Hiphopdiningrat, Tak Perlu Ngerti Bahasa Jawa Tuk Ikut Bergoyang dan Tergugah!

Standar

Tidak ada yang istimewa dengan hiphop atau rap berbahasa Jawa. Telah muncul sebelumnya dan terus bermunculan hiphop berbahasa Prancis, Mandarin, Sunda, Indonesia, Jepang dan lain-lain. Meskipun bahasa ibu dari hiphop adalah bahasa Inggris, keturunannya tak haruslah serupa. Konsekuensi dunia yang semakin kecil, lebih kecil daripada daun kelor. Tak ada lagi ada batas.

Hiphop berbahasa Jawa yang pernah lahir, lalu sepi sejenak, bangkit lagi dengan tak hanya menggunakan bahasa Jawa sebagai penyampai pesan. Liriknya menjadi lebih populer, lebih merakyat, didengarkan oleh anak-anak SD hingga mbok-mbok pasar, bahkan mengambil karya-karya sastra kuno Jawa untuk dijadikan lirik, memadukan rappers dengan sinden, dan akhirnya “naik haji” dengan manggung di New York. Hal-hal tersebut menjadikan hiphop berbahasa Jawa lebih dari luar biasa. Perjalanan Marzuki Mohammad (Juki) a.k.a. Kill The DJ (@killthedj) bersama Jogja Hiphop Foundation yang ia dirikan dari tahun 2003 hingga pertengahan 2010 (masa pendokumentasian) menjadi inti cerita film dokumenter “Hiphopdiningrat”.

Jogja Hiphop Foundation

Jogja Hip Hop Foundation (JHF) didirikan tahun 2003 oleh Juki, yang katanya bertujuan membantu aktivitas dan mempromosikan rap berbahasa Jawa.

Diawali dengan berbagai acara kecil seperti It’s Hip Hop Reunion dan Angkringan Hip Hop, pada tahun 2006-2009 JHF memulai proyek Poetry Battle; eksplorasi karya puisi Indonesia dari puisi-puisi tradisional hingga kontemporer dengan media hip hop.

Dari proyek itu JHF menghasilkan dua buah album kompilasi Poetry Battle 1 & 2, dan mulai berhasil membentuk identitas dan sikap berkarya.

Menggunakan bahasa Jawa sebagai lirik rap, tampaknya sedikit sulit mendapatkan tempat pada industri musik Indonesia. Tetapi hal ini justru mampu diatasi JHF dengan caranya sendiri. Saat ini lagu-lagu JHF sudah menjadi “lagu rakyat” di Yogyakarta, terutama setelah diluncurkannya lagu Jogja Istimewa yang sudah menjadi soundtrack kehidupan rakyat Yogyakarta. Lagu itu dinyanyikan kolektif oleh Ki Jarot, akronim dari Kill the DJ, Jahanam, Rotra, ketiganya adalah crew yang paling konsisten memproduksi lagu-lagu hip hop berbahasa dan bernuansa Jawa dan mempresentasikan eksistensi dari JHF.

Hiphopdiningrat

Gw sangat gak banyak tahu tentang musik hiphop atau rap. Namun film dokumenter Hiphopdiningrat menggambarkan sesuatu yang lebih luas daripada sebuah perkembangan sub-kultur hiphop Jawa dari kecil hingga “naik haji” ke New York. *Istilah “naik haji” gw kutip dari pertanyaan Tarlen seusai pemutaran film. Hiphopdiningrat menggambarkan sebuah usaha keras tanpa henti mengatasi semua keterbatasan dan terus berjalan entah sampai kapan harus berhenti.

Film ini diawali oleh sebuah komentar singkat pendek dari seorang jurnalis wanita asing yang menceritakan sejarah singkat lahirnya hiphop di dunia dan lalu narasi sesungguhnya dibawakan oleh Juki sendiri dari balik stir mobil sambil mengelilingi kota Yogyakarta. Melengkapi ceritanya, Juki menampilkan potongan-potongan gambar dan video segala perhelatan yang dilakoninya bersama JHF.

Selain cerita dari Juki sendiri, Hiphopdiningrat juga menampilkan komentar-komentar para penggiat kebudayaan seperti Butet Kertaradjasa, Sindhunata, dan Jaduk Ferianto yang mengagumi betapa dahsyatnya rap berbahasa Jawa ini. Iwa K, pelopor hiphop Indonesia pun ikut berkomentar dengan mengatakan betapa ia sangat kagum dengan perkembangan hiphop di Yogyakarta dan berharap andai itu terjadi Jakarta.

Kisah yang tak kalah menarik dari Hiphopdiningrat adalah perjalanan para rappers yang tampil dan setia menggunakan bahasa Jawa untuk liriknya seperti Jahanam dan Rotra. Film ini memperlihatkan bagaimana rapper lokal tersebut tetap eksis ngerap sembari tetap melakukan kegiatan kesehariannya yang lain. Lucunya, Hiphopdiningrat juga menampilkan komentar dua orang ibu yang mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya karena terlalu asik ngerap dan mengancam kuliahnya. “Hip hop gak jelas!” komentar seorang ibu yang seolah keinginan pribadinya untuk sang anak “dicuri” oleh hip hop. *Gw rasa sang ibu rasanya kini bangga melihat pencapaian anaknya dengan hip hop saat ini :)

Hiphopdiningrat tidak hanya menyampaikan perjalanan JHF dengan segala raihan dan prestasinya. Hiphopdiningrat mampu menggugah orang lain untuk terus konsisten pada panggilan jiwa, melewati semua hal yang harus dilewati dalam “perjalanan” tanpa peduli akan bagaimana hasilnya nanti.

Sayangnya, film yang disutradarai oleh Juki sendiri bersama rekannya Chandra Hutagaol ini belum diputar luas sehingga dapat ditonton oleh banyak orang. Gw sendiri tadi malam bukanlah salah seorang tamu yang diundang. Gw berhasil masuk nonton karena mencatut nama salah satu tamu yang diundang (Suave.. sorry guys :D). Tampaknya keinginan keras gw untuk nonton yang akhirnya “membawa” gw berhasil masuk di Blitz tadi malam :D Forgive me God :D Mirip-mirip gak yaa dengan kisah JHF yang akhirnya sampai ke New York? :D

*Alhamdulillah ngerti bahasa Inggris, Hiphopdiningrat disampaikan 80% menggunakan bahasa Jawa! :D

“I May Be Wrong (But I Doubt It)” Petuah Charles Barkley

Standar

Mari berkaraoke! Tuh liriknya di bawah :D

It’s called defense
It’s in the dictionary
On a D E F E N S E
I may be wrong, but I doubt it
No dancin’, no huggin’
Just play the game, stats don’t mean a thing
Make your free throw!
Free! Free! Free! Do the right thing!
Box out! It’s called defense
D E F E N S E defense!
I may be wrong, but I doubt it

Cool & Dre Feat. Charles Barkley
Director: Spike Lee

Hurricane Season, Kadang Main Basket Lebih Penting Daripada Hidup

Standar

Dari sudut pandang cerita, film Hurricane Season tidaklah begitu istimewa. Ia tak lebih bagus dari beberapa film bertema olah raga yang pernah muncul sebelumnya. Namun mengetahui bahwa film ini diangkat dari sebuah kisah nyata yang dramatis, lain cerita.

Ada satu hal yang sangat menggugah gw dari film ini. Baru sebulan setelah ditimpa oleh Katrina (salah satu bencana badai paling buruk di Amerika Serikat sepanjang sejarah), di tengah kota yang hancur, puing berserakan di mana-mana, korban meninggal dunia yang mencapai ribuan nyawa, belum termasuk kerugian materi miliaran dolar, serta kejatuhan mental dan moral, sangat-sangat menakjubkan mengetahui ada sekelompok orang yang masih bisa mengatakan “Satu minggu lagi kita tanding! Ayo latihan!!”

Perjuangan pelatih Al Collins dan anak-anak SMA John Ehret (Patriots) High Louisiana usai dihantam Katrina terbayar dengan menjuarai kejuaraan negara bagian setahun kemudian.

Film ini tambah menarik dengan hadirnya Forest Whitaker, Lil’ Wayne, dan Bow Wow.

Nonton deh, pasti makin sayang sama main basket :)

—————-

Tambahan. Video tim John Ehret Patriots yang asli. Keren! :)

Film “3 Idiots” dan Masa SMA Gw :)

Standar

Baru gw tonton beberapa hari lalu, film ini sedikiiittttt membawa gw kepada kenangan saat gw SMA. Begini ceritanya.

Dulu, saat gw SMA, gw gak pandai mata pelajaran berhitung dan mata pelajaran ilmu alam. Beneran gak pandai dalam arti sebenarnya lho. Jika menggunakan standar kelulusan nilai UN yang digunakan oleh pemerintah sekarang agar anak SMA bisa tamat, maka jelas, gw pasti gak lulus. Nilai gw hancur bos! :)

Saking tak pahamnya dengan apa-apa yang dijelaskan oleh guru-guru matematika, fisika, kimia, dan sebangsanya, gw kerap bertanya dengan baik kepada guru-guru gw saat itu, tentu saja agar gw lebih mudah memahami apa yang mereka jelaskan. Alih-alih mendapat jawaban yang memuaskan gw, gw malah sering menjadi bahan tertawaan satu kelas. Guru kimia gw menganggap pertanyaan gw aneh. Guru matematika gw meminta maaf karena tak bisa menjawab pertanyaan gw. Guru fisika gw “menyerahkan” jawaban pertanyaan gw kepada Tuhan. Gw sendiri tak jua tercerahkan saat itu.

Karena efek memalukan yang ditimbulkan pasca pertanyaan yang gw lontarkan begitu membekas di hati gw, gw sulit melupakan momen-momen bertanya tersebut dan bagaimana gw baru menemukan jawabannya justru setelah gw tamat kuliah, dan malah membuat gw bangga pernah melontarkan pertanyaan berkelas! :) Ini dia pertanyaan-pertanyaan gw saat itu.

Mata pelajaran kimia

Waktu itu guru tengah menjelaskan nama-nama unsur, lambangnya, tabelnya, serta cara praktis menghapalkannya. Seperti biasa, setelah menjelaskan panjang lebar, guru memberi sesi pertanyaan. Gw mengangkat tangan dan bertanya,

“Bu, kalau api lambang unsurnya apa?”

“Api ya api.” kata guru gw. “Ya api itu apa lambangnya?” timpal gw lagi. Guru gw terlihat sedikit emosi dan mengatakan bahwa gw melontarkan sebuah pertanyaan aneh. Seisi kelas menertawakan gw :)

Suatu hari tanpa sengaja gw nonton Discovery Channel yang sedang membahas tentang api. Program tentang api itu ditutup dengan sebuah pertanyaan “So, what is the essence of fire?”. Kaget bukan main gw! Ternyata pertanyaan gw saat SMA dulu adalah salah satu pertanyaan besar yang belum terjawab dalam dunia ilmu pengetahuan. Pantas saja guru gw tak bisa menjawabnya.

Mata pelajaran fisika

Blank! Benar-benar blank gw dengan mata pelajaran kegemarannya pak Einstein ini! Namun ada satu pokok bahasan yang menarik bagi gw saat itu (walau tetap saja menghitung rumus-rumusnya menjadi momok buat gw), fisika kuantum.

Penjelasan guru fisika gw begitu menarik sehingga gw bertanya “Pak, jika kita bisa ke masa depan, artinya, saat ini pun masa depan itu tengah terjadi bersamaan dengan masa kini?”

Dang! Guru gw hanya menjawab dengan senyum manis :)

Jawaban atas pertanyaan tersebut masih menjadi misteri buat gw. Dan mungkin juga masih menjadi misteri bagi para ilmuwan bahkan seniman. Orang-orang jenius baru mampu memecahkan masalah ini sebatas berimajinasi dengan membuat film-film keren berlatar belakang masa depan yang terhubung dengan masa kini.

Mata pelajaran matematika

Inilah mata pelajaran yang mendidik gw untuk berusaha sekuat tenaga meraih nilai bagus dengan cara apapun. Termasuk mencontek! Gw sangat jago mencontek saat SMA (hina kok dibanggakan..hehee).

Terlalu sering mencontek dan sulit memahami pelajaran matematika mengundang gw bertanya kepada guru gw. Sejujurnya, saat itu, pertanyaan ini sedikit bernada putus asa bagi gw. “Pak, buat apa saya belajar berbagai macam rumus matematika ini? Akankah terpakai nantinya di dalam kehidupan saya?”

Dengan bijak pak guru gw meletakkan kapurnya, tersenyum, dan menjawab “Pertanyaanmu bagus Dan. Saya mengerti pertanyaan itu. Memang agak sulit mencari korelasi rumus-rumus ini dengan kehidupan nyata sehari-hari. Apa yang saya lakukan di sini hanya mengikuti kurikulum yang sudah ditetapkan secara nasional. Pemerintah meminta saya mengajarkan ini, maka inilah yang saya ajarkan.”

Jawaban pak guru cukup memuaskan gw. Walau nilai ujian akhir gw tetap jauh dari memuaskan.

Kembali ke 3 Idiots

Film ini sebenarnya agak berkebalikan dengan judulnya. Ia seharusnya diberi judul 2 Geniuses and 1 Super Genius. Ceritanya berkisah tentang, nonton sendiri deh. Bagus!

Gak mau gw ceritain :)

“Hubungan dengan kisah SMA lu?”

Hahahaaa, entahlah. Pengen cerita aja. Nonton deh 3 Idiots! Sekali lagi, bagus!

V for Vendetta; Kesabaran, Kecerdasan, dan Keberanian Melawan Tirani

Standar

Rehat sejenak dari main basket. Mari menyaksikan film bermutu dari buku berkualitas, V for Vendetta!

Film V for Vendetta

V for Vendetta adalah salah satu dari dua film favorit gw. Gw ingat sekali, gw dulu selalu menunda-nunda untuk menonton film V for Vendetta hanya karena tokoh utamanya mengenakan kostum aneh seperti super hero dan topeng konyol bak badut. Hingga satu saat ketika tidak ada lagi film-film dari dvd bajakan yang bisa gw tonton karena kebanyakan sudah gw tonton, gw mengambil V for Vendetta.

Vforvendettamov

Tokoh utamanya bernama V. Kisahnya berlatar tempat di Inggris pada masa depan, di mana usai perang dunia, negara-negara mengalami kehancuran yang teramat parah. Kondisi Inggris sendiri sangat karut marut dengan kualitas hidup yang sangat rendah yang ditandai dengan tingkat kematian yang tinggi, pengangguran yang tinggi, bahkan kelaparan yang meraja lela.

Kondisi ini menggoda seorang politikus untuk menjalankan pemerintahan Inggris dengan cara fasis dan totaliter. Semua masyarakat Inggris tunduk dan tak ada yang berani melawan kecuali V, seorang pemberani yang menggunakan kostum dan topeng lelaki yang selalu nyengir (Guy Fawkes). V menyebarkan propaganda melawan pemerintah dengan cara dan isi yang sangat cerdas dan provokatif yang membuat ia langsung menjadi incaran pemerintah nomor wahid!

Selain menjalankan propagandanya, V juga menjalankan aksi “vendetta” (kurang lebih bermakna “balas dendam”) dengan membunuhi tokoh-tokoh politik yang terkait politik fasis. Aksi-aksi V tampil dalam keindahan rangkaian kata-kata propaganda penuh makna yang cerdas, selera tinggi atas karya-karya seni era renaissance, kecintaannya kepada sastra-sastra modern, dan juga lantunan melodi karya Beethoven yang mengiringi kegirangannya ketika menghancurkan bangunan-bangunan penting di dalam kota London yang menjadi simbol fasisme.

Novel grafis V for Vendetta

Film V for Vendetta diarahkan oleh Wachowski Bersaudara (menggarap film The Matrix) berdasarkan tokoh dan kisah dari novel grafis yang berjudul sama, V for Vendetta karangan Alan Moore dan David Lloyd. Bukunya pun tak kalah seru, bahkan menampilkan dua sudut pandang yang sama-sama seru.

V-for-vendetta

Di dalam versi bukunya, V diceritakan sebagai seorang anarkis yang menentang pemerintah yang mengajarkan tentang bagaimana sebuah masyarakat tidak seharusnya dikuasai oleh sekelompok orang saja yang mencekokkan kebenarannya sendiri, mengacu pada sebuah slogan klasik, “Semua kekuasaan adalah korup, dan kekuasaan absolut tentu juga korup secara absolut.”

Dalam novelnya, V menjelaskan bagaimana tatanan masyarakat tersebut akan berjalan dan apa fase yang perlu dilalui untuk mencapai pada tahapan pembentukan masyarakat yang bebas tersebut. Fase pertama adalah sebuah ide destruktif yang dibenarkan untuk menghancurkan atau mendekonstruksi tatanan masyarakat yang eksis saat ini, lantas setelah kehancuran total terjadi, diharapkan masyarakat akan mulai belajar untuk mengatur diri mereka sendiri.

Kontroversi

Film ini dilarang beredar di banyak negara karena kandungannya yang dianggap sangat berbahaya dan mampu mencuci otak seseorang secara cukup instan. Italia adalah salah satu negara yang melarang beredarnya film ini di negaranya. Untungnya kita sudah tidak berada di zaman Orde Baru lagi, jika iya, gw yakin film dan buku V for Vendetta nggak akan pernah terdengar di Indonesia.

(Beberapa ide tulisan gw sadur dari Wikipedia)

———————————————————————-

V adalah seorang tokoh yang sangat eksentrik, kalimat perkenalannya kepada Evey Hammond (tokoh lain di dalam V for Vendetta) membawa gw kepada keterperanjatan betapa kecerdasan adalah sebuah keindahan! Simak kata-kata perkenalan V:

“Voilà! In view, a humble vaudevillian veteran, cast vicariously as both victim and villain by the vicissitudes of fate. This visage, no mere veneer of vanity, is a vestige of the vox populi, now vacant, vanished. However, this valorous visitation of a bygone vexation stands vivified, and has vowed to vanquish these venal and virulent vermin vanguarding vice and vouchsafing the violently vicious and voracious violation of volition. The only verdict is vengeance; a vendetta held as a votive, not in vain, for the value and veracity of such shall one day vindicate the vigilant and the virtuous. Verily, this vichyssoise of verbiage veers most verbose, so let me simply add that it’s my very good honor to meet you and you may call me V.”

“Come Out Come Out Wherever You Are!”, My Neighbor Totoro oleh Hayao Miyazaki

Standar

Minggu-minggu yang cukup padat beberapa waktu belakangan ini. Kejuaraan FIBA Championship di Jakarta yang kemudian dilanjutkan dengan Putaran II Seri 5 di Surabaya. Selang beberapa hari kemudian ada SEABA Championship For Men di Medan yang kemudian dilanjutkan dengan Putaran II Seri 6 di Bandung. Di antara kegiatan-kegiatan tersebut, kita juga disuguhi babak play-off dan final NBA di televisi, di mana LA Lakers keluar menjadi juara.

Di Surabaya, rangkaian kegiatan NBA Madness sedang berlangsung dan semarak. Begitu juga LA Lights Streetball yang sedang dan semakin bergelora (Gw pengen banget menulis tentang kegiatan ini tapi belum pernah sempat). Minggu depan pula, Pemain New York Knicks, David Lee dan para pemandu sorak dari Miami Heat akan beraksi di Surabaya.

——————

totoro-tree

Ah, ok, rehat sejenak! Gw harus cari buku dan atau film untuk menenangkan dan menyegarkan kembali saraf-saraf yang mulai penuh dan padat oleh main basket dalam waktu yang sangat singkat.

Gw menemukan “My Neighbor Totoro”, sebuah film animasi buatan Jepang tahun 1988 yang ditulis dan diarahkan oleh Hayao Miyazaki, Seorang sutradara animasi yang pernah mendapatkan Oscar untuk karyanya Spirited Away di tahun 2003.

My Neighbor Totoro berkisah tentang persahabatan dua cewek bersaudara Satsuki Kusakabe dan Mei Kusakabe, (putri-putri dari seorang dosen Tatsuo Kusakabe) dengan roh (spirit) penjaga sebuah pohon besar yang diberi nama oleh Mei dengan nama Totoro.

Ceritanya berawal ketika ayah dan dua putrinya ini mulai menempati sebuah rumah baru di satu desa yang asri. Rumah tersebut kabarnya dihuni oleh roh dan hantu gentayangan. Di sinilah awal mula menariknya film ini. Berbeda dengan kebanyakan orang di dunia terutama di Indonesia yang super paranoid dengan hantu, Tatsuo, Satsuki, dan Mei justru sangat antusias mengetahui rumah mereka berhantu. Mei malah tak ingin hantu-hantu tersebut pergi dari rumahnya.

Di hari pertama mereka tiba di rumah, mereka langsung merasakan dan melihat hantu-hantu kecil berwarna hitam yang bergerombol di sekitar rumah. Bukannya takut, mereka malah mencari tempat persembunyian hantu-hantu tersebut. Satsuki dan Mei mencari sambil berteriak “come out come out wherever you are!”

Film ini mengangkat kisah dengan nilai-nilai yang mulai dianggap remeh oleh masyarakat zaman sekarang; sopan santun, kewiraan atau rasa ksatria, berpikir rasional, hormat kepada orang tua dan orang-orang yang lebih tua, keberanian, rasa gotong-royong, kasih sayang dalam keluarga, kebahagiaan dalam kesederhanaan, kesabaran, persahabatan, dan nilai-nilai luhur kehidupan lain.

Totoro sebagai sosok spirit penunggu pohon dipandang sebagai karakter yang lucu, bahkan dalam geraman dan teriakannya yang kadang sangat menyeramkan. Bukannya malah ketakutan, Satsuki dan Mei justru kegirangan mendengar geraman Totoro. Film yang sangat bagus! Sekali tonton, film ini langsung masuk dalam kategori film favorit gw! :D

Karakter Mei mengingatkan gw pada Alice di Alice in Wonderland karya Lewis Carroll, Toto Chan-nya Tetsuko Kuroyanagi, Mary Lennox di The Secret Garden karya Frances Hodgson Burnett, dan Matilda-nya Roald Dahl.
Seorang putri riang, cerdas, dan kaya imajinasi!

Anak basket kayaknya perlu deh nonton film ini! Lol :D

American Teen (Main Basket dan Beasiswa Universitas)

Standar

american_teen_08

Film berkisah seputar kehidupan anak-anak Warsaw Community High School di Warsaw, Indiana. American Teen menceritakan perilaku beberapa orang pemeran utama yang cukup mewakili (barangkali) tingkah polah anak-anak SMA di Warsaw, Indiana, US. Tidak banyak yang berbeda dari gaya hidup anak-anak SMA di negara kita. Ceritanya pun datar-datar saja menurut gw (walau akhirnya film ini diganjar sebagai “Best Directing Documentary” di Sundance Film Festival 2008).

Setidaknya ada lima orang tokoh utama dengan karakter dan kisahnya masing-masing; Hannah Bailey, gadis cantik menggemari seni dan gemar melawan ayah dan neneknya yang tidak pernah sejalan dengan pola pikirnya. Megan Krizmanich, si cantik, cerdas, nan kaya. Mitch Reinholt, si ganteng, baik hati dan demen gonta-ganti pacar. Jake Tusing, seorang nerd penggemar video game dan anggota marching band sekolah yang terlihat kurang beruntung dalam hubungan dengan wanita. Serta Colin Clemens, anggota tim basket sekolah, Warsaw Tigers.

americanteen71

Colin Clemens dan kisahnya adalah yang paling menarik buat gw. Di akhir masa SMA, ketika semua teman-temannya telah diterima untuk masuk kuliah di berbagai universitas, Colin justru belum tahu akan ke mana. Ayah Colin dengan jujur mengatakan kepada anaknya bahwa ia tidak mampu membiayai Colin untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi. Satu-satunya yang bisa membuat Colin masuk universitas ternama adalah dengan berprestasi baik sebagai pemain Warsaw Tigers. Dengan cara itu diharapkan Colin bisa mendapatkan beasiswa untuk masuk universitas. Alternatif lain, Colin masuk army alias akademi militer angkatan darat. Colin akhirnya mendapatkan beasiswa universitas karena prestasinya di lapangan basket.

Persepolis, Film dan Novel Grafis Karya Marjane Satrapi

Standar

persepolis-poster-1

marjane-satrapi1

Dalam salah satu potongan adegan animasi, Marjane kecil (tokoh utama sekaligus pengarang novel grafis) tertangkap oleh polisi susila karena mengenakan sepasang sepatu “punk” ke sekolah. Karena ketakutan, Marjane sontak menjawab “These are not punk shoes, these are sneakers, I am a member of a basketball team.”

Sempat terpikir juga oleh Gw bagaimana ya kalau main basket pakai jilbab? Sebelum akhirnya Gw nemu foto bagus dari Flickr di bawah ini.

Veiled Jordanian Muslim girl with basketball in Amman gym.

Persepolis

Film dan atau novel grafis Persepolis mengajarkan kepada kita betapa penting dan berartinya sebuah kebebasan dan kemerdekaan.

Marjane bercerita betapa mahal dan susahnya sebuah kemerdekaan di negaranya, Iran. Sejak lahir kehidupannya sudah diliputi intrik politik yang kejam dan sadis saat revolusi. Beranjak dewasa ia harus berhadapan dengan suasana perang Iraq-Iran.

Ia akhirnya bersekolah ke Vienna, Austria. Keterbatasan kebebasan adalah sebuah masalah. Namun kebebasan yang kebablasan seperti kehidupan eropa ternyata juga mengundang problema tersendiri bagi Marjane.

Nonton deh film bagus ini, walau tidak menang, Persepolis adalah nominasi film animasi terbaik di Golden Globe Awards yang baru lalu.

2007_persepolis_011

“Coach Carter”, Wajib Tonton Bagi yang Senang Main Basket!

Standar

These boys are student athletes. Student comes first.” Begitu kata Coach Carter

Film ini adalah kisah seorang pelatih basket yang mengangkat pemain-pemain timnya, Richmond High School, menjadi yang terbaik di lapangan maupun di kelas! Film yang sangat menggugah dan terinspirasi dari kisah nyata.

Kalau kalian senang main basket, seharusnya sudah nonton film ini. Kalau belum, tunggu apa lagi? Cari dan tonton segera!

200px-coach_carter_poster

Basketball Scene in Kuch Kuch Hota Hai

Standar

Ada yang belum nonton film ini? Malu-maluin deh. Kalau minimal ada satu film India yang harus kalian tonton, Kuch Kuch Hota Hai lah filmnya. Tak terbilang berapa banyak teman gw yang nangis di ujung film ini.

Satu scene paling “keren” dari film ini adalah saat Rahul (Shahrukh Khan) battle one on one dengan Anjali (Kajol) di lapangan basket. Siapa yang menang? Nggak penting. Kalian nggak akan menemukan di film lain selain film ini seorang dara cantik (Kajol) main basket mengenakan kain sari. Kualitas teknik permainan? Ah, gw lebih menikmati sisi romantisnya. Hahahaaa..

kuch_kuch_hota_hai_dvd_cover