Tim SMA Indonesia (DBL) Menang atas Malaysia dan Singapura!

Standar

Tim putra dan putri Development Basketball League (DBL) Indonesia Selection 2010 tampil hebat di Malaysia. Dalam pertandingan perdana Malaysia International High School Basketball Championship kemarin (29/12), mereka berhasil mengalahkan lawan-lawannya di Port Dickson Indoor Basketball Court.

Tim putra mengalahkan Malay College Kuala Kangsar Malaysia 94-46. Sedangkan tim putri menekuk Woodgrove Secondary School Singapura juga dengan skor telak 85-23.

Kemenangan telak itu terbilang luar biasa. Sebab, menjelang pertandingan tersebut, kondisi DBL Selection jauh dari kata ideal. Kondisi stamina mereka dipastikan tidak seratus persen karena baru tiba di Port Dickson dini hari waktu setempat. Sebelumnya, mereka menempuh perjalanan udara selama dua jam dari Surabaya menuju Kuala Lumpur. Dilanjutkan perjalanan darat selama 1,5 jam dari Kuala Lumpur ke Port Dickson.

Hanya tidur sejenak, pagi hari mereka sudah harus menjalani sesi latihan. Kemarin sore mereka langsung bertanding dengan lawan kuat, Malay College yang dikenal sebagai sekolah basket. Sedangkan Woodgroove diperkuat dua pemain nasional junior Singapura, yaitu Tok Hui Min dan Llina Gan. Mental baja DBL Selection membuat rasa lelah tidak mengganggu penampilan.

Sejak awal kuarter pertama, Gunawan dkk langsung tancap gas. Kecepatan, akurasi tembakan, dan semangat juang yang diperagakan tim putra DBL Selection membuat lawan pontang-panting.

Padahal, tiga pemain mantan DBL Indonesia All-Star 2010 yang menjadi starter tidak fit. Gunawan menderita cedera lutut ringan. Sementara itu, Leonardho Ozzie dan Handri Satrya mengalami masalah pada engkel.

Walaupun begitu, DBL Selection selalu berhasil menjaga jarak perolehan poin. Pada akhir kuarter ketiga, DBL Selection unggul sampai 43 angka. Keunggulan poin tersebut bisa diperlebar dan dipertahankan sampai pertandingan usai dengan margin lebih jauh, 48 poin.

Gunawan yang berposisi sebagai forward menjadi bintang dalam laga itu. Dia membukukan double-double dengan 18 poin dan 10 rebound. ”Kerja sama tim sudah sangat padu. Spirit kawan-kawan untuk bisa menang sangat terasa dalam pertandingan ini. Kami sudah satu tim,” kata Gunawan.

Pelatih DBL Selection Hidayat Natasasmita mengatakan sangat puas dengan penampilan anak asuhannya. Dia menyatakan, kunci kemenangan itu adalah para pemain tampil lepas.

Hidayat mengakui, pada awal kuarter pertama pemain terlihat tegang. Namun, lambat laun mereka bisa membaca permainan dan bisa unggul jauh. ”Tenaga dan daya gedor anak-anak luar biasa. Ini modal berharga untuk menghadapi pertandingan selanjutnya,” tandas Hidayat.

Di sisi lain, pelatih Malay College Liew Yong Choon menyatakan bahwa timnya kalah kelas. Bagi dia, permainan DBL Selection berada jauh di atas timnya. ”Terlihat sekali bahwa DBL memiliki pengalaman dan jam terbang sangat baik,” ujar Liew.

”Mereka bisa beradaptasi dengan sangat bagus dalam pertandingan ini. Size mereka besar dan punya kekuatan. Semoga saja DBL memeroleh hasil terbaik dalam turnamen ini,” tambah dia.

Dari pertandingan tim putri, DBL Selection begitu bangga bisa merebut kemenangan kemarin. Coach manager Andrew Lim memuji permainan anak buahnya yang luar biasa. ”Mereka termotivasi karena tim putra juga menang. Yang pasti, team work anak-anak sangat bagus,” tuturnya.

”Saya tahu bahwa dua pemain nasional mereka berbahaya. Untung, kami bisa mematikan mereka,” tambah dia.

Pelatih Woodgroove Steven Ang mengakui kekalahan timnya. ”Semoga kami bisa belajar banyak dan memainkan bakset dengan lebih baik lagi. Selamat bagi DBL. Peluang mereka sekarang besar,” tuturnya. (nur/c8/ang/DBL Indonesia)

Panggung yang Menyeramkan!

Standar

Mengapa menyaksikan pertandingan olah raga bisa sangat digemari? Umumnya kita sependapat oleh karena hasilnya yang seringkali tak bisa ditebak. Secara, kita manusia gemar hal-hal yang berbau misterius. Namun bagi gw, ekstasi menyaksikan pertandingan olah raga bukan hanya karena hasilnya yang kerap tak bisa ditebak, tetapi juga hasil akhirnya kadang kala memberikan kesan yang mendalam. Bahkan tak jarang terlalu dalam!

Setelah selesai menyaksikan sebuah film bioskop dalam sebuah akhir cerita yang ekstrim bagus, misalnya happy ending atau sad ending, gw atau mungkin orang lain akan takjub terpukau mengagumi bagaimana cerita film tersebut atau efek-efek sinemanya mampu menggiring kita ke alam sadar kegembiraan dan atau kesedihan. “Aktingnya keren banget! Ceritanya luar biasa! Teknologi efeknya super canggih,” dan lain-lain.. Setelah itu gw melanjutkan dengan aktifitas lainnya. Kekaguman atas film yang gw tonton tentu saja masih sedikit membayangi di dalam otak.

Final sepak bola liga champions eropa 1999 antara Manchester United melawan Bayern Munchen adalah salah satu pertandingan olah raga paling berkesan dalam hidup gw. “Drama” tersebut memberikan efek sangat luar biasa. Pertama-tama, gw tak henti tertawa sampai satu minggu lebih! Seriusan. Tentu saja karena gw pendukung tim Inggris itu. Setelah itu, gw sangat percaya bahwa tak ada yang tak mungkin! Ia menyentuh pandangan hidup gw.

Tetapi sebelumnya, kesedihan kerap melanda ketika Manchester United kalah di liga champions. Saat itu ada sebuah anggapan seolah tim red devils itu gak akan mungkin mencapai final. Palingan mentok di semi final atau putaran sebelumnya. Anggapan itu sudah membuat ketegangan tersendiri bahkan sebelum setiap drama pertarungan dimulai! Kekalahan Manchester United sebelum tahun 1999 itu acap menarik gw dalam kesedihan.

Terlampau dalam

Dampak yang sangat dalam dari menggemari pertandingan olah raga adalah munculnya rasa cinta yang hebat pada tim kesayangan dan juga kebencian yang sangat kepada tim lawan beserta pendukungnya. Terkadang gw merasa lucu ada sebagian orang yang mengatakan “it’s just a game..” tetapi di sudut lain ada yang berpandangan “it’s more than a religion..”

Seorang teman yang lain bercerita bagaimana ia merasa cukup ketakutan ketika menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola di kandang lawan padahal ia adalah orang yang gw pikir cukup aneh kalau ketakutan. Hobinya berantem! Ketakutan teman gw itu wajar menurut gw, karena dampak menyaksikan pertandingan tersebut bukan tidak mungkin akan merenggut nyawanya. Hal yang sudah biasa di Amerika Latin atau Eropa. Ketakutan yang melebihi efek film horor.

Yes, ada yang membatalkan pernikahan karena tanggal pernikahannya bentrok dengan pertandingan tim favoritnya. Agak tolol sebenarnya, mengapa gak diatur jauh hari :P

Pasti sudah tahu banyak lah tentang fanatisme penggemar yang tinggi ini. Dalam dunia basket pun ada walau rasanya belum seheboh dunia sepak bola. Perasaan sedih kerap menghampiri gw ketika Garuda kalah dan gembira ketika tim ini menang. Rasa sedih dan gembiranya tentu sangat berbeda dengan sedih-gembira hasil menonton film bioskop paling bagus di dunia.

Sok bijaksana

Gw gak mau sok bijaksana dengan mengatakan “gak perlu segitunyalaahhh dalam mencintai sebuah tim olah raga..” Karena dampak itu menurut gw memang gak bisa dihindari. Gw malah beneran kasihan pada mereka yang menertawakan orang-orang yang menganggap fanatisme berlebihan itu menggelikan. Orang yang menyatakan “bola satu diperebutkan banyak orang..” jelas adalah orang yang gak paham nikmatnya memperebutkan bola tersebut.

Mau bilang “hati-hatilah ketika mulai menyukai tim olah raga..” pun juga gw ogah. Rasanya beneran sok bijaksana. Hanya ingin mengatakan, lapangan sepak bola, lapangan basket, lapangan bulu tangkis itu menyeramkan. Panggung di mana drama dengan hasil tak tertebak kerap terjadi. Panggung tempat darah dan air mata nyata bercucuran. Panggung yang sedikit menghibur namun banyak mempengaruhi kehidupan. Panggung yang mampu mempengaruhi psikologis penontonnya dengan dampak yang cukup permanen. Panggung yang bukan hanya menampilkan usaha keras para “aktor/aktris” yang berlaga di dalamnya, tetapi juga berpotensi menyulut peperangan antara para penontonnya, dengan korban jiwa yang nyata tentunya. Menyeramkan!

Hidup tanpa hal yang menyeramkan gak seru. Mau hidup yang ramai dan seru, salah satu alternatifnya, datang deh sekali-sekali untuk saksikan laga di panggung yang menyeramkan :)

NBL Lebaran Special.. *Ngayal Sambil Nonton NBA Christmas Special :P

Standar

Yes gw lagi nonton Miami Heat lawan LA Lakers dalam pertandingan yang diberi titel “NBA Christmas Special”.

Terus tiba-tiba kepikiran… Apa aja sih acara televisi kita di Indonesia pas lagi Lebaran? Hmm..*mencoba mengingat-ingat.

Kalau gak salah sih yaa seputaran lawakan panggung dengan asesori styrofoam yang dibanting-banting, atau panggung musik hiburan musisi-musisi mendadak religius, atau liputan lebaran ke rumah “artis”. Hmm..

Lebaran nonton basket? NBL Lebaran Special?! Amiinnn.. #Kapan yaa mudik Lebaran gak jadi tren lagi? :P

Catatan Hingga Akhir Seri 3 Solo: Semua Saling Mengalahkan!

Standar

Sebelum Seri 3 Solo dimulai, Pelita Jaya adalah tim yang belum pernah terkalahkan. Sementara Angsapura adalah tim yang belum pernah menang. Setelah Seri 3 Solo usai, tak ada lagi tim yang belum pernah terkalahkan atau tim yang belum pernah menang.

Sebelum Seri 3 Solo, Citra Satria hanya satu kali menang. Itu adalah saat melawan Angsapura. Di Solo, Angsapura membalas kekalahan atas Citra Satria. Kini, rekor sementara Citra Satria dan Angsapura adalah sama-sama satu kali menang dari 16 laga.

CLS Knights akhirnya memutus rekor tak pernah kalah Pelita Jaya. Sebelumnya, Pelita Jaya mengalahkan semua tim-tim NBL termasuk Satria Muda, Aspac, dan Garuda. Menariknya, CLS Knights justru kalah saat menghadapi Satria Muda dan Garuda.

Satria Muda hanya kalah di dua laga perdana saat menghadapi Aspac dan Pelita Jaya. Kini Satria Muda menunggu waktu membalas dendam dan tentu saja Pelita Jaya tak akan rela jika Satria Muda mampu membalas kekalahannya. Garuda, CLS Knights, dan tim-tim lainpun berusaha sekuat tenaga menghentikan laju Satria Muda. Oh ya, Satria Muda di Solo berhasil mengalahkan Aspac yang di Surabaya mengalahkan mereka.

Muba Hangtuah dan Stadium tengah mencari format yang pas agar performa timnya stabil. Dua tim ini kerap memberikan kejutan. Stadium sempat mengalahkan Garuda sementara Muba Hangtuah membuat Satria Muda dan Garuda berusaha keras untuk memetik kemenangan.

Kini setiap tim sudah saling mengalahkan. Seri 4 Bali menjanjikan laga yang lebih seru! Babak play off akan sangat mematikan. Semua tim menganggap betapa kejamnya liga ini karena langkah meraih juara benar-benar ditentukan saat championship series. Namun demikian, stabilitas bermain dan kedahsyatan penampilan saat play off justru dibangun dan diasah ketika seri reguler. Pannaaasssss!!! :D

*Satu lagi, gw rasa Bimasakti adalah santapan Angsapura selanjutnya :D

Catatan Hingga Akhir Seri 3 Solo: Wasit Goblok atau Kita yang Goblok?

Standar

“Wasit goblok! Wasit goblok!” Umpat kita kala wasit meniup peluit sementara kita, penonton dan semuanya yang non-wasit merasa bahwa keputusan wasit itu ngawur. Susah benar jadi wasit sepertinya jika ada dalam posisi tersebut, “sendiri menghadapi dunia”! Bagaimana kalau ternyata keputusan wasit benar? Yang jelas ia gak mungkin teriak balik ke kita “penonton, pemain goblok!”. Kasihan yaa.. dunia gak adil kepada wasit :P

Gw dan beberapa teman yang selalu nonton NBL Indonesia punya wasit-wasit NBL “favorit”. Kata “favorit” diberi tanda kutip karena maksudnya memang agak menyimpang. Wasit “favorit” yang kita maksud adalah wasit-wasit yang kerap memberi tiupan kontroversial. Atau malah gak niup tapi kontroversial juga. Wasit yang niup dan kontroversial itu misalnya, saat ia meniup dan memberi tanda traveling, kita kecewa karena kita anggap gak ada pelanggaran traveling sama sekali. Dan wasit yang gak niup tapi kontroversial itu adalah pada saat kita merasa ada pelanggaran, sang wasit malah santai menganggap tak ada pelanggaran.

Wasit itu seperti gong. Ia mengeluarkan bunyi (peluit) untuk menandakan sesuatu. Tapi nasibnya yaa begitu, dipukul benjol, gak dipukul juga benjol! Jadi kalau mau jadi wasit, yaa bersiaplah untuk benjol. Itu sudah fitrahnya wasit. Benjol! :P

Dalam sebuah pertandingan NBL di Solo, wasit “favorit” gw memimpin pertandingan. Tak hanya gw yang berasumsi “yaahhh, wasit ini lagi..” tetapi ternyata cukup banyak yang gw lihat mengeluarkan tawa mengejek sinis ketika wasit bersangkutan memasuki lapangan. Mukanya juga sudah nyebelin soalnya.. hehee.

Ketika pertandingan berlangsung, dalam suatu kejadian, ia meniup peluit dan memberi tanda gerakan tangan bahwa si pemain melakukan traveling. Pemain protes. Pelatih di luar lapangan protes. Pemain-pemain yang lain juga protes. Penonton kaget “apanya yang traveling?!!” Tetapi sang wasit bersikukuh bahwa ia melihat terjadinya pelanggaran traveling. Pertandingan dilanjutkan kembali.

Selang beberapa waktu kemudian, wasit tersebut kembali meniup peluit dan menyatakan bahwa telah terjadi traveling. Kali ini pemain, penonton, dan semuanya hanya tertawa geli melihat kelakuan wasit seolah pasrah “sudahlah, terima saja.. wasitnya parah..!” Dari bangku penonton gw mendengar teriakan “wasit goblok!!” Lucu, kalau ini di Bandung, bukan seorang saja yang teriak demikian. Justru yang gak teriak “wasit goblok!” yang bisa dihitung dengan jari.

Beberapa hari kemudian, teman gw memperlihatkan rekaman video ketika sang wasit meniup peluit menyatakan traveling. Duarr!!! Gw tersentak. Keputusannya benar! Dalam gerakan lamban, pemain tersebut memang melakukan traveling. “Mampus!” pikir gw. Berarti wasit benar dan kita semua yang goblok! :P

Menghormati wasit dan ketegasan wasit

Terlepas dari kejadian di atas. Gw seringkali melihat bahwa pemain seringkali kurang menghormati wasit dan wasit berlaku kurang tegas. Di Solo, gw melihat sendiri seorang pemain menunjuk-nunjuk wasit karena mendapat peluit karena merasa tak melakukan pelanggaran. Saat bersamaan, sang wasit diam saja. Gw berpikir lagi, jikalau gw yang jadi wasit, pemain tersebut akan gw ganjar technical foul!

Lalu ada pula pemain yang bercanda dengan wasit. Ketika bercanda, tanpa segan sang pemain melap tangannya yang basah oleh keringat ke celana wasit dan wasit diam saja. Damn! Si pemain kurang ajar, dan wasit mau aja lagi digituin!

Ketika meniup peluit untuk menyatakan pelanggaran ketika terjadi kemelut di bawah basket, wasit juga selalu berlari ke arah meja untuk melaporkan pemain mana yang melakukan foul. Pada saat wasit berlari, yang gw rasa bukan sebuah ketegasan mengambil keputusan dan melapor kepada petugas meja, tetapi wasit seolah berlari menghindari protes pemain. Terlihat lucu :P

Bosan juga dengan pernyataan “wasit juga manusia”

Posisi wasit memang krusial. Gak akan ada pertandingan tanpa wasit. Sejauh ini gw setuju bahwa keputusan wasit memang banyak kontroversialnya. Kenapa terasa banyak? Karena kita memang gak pernah menghitung atau menghargai keputusan wasit yang benar. Wasit NBL memang harus meningkatkan mutunya. Kadang gw pikir (lagi) ini mah bukan masalah penguasaan materi perwasitan yang kurang atau pengamatan yang kurang jeli. Melainkan masalah ketegasan dan wibawa. Wasit kita teh kurang berwibawa kayaknya.. Wallahu’alam :P

Catatan Hingga Akhir Seri 3 Solo: Tembakan Gratis yang Disia-siakan

Standar

Setiap kali I Made Sudiadnyana alias Om Lolik mendapatkan kesempatan free throw, gw yakin tembakannya pasti masuk. Lolik adalah pemain NBL yang persentase tembakan free thrownya tertinggi di liga untuk sementara ini. Namun seringkali perkiraan gw keliru. Lolik pun gak seakurat itu saat mengeksekusi penalti. Kadang hanya satu dari dua kali percobaan saja yang masuk. Persentase free throw Lolik adalah 68,1%. Tertinggi di NBL Indonesia.

Tidak ada tekanan atau penjagaan langsung dari pemain lawan saat melakukan free throw. Paling hanya tekanan penonton atau beban mental dari sang pemain sendiri yang menjadi halangan. Tapi tetap saja, free throw jarang yang dieksekusi dengan baik. Seorang penembak yang bagus ada tiga kategori: Ketiga, mampu memasukan bola saat menembak tenang tanpa halangan. Kedua, mampu memasukan bola saat menembak dan dalam penjagaan lawan. Pertama, mampu memasukan bola saat menembak, dalam penjagaan lawan, dan dalam sebuah pertandingan. Menembak freethrow ada di dalam kategori pertama dan ketiga.

Seringkali free throw dapat menentukan kemenangan sebuah tim. Jika saja Muba Hangtuah dapat memanfaatkan free thrownya dengan baik saat melawan Satria Muda di pertemuan pertama, sangat mungkin Muba Hangtuah akan menang meskipun Satria Muda juga memasukan semua free throw mereka. Tembakan gratis ini disia-siakan. Padahal dampaknya sangat luar biasa.

Meremehkan free throw? Jarang latihan? Atau apapun alasannya, sebenarnya ini adalah skill pertama yang membuat kita sebenarnya mampu bersaing dengan NBA. Sayang, tembakan tanpa penjagaan ini pun kita gak hebat-hebat amat. Persentase tertinggi hanya 68,1%. Di NBA? Sejauh ini 91,3% :(

Ramalan Kecil yang Jadi Kenyataan :)

Standar

Bukan tanpa sebab sebelum Seri 3 Solo gw meramalkan melalui twitter bahwa Pelita Jaya yang belum terkalahkan akan menemui kekalahan pertamanya di Solo dan juga sebaliknya Angsapura yang belum pernah menang akan akhirnya bertemu dengan dewi fortuna di Solo juga. Semuanya sudah tergambar di pertandingan-pertandingan sebelumnya.

Pelita Jaya sebelumnya memang belum pernah terkalahkan. Namun kemenangan-kemenangan Pelita Jaya waktu itu umumnya bukanlah kemenangan mudah dengan selisih angka jauh yang membuat pemainnya bisa sedikit bermain di atas angin di ujung kuarter. Kemenangan Pelita Jaya pada umumnya adalah kemenangan tak mudah yang berhasil mereka rebut pada menit-menit terakhir laga.

Angsapura tinggal menunggu waktu untuk bersua dewi fortuna. Permainan mereka dari turnamen preseason hingga beberapa pertandingan di Seri 3 Solo benar-benar menunjukan tren yang meningkat. Skill dan individu pemainnya memang tak kalah dengan tim-tim NBL lain. Kekurangan Angsapura selama ini hanyalah mental bermain dengan semangat tinggi yang belum terbentuk sebagai akibat minimnya pengalaman. Hal ini hanya bisa dibentuk oleh waktu. 15 laga akhirnya harga yang dibutuhkan Angsapura untuk mendatangkan dewi fortuna, dan Citra Satria Jakarta yang mengantarkannya :)

Mencari Bocoran Bersama Coach Danny Kosasih :)

Standar

Ketika pertandingan Muba Hangtuah melawan Stadium Jakarta tengah berlangsung sore kemarin (16/12), hujan deras mengguyur kota Solo. Tak terkecuali tentunya Sritex Arena. Meskipun hujan deras di luar arena, hanya setitik-dua titik saja yang berhasil menembus jatuh ke dalam lapangan. Uups, bocoorrr!!! :D

Tentu saja tak terlihat di mana persisnya tetesan air itu jatuh, namun seingat gw, melihat gencarnya mas-mas tukang pel melap di lokasi lantai yang sama, gw teringat C-Tra Arena di Bandung. Lokasi bocornya kurang lebih sama. Lalu gw mencoba mengingat-ingat kembali dan akhirnya gw pun ingat (jelek banget kalimatnya) bahwa DBL Arena pun mengalami kebocoran kala arena basket keren tersebut terguyur hujan deras. Bocornya di lapangan tapi gw gak ingat sebelah mana tepatnya.

Saat menyaksikan game Muba Hangtuah versus Stadium yang diselingi oleh tukang lap yang mengeringkan lokasi bocor, di sebelah gw duduk head coach Angsapura Salatiga, Danny Kosasih. Terjadi obrolan singkat antara gw dan coach Danny. *tepatnya coach Danny yang nyeletuk, gw yang kebawa..hehee..

“Saya bingung dengan GOR yang bocor begini. Saya bilang ke pemiliknya ‘kok gak ditutup bocornya?’ Mereka bilang ‘wah sulit nyari bocornya pas siang-siang, gak ketemu,’ kata mereka,” celetuk coach Danny Kosasih. “Padahal menemukan titik kebocoran itu mudah banget,” sambung coach Danny.

Gw yang duduk di sebelahnya nanya “emang bagaimana cara nyarinya coach?”

“Nyari siang hari yaa gak akan ketemu! Nyarinya ya harus malam hari. Nyalakan lampu di dalam GOR, lalu panjat atap GOR dari bagian luar, selesai, ketemu bocorannya!” jawab coach Danny.

Cerdas!!! :D

Ikatan Kimiawi yang Mulai Terasa :)

Standar

Garuda akhirnya mampu kembali menang atas Stadium yang pada dua pertandingan sebelumnya berturut-turut mengalahkan Garuda. Rapatnya pertahanan Garuda di kuarter pertama membuat Stadium hanya mampu mencetak satu angka saja, sementara Garuda melesat dengan 20 angka.

Pada akhir pertandingan Garuda menang dengan skor 62-45. Kebahagiaan gw sebagai fan bukan hanya karena kemenangan saja, tetapi lebih kepada mulai terasanya kembali ikatan kimiawi (chemistry) antara pemain Garuda. Gw rasa ini hal yang paling mengesankan bagi Garuda dan fans dari pertandingan tadi :)

Nalar yang Kacau! Dan Logika Orang-orang Normal!

Standar

Sebut gw naif, polos, bau kencur, atau masih hijau dan belum banyak paham apa-apa tentang banyak hal. Kejadian yang terjadi tadi malam menunjukan kenaifan gw atau mungkin juga nalar gw yang kacau.

Malam tadi terjadi sebuah peristiwa penting-gak penting dalam dunia basket Indonesia. Pemilihan ketua umum Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia, disingkat Perbasi yang hasil akhirnya mengolok-olok logika naif gw.

Singkat cerita, tersebutlah bahwa organisasi pecinta basket terbesar di Nusantara yang direstui dan disokong pemerintah ini tengah mencari seorang ketua umum baru. Beberapa nama muncul sebagai kandidat. Empat orang tepatnya; Maruarar Sirait, Anggito Abimanyu, Ary Sudarsono, dan Azrul Ananda. Dua nama yang pertama gw sebutkan tak begitu akrab bagi gw. Dua nama berikutnya sudah sangat populer di kancah bola basket dalam negeri.

Kabarnya, sebelum-sebelumnya dalam mencari seorang ketua umum baru bukanlah hal yang rumit bagi Perbasi. Kerap kali calon ketua hanyalah satu orang dan seringkali terpilih secara aklamasi. Kali ini berbeda. Empat orang bergairah ingin berada pada posisi tersebut.

Siapakah Maruarar Sirait? Gw gak tahu, yang gw ingat, ia kerap berseliweran di televisi pada saat heboh kasus Bank Century. Itu yang gw ingat.

Lalu siapa Anggito Abimanyu? Seorang cendekia. Guru besar ekonomi di Universitas Gajah Mada dan mantan wakil menteri keuangan yang tak mau lagi duduk di pemerintahan karena (katanya) kecewa sebab tak diangkat menjadi menteri ketika yang ia wakili, Sri Mulyani memilih jabatan baru sebagai salah satu direktur Bank Dunia (World Bank). Anggito katanya sempat aktif dalam dunia basket Indonesia dengan pernah menjadi salah seorang pengurus klub Indonesia Muda di Kobatama/IBL.

Ary Sudarsono, gw kenal Ary Sudarsono karena ia dulu adalah seorang komentator basket di televisi. Anak muda angkatan gw pasti akrab dengan namanya. Ary Sudarsono juga pernah menjabat sebagai Direktur IBL (nama sebelum berubah menjadi NBL). Terakhir kali melihat Ary Sudarsono, ia menjadi announcer pada pertandingan terakhir petinju kebanggaan Indonesia, Chris John. Yes, itu bung Ary yang memperkenalkan kedua petinju.

Azrul Ananda, ah kita semua tahu lah siapa orang yang satu ini.

Dalam perjalanan menit-menit menuju pemilihan, Maruarar dan Ary mengundurkan diri. Tinggalah Anggito dan Azrul yang tersisa dan harus melewati mekanisme voting untuk menentukan siapa yang menjadi ketua umum yang baru. Siapa yang gw jagokan? Tentu saja Azrul Ananda. Tetapi agar terlihat bijaksana, gw mengatakan juga bahwa asalkan yang terpilih berhasil memajukan basket Indonesia tentu gw dukung. Siapapun ia. Itu agar terlihat bijaksana. Namun tentu saja gw gak sebijaksana itu. Mengatakan mendukung siapa saja asal demi kebaikan rasanya (maaf) terlalu cemen, main aman. Gw berpihak kepada Azrul Ananda.

Keberpihakan gw tentu bukannya tanpa alasan. Keberpihakan yang (tadinya gw pikir) berdasarkan nalar yang sehat. Ketika banyak orang bermimpi membangun kembali basket Indonesia menjadi lebih baik, Azrul melakukannya. Ketika para pecinta basket bermimpi ada liga pelajar se-Indonesia yang heboh, ramai, dan berkualitas, Azrul bersusah payah membangun DBL dari nol. Ketika penyelenggara IBL yang lampau dengan duka rela lara menyatakan tak mau lagi mengadakan liga profesional terbesar di negeri ini, Azrul menyelenggarakan NBL. Ketika banyak orang bermimpi untuk bertemu atau mendatangkan para pemain NBA ke Indonesia, Azrul bahkan mengajak NBA untuk menyumbang ilmu kepada anak-anak muda Indonesia. Ketika kita bermimpi mampu mengadakan kerjasama internasional dengan basket dunia luar, Azrul meyakinkan dunia luar bahwa merekalah yang ingin bekerjasama dengan Indonesia. Ketika kita berharap para pelajar Indonesia mampu bersaing dengan para pelajar negara-negara lain, Azrul membuktikan bahwa pelajar kita pun bisa menang melawan pelajar-pelajar dari luar negeri. Ketika kita baru bermimpi, berbicara ide, memaparkan konsep, Azrul bukan saja telah melakukannya, tetapi melakukannya dengan sangat baik serta tanpa dukungan pemerintah!

Azrul sudah sangat sibuk membangun liga pelajar DBL dan liga profesional NBL. Dia sangat super sibuk. Ketika mencalonkan diri menjadi ketua umum Perbasi tentu saja gw menganggap ia menambah-nambah pekerjaan. Tetapi sekali lagi ketika ia dengan mantap mengatakan bahwa ia serius ingin mencalonkan diri menjadi ketua umum Perbasi, gw tahu ia mampu. Karenanya gw dukung.

Gw berpikir bahwa akan sangat sulit mengendalikan sekian banyak kepengurusan cabang Perbasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Bagaimana cara Azrul menjalankannya? Sulit pasti “memegang” orang-orang di daerah dengan segala keaneka-ragaman karakter dan kepentingannya. Namun logika sederhana gw mengatakan hal tersebut justru sangat mudah bagi Azrul mengingat apa yang tengah dan sedang ia lakukan selama ini dengan liga pelajar DBL yang tersebar di seluruh Indonesia. Azrul selalu memberdayakan para pegawainya yang bekerja pada surat kabar-surat kabar miliknya yang menggurita ke daerah-daerah. Azrul tinggal memberdayakan (lagi) mereka untuk menjadi “mata dan pelaksana” yang lebih kuat baginya dibandingkan orang-orang yang memang sudah berada di dalam Perbasi sendiri.

Anggito Abimanyu? Seorang teman di twitter yang juga seorang wartawan senior, mas Eko Widodo mengatakan bahwa konsep yang diusulkan oleh bapak Anggito lebih holistik dibanding Azrul. Gw sih gak tahu apa konsep pak Anggito. Namun demikian, gw percaya bahwa konsep pak Anggito mungkin lebih baik daripada Azrul, lebih holistik. Bahkan mungkin jaauuuhhh lebih baik. Tetapi sekali lagi, itu baru sebatas ide dan konsep. Azrul sudah bergerak melampauinya jauh di depan. Apa yang dikerjakan Azrul sudah sangat berdampak. Jauh lebih menyeluruh. Azrul memajukan pendidikan anak-anak basket yang kerap kali adalah anak-anak yang biasanya justru yang kemampuan pendidikannya di bawah teman-temannya yang lain. Azrul bahkan menyatukan mereka dalam semangat persatuan yang membawa nama negara Indonesia. Bukan dalam dunia mimpi berlipat bak film Inception, tapi kenyataan. Konsep sudah basi di tangan Azrul. Semuanya masalah tindakan.

Semua orang tahu apa yang telah dan sedang dilakukan Azrul. Presiden dan menteri tahu apa yang ia usahakan. Sebagai orang Indonesia gw bangga atas apa yang ia lakukan. Cita-cita pribadi gw, ia yang mewujudkannya. Nalar bodoh gw berpikir, apa yang ada dalam benak gw sama seperti apa isi kepala orang-orang. Gak mungkin orang basket di Indonesia gak tahu apa yang telah dan sedang Azrul lakukan.

Dengan sedemikian banyak dan panjang rekam jejak Azrul yang sudah dan masih ia tuliskan, gw optimis bahwa sesama saudara yang ingin melihat kemajuan basket Indonesia akan mendukung Azrul menjadi ketua umum Perbasi. Demi Perbasi yang super jauh lebih baik. Apa yang pernah dilakukan Anggito Abimanyu? Ia pernah aktif di tim basket Indonesia Muda. Itu dulu. Dan oh, Anggito Abimanyu cinta pada basket. Sama seperti gw dan Erik teman gw atau Herdian teman gw yang mantan pemain profesional atau Pandji, rapper yang masih rutin main basket. Anggito Abimanyu adalah seorang ekonom ulung. Guru besar salah satu perguruan tinggi terkemuka di Asia

Atas dasar-dasar tersebut, gw hakul yakin Azrul akan terpilih menjadi ketua umum Perbasi yang baru. Tetapi itu dia, nalar gw ngaco. Logika gw tidak bekerja layaknya logika normal. Apa yang gw tahu, apa yang gw pikir orang-orang tahu ternyata berkebalikan dengan logika orang-orang normal. Anggito Abimanyu mengalahkan Azrul dengan 133 suara melawan 68 suara saja yang mendukung Azrul.

Semuanya berawal dari mimpi Dan. Mimpi pak Anggito indah. Ah atuh laah, siapa yang mau terus berada di alam mimpi ketika kita berada dalam dunia nyata yang jelas-jelas kita impikan. Wake fucking up!

Selamat Ulang Tahun Coach Nathan dan Faisal (Faisal dalam Perspektif Gw)

Standar

Keduanya adalah sosok yang gw kagumi selama NBL Indonesia 2010-2011 ini.. Oh, sebelumnya, Coach Nathaniel Canson kemarin (12/12) berulang-tahun ke 70 sementara Faisal J Achmad hari ini merayakan hari jadi ke 29. Happy birthday :D

Nathaniel Canson

Setelah menangani Satria Muda di awal tahun 2000, coach Nathan kembali ke San Fransisco dan memilih menghabiskan waktu bersama cucu-cucunya di sana. Muba Hangtuah adalah tim yang berhasil membujuk coach Nathan untuk nyemplung lagi berbagi ilmu untuk basket di Indonesia. Musim lalu (ketika masih bernama IBL), Muba Hangtuah tak masuk radar kekuatan tim yang patut diwaspadai. Coach Nathan masuk, dan langsung merubah pandangan setiap orang. Di tangan beliau, Buggi Setyawan seolah terlahir kembali, demikian pula Dian Heriyadi yang adem ayem berubah garang menakutkan. Mendapat asuhan dari coach Nathan, Robert Yunarto pun kini menjadi salah satu point guard terbaik di Indonesia.

Faisal Julius Achmad

Faisal adalah pemain paling produktif di Satria Muda saat ini. Jauh di atas Youbel Sondakh yang tadinya gw anggap menjadi kunci penting bagi Satria Muda. Sejauh ini, setelah melewati 12 game, Faisal sudah mencetak 152 poin (tertinggi di tim), 53 rebound (urutan 4 di tim), 51 assist (tertinggi di tim), 20 steal (tertinggi di tim), 0 blok (well, he doesn’t have to :P).

Bagi gw, di musim 2010-2011 ini, Faisal adalah Satria Muda dan Satria Muda adalah Faisal. Mengapa demikian? Karena beberapa pemain utama/senior Satria Muda mulai terlihat lamban bahkan beberapa sudah tak nampak lagi semangatnya, apinya mulai meredup. Berbeda dengan Faisal. Ia tetap garang dan tampil sebagai Faisal yang gw tahu ketika di lapangan: ngotot, hebat, cerdas, akurat, dan bermental baja (bahasa lembut dari: songong –sori Sal :D). Faisal tidak peduli apakah ia main untuk ABL atau NBL, dia mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya.

Kelebihan Faisal lainnya di lapangan adalah ia setia mengawal para pemain junior Satria Muda untuk mengambil tongkat estafet dari para pemain senior. Faisal akan bermain ngotot, memperlebar jarak raihan angka agar akhirnya coach Ito punya kesempatan memberi pengalaman kepada pemain muda mulai mencicipi kerasnya NBL Indonesia. Jika Faisal tidak “mengamankan” suasana, gw ragu pemain seperti Julius (adik Faisal), Vamiga, Schiffo, bahkan Ronaldo Sitepu mendapat kepercayaan bermain dari coach Ito.

Tentu saja tak bisa mengerdilkan peran pemain Satria Muda lainnya, namun jika tak ada Faisal, rasanya pemain lain Satria Muda gak akan maksimal :)

Fans Solo yang Tenang :)

Standar

Setelah melewati pertandingan turnamen preseason di Malang, Seri 1 Surabaya, dan Seri 2 Bandung, dan kini Seri 3 di Solo gw menemukan karakter penonton yang khas dari setiap kota :)

Malang dan Surabaya memiliki karakter yang kurang lebih sama. Dua kota ini fanatik kepada tim yang mewakili kotanya; CLS Knights Surabaya dan Bimasakti Malang. Walau demikian, warga Surabaya dan Malang sangat apresiatif terhadap tim manapun yang bermain baik ataupun populer. Tak heran, kala Garuda atau Satria Muda bertanding, keduanya mendapat sambutan yang hangat.

Bandung hanya untuk Garuda! Publik Bandung kerap tidak peduli dengan pertandingan apapun seseru apapun jika bukan pertandingan Garuda. Setiap pertandingan Garuda selalu dipenuhi fans fanatik yang berteriak kencang bahkan bernyanyi Halo-halo Bandung atau Garuda di Dadaku. Semua sepakat, fans Garuda di Bandung paling heboh!

Solo yang tenang :) Hari ini Sritex Arena penuh! Umumnya datang menyaksikan pertandingan Angsapura Salatiga melawan Stadium Jakarta dan CLS Knights Surabaya kontra Satria Muda Jakarta. Namun walaupun Sritex Arena terisi penuh, tak ada keiuhan kegaduhan kemeriahan semaraknya suporter. Fans di Solo sangat tenang. Gw bahkan jarang mendengar tepuk tangan yang ramai :D

*foto di atas adalah fans Bandung