Team SAGE; Tim Basket Pelajar Sacramento dengan IP Rata-Rata 3,8 oleh Azrul Ananda

Standar

Selain menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke markas tim NBA Sacramento Kings dalam 3 tulisan beberapa hari yang lalu, Azrul Ananda masih menyisakan sedikit oleh-oleh dari Sacramento. Sebuah cerita tentang anak-anak yang bersemangat untuk main basket tetapi juga sangat-sangat bersemangat mengejar prestasi akademis.

Saya kali pertama mengenal Team SAGE lewat e-mail. Entah bagaimana, pendirinya, Wornel Simpson, mengirimkan e-mail untuk berkenalan dengan DBL Indonesia, penyelenggara kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia, Honda Development Basketball League (DBL) 2010.

Rupanya, dia sudah mempelajari situs resmi http://www.dblindonesia.com dan melihat ada kesamaan visi dan misi. Saya pun balik melihat situs mereka, http://www.teamsage.org. Dan, ternyata, memang ada banyak kesamaan visi dan misi. Yaitu, menggerakkan anak muda secara seimbang, baik di lapangan basket maupun di sekolah.

Lambang Team SAGE sendiri sudah menarik. Berwarna ungu, ala tim NBA di Sacramento, Kings. Di lambang itu ada gambar perisai, bola basket, dan ijazah perguruan tinggi.

Perisai melambangkan kekuatan dan perlindungan, bola basket melambangkan kegiatan yang menyenangkan, serta memberikan manfaat kesehatan, plus mengajarkan dispilin dan akuntabilitas. Gambar ijazah karena tujuan akhirnya nanti adalah menjalani pendidikan dengan ”benar.”

Ketika berkunjung ke Amerika Serikat (dan Sacramento) awal April lalu, saya pun menyempatkan diri bertemu Simpson dan menyaksikan pertandingan Team SAGE. Simpson, 52, dulu memang bermain basket. Dia membiayai kebanyakan kebutuhan Team SAGE dari kantong pribadi. Kebetulan secara finansial dia lumayan, bekerja sebagai financial advisor.

Untuk fasilitas latihan, dia juga terbantu lewat posisinya sebagai salah satu pengurus Salvation Army di Sacramento. Salvation Army merupakan sebuah organisasi sosial yang sudah dikenal di berbagai penjuru dunia. Untuk latihan, Team SAGE menggunakan fasilitas lapangan di gedung milik Salvation Army, di kawasan Oak Park, Sacramento.

Lapangannya terlihat sangat kinclong. ”Lapangan ini dulu dipakai sebagai tempat latihan Sacramento Kings, ketika kali pertama pindah ke kota ini (pada 1980-an, Red),” terang Simpson.

Untuk latihan non-lapangan, Simpson bekerja sama dengan sebuah gym di kawasan yang sama. Di sana ana-kanaknya bisa berlatih dengan peralatan cukup komplet.

Team SAGE saat ini memang bukan organisasi besar. Hanya memiliki beberapa tim, terdiri atas anak-anak SMP dan SMA. Namun, Simpson punya mimpi besar. ”Huruf G pada kata SAGE bisa berarti global. Siapa tahu, kelak kami bisa punya kerja sama internasional,” ucapnya.

Dalam mengelola Team SAGE, Simpson dibantu beberapa pelatih relawan. Para orang tua pemain juga aktif berpartisipasi.

Di Amerika, basket banyak berkembang lewat sekolah. Karena Team SAGE bukan sekolah, mereka pun bertanding di turnamen-turnamen AAU (Amateur Athletic Union), yang biasa dilakukan di mana-mana, di saat bukan musim resmi basket sekolah. Kalau di Indonesia, seperti turnamen-turnamen antarklub, yang memiliki banyak jenjang dan kelompok umur.

Ketika di Sacramento, saya sempat mengikuti Team SAGE bertanding di sebuah kejuaraan, yang diselenggarakan di Hardwood Palace, di kawasan Rocklin. Waktu itu Simpson menurunkan tim kelas 8 (setara SMP kelas 2 di Indonesia) di kompetisi untuk tingkat SMA. Cukup berani, tapi kualitas Team SAGE memang mumpuni untuk itu.

Hebatnya, tim yang diturunkan Simpson itu merupakan tim anak-anak ”ajaib.” Bagaimana tidak, Simpson menyebut nilai (indeks prestasi) anakanaknya adalah 3,8.

Sempat tidak percaya, ketika jeda pertandingan (hari itu mereka tanding dua kali), saya mendekati beberapa anak. Yang pertama Brandon Thompson, 13, yang sekolah di Carden School. Ketika saya tanya, berapa IP-nya, dengan bangga cowok bertinggi badan 183 cm itu bilang ”4.0.”

Saya tanya lagi, apa pelajaran favoritnya. Cowok dengan ukuran sepatu 46 itu bilang, ”Science.”

Kagum, saya bertanya ke satu anak lagi. Namanya Kevin Sanders, juga 13, yang sekolah di Antelope Crossing. Dia bilang, ”3,8.” Pelajaran favorit? ”Matematika.”

Tidak lama kemudian, saya ngobrol dengan Nathan Sanders, 47, ayah Kevin. Dengan nada santai, sang ayah mengaku agak kecewa dengan anaknya. Kata dia, seharusnya IP sang anak tetap 4,0.

Nathan Sanders sendiri dulu juga atlet. Bukan basket, melainkan sepak bola. Bahkan, dia sempat bermain profesional di Stuttgart, Jerman. Di sana pula dia jatuh cinta dan bertemu ibunda Kevin.

Ketika ditanya siapa bintang Team SAGE, Brandon Thompson menunjuk Terrence White. Dalam hal akademis, White tidaklah secemerlang yang lain. Namun, IP-nya masih 3,3. ”Semua pemain kami meneken kesepakatan. Kalau nilai di bawah 3,3, mereka harus mengikuti pelajaran tambahan,” kata Simpson.

Simpson menambahkan, White cukup istimewa. Baru-baru ini dia terpilih masuk Adidas Super 150 Camp di San Diego, California. Itu tandanya, White diakui sebagai salah satu pemain kelas 8 terbaik se-Amerika.

Ke depan, Simpson berharap terus bisa mengembangkan konsep student athlete Team SAGE. Paling tidak, menginspirasi tim-tim lain untuk mengadopsi aturan yang sama. Dan, seperti disebut di awal tulisan ini, siapa tahu Team SAGE bisa punya hubungan internasional.

Semakin familier dengan liga pelajar di Indonesia (Honda DBL), Simpson pun sangat berkeinginan mengirimkan timnya bertanding di DBL Arena Surabaya. ”Saya akan meminta para orang tua untuk mengumpulkan uang, sehingga saat liburan sekolah tahun depan kami bisa mengirimkan tim ke Indonesia,” ujarnya.

About these ads

7 thoughts on “Team SAGE; Tim Basket Pelajar Sacramento dengan IP Rata-Rata 3,8 oleh Azrul Ananda

  1. ini lah contoh, bahwa lewat olahraga khususnya bola basket, bisa meningkatkan tumbuh kembang moral dari anak-anak muda, dan tentunya mendukung pertumbuhan dari sebuah negara.
    saya sangat mendukung visi dari DBL…

  2. Pas baca ini….sempet salah paham. Setahu guwe IP di LN tu standar-nya mpe 5.0 :D
    Tapi kalo dipikir lagi 3.8 tu ya setara dg ip 3.0 di INdo alias tetep tinggi :D
    Tapi yg bikin menarik tuh, interest-nya science, math, jarang kan di Indo.
    Semoga calon2 pemain indonesia bisa mengambil positifnya :D

  3. mainbasket

    @Emma, IP tertinggi di Amerika sama seperti kita Indonesia yaitu 4,0. Bukan 5,0.

    Jadi raihan rata-rata 3 ke atas adalah luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s