih sering untuk dilaksanakan di seluruh Indonesia :D

Kenapa wasit seharusnya nonton DBL Camp? Hmm.. bingung juga jawabnya :D

Katanya Bandung Kota Kreatif :(

Alternatif yang sebelumnya ternyata jiplakan. Dan kini logo baru (gambar pertama) yang mungkin sudah disetujui oleh NBL Indonesia untuk digunakan sebagai logo tim mulai musim 2011-2012 nanti akhirnya selesai. Tetapi ternyata..

Gambar kedua ini adalah logo alternatif dari New York Hawks (gw gak tahu itu tim divisi dari liga apa). Yang jelas logonya.. Hadoohhh.. Ceu nah urang Bandung loba nu kreatip!

*Gw gak nyari-nyari kesalahan logo Garuda Bandung. Temuan ini dikirimkan oleh pembaca Mainbasket yang gw rasa sangat sadar akan pentingnya orisinalitas dalam sebuah karya desain. Gw pribadi sebagai fans Garuda merasa malu :(

Bagian Utama yang Tak Terlihat (“Terinspirasi” dari Pemukulan Wasit di Pra-PON 2012 Wilayah C)

oleh: Abdul Jabbar

Tulisan dari Abdul Jabbar ini “terinspirasi” setelah menyaksikan kejadian mengerikan kerusuhan dalam Pra-PON 2012 cabang olahraga basket wilayah C, 21 Juli 2011 di GOR CLS Surabaya. Belasan pemain dan suporter tim Papua menghajar wasit setelah timnya kalah. Baca berita penganiayaan tersebut di sini.

Bagian yang Tak Terlihat Itulah yang Lebih Utama

“Percuma, orang seperti itu nggak akan Ayah terima. Hard skillnya memang bagus, tapi soft skillnya berada di derajat yg rendah.” Saya diam saja mendengar kalimat yg meluncur dari bibir Ayah, saya tahu itu yg akan beliau ucapkan ketika kami berdiskusi soal kriteria penerimaan pegawai dan bagaimana wujud seorang manusia yg ideal. “Seperti gunung es, hard skill itu bagian kecil yg terlihat di atas permukaan air, tetapi soft skill adalah bagian terbesar yg tersembunyi di bawah. Tak terlihat, tapi itulah yg terbesar.”

Penggalan ingatan di atas langsung terngiang kembali di kepala saat sebuah kejadian yg tidak mengenakkan terjadi di lapangan basket baru-baru ini. “Tim ini pantas ditunggu penampilannya, pulangnya nanti saja setelah mereka main. Mereka inilah yang diberkahi Tuhan dengan kemampuan fisik luar biasa, dari segi itu saja harusnya mereka yg mengisi Timnas.”

Itu kata saya kepada teman yang sudah ingin pulang. Awalnya memang kami hanya hendak menyaksikan penampilan satu tim yang kami kenal pemainnya saja, tapi begitu tahu setelah itu mereka yang akan bermain, saya tidak keberatan kalau harus tidur di GOR :) Dari awal pertandingan tampak betapa kecepatan, kelenturan, kekuatan mereka ada 1-2 tingkat di atas lawannya. Kalo boleh pake bahasa Inggris, their athleticism are breathtaking. Tapi angka di papan skor menunjukkan superioritas lawannya, mereka tertinggal rata-rata belasan poin selama pertandingan.

Tak masalah dengan itu, karena perkiraan saya juga seperti itu, raw talent versus trained warriors. Lagipula tetap saja yg tersaji di lapangan adalah pertandingan yang sangat menarik dengan deskripsi seperti film laga: tempo tinggi, keras, penuh ledakan/kejutan! Kedua tim bermain sepenuh hati dengan sedikit bumbu temperamen di sana sini, tidak kenal lelah mengejar bola, dan tekanan kepada masing-masing lawan yg tak pernah kendur. Mereka sempat mengejar hingga selisih 7 angka di menit-menit akhir, namun ketenangan jajaran tim lawan membuahkan selisih 20 angka di akhir pertandingan. Kekecewaan bagi saya karena tim yg saya dukung kalah tertutupi oleh kepuasan yg amat karena baru saja menjadi saksi pertandingan yg sangat kompetitif……tapi itu tak bertahan lama.

Begitu peluit tanda akhir pertandingan berbunyi, kesedihan dan kegembiraan tergambar di dua sisi lapangan, bercampur jadi satu ketika kedua pihak bersalaman tanda saling menghormati dan saling berterima kasih…lalu tiba-tiba keadaan berbalik 180 derajat.

Beberapa oknum berlari mengejar seorang wasit hingga keluar GOR sambil mengacungkan bogemnya, dengan jumlah yang tak berimbang, sang wasit dianiaya. Beberapa panitia langsung mengejar, berusaha melerai. Wasit lainnya segera berlari menyelamatkan diri, masuk ke dalam kantor Perbasi. Suasana menjadi tegang, tim yang menang segera dikumpulkan dan didudukkan di bangku pemain. Panitia dan beberapa ofisial tim yang kalah (yang masih punya akal sehat) berkumpul melindungi mereka dari serbuan beberapa oknum, 1-2 pukulan dan tendangan lolos tepat mengenai sasaran. Ketua panitia memanggil 1 wakil dari masing-masing tim untuk berunding, segenap tim yg menang beserta suporternya segera diungsikan.

Saya dan teman saya terkejut di bangku penonton, belum pernah seumur hidup kami melihat secara langsung perilaku barbar semacam ini dan saya juga tak pernah menyangka hal ini akan terjadi di lapangan basket. “Wah, habislah sudah, diskualifikasi nih minimal. Kalo dilaporin polisi, hancur masa depan, Surat Keterangan Berkelakuan Baik juga gak bakal keluar,” komentar teman saya ini langsung membawa ingatan soal petuah Ayah. Hanya dalam 5-10 menit, masa depan sudah berubah….Esoknya (hari ini), koran mengabarkan wasit yg dikeroyok masuk Rumah Sakit dan penganiayaan ini akan dibawa ke ranah hukum.

Pernah dengar nama-nama berikut ini? Duke Crews, Arthur Agee, Isaiah Jr Rider, Latrell Sprewell? Kalau belum tahu, coba tanya om google dulu :)

Duke Crews alumni Bethel High School (Almamaternya Allen Iverson), harusnya karir basketnya lancar setelah masuk Univ Tennessee, tapi dia gagal secara akademik dan gagal tes bebas narkoba 4x.

Arthur Agee sempat masuk St. Joseph High School (Almamaternya Isaiah Thomas), tapi gagal secara akademik lalu pindah ke Marshall H.S., menjadi juara kompetisi basket SMA Negara bagian, tapi gak bisa masuk Universitas yang bagus karena nilai SATnya rendah. Mau tahu cerita lengkapnya? Coba nonton film dokumenter “Hoop Dreams.”

Isaiah Jr Rider adalah mantan pemain NBA, semua pelatih mengakui kemampuannya. Draft pick nomer 5 tahun 1993, juara kontes slam dunk tahun 1994. Tapi selama dia berkarir di NBA (1993-2001), pindah-pindah klub karena dibuang. Apa sebabnya? Masalah perilaku. Bolak balik tertangkap polisi, telat datang latihan dsb.

Latrell Sprewell sempat menjadi bintang di NBA juga. Tapi sekarang ia dikenang bukan karena kehebatannya, tulisan singkat dari Wikipedia ini menggambarkan hidupnya. “During his time as a professional, Sprewell was named to the NBA All-Star game during four seasons, and played for the Golden State Warriors, the New York Knicks, and the Minnesota Timberwolves. He helped lead the Knicks to the NBA Finals and the Timberwolves to the Western Conference finals. Despite his accomplishments, his career was largely overshadowed by a 1997 incident in which he choked his coach, P.J. Carlesimo, during a practice, which ultimately resulted in a 68-game suspension. Sprewell’s career came to a premature end in 2005 when he refused a $21-million three-year contract offer from the Timberwolves, which he said would not be enough to feed his children. Since that time, he has made headlines for grounding his million dollar yacht, having two of his homes foreclosed upon, and being prohibited from seeing his children.”

Ada apa kok tiba-tiba ngomongin mereka? Ada benang merah yg bisa ditarik. Hard skill bagus (dalam hal ini kemampuan berbasket), tapi ada masalah dengan soft skill. Pada kasus ini tidak semuanya seperti itu, hanya beberapa oknum, tapi yg kena getahnya semua.

Saya percaya, soft skill bisa dilatih, sama seperti hard skill. Membangun soft skill=character building. Menghargai diri sendiri, disiplin, jujur, kerja keras, berpikir sebelum bertindak, tata krama, haus kesempurnaan, pengendalian diri adalah sebagian dari nilai-nilai yang dapat dilatih. Bagaimana cara melatihnya? Tidak susah, bisa diterapkan lewat kegiatan sehari-hari. Tak perlu menunggu jadi orang besar untuk menyapa satpam yg menjaga GOR, mengucapkan terimakasih kepada petugas SPBU yg membantu mengisikan bensin, berinisiatif mencari sendiri cara melatih shoot, datang tepat waktu, menghormati kawan/lawan/pelatih, selalu melakukan introspeksi diri, mencium tangan orangtua sebelum mau pergi dan lain-lain.

Kedengarannya remeh dan kecil, tapi hal-hal kecil inilah batu bata yg ditumpuk dan akhirnya membentuk diri kita. Kualitas batu-batu bata inilah yg akhirnya akan menampakkan pribadi kita di luar. Jadi bila terjadi sesuatu yg kurang baik dan seharusnya bisa kita cegah, mulailah memperbaikinya dengan berpikir, batu bata mana yg salah dari diri saya. Dan yg paling utama, tidaklah pernah terlambat untuk memperbaiki sesuatu.

Ron Artest sudah membuktikannya. Di awal karirnya, karakter anak liar, anak ghetto sangat menonjol dari dirinya. Ia mengaku minum alkohol di saat halftime pertandingan saat masih di Chicago Bulls, menjadi inisiator pertengkaran massal saat di Indiana Pacers, datang latihan menggunakan jubah mandi, menghancurkan televisi di kandang lawan. Sekarang, malah mendapat J. Walter Kennedy Citizenship Award (2011) karena kontribusinya kepada masyarakat.
Jadi, mari kita mulai sendiri perubahan ini :)

NBL Malaysia Mending Gabung NBL Indonesia Saja Sebaiknya :)

Itu hanya khayalan gw.. Heheheee :D

Waktu di Manila beberapa hari yang lalu, gw bertemu seorang jurnalis dari Malaysia. Gw bertanya, “bagaimana basket di Malaysia?” Dia menjawab seadanya bahwa basket Malaysia gak begitu berjalan. Timnya sedikit dan paling hanya berjalan sebulan dalam setahun.

Hmm.. sedih juga dengarnya.

Lalu gw tanya mas google mengenai NBL Malaysia. Melalui mas Wikipedia terungkap bahwa NBL Malaysia tahun 2011 ini hanya beranggotakan empat tim; Perak Farmcochem, Miri Fire Horse, Kuala Lumpur Dragons, dan Singapore Siglap. Tunggu, tunggu, itu nama yang terakhir, Singapore Siglap? Yup, tampaknya memang dari Singapura :D Dan dari mas Wikipedia juga gw mendapat keterangan bahwa sejak muncul sebagai Malaysian Basketball League di tahun 1981, liga tersebut di tahun 80 dan 90-an banyak bolongnya alias gak jalan.

Jika tahun 2011 ini NBL Malaysia hanya diikuti oleh empat klub dan belum jelas kapan diadakannya (masih menurut mas Wikipedia), apalagi juara tahun 2009, Melaka Chinwoo juga gak ikutan di 2011, kenapa gak gabung saja dengan NBL Indonesia? Jadi setidaknya ada tiga negara di liga nasional kita; Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Bisa atau tidaknya sih gak gw pikirin. Namanya juga mengkhayal :D Yang gw bayangin hanya serunya perseteruan klasik antara dua negara saja. Kalau dipindahin ke lapangan basket, kayaknya seruuu banget :D

*langsung ngebayangin Garuda Bandung vs Kuala Lumpur Dragons di C-Tra Arena :D

Layakkah Pemain NBL Indonesia Bergaji 50 Juta Perbulan?

Layak banget! Harusnya bahkan lebih. Mengingat kerja keras dan pengorbanan mereka yang luar biasa selama latihan maupun ketika pertandingan. 50 juta perbulan rasanya masuk akal :D

Pertanyaannya, siapa yang mau bayar gaji mereka sebegitu banyak? Mari kita hitung-hitungan kasar sedikit yaa. Jika seorang pemain bergaji 50 juta rupiah per bulan, artinya, jika satu tim NBL Indonesia memenuhi kuota 17 pemain, maka dalam satu bulan sebuah tim harus mengeluarkan uang gaji pemain sebesar 850 juta sebulan. Setahun sama dengan 10,2 milyar. Apakah ada tim NBL Indonesia yang pengeluaran atau pemasukannya sedemikian besar, 10,2 milyar? Meragukan :)

10,2 milyar pertim pertahun yes, itu belum termasuk transportasi, akomodasi, serta kebutuhan-kebutuhan lain selama setahun liga berlangsung yaak :D Hohoo :D

Tetapi bukankah para pemilik klub adalah orang-orang kaya?

Betul mereka adalah orang-orang kaya. Tetapi kayanya bukan dari basket. Dan basket belumlah mampu membuat para pemilik klub ini kaya dan menyuntik para pemainnya untuk ikut kaya juga. Uang yang mereka berikan untuk basket masih bermotif “sumbangan”. Rasanya belum ada sebuah tim NBL Indonesia sebagai entitas bisnis yang telah membukukan keuntungan. *silahkan koreksi gw jika salah.

Seharusnya, selain kaya dari sumber lain, para pemilik klub juga harus bertambah kaya dari basket. Dengan begitu mereka tentu akan dengan senang hati menggaji para pemainnya dengan lebih besar, 50 juta sebulan barangkali :D

Kita bersyukur masih ada yang mau “berkorban” untuk membina sebuah klub basket di Indonesia. Tapi tentunya kita jangan terlena bahwa mereka akan terus mau dengan sukarela akan “membuang” duit di basket. (perusahaan tembakau saja yang katanya duitnya gak habis-habis dan katanya mau dukung basket malah meninggalkan IBL di tahun 2008)

Di NBA, ketika 22 pemilik klub dari 30 yang ada, merugi, mereka capek nombokin gaji pemain yang terlampau tinggi. Ujungnya, mereka mengunci (lockout) fasilitas NBA agar tak lagi dipakai oleh para pemain yang enggan menurunkan standar gajinya. Jika lockout yang dimulai sejak awal Juli tersebut terus berlanjut, maka NBA 2011-2012 tak akan ada. Tak ada pebisnis normal yang mau menjalankan usahanya jika membayar gaji pegawainya membuatnya merugi. Kecuali ia memang berkorban! :D **Ingat IBL 2009, tak ada sponsor, penyelenggara tak mampu menjalankan liga, dan akhirnya mati.

Membangun basket Indonesia adalah pengorbanan

Di Amerika, semuanya bisnis. Demikian pula kelak nanti di Indonesia. Membangun kompetisi basket yang sehat membutuhkan sedikitnya 3 komponen yang saling mendukung; Penyelenggara + pemilik klub, pemain, dan fans. Hilangnya antusiasme dari salah satu elemen tersebut akan membunuh kelangsungan kompetisi. Dan ketiganya harus sadar bahwa mereka saling membutuhkan.

Kalau kita (fans) mau membangun basket Indonesia, kita harus ikut berkorban. Penyelenggara + pemilik klub dan para pemain sudah sangat berkorban. Penyelenggara, PT DBL Indonesia berani mengambil risiko untuk menggelontorkan duit sekian banyak untuk kompetisi basket yang sudah ditinggalkan oleh penggemarnya. Azrul Ananda sang komisioner liga sering mengungkapkan bahwa NBL Indonesia dibiayai oleh DBL Indonesia, liga pelajar, dan ia belum digaji sama sekali.

Pemilik klub pun berkorban tak kalah besar. Mengorganisasi dan menjalankan sebuah klub dengan biaya yang tidak sedikit (milyaran) dan masih berusaha agar klubnya mampu menghasilkan keuntungan. Pula demikian para pemain. Bermain sekuat tenaga bercucur keringat bahkan darah tetapi baru “dihargai” segitu. Para pemilik klub + penyelenggara berkorban sedemikian besar untuk siapa? Yes, Fans!

Pengorbanan fans adalah menyaksikan mereka langsung di arena, dengan membeli tiket tentunya. Jika semakin banyak fans menyadari hal ini, simbiosis mutualisme akan segera berjalan. Fans membeli tiket akan mendapatkan suguhan permainan menarik dan memuaskan dari para pemain, penyelenggara + pemilik klub mendapatkan untung besar, dan akhirnya pemain mendapatkan gaji dan bonus melebihi yang diharapkan. Amiin.

Kita yang membangun liga ini, insyaAllah generasi mendatang yang akan menikmatinya

Begitu kata Azrul Ananda suatu kali. Gw setuju. Jika semuanya hanya untuk diri kita sendiri, barangkali itulah yang namanya egois. Seperti pembabat hutan yang gak menanam kembali bibit yang baru. Analoginya mungkin kurang begitu pas. Tetapi gw ingin kita sadar, membangun basket Indonesia butuh usaha dan pengorbanan kita semua (penyelenggara + pemilik klub, pemain, dan fans). Jika kita semua sudah bersinergi dengan harmonis, apa yang kita impikan sekarang akan tercapai kelak; medali emas di semua kejuaraan, dikunjungi para legenda NBA, baik aktif maupun yang sudah pensiun, pemain bergaji tinggi, pemain asing di NBL Indonesia, dan lain-lain.

Namun sebelum berkorban, mari pahami bersama, bahwa ini semua adalah bisnis! :D

Kepada Tim Nasional Putri Indonesia, Sebuah Catatan dari Penikmat Basket (putri)

oleh: Penulis Misterius :D

Hari Rabu lalu, 13 Juli 2011, saya berkesempatan menyaksikan Tim Nasional (timnas) putri bertanding melawan tim putri pra-pon Jatim yang dihelat di DBL Arena Surabaya. Kebetulan, mereka sedang berkunjung ke Surabaya. Sebenarnya berita tentang kedatangan mereka sudah jauh hari saya dengar, dan sebagai penikmat basket tentu saya tak ingin melewatkan pertandingan ini.

Sekarang ini bisa dikatakan sangat mudah bagi kita mendapatkan informasi tentang timnas. Gencarnya pemberitaan, media sosial, menandai bangkitnya lagi basket di Indonesia. Liga-liga berjenjang mulai muncul beraturan, menasional, mulai dari liga pelajar dimana ada DBL dan Popmie Basketball, berlanjut ke jenjang mahasiswa ada Campus League yang mulai menyaingi Libama (dan pada akhirnya Libama pun –semoga- mulai berbenah), dan di tingkat profesional saat ini ada NBL yang mulai menggeliat.

Oke, kembali ke timnas putri tadi. Saya benar-benar sudah menunggu pertandingan yang berlangsung di sela-sela DBL seri Surabaya tengah digelar. Sempat terlintas di benak saya, pertandingan ini akan berjalan timpang, mengingat materi timnas yang jelas jauh di atas tim prapon jatim. Timnas pasti akan memberikan suguhan pertandingan menarik, dengan kualitas skill para punggawa timnas yang pasti adalah terbaik di Indonesia.

Tapi, sekali lagi, sebagai penikmat basket putri, saya cukup kecewa melihat pertandingan tersebut. Kuarter pertama berjalan 5 menit, skor masih 9-5 untuk keunggulan timnas. Dan di 5 menit kuarter pertama tersebut, saya sangat kaget melihat permainan timnas. Dimotori oleh sang kapten, Wulan, timnas bermain tanpa gereget sama sekali. Jauh di bawah bayangan saya, jauh sekali dengan gembar-gembor pemberitaan yang menyanjung timnas ini.

Sebenarnya sedikit kekecewaan sudah terlihat saat pemanasan. Sebagai sebuah tim yang bernama “tim nasional”, presentasi tembakan mereka saat pemanasan sungguh-sungguh buruk. Kalau kata orang awam, tembakan mereka tidak “blung-blung”. Tadinya saya sempat berpikir, masih pemanasan. Nanti pasti mereka akan menunjukkan keahlian yang sesungguhnya di pertandingan.

Dan ternyata, memang benar-benar mengecewakan. Dari sudut pandang statistik, turnover yang mereka bukukan di kuarter 1 saja ada 10 kali turnover (jujur, saya menghitung sendiri ini, tanpa software statistik, hanya menghitung menurut pandangan saya sebagai orang basket :D). Dan saya yakin, di akhir pertandingan, jika saya mau melanjutkan menghitung, pasti lebih dari 20 kali turnover!

Itu jika dilihat dari statistik. Jika dilihat secara kasat matapun, permainan individu, egois, tanpa pola, dan tanpa komunikasi sama sekali justru yang mereka perlihatkan kepada penonton sore itu. Bahkan kalau boleh sedikit ekstrim, komunikasi dalam arti sebenarnya, timnas bermain tanpa bicara sama sekali!

Aah, saya tiba-tiba kembali teringat ketika saya masih menjadi pemain basket. Rata-rata para pemain timnas putri saat ini, adalah mantan kawan dan lawan saya ketika dulu saya masih aktif. Saya sempat mencicipi bagaimana kerasnya persaingan tingkat Libama dulu (sebelum ada Campus League), dan sempat pula merasakan liga basket putri tertinggi Kobanita (sekarang sudah almarhum).

Saat itu, Wulan yang bermain di klub Mahaputri (dan juga bermain di Perbanas di level Libama), berduet dengan Novabella, menjadi kekuatan menakutkan. Bagaimana egoisnya Wulan, bagaimana ngototnya Wulan bermain, bagaimana dia begitu berani drive menusuk ke jantung pertahanan lawan. Saya ingat sekali, saat itu tim saya yang baru promosi ke Kobanita bertanding melawan Mahaputri. Di atas kertas, sudah terlihat bahwa kami akan kalah. Dan pelatih saya saat itu berkata, bahwa bisa saja Mahaputri akan menurunkan pemain-pemain cadangannya. Tapi saat pertandingan, ternyata Mahaputri tetap menurunkan tim intinya, dan tentu saja ada Wulan dan Novabella disana. Tanpa melihat siapa lawan yang dihadapinya, Wulan tetap saja bermain dashyat. Menerobos pertahanan lawan, meraup banyak poin, meletupkan hasrat sangat ingin menang.
Tapi apa yang saya lihat kemarin, sungguh bukan Wulan yang pernah saya tahu. Ya, dia sudah jauh menurunkan ego nya, sudah tidak lagi rakus poin, tapi saya sama sekali tidak melihat luapan semangat untuk menang dalam dirinya, seperti dulu.

Begitu juga anggota timnas lain. Jojo (Marjorice) saat saya kenal dia bermain di Ubaya, adalah motor serangan Ubaya. Bagaimana hasratnya untuk terus berlari ke tiap sudut lapangan, bagaimana beringas nya Jojo dalam merebut bola, bagaimana cerewetnya Jojo saat mengatur teman-temannya di tim Ubaya dan di tim PON Jatim 2004 lalu, sama sekali tidak terlihat. Begitu juga dengan Jacklyn, kemanakah power yang begitu kuat saat beraksi dalam key hole? Sama sekali tidak tampak.

Ranie, sang pemimpin Sritex Solo dan UNS, pun demikian halnya. Sebenarnya, dia baru bermain di kuarter 2. Dan saya tahu dia sedang cedera. Tadinya saya sempat berharap padanya untuk bisa turun bermain dan membawa perubahan pada permainan timnas dalam pertandingan ini. Minimal, saya ingin melihat adanya semangat untuk menang dari timnas dengan masuknya Ranie. Tapi sama saja, Ranie yang saya kenal di saat bermain di UNS dan di Sritex, ternyata berbeda dengan Ranie di timnas. Tanpa ada leadership, tanpa ada semangat, semuanya terlihat benar-benar datar. Mungkin, di mata saya, hanya Yunita yang masih terlihat seperti Yunita yang saya tahu. Masih mampu menggalang komunikasi dengan rekan setimnya, masih terlihat mau ngomong, dan masih terlihat ada semangat bermain.

Lainnya? Kemana Yuni, kemana Sinta, kemana Fanny, kemana Hanum? Kemana semangat mereka dalam bermain basket? Kemana gairah mereka menikmati basket? Entahlah.

Justru hal sebaliknya tampak pada permainan tim Jatim. Saat banyak orang meragukan bagaimana Jatim akan bisa lolos ke PON kelak, ketika pemain-pemain terbaiknya pindah ke daerah lain, ketika tim ini “hanya” diperkuat pemain-pemain SMA ataupun alumni liga-liga pelajar. Siapa yang menyangka Jatim benar-benar memberikan perlawanan. Justru dari tim ini lah saya melihat bagaimana memang seharusnya sebuah tim bermain. Bagaimana Mega Nanda bermain penuh semangat, bagaimana Sumiati terlihat sangat ingin menang, bagaimana Laili berlari mengejar kemanapun bola itu berada, dan bagaimana mereka benar-benar bermain sebagai sebuah tim, penuh kekompakan, penuh keceriaan. Padahal hampir semua tahu, mereka mungkin baru berkumpul beberapa minggu saja, dan itupun event Pra-PON wilayah C hanya berkisar seminggu lagi akan digelar.

Saya tahu, sebagai mantan pemain, memang paling enak adalah ketika diposisikan sebagai underdog. Saat semua orang meremehkan kita, saat itulah kita tertantang untuk membuktikan kemampuan kita. Saya pernah merasakannya ketika Libama, saat semifinal, tim kampus saya berhadapan dengan UPH. Dan saat itu, hampir semua meremehkan kami. Bahkan lolosnya kami ke semifinal pun dianggap sebagai suatu kebetulan. Pada akhirnya, kami dapat mengalahkan UPH, dengan kemenangan 1 point! Tapi saya pun pernah merasakan, bermain sebagai tim dengan posisi unggulan pun tidak seharusnya membuat kita bermain ala kadarnya. Kemenangan, yang tampak mustahil diraihpun, akan datang jika, sekali lagi, kita bermain dengan semangat dan hati.

Bayangan saya kembali ke NBL musim lalu yang sudah selesai. Saat semua orang mengatakan bosan melihat Satria Muda juara, saat itulah seharusnya mereka tahu, bahwa semua punggawa Satria Muda memang bermain basket dengan hati. Saya masih ingat sampai sekarang, saat Grand Final Satria Muda melawan CLS Knights, kebetulan saya berada di area ruang ganti sesaat sebelum pertandingan. Saat kedua tim akan masuk lapangan, saya melihat bagaimana Amin Prihantono, Faisal, Welly, berteriak-teriak. Saat saya menanyakan siapkah di final ini, jawaban mereka sungguh membuat saya takjub, “siap saja, hajar saja!” dan mereka menjawab dengan berteriak. Saya kemudian menanyakan hal yang sama kepada beberapa punggawa CLS Knights, dan saya hanya mendapatkan jawaban, “yang penting berusaha di lapangan”, jawaban datar, dengan senyuman, dan tanpa ada “kenaikan” nada dalam jawaban itu. Oh ya, saya sama sekali bukan penggemar Satria Muda. Saya justru penggemar CLS Knights, karena notabene saya berdomisili di Surabaya. Tapi mau tidak mau, harus diakui, memang seperti itulah sebuah tim jika ingin menjadi juara. Mau tidak mau, memang benar adanya Heart of Champion. Dan mau tidak mau, harus diakui, sampai saat ini, Satria Muda lah tim terbaik Indonesia yang bermain dengan hati (semoga kelak ada yang bisa mematahkan dominasi ini :D).

Pada akhirnya, memang timnas putri menang dengan skor cukup telak 70-44. Tapi saya sudah terlanjur kecewa, dan saya justru lebih mengapresiasi permainan Jatim. Saya yakin, Jatim akan mampu mengimbangi kekuatan unggulan utama DKI, juga Papua dan Jogjakarta, dalam Pra-PON nanti (tanpa bermaksud meremehkan daerah lain). Jika pun kelak jatim mampu lolos dalam Pra-PON ini, saya yakin, mereka akan mampu memberikan perlawanan kepada Jateng (unggulan utama PON) dan Jabar (kebetulan saya sempat melihat mereka bermain di Pra-PON wilayah B yang lalu).

Saya tegaskan, saya sama sekali tidak membela Jatim, bukan karena saya warga Jatim. Saya pun mencoba berpikiran positif, semoga permainan mereka yang seperti ini, karena kesulitan beradaptasi dengan cuaca surabaya yang memang panas, dan memang karena mereka tidak bermain dalam bentuk terbaiknya.

Saya tidak pula bermaksud menjatuhkan timnas, menjelekkan timnas, ataupun antipati terhadap timnas. Apalagi saya pun bukan seorang pelatih, bukan seorang profesional dalam basket, dan saya tahu, saya hanya memiliki secuil pengalaman dalam menilai basket, dan itupun saya yakin, saya pasti lebih banyak salahnya. Saat ini saya hanyalah seorang penikmat basket, dan sungguh benar-benar berharap basket Indonesia semakin semarak. Tidak hanya basket putra, tapi juga basket putri. Siapapun pemain yang terpilih dalam timnas putri ini, saya sangat mendukungnya.

Saya merasa percuma saja jajaran manajemen dan pelatih melakukan bongkar pasang pemain, memanggil pemain ini, mengganti pemain itu, jika mereka yang terpanggil hanya bermain seperti itu. Saya hanya tidak ingin melihat mereka bermain egois, bermain sendiri-sendiri, bermain untuk meraih poin sebanyak-banyaknya, bermain agar dilihat oleh pelatih, bermain agar terpilih masuk 12 besar. Saya dan mungkin penikmat basket lainnya, hanya ingin melihat mereka bermain dengan hati, bermain dengan semangat tinggi, bermain dengan keyakinan untuk menang. Saya tidak ingin melihat timnas putri yang begitu digembar-gemborkan –dengan pelatih asingnya- bermain seperti ini, kemudian di SEA Games nanti justru hanya menjadi bulan-bulanan lawan. Tidak, saya sama sekali tidak ingin seperti itu. Saya sungguh ingin melihat Wulan, Jojo, Ranie, Sinta, dan semua personel timnas lainnya bermain seperti ketika mereka bermain di klub atau kampus masing-masing. Dengan hati.

Sedikit menyambung ke timnas putra –seperti yang sudah dibahas di artikelnya mas Udjo, saya juga ingin melihat mereka semua bermain dengan semangat. Entahlah, seperti Xaverius mungkin, yang selalu terlihat sangat-sangat ingin menang? Guys, play with heart, please!!

* tulisan ini saya buat tidak untuk menjatuhkan siapapun, tidak pula untuk menyalahkan siapapun. Saya yakin, saat ini semakin banyak kalangan yang peduli dengan basket Indonesia. Sekali lagi, saya hanya seorang penikmat basket, yang berharap basket di Indonesia semakin jaya. Amien!

Bagaimana Kalau Bentuk Lain Half-time Show?

oleh: Arry Widyosasono

Siapapun yang membaca tulisan ini, menurut gw bisa dipastikan adalah penggemar basket yang pasti pernah nonton event basket lokal atau turnamen Internasional yang diadakan di Indonesia. Entah itu NBL Indonesia, Libama, SEABA, pertandingan persahabatan seperti NBL vs USA Legends yang beberapa waktu lalu diadakan di Jakarta dan Surabaya, atau streetball event (kalau yang ini jujur gw gak tahu soalnya gw belum pernah nonton event streetball secara langsung).

Satu hal yang menarik perhatian gw dari setiap event basket, yaitu halftime show! Ya, apa siy halftime show yang biasanya ada di event basket kita? Hampir pasti modern dance! Pertama kali gw nonton basket di tahun 2000 sampai terakhir gw nonton beberapa bulan lalu, pertunjukannya masih sama. Dari 15 menit jeda waktu istirahat, hampir seluruhnya diisi dengan acara dance.

Jujur saja, gw sudah sangat amat bosan dengan halftime show kaya gini, pasti kalau gak halftime show dengan modern dance ya games berhadiah. Kalau games siy gw gak pernah bosan (secara gw sering ikutan dan dapat hadiah :p).

Gw siy berharap ke depannya ada bentuk lain dari halftime show yang bisa lebih menarik, semisal salah satunya dengan melibatkan pemain. Misalnya man to man dengan pemain (atau bisa juga 3 on 1, 3 penonton vs 1 pemain biar lebih seru), adu free throw/three point sama pemain, atau adu lay up with style pemain vs penonton (gak perlu maksain slam dunk antara pemain vs penonton). Jadi penonton bisa ngerasain langsung skill pemain profesional. Gak cuma nonton. Sehingga hubungan yang terbentuk antara pemain dan penonton bakal lebih erat, kalau sudah lebih erat, otomatis penonton bakal lebih cinta sama pemain profesional idolanya, kalau sudah cinta, maka bakal berusaha untuk nonton terus secara langsung (analogi iseng gw :p). Gw jg ngerti siy pas halftime kan pemain pada istirahat, tapi biasanya kan 5 menit terakhir dari halftime udah pada shoot-shootan lagi tuh, nah mungkin ada 1 atau 2 pemain yang berbaik hati mau adu skill sama fans tersayangnya? Hehehe.. Biasanya games cm antara penonton vs penonton. Kurang seru menurut gw. Hehehe.

Gw sempet senang pas lihat games halftime show waktu ada 3 orang penonton adu free throw dengan Okiwira sm 1 org pemain USA legends (gw lupa namanya). Nah mungkin games-games seperti itu bisa lebih dibanyakin, dance boleh lahh, tapi dikurangin kali ya. Gw ngerti siy memang seperti gak afdol kalau game basket ga ada dance nya. Di NBA juga dance pasti selalu ada.

Gw harap penyelenggara lebih kreatif sedikit bikin halftime show, ya contohnya dengan yang tadi sudah gw sebutkan (gw cuma bisa sebutin sedikit, gw pun gak terlalu kreatif :p).
Hidup basket Indonesia!

Membangun Basket Indonesia adalah Berjualan

Luar biasa. Belum pernah dalam sejarah blog ini -yang masih muda juga sih..- ada diskusi melalui komentar di sebuah posting sebanyak, sepanjang, selebar, seantusias, dan sebermutu tulisan Udjo di tulisan Terbanglah Tinggi Bola Basket Indonesia. Menariknya lagi, tulisan tersebut tampaknya ikut dibaca oleh orang-orang Filipina dengan menggunakan bantuan Google Translate (semoga Google Translate-nya tidak menyesatkan mereka..hehee).

Sungguh luar biasa. Dari komentar-komentar seru di tulisan Udjo tersebut, ada lagi hal lain yang sangat mantap, yaitu pengetahuan. Pengetahuan para komentator luar biasa! Terima kasih banyak untuk telah menambah pengetahuan para pembaca blog ini :D

Mungkin ada yang terlupa..

Tadinya sih mau ikutan nimbrung di komentar tulisan tersebut. Tetapi kemudian nyadar kalau-kalau mungkin tulisan ini justru agak menyimpang dari apa yang tengah didiskusikan. Ketika umumnya komentator memperbincangkan segala jenis pembinaan untuk basket Indonesia yang terbaik, lalu kemudian bersedih karena banyak pembinaan tersebut tidak berjalan, tudingan mengarah ke Perbasi sebagai induk olah raga basket tertinggi di negeri ini yang katanya tidak berbuat banyak. Hmm..ini mungkin bisa diperdebatkan.. :)

Tadinya sih beneran ingin ikut nimbrung, karena gw pikir “kok gak ada yang ngomongin hambatan yang namanya duit yaa?” Yup duit! Semuanya ujung-ujungnya duit.

Lalu tiba-tiba suatu malam..

Buat gue datengin pemain NBA atau “Legends” itu motifnya hampir semuanya dagang. Kecuali diajak sparring serius.”

Demikian sebuah twit dari seorang teman yang baru gw baca di tengah malam waktu itu (lupa gw tanggalnya). Hmm.. agak bingung juga gw menanggapi twit tersebut. Benak gw muter, apakah twit ini sebuah sindiran, atau memang serius. Serius yang ada di pikiran gw adalah bahwa “motif dagang” yang dituliskan di twit tersebut seolah salah, seolah sebuah motif mencari untung sendiri dengan memanfaatkan bola basket nasional. Benarkah demikian?

Berikut jawaban gw “motif memang dagang, n harus dagang! Keuntungan dagang yg digunakan utk penghidupan n pengembangan basket nasional yg kontinyu..

Malam itu gw gak bisa tidur lagi (selama 10 menit :P). Gw melamun, “waah, berapa banyak yaa penggemar basket di Indonesia yang gak nyadar bahwa NBL Indonesia serta DBL Indonesia sejatinya adalah sebuah bisnis dan harus bisnis?” Sebuah bisnis yang bergerak di bidang basket. Yang selain bertujuan untuk membangun basket Indonesia, juga untuk mencari keuntungan. Yup duit. “Waah rakus!” yaa gak laah.. Dari duit itulah kita bisa membangun basket nasional kita sesuai dengan angan-angan ideal kita selama ini. Emang ada yang mau ngasih duit segitu banyak dengan cuma-cuma? Ada, tapi yaa kalau terus-terusan pasti capek dan akan kabur juga :)

Membangun basket nasional membutuhkan ongkos yang tidak murah

Berapakah ongkos yang dibutuhkan untuk sekali penyelenggaraan kejuaraan DBL di satu kota? Teman-teman gw di DBL gak pernah memberi tahu angka pastinya. Namun kisarannya ratusan juta bahkan miliaran! Taruhlah untuk mengadakan satu event DBL berharga 1 miliar rupiah. Artinya, untuk melaksanakan DBL di 23 kota membutuhkan uang 23 miliar! Ada yang mau kasih duit segitu setiap tahun ke basket Indonesia secara gratis? Hmmm.. Kita belum berbicara tentang PopMie Basketball yaa.. yang gw asumsikan biayanya pasti ratusan juta juga per-event.

Bagaimana dengan NBL Indonesia? Sama sajalah :P Itu mahal sekali :D

Jika penyelenggaraan sebuah event basket SMA maupun nasional sedemikian mahalnya, demikian juga mendatangkan para pemain internasional ke Indonesia. Perlu dicatat, mereka datang tidak dengan cuma-cuma. Kalau saja mereka datang ke Indonesia dengan cuma-cuma dan mau berbagi ilmu dengan gratis, pastilah mereka sudah sering datang ke Zamrud Katulistiwa ini :D

Ingat ketika Kobatama menjadi IBL?

Salah satu alasannya waktu itu adalah agar liga menjadi “mandiri”. Yoi, kata mandiri gw beri tanda kutip karena kata tersebut sebenarnya lebih berarti kepada mampu mendanai diri sendiri :D Ketika IBL akhirnya mati di tahun 2009, alasannya jelas, tak ada lagi yang mau mensponsori alias gak ada duit untuk menjalankan liga.

Ketika PT DBL Indonesia mengambil alih liga basket nasional dan mengganti namanya menjadi NBL Indonesia, apakah alasannya semata untuk menyelamatkan basket Indonesia? Naif kalau kita berpikir begitu. Alasan lain yang juga sangat-sangat dipertimbangkan adalah, “mampukah liga ini menjadi liga yang menguntungkan?” yang mampu memberi untung tidak hanya bagi penyelenggara tetapi semua penggemar basket dan pengembangannya di Indonesia. Di mata PT DBL Indonesia saat itu, secara logika pastilah liga basket profesional ini mampu memberikan keuntungan yang signifikan. Kalau tidak, gak mungkin mereka mau menjadi pelaksananya :D

..dan sumber utama uang untuk membangun basket Indonesia berasal dari..

Penonton. Penggemar basket Indonesia yang menyaksikan langsung setiap laga NBL Indonesia di arena adalah sumber utamanya. Ada dua alasan mengapa penonton adalah sumber dana bagi pembiayaan basket Indonesia; Pertama, uang penonton yang membeli karcis adalah dana segar. Kedua, jika penonton ramai memadati arena, maka ramai pula sponsor-sponsor yang mau mensponsori basket Indonesia. Sederhana :D

Tengoklah semua liga-liga olahraga raksasa di dunia, entah itu bola basket atau sepak bola. Sumber dana mereka adalah atensi penonton di arena. Nah, ketika penonton di arena membludak, kita tahu bahwa akan banyak uang dari hasil penjualan karcis yang masuk. Lalu kita juga akan tahu, banyak sponsor akan tertarik memberi uang kepada penyelenggara dan setiap tim NBL bahkan perorangan pemain. Dan ketika arena penuh, kita tahu bahwa bola basket memiliki banyak peminat di Indonesia dan banyak dimainkan di segala tempat dan usia. Lalu semakin banyak lagi event-event lain untuk meningkatkan bakat dan kemampuan para pebasket muda Indonesia. Dan seterusnya.. dan seterusnya..

Di NBA, dengan uangnya yang banyak, NBA tidak hanya menyelenggarakan pertandingan liga saja. Ia mampu mengadakan banyak sekali program-program pengembangan dan kepedulian. Kegiatan tersebut tak hanya dilakukan oleh NBA, tetapi juga oleh klub-klub NBA bahkan individu pemain.

Tanpa penonton..

IBL akhirnya mati. Bahkan NBA pun mikir-mikir untuk berlanjut. Penyebab terjadinya NBA Lockout 2011 yang dimulai 1 Juli lalu dipicu oleh minimnya penonton di arena selama liga bergulir beberapa tahun belakangan. 22 tim dari 30 tim NBA mengalami kerugian yang penyebabnya adalah minimnya penonton. Andai kata NBA Lockout terus terjadi, gw rasa prestasi basket Amerika pun akan pudar di kancah internasional. Apalagi, jika Indonesia tanpa NBL Indonesia.

Oh, yaa, itu pula alasan mengapa televisi belum berani menyiarkan pertandingan basket. Karena mereka gak yakin ada yang akan menonton. Artinya, menyiarkan basket belum ada duitnya! :)

Jadi, kembali lagi. Jika banyak program Perbasi belum berjalan, asumsi gw sih karena duitnya gak ada. Kalau kata mas Agus Mauro, ada duit sekitar beberapa milyar (baca di komentar saja yaa), gw rasa sih itu jauuuh dari mencukupi. Kalaupun mencukupi, duitnya harus ada terus secara kontinyu :D

Siapakah dari 9 Pemain ini yang Layak Dipanggil Kembali ke Pelatnas? (Polling)

Selain motivator, persaingan timnas bakal ditingkatkan kembali. Caranya, memanggil tiga pemain lagi untuk menghuni pelatnas. Mereka akan diambil dari sembilan pemain yag dicoret beberapa waktu lalu.”

Demikian kalimat dalam artikel di situs resmi NBL Indonesia hari ini. Kalau begitu, menurut kalian, siapa kira-kira pemain yang layak untuk kembali mengikuti Pelatnas Basket putra untuk SEA Games 2011 November nanti? Silahkan memilih :D

*Hey, tentu saja ini polling tak resmi, walau siapa tahu berpengaruh :D

Terbanglah Tinggi Bola Basket Indonesia

Tulisan ini aslinya muncul di Jawa Pos (gw bacanya di Bandung Ekspres) hari ini.

Oleh: Udjo Project Pop, penggemar basket

Di atas langit ada langit. Katakata kiasan itu sangat tepat untuk menggambarkan peta kekuatan bola basket Indonesia dengan tim Filipina.

DALAM pertemuan kedua mereka, yaitu pada partai final SEABA IX di Britama Arena (26/6), tim nasional (timnas) yang merupakan kumpulan pemain terbaik di ’’langit’’ basket Indonesia harus mengakui bahwa mereka tidak bisa melewati kemampuan ’’terbang’’ tim Filipina. Mereka berjuang sekuat tenaga untuk bisa melesakkan 50 angka, sedangkan Filipina –raja basket Asia Tenggara– dengan indahnya mempertontonkan bagaimana cara bermain basket dengan 89 angka.

Sebagai penggemar basket nasional, besar sekali harapan saya bisa melihat timnas kita menjadi jagoan di kawasan ini. Optimisme itu berawal dari bergulirnya sebuah liga basket baru yang lebih baik dan benar, yaitu National Basketball League (NBL) Indonesia. Dikemas dan diorganisasi lebih baik, liga itu menjadikan basket lebih laik tonton. Posisi para pemain diletakkan kembali sebagai pemain profesional.

Rasa optimisme makin membuncah ketika terpilih puluhan pemain terbaik di ’’langit’’ basket NBL Indonesia untuk masuk pelatnas guna menyongsong SEA Games XXVI di Jakarta dan Palembang akhir tahun ini. Bagaimana gak optimistis, program yang dijalani mereka tidak pernah dilakukan sebelumnya dalam sejarah basket Indonesia. Mereka berkesempatan masuk Indonesia Development Camp (IDC) with NBA yang mendatangkan Ron Harper (mantan pemain Chicago Bulls dan LA Lakers) sebagai salah seorang pelatih.

Lalu, training camp berlanjut pada program pelatihan di Perth, Australia, bersama para pelatih World Basketball Academy (WBA). Untuk urusan bela negara, timnas rela bertambah hitam dan kurus demi menempa diri di Batujajar, Bandung, Jawa Barat, secara militer. Hmmm, ini nih…era baru basket Indonesia. Dan, waktunya pun tiba untuk melihat hasil program itu di kejuaraan SEABA (Southeast Asian Basketball Association). Apa yang terjadi cukup mencengangkan. Sebagai penonton awam dengan pengharapan setinggi langit, ternyata pada pertandingan pertama, timnas bersusah payah mengalahkan Singapura. Tiga kuarter tertinggal dan menyusul di kuarter terakhir.

Fiuhhh….pendapat teman-teman yang menonton (saya gak nonton karena harus ngamen demi anak istri :) ), ”aahh belom panaaass”. Oke, itu masuk akal. Buktinya menang kok. Ya, pada partai kedua timnas harus langsung bertemu Filipina. Di dalam hati saya berkata, ’’Hey Filipinos, you’ll be surprised to play againts our ’new’ Indonesian basketball,…though it’s difficult for us to win..we’ll fight back everytime you strike!!!’’ Ciee, kalau saya optimistis… sok Inggrisnya keluar.. Apa dinyana, ternyata perlawanan yang saya umbar tidak terbukti hasilnya.

Ketika pemain lawan masuk ke lapangan dengan materi dua orang center berukuran 2 meteran dan beberapa pemain lain dengan santainya ber-slam dunk ketika pemanasan, mental saya sebagai penonton jatuh banget. Tetapi, optimisme buat mendukung timnas yang sebagian saya kenal baik tetap saya junjung. Pertandingan dimulai, the show has begun for Philippines dan tidak disangka, timnas terlihat bagai adik-adik yang baru belajar bermain basket.

Beda postur, kecepatan, skill, strategi, dan mental mengakibatkan hasil akhir yang mengejutkan. Angka 94-54 menggambarkan betapa jauhnya perlawanan yang timnas berikan. Melihat hasil itu layaknya penonton bola yang pasti lebih pintar daripada pemain dunia mana pun. Saya bertukar komentar dengan beberapa kawan yang sama-sama menyaksikan pertandingan tersebut. Yang paling picik langsung berkata, ’’Mana hasil IDC? Mana hasil Australia!!??” Yang lain menyoroti masalah beda postur dan masalah dua pemain naturalisasi Filipina. Ada juga yang membahas strategi dan roster pemain yang diturunkan pelatih, kenapa si ini gak dipilih saja? Si itu kok gak pede? Ini kok pada gak bisa nembak? dan lain-lain dan seterusnya.

Saya lebih menyoroti semangat juang yang tidak meledak-ledak dari timnas. Kalah boleh saja, tetapi harus melalui pertarungan sengit dulu, berdarahdarah kalau perlu. Uhh…mungkin semangat mereka sama jatuhnya seperti saya ketika para pemain Filipina itu berslam dunk ria saat pemanasan dan beberapa alley-oop ketika game. Pada pertarungan ketiga melawan Malaysia yang tampil ’’luar biasa’’ menghadapi Filipina, ternyata Indonesia bangkit dan mengempaskan Malaysia dengan telak. We own that game! Rasa optimisme itu muncul lagi.

Final versus Filipina….Kita akan kalah, tetapi tidak akan sehancur pertemuan pertama. Ternyata, hasilnya seperti saya tulis di kalimat paling atas. Langit basket Indonesia memang berbeda dengan Filipina. Terlalu tinggi buat kita menguasai bola basket. ASEAN sekarang! Ya bukan sekarang, suatu hari nanti pasti bisa. Kalimat tadi bukan suatu pesimisme, tetapi keyakinan jangka panjang. Setelah saya ingat-ingat, NBL baru berjalan satu musim. Isinya 27 pertandingan yang harus dilakukan tiap tim (lebih baik daripada IBL yang 18 pertandingan per tim). IDC dan program Australia saya pandang sebagai kursus singkat untuk meletakkan kembali permasalahan inti dari timnas Indonesia, basic basketball habit modern yang baik dan benar. Program itu membuka mata pemain, pelatih, dan tim ofisial.

Bagaimana berbedanya metode pelatihan basket di Negeri Kanguru yang sangat menekankan pada hal-hal fundamental, baik di dalam maupun di luar lapangan. Program itu juga membukakan mata kita akan pentingnya pembinaan fundamental basket sejak usia dini lewat program kurikulum sekolah dan liga yang berjenjang (liga pelajar, liga mahasiswa, Kobanita, Kobatama, puncaknya NBL). Semua butuh waktu, proses, dan usaha bersama. Meminjam istilah Kesatria Basket-nya Bapak Anggito Abimanyu, Ketum Perbasi (yang di klip videonya gak ada saya dan Yosi :p), para kesatria itu sudah ada.

Yakni Perbasi dengan para pengurusnya, commissioner NBL dan jajarannya, para pemilik klub dan sponsor, para pelatih dan pemain basket, saya dan ribuan penggemar basket lainnya. Dengan kerja superkeras, kerja sama yang simultan, dan dukungan semua pihak yang besar (termasuk pemerintah), saya yakin basket Indonesia bisa terbang lebih tinggi, melesat ke langit yang lebih tinggi lagi. Dan kerja keras itu harus kita lakukan bersama, sekarang. Bangkitlah bola basket Indonesia! (*)