7 Alasan Mengapa Pemain IBL Tidak Boleh Bermain di Kompetisi Lain

Standar

Tulisan ini boleh dikatakan sebagai lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Pemain IBL 2010 Tidak Boleh Bermain di Liga Lain!” dan mendapat perhatian cukup banyak, baik oleh pembaca blog maupun followers gw di twitter.

Sebelum dilanjutkan, kiranya perlu dicamkan bahwa yang tidak boleh bermain di kompetisi liga lain tersebut adalah PEMAIN bukan TIM atau KLUB IBL. Dan perlu disadari juga bahwa menurut hemat gw, aturan tersebut ada demi kebaikan para pemain sendiri, tim yang ikut serta, liga IBL, bahkan kepentingan basket nasional! Silahkan:

Pemain bukan manusia super

Bermain untuk sebuah liga IBL terkadang mewajibkan sebuah tim untuk harus bertanding dua hari berturut-turut dalam sebuah rangkaian seri pertandingan. Ini sering terjadi. Bayangkan jika seorang pemain yang bermain untuk dua kompetisi liga yang berbeda kemudian harus pula bertanding pada hari ke-3 dan ke-4 secara berturut-turut selama 4 hari. Akan berakibat fatal bagi tubuhnya dan akan sangat berpengaruh pada performanya saat bermain. Gw sangat yakin, kualitas penampilannya akan menurun. Ia akan dirugikan. Begitu pula timnya.

Bayangkan juga jika ternyata pertandingannya terpisah di dua kota atau pulau yang berbeda.

Bentrok jadwal pertandingan

Ketika terjadi bentrokan jadwal pertandingan, seorang pemain mau tidak mau harus memilih untuk bermain di kompetisi liga yang mana. Ketidakhadirannya pada salah satu laga yang bersamaan jelas merugikan timnya. Ia bisa menjadi kambing hitam kekalahan tim pada laga yang tidak ia bela. Akan bertambah buruk jika laga yang ia pilih untuk dibela pun ternyata kalah.

Tuntutan profesionalisme

Dua alasan di atas masih berbicara dalam kerangka seorang pemain berlaga di dua kompetisi liga berbeda namun masih dalam satu tim yang sama. Bagaimana jika ia bermain di dua kompetisi liga yang berbeda dan membela dua tim yang berbeda pula? Maka profesionalismenya akan sangat dipertanyakan. Lagi-lagi, seorang atlet bukanlah seorang manusia super. Ia bukan saja harus membagi waktu pada saat laga pertandingan yang berbeda, tetapi juga wajib membagi waktu berlatih untuk dua tim tersebut. Bisa terbayang bagaimana ia memiliki dan membagi waktu jadwal berlatih di dua tim yang berbeda. Bagaimana pula jika waktu berlatihnya pun bentrok? Semakin stress lah si pemain. Ujung-ujungnya, lagi-lagi kemampuan dan penampilannya tidak akan maksimal.

Oh, bagaimana pula jika ia cidera karena bertanding atau saat berlatih di salah satu tim di liga berbeda? Maka tim lain tempatnya bernaung akan sangat-sangat dirugikan (Ibarat tak ikut makan nangka namun terkena getahnya. Apes!).

Pemborosan dan (juga) tuntutan profesionalisme tim

Kembali lagi jika seorang pemain bermain di dua kompetisi liga tetapi masih di dalam satu tim yang sama. Gw tidak meragukan kemampuan finansial sebuah tim IBL. Dengan menyertakan seorang pemain atau lebih untuk mengikuti dua kompetisi liga yang berbeda, maka tim tersebut harus mengeluarkan uang lebih banyak dalam rangka mengikuti dua liga tersebut. Dan secara profesional pun tim tersebut harus membayar lebih banyak kepada sang pemain. Bukan karena si pemain berada di dalam “satu perusahaan” maka ia digaji seperti biasa. Ini sama saja bahwa pemain tersebut bekerja untuk sebuah perusahaan dengan beban kerja ganda.

IBL sebagai sarana pengembangan sosial budaya akan sulit tercapai

IBL nantinya akan berkembang layaknya NBA. Ia bukan sekadar organisasi yang mewadahi pertandingan antar klub saja. Ia akan menjadi sebuah “organisasi kemasyarakatan” dengan misi-misi tertentu. IBL akan memiliki banyak pesan dan misi sosial budaya yang akan disampaikan kepada masyarakat dalam bentuk berbagai kegiatan, dan semua pemain, pelatih, dan semua pecinta IBL akan berkomitmen mendukung ini. Bagaimana jadinya jika saat IBL memiliki kegiatan non-pertandingan berupa (contohnya) kunjungan ke panti asuhan atau kegiatan pelestarian lingkungan hidup harus berakhir kurang sempurna hanya karena salah satu pemain yang seharusnya hadir atau harapan publik untuk ikut hadir dan berkontribusi positif berhalangan karena harus bermain di liga lain?

Sisi bisnis dan ekonomi IBL dapat terhambat

Jangan lupa juga, IBL itu punya potensi nilai ekonomi yang sangat-sangat luar biasa. Ia bisa menghidupi bukan saja pemain, pelatih, atau ofisial yang terlibat langsung tetapi juga banyak orang yang mungkin tidak terpikirkan oleh kita, semisal penjual minuman ringan di depan stadion, atau bahkan pekerja pabrik tekstil di antah-berantah yang tidak tahu sama sekali apa itu IBL. Bermain di dua kompetisi liga juga akan menghambat tujuan ini. Tentu saja lagi-lagi terkait hal jika ia harus memilih antara dua pilihan krusial bagi kepentingan kemajuan bisnis dan ekonomi dua kompetisi liga yang ia ikuti.

Ujung-ujungnya, basket nasional akan semakin terpuruk

Gw rasa teman-teman akan mampu menambahkan sendiri lebih banyak kekurangan daripada keuntungan akibat dari seorang pemain IBL yang juga bermain di kompetisi liga lain. Ujungnya adalah si pemain justru menghancurkan dirinya sendiri. Merusak potensinya sendiri. Kemampuan bermain basket yang seharusnya maksimal jika difokuskan malah setengah-setengah hanya karena ia harus membagi tenaga dan pikirannya untuk dua kompetisi liga yang berbeda. Kalau sudah begitu, siapa yang dirugikan? Bukan hanya individu pemain itu saja tetapi juga bangsa ini.

Pandanglah jauh ke depan. Belajarlah kepada yang lebih jago. Lihatlah NBA, tak ada pemain yang bermain di dua kompetisi atau liga yang berbeda (terlepas dari gaji mereka yang sangat tinggi).

Pekerjaan membangun basket nasional Indonesia untuk menjadi jawara dunia maupun sebuah hal yang membanggakan dari sisi olah raga, sosial, budaya, dan ekonomi bukanlah pekerjaan Sangkuriang atau sang pangeran yang naksir Roro Jonggrang.

About these ads

12 thoughts on “7 Alasan Mengapa Pemain IBL Tidak Boleh Bermain di Kompetisi Lain

  1. intinya adalah fokus! you want to achieve something, you focus on it. jadi gimana mau jadi profesional dan memajukan basket kalau pemainnya pecah konsentrasi dan sering kelelahan atau bahkan cedera? stuju banget sama alasan2 ini!

    ayo patuhi!

  2. halim

    ohhh ternyata SM nggak ngewakilin indonesia di ABL ??? baru tau gw, tapi gw setuju ma sist christy stay focus on what we want to achieve… itu yang utama, so up to SM which one ABL / IBL ???? pasti ada solusinya kan.

  3. Icha

    Hiromu Arakawa once said, “Human kind cannot gain anything without first giving something in return. To obtain, something of equal value must be lost”. Memang harus memilih, dimana kita mau meletakkan yg terbaik,bukan berarti membuang peluang tp belajar memprioritaskan. Hidup IBL!

  4. hendrymuliana

    Bro Idan, gue setuju sama tulisannya walau agak kecewa karena sebelumnya gue mengharapkan Bro Idan membahasnya dari sisi tujuan aturan itu dibuat dengan bercermin pada peraturan-peraturan di liga-liga lain di luar negeri.
    Kalau tulisan ini nampaknya lebih merupakan opini subjektif yang memang juga bisa dikatakan objektif.

    Gw setuju sama bro idan dan Christy bahwa pemain harus fokus, tidak merugikan klub dan tidak mencederai diri sendiri.

    Question: itu semua tanggung jawab dan harus dikontrol oleh siapa? Tentunya Klub dan pemain itu sendiri. Misalnya begini: SM mendaftarkan beberapa pemain ABL-nya di IBL. Maka seberapa banyak pemain-pemain tersebut bermain di IBL tentunya akan dipertimbangkan oleh Coach dan Manajemen, seperti faktor kelelahan, jadwal, fokus, dll.

    Jadi sepanjang Manajemen, Coach dan pemain sepakat untuk pembagian “minute plays” dengan mempertimbangkan semua faktor tadi, maka menurut gw sah-sah saja seorang faisal Ahmad bermain di IBL dan ABL. semua kembali berpulang pada manajemen dan tim.

    Untuk kompetisi yang sangat banyak dan ketat seperti NBA (minimal 72 game semusim) jelas saja aturan ini sangat tepat untuk diterapkan. Tapi di Indonesia dnegan kompetesi yang jarang-jarang? saya rasa kita kembali harus mempertimbangkan esensi dan tujuan dari dibuatnya aturan IBL tersebut (seperti comment saya di tulisan sebelumnya).

    Jadi buatlah aturan yang dapat diaplikasikan dengan kondisi dan keadaan. Jika aturan tersebut tidak sesuai lagi, ayo rubah aturannya.
    gimana?

  5. mainbasket

    @hendrymuliana, terima kasih mas Hendry. Barangkali memang agak mudah membagi jatah “minute play” dan sebagainya bila seorang pemain berada dalam satu tim (walaupun gw yakin ketika dipraktekkan, “minute play” ini bukanlah sesuatu yang bisa dijatah dengan mudah. Ia sangat tergantung dari kondisi performa tim saat bertanding.). Harus diantisipasi juga jika seorang pemain bermain di dua kompetisi liga yang berbeda dan dengan dua tim yang berbeda pula, pasti lebih ribet ngaturnya (bayangkan misalnya Mario Wuysang kelimpungan ngatur jadwal di IBL dengan Garuda kemudian di ABL dengan Satria Muda. Ia harus memprioritaskan yang mana? Kalau penampilan Mario di Garuda buruk, gw dan fans Garuda akan menyalahkan kiprahnya di dua tim yang berbeda ini).

    Seorang pemain bukan hanya bertanggungjawab terhadap timnya, tetapi juga terhadap IBL. IBL nanti memiliki kekuasaan untuk memberi tugas atau peran kepada seorang pemain untuk berkegiatan yang bertujuan mengangkat citra IBL. Kalau di NBA itu mirip-mirip kegiatan seperti NBA Cares, NBA Green, Coaching Clinic, dll. Jika seorang pemain berhalangan ikut kegiatan ini hanya karena dia harus bermain di liga lain maka perkembangan IBL sebagai sebuah liga basket yang solid akan terhambat.

    Memang benar seperti kata @donny di komentar di tulisan sebelumnya bahwa aturan ini bersifat antisipatif. Bukankah semua aturan juga bersifat antisipatif? Dan sebenarnya, alasan-alasan logis gw di atas sudah benar-benar pernah terjadi pada kasus Satria Muda (jadwal Turnamen IBL yang dipaksakan dirubah mengikuti jadwal ABL, maupun pemain Satria Muda yang mengeluh kelelahan karena harus tampil di IBL dan ABL. Belum lagi dengan jika (JIKA) nantinya Mario Wuysang bermain di dua tim berbeda di dua liga berbeda.)

    IBL ini harus dibangun dengan serius dan benar mas. Tiga tahun ke belakang IBL benar-benar parah. Salah satu penyebabnya adalah inkosistensi dalam melaksanakan aturan-aturan itu.

    Pembangunan dan pembenahan IBL ini harus dilakukan perlahan-lahan. Harus satu-satu. Aturan pun dibuat untuk kemajuan. Saya yakin, penyelenggara IBL yang baru pun tidak mampu menjamin bahwa IBL akan lebih ramai ketika mereka pegang. Tetapi kita harus menghargai usaha untuk membenahi ini semua.

    Kita juga harus menghargai peserta IBL yang lain mas. Peserta IBL yang hanya mengikuti IBL saja. Sangat-sangat tidak adil ketika mereka harus berkorban/mengalah untuk kepentingan subyektif pemain/tim lain yang tidak terkait dengan IBL dan malah mengganggu irama konsistensi liga IBL.

    Kalau dipikirkan baik-baik dan mendalam, saya rasa mas Hendry setuju bahwa bermain di dua kompetisi liga itu justru merugikan.

  6. hendrymuliana

    Bro Idan,

    Situasi “minute play” dan fokus memang tidak akan dapat terjadi pada kasus seperti Mario Wuysang yang bermain di Garudan dan SM. Jadi ketika terjadi kasus seperti Mario, maka saya setuju sepenuhnya dengan Bro Idan dan tidak ada solusi bagi seorang Mario kecuali dia harus memilih salah satu kompetisi. Untuk kasus seperti Mario, bukan hanya fokus dan kinerja, tapi loyalitas kepada 2 tim yang notabene sama-sama ikut IBL juga menjadi pertanyaan besar. Bagaimana jika Mario gak sepenuh hati bermain ketika Garuda bertemu SM? dan untuk hal ini tidak ada tolak ukurnya. Jadi lagi-lagi saya setuju sama Bro Idan.

    Pendapat saya mengenai minute play hanya bisa dijalankan apabila semua pihak konsisten dengan komitmennya. Hal ini juga lagi-lagi tidak ada tolak ukurnya seperti yang Bro Idan sampaikan. Tapi bukan berarti tidak mungkin dilaksanakan bukan? Seorang Coach Ito harusnya berhitung betul masalah ini.

    Untuk program IBL saya juga setuju, dimana setiap pemain walau bermain di ABL tentu saja harus juga berkomitmen dengan kemajuan IBL. Tapi apakah iya IBL hanya punya 12 orang pemain SM yang bisa menunjang program2xnya? Kan ada puluhan pemian dari tim-tim IBL lainnya. Kecuali ABL juga kemudian diikuti oleh tim-tim IBL lain, maka kita harus berpikir ulang tentang konsep ini.

    Soal aturan, saya berpendapat bahwa aturan itu dapat bersifat antisipatif dan juga dapat sebaliknya. Aturan atau hukum selalu kalah cepat oleh dinamika masyarakat, itu sih teori yang pernah saya baca. Jadi kembali lagi kita harus renungkan dulu bersama tentang esensi dan tujuan dari dibuatnya aturan itu sendiri, baru dari situ kita bisa berangkat mencari solusi. Hal ini rasanya yang belum dijawab sama Bro Idan.

    Untuk mengevaluasi aturan ini, mari kita buat perbandingan pro dan kontranya. Bagian kontra rasanya sudah dikemukakan oleh Bro idan di tulisannya dan saya sependapat.
    Sisi pro-nya, saya melihat adanya peningkatan kualitas basket yang signifikan bagi SM yang kebanyakan pemainnya juga ikut bergabung di Timnas. Kalau aturan ini ditegakkan dan kita tetap ingin mencapai kualitas teknis yang baik, apa solusinya? apakah ada solusi yang baik untuk tetap mencapai tujuan peningkatan kualitas? kita pernah menerapkan impor 2 pemain asing di jaman Kobatama, hasilnya? kita hanya lihat hampir semua statistik dikuasai pemain asing tanpa ada peningkatan yang berarti bagi pemain lokal. Karena apa? karena semua tim hanya mengejar kemenangan.

    Kalau saya boleh bandingkan dengan SM, lihat keberadaan Naikea Miler dan Alex Hartman di IBL. Mereka harus mengikuti instruksi Coach Ito dan bukan semata-mata menjadi target pemegang bola dan scorer. Mereka menjadi pencetak skor karena pola yang harus mereka patuhi. Mario, faisal dan wenda menurut saya menjadi point plus sebagai pengatur ritme permainan sesuai instruksi coach. RonGu bahkan menjadi top skor di final ABL game 2 dan 3 bagi SM. Dia mencetak angka dari bawah ring, medium shot dan bahkan 3 point shoot. Saya jarang lihat RonGu melakukan ini di IBL karena dia lebih memanfaatkan tinggi badannya untuk bersaing di bawah ring. Tapi ABL memaksa RonGu untuk improvisasi dan meningkatkan skillnya dengan memiliki akurasi 3 point yang baik. Apakah hal ini bisa kita capai apabila RonGu dan pemain-pemain lainnya hanya bermain di IBL?

    Jadi mari kita cari solusi terbaik dan mengukur pro dan kontra bagi kemajuan basket Indonesia. Happy for discussing this thing with you brader :p

  7. Hay

    Wow, diskusi yang kaya. Mau turut nimbrung nih.
    Saya tidak tahu, apakah keikutsertaan Satria Muda di ABL itu sudah reguler dengan pengesahan hitam di atas putih sehingga ibaratnya SM ikut NBA dan ABA sekaligus, ataukah SM ikut ABL sebagai perwakilan champion Indonesia. Mohon pencerahan, soalnya selama ini persepsi saya ABL itu ibaratnya liga Champion, setelah baca blognya mas Idan baru dapet perspektif baru hehehehe….

    Hati saya mendua (ciee) dengan pendapat mas Hendry dan mas Idan, saya setuju dengan keduanya, dan tidak setuju dengan keduanya, nggak konsisten ya hahaha…

    Saya setuju dengan pendapat mas Idan bahwa pemain IBL ga boleh bermain di liga lain karena alasan yang sudah disebutkan, apabila ternyata konsep ABL adalah seperti yang opsi pertama yang saya tanyakan tadi. Tapi saya juga tidak setuju dengan pendapat mas Idan apabila ternyata konsep ABL itu sebagai liga Champion, karena saya pengen lihat CLS main di sana =)

    Begitu juga dengan pendapat mas Hendry, setuju bila ternyata ABL itu tempatnya jawara, tidak setuju bila ternyata jadinya madu dua.

    Untuk memecahkan masalah ini, dibutuhkan koordinasi yang konsisten dan berskala besar antara IBL dan eeehh..SEABA ya? Karena menurut saya dibutuhkan sekali kompetisi regional seperti itu untuk benchmarking kemampuan atlit2 kita dan masa sih puas jadi kura2 dalam tempurung, pasti ada dong keinginan menjajal kemampuan negara2 lain. Tapi tentu saja, jangan sampai pada akhirnya malah mengganggu kompetisi domestik sendiri. Mungkin langkah sederhananya adalah menyelaraskan jadwal liga2 domestik, sehingga setelah post season, bisa diadakan ABL yang diikuti CLS..eh maksud saya jawara IBL dan liga2 di negara2 lain hehehehe…tapi itu hanya pendapat naif dari saya, yang saya tahu butuh usaha yang tidak mudah, tapi bisa dilakukan.

  8. hendrymuliana

    Mas Hay,

    Sepengetahuan saya ABL itu adalah liga profesional yang dibentuk atas insiatif sendiri. Jadi bukan Liga Champion-nya Asia Tenggara. Siapa saja boleh ikut ABL asal bisa memenuhi semua persyaratannya. CLS bisa ikutan juga tuh biar ada 2 wakil Indonesia.

    Sy ingin sedikit menambahkan tulisan saya di atas bahwa ABL juga diperlukan sebagai salah satu (apa satu-satunya ya?) benchmark bagi perkembangan skill pemain-pemain basket kita setidaknya untuk kawasan asia tenggara (asia kayaknya masih jauh).

    Karena apabila hanya IBL atau turnamen di luar negeri yang tidak berjadwal saja, kemajuan skill pemain-pemain kita akan lambat majunya. Pemain IBL terbaik akan tahu langsung bahwa skill mereka belum baik ketika ketemu pemain-pemain philipine patriots misalnya. Jadi mereka akan lebih terpacu lagi buat meningkatkan skill mereka dengan benchmark yang lebih tinggi.

    Masalahnya adalah bagaimana mensinergikan itu semua antara IBL dan ABL?

  9. mainbasket

    Hehee, makin seru ajee :)

    @hendrymuliana, “Masalahnya adalah bagaimana mensinergikan itu semua antara IBL dan ABL? (sesuai dengan alasan komentar sebelumnya)” Heheheee, kenapa harus disinergikan bro? Hanya karena SM ikut di sana? Sekali lagi, ABL itu entitas yang berbeda lho. Ia benar-benar liga yang berbeda dan gak ada hubungannya sama sekali dengan IBL. SM ikut ke ABL itu adalah sebagai SM. Bukan SM sebagai bagian dari IBL apalagi mewakili Indonesia secara resmi. Kasus ini mencuat karena SM memakai pemain IBL yang jelas-jelas melanggar.

    Masalah ABL itu benchmark skill pemain IBL, gak bisa dijadikan patokan juga. Singapore Slingers (pakai nama Singapura waktu itu) itu kalah lho lawan Garuda Bandung (pakai nama Indonesia) waktu di Medan. Alternatif benchmark itu nantinya akan banyak. Ada Surabaya International Challenge, dan kejuaraan-kejuaraan regional lainnya (Ganefo, Seaba, Sea Games, Asian Games (amiin), invitasi persahabatan, latihan tanding persahabatan, dll).

    Kalau buat gw, intinya aturan tersebut (1 pemain 1 kompetisi) harus ditegakkan. Karena kandungannya sangat mudah dipahami dan berefek sangat manis nantinya.

    Dan memang peraturan tersebut sudah pasti akan ditegakkan (setidaknya mulai tahun ini). SM pun kabarnya sudah akan menyiapkan dua tim dengan materi pemain yang berbeda untuk ikut ABL dan IBL.

    ABL itu bagus. Tetapi juga nggak/belum segitu bagusnya. IBL pun bisa jauuhhh lebih bagus daripada ABL.

    Sekarang, mari kita tegakkan aturan. Jalankan IBL sesuai aturan dan yang paling penting dukung IBL sepenuh hati. Caranya adalah dengan nonton IBL di stadion dengan membeli tiket resmi. Kita lihat di sana nanti.

    Pembenahan liga lokal dengan tertib adalah jalan terbaik. Kalau semuanya sudah berjalan baik, kekuatan finansial IBL dan setiap tim semakin solid, basket semakin digemari, dan berkembang. InsyaAllah tim peserta IBL akan bertambah. Dan sangat-sangat mungkin kita akan kembali membolehkan pemain asing untuk ikut bermain di IBL, tentunya guna semakin meningkatkan kualitas pemain dan pertandingan.

    Tidak adil jika kita langsung berharap IBL akan langsung nge-boom saat dipegang oleh penyelenggara baru (DBL Indonesia), walau tentunya sangat bersyukur bila itu terjadi.

    IBL saat ini bukan hanya harus memulai lagi dari 0 (nol) tetapi banyak lubang minus yang harus ditambal di sana-sini. Pekerjaan berat bagi DBL Indonesia :) dan kita harus bantu :D

    Pro-kontra akan topik ini sangatlah bagus. Dan sejauh ini gw masih belum menemukan jawaban atau penjelasan yang memuaskan mengapa seorang pemain boleh atau bahkan bisa bermain di dua kompetisi kecuali hal tersebut akan berakibat kurang baik bagi kedua kompetisi yang ia ikuti. Pun, gw minta maaf jika penjelasan gw belum atau sangat tidak memuaskan bagi banyak dari teman-teman.

    Eh tapi kalau masih ada masukan-masukan, tetap berkomentar yaa. Semoga DBL Indonesia membaca masukan dari teman-teman. Terima kasih guys :)

  10. taarii

    menurut gue sebenernya ini bukti susahnya menegakkan peraturan di indonesia, dalam segala bidang.
    gue setuju kalo emang SM harus mengakui bahwa mereka melanggar peraturan.terlepas dari alasan apapun yang dijadika alibi.peraturan adalah aturan yang sudah disepakati bersama dan harus ditegakkan dengan kesadaran bersama.gue akuin gue fans garuda, tapi kalo garuda juga ngelakuin hal yg sama kayak SM, gue pasti akan berpendapat sama.

    ini bukan soal SM, ini tentang aturan yang dilanggar.gue harap SM bisa sportif dan mengakui serta memperbaiki kesalahan.masalah peraturan akan diubah ato nggak, itu masalah nanti.yang penting, sekarang aturan itu masih berlaku.
    gue percaya aturan itu dibuat berdasarkan pertimbangan matang, dan masih bisa disesuaikan dgn keadaan sekarang.

  11. hendrymuliana

    Bro Idan,

    terima kasih atas pencerahannya. Gw akui bahwa pendapat gue nampaknya lebih merupakan “solusi” jangka pendek, sementara pendapat Bro Idan adalah “solusi” jangka panjang.

    Ada 1 hal yang msih bikin gue penasarn dan harusnya sih bisa dijawab sama orang-orang IBL yaitu: dari mana asal muasal aturan itu dan apa tujuannya pada waktu diterapkan di Indonesia? apakah hanya “copy paste” atau memang dimaksudkan untuk hal-hal sebagaimana dikemukakan Bro Idan?

    Btw, Garuda juga ikut melanggar loh aturan ini karena “membiarkan” mario wuysang bergabung dengan SM dan membuatnya menjadi pemain garuda yang bermain di 2 kompetisi berbeda. Gw setuju, aturan yang ada harus ditegakkan dan yang melanggar tetap harus disebut sebagai pelanggar aturan. Tapi yang harus dipikirkan adalah kedepannya.

    Apakah “solusi” jangka pendek dan jangka panjang memungkinkan digabung atau dicari alternatif yang lebih idela ya? sambil kita menunggu kemajuan dari liga lokal.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s