Dua Pemain Asing Satria Muda BritAma Tiba di Jakarta

dua SM baru

Asean Basketball League 2009, akan segera berlangsung di Jakarta. Pertandingan pertama akan digelar di BritAma Arena Sportsmall Kelapa Gading pada tanggal 10 Oktober 2009 pk 16.00, di mana SM BritAma Indonesia akan menghadapi Philippine Patriots.

Dalam persiapannya menghadapi pertandingan perdana ABL tersebut, dua orang pemain asing yang memperkuat SM BritAma Indonesia akan tiba di Indonesia pada hari Rabu 30 September 2009 jam 13.00 wib. Dua pemain tersebut adalah Alex Hartman dan Theopillus Little.

Kedua pemain yang berasal dari USA mulai berlatih pada hari Kamis, 1 Oktober 2009.

(Berita ini dikirimkan oleh my bro, Richard Nsane. Follow him in his twitter @nsane11)

HoTwitter: Keunggulan dan Kekurangan IBL

Beberapa menit yang lalu, gw baru menutup sesi obrolan antara gw dan teman-teman di twitter gw mengenai keunggulan dan kekurangan IBL. Banyak sekali yang memberikan pendapat. Baik keunggulan maupun kekurangan.

030bfd8ad0ea7b24ec6ca2b8de10ac94e2e91719_m

Di bawah ini pendapat teman-teman semua (mungkin ada yang terlewat, gw minta maaf..hehee)

Keunggulan IBL

“IBL itu seharusnya jadi alternatif tontonan yg bermutu”
“Atlit IBL jarang yg masuk ke Infotainment kecuali yang inisialnya A.B. (tebak sendiri)”
“ikut comment..IBL terlalu mempesona untuk dilewatkan,even ngantri tiketnya laaamaa bgt!”
“IBL selalu mengusung breaker atau artis hiphop lokal sat halftime”
“Kaum wanita merasa nyaman nonton langsung pertandingan IBL”
“setujuu, bisa dblg lbh elit krna kalangan ttntu aja yg nnton. Penonton IBL lebih keren daripada ISL(sepak bola)”
“supporternya gak rusuh.haha”
“penonton IBL adalah contoh penonton olahraga yg sangat sportif,walopun tim yg dibela kalah”
“Harus diakui, gara-gara IBL basket kita jd cukup kuat di ASEAN walau msh d bawah Filipina”
“The highest basketball league in INA”
“Klo deket sama pemain IBL/Manjer/Panitia bisa dapet tiket for free.” (ini agak aneh..hahaa)

Kekurangan IBL

“No exposure on the media whatsoever..no marketing gimmick that makes people wanna go and watch the game”
“ibl tlalu didominasi SM jd (maaf) kurang rame klo ditonton krna udh ktebak siapa yg menang”
“mstinya pmain yg jago nyebar d smua tim, jd ga hanya tim2 itu trus yg msuk final4 atau playoff”
“Kekuatan tim peserta masih kurang merata”
“tim nya itu2 aja yang masuk babak playoff.”
“Jadwal kompetisi tidak jelas”
“Tdk diorganisir dgn baik..sorry kalo gw bandinginnya terlalu jauh..gw coba compare sama NBA..since I’m an NBA analyst”
“Terlalu banyak sponsor di jersey.”
“Marketingnya kurang memberikan informasi. Tau2 udah Final 4. Kapan regular seasonnya?”
“jarang maen dikota2 kecil, semarang misalnya,”
“itu2 aja teamnya yg masuk Playoff, mungkin kurang menghibur.”
“kurang promosi/sosialisasi,,hanya yg update yg ngeh tentang event2 IBL (even itu final).. apa si yg diurus EO??!”
“ga ada yang berani sponsorin tim2 kecil, jadi aj timnya ga bisa beli pemain bagus*sotoy*”
“Ngk punya website !!”
“Ga ada system salary cap disini, jadi kekuatan team 1 dan lainnya bisa jomplang bgt.”
“Harga tiket masuk relatif mahal.”
“Berikan pengamanan cukup untuk wasit. Kecenderungan wasit membela tim kandang karena faktor takut”
“Ga ada celebrity basketball match”
“Suka ngenes kalo liat scoring board yg ditempel pake lakban”
“Half time yg adem ayem ga hiburan sama sekali”
“Kekurangan dana buat promosi”
“Desain seragam IBL kurang bagus bentuknya. Pemain jadi keliatan gendut”
“Dancers-nya kurang keren, padahal bisa jadi nilai jual juga.”
“Tiket termahal wkt ntn final sm vs aspac kmaren. . 50rb dgn hall yg pengep n bangku yg keras.”
“Setiap tim gak punya kandang masing2.”
“Pemain tidak diwajibkan menyelesaikan kuliahnya”
“ibl kurang dpublikasiin..jd yg tau cuma anak2 basket n yg emang suka ibl hhe”
“dancers nya ga se-enerjik dan ga se-hot NBA”
“Hal sepele tapi sangat penting yg dilupakan IBL adalah Website. Web yg informatif: updated news,bursa transfer,team page,dll”
“paling menyebalkan buat gw adalah jadwal kompetisinya yg tidak jelas (kasus 2009)”
“Tahun 2009? Setiap tahun jadwalnya tidak jelas”

Gw sekali lagi mengucapkan terima kasih atas kontribusi teman-teman di twitter. Semoga Keunggulan dan Kekurangan yang terangkum dalam satu jam obrolan kita bisa menjadi bahan pertimbangan bagi penyelenggaraan IBL yang lebih baik ke depan.

Garuda Flexi Bandung Mempertahankan Gelar di Turnamen IBL 2009 Jika..

“Bukankah Satria Muda juara bertahan IBL beberapa tahun belakangan ini mas? Kok ada Garuda di tahun 2008?” adalah salah satu pertanyaan via twitter gw.

Garuda Juara Turnamen

Satria Muda memang menjuarai Kompetisi Reguler IBL empat tahun berturut-turut, namun pada tahun 2008 lalu, Garuda Flexi Bandung sempat mencuri kemenangan dan menjadi juara pada Turnamen IBL dengan mengalahkan Satria Muda di final di GOR C-Tra Arena Bandung.

Untuk yang belum tahu, Turnamen IBL adalah “ajang pemanasan” tim-tim IBL sebelum memulai kompetisi reguler. Biasanya diadakan pada setiap akhir tahun. Nah, tadi malam, Manajer Garuda Flexi Bandung, Simon Pasaribu mengabari gw via twitter “…kaya nya turnament ngga ada, krn promotor dan eo nya lagi sibuk mikir diri sendiri ;)”

Gw tersenyum dan membalas “Bagus deh, artinya kita juara bertahan turnamen IBL 2 tahun berturut-turut. Hahaa..” Walau tentunya gw berharap Turnamen IBL tetap ada. Amiin :D

Kabar Terbaik dari Hari Kemarin :D (Main Basket di Saparua)

Hari Sabtu kemarin, gw seharian berputar-putar keliling Bandung bersama seorang sahabat gw, Pandji. Kita membicarakan banyak hal. Mulai dari bisnis, buku terakhir yang kita baca, film mutakhir yang kita tonton, kondisi perekonomian dunia, kampanye kegiatan-kegiatan PBB, hal-hal yang terjadi di dalam dunia rap dan hip-hop, tentang hak paten, media konvensional dan media sosial dunia maya, kebudayaan berbagi di timur dan kecenderungan mengkomodifikasi segala hal di barat, hingga tentunya tentang dunia basket.

Hahahaaa

Tidak hanya berbicara mengenai dunia basket, pada sore hari kemarin, gw dan Pandji mendatangi Taman Saparua untuk nongkrong di sisi lapangan basketnya. Anak-anak SMA 3 Bandung tengah berlatih. Beberapa orang alumni ikutan. Sekelompok anak-anak SMA yang tengah berkumpul mengenali Pandji dan gw sebagai @pandji dan @mainbasket (twitter) karena Pandji memang mengabari kegiatan kita lewat media sosial yang lagi naik daun tersebut. Mereka mengajak kita untuk ikutan main. Kita pun main satu lapangan. Rasanya seperti kuliah lagi. Best dynamic duo in court, me and Pandji. Kita menang.

Hal paling menarik dan menggembirakan dari obrolan gw dengan Pandji kemarin adalah cerita singkat dari Pandji mengenai sesuatu yang akan dilakukan seorang pesohor Indonesia.

“Eh lu tahu nggak Glenn akan pindah, keluar dari Jakarta pada tahun depan? Tebak ke kota mana.” Pandji

“Bandung? Surabaya? Denpasar? Ambon?!” Gw

“Yup! Ambon.” Pandji

Sepanjang hari gw memikirkan betapa inilah berita terbaik yang gw dapatkan pada hari Sabtu kemarin. “Glenn Fredly akan pindah dari Jakarta dan menetap di Ambon.” Gw langsung membayangkan niatan positif yang ingin dilakukan Glenn di Ambon. Secara garis besar, membangun Ambon!

Azrul Ananda berulang kali mengatakan, Indonesia bukan hanya Jakarta! Setiap kota di Indonesia harus maju! Jika orang-orang membicarakan tentang basket Indonesia, maka yang dirujuk adalah Surabaya. Gw rasa ini adalah salah satu obsesi Azrul. Which is great!

Hal serupa gw rasa tengah direncanakan oleh Glenn, walau gw hanya menebak dari rumor kecil yang ditiupkan oleh Pandji. Siapa yang tak tahu bahwa talenta-talenta vokal dan musik di Indonesia banyak dilahirkan atau setidaknya berdarah Maluku? Dan Glenn akan membantu mengembangkannya!

Walau baru sekadar gosip (semoga saja fakta), Glenn tengah akan memulai sebuah langkah revolusioner untuk orang-orang Ambon. Untuk Indonesia!

Gw sedang berbaik sangka. Gw sedang beroptimis :D

Satu-satunya yang Bisa Menghalangi Garuda tuk Juara di 2010 hanya Garuda Sendiri!

Tulisan ini terinspirasi dari sesumbarnya Paul Pierce mengenai kesempatan timnya, Boston Celtics untuk merebut gelar NBA di tahun 2010 ketika diwawancara oleh salah seorang wartawan olahraga kemarin.

Garuda n Lolik

Gw langsung menengok kepada tim favorit gw di IBL, Garuda Flexi Bandung. Sejujurnya gw merasa bahwa tulisan ini agak basi karena gw masih sedikit mengungkit kekalahan menyakitkan Garuda pada Semi Final IBL 2009 dari Aspac Jakarta. Padahal di awal musim 2009, hanya sedikit yang menyangsikan kalau tim ini akan gagal. Namun buktinya, Garuda ternyata memang gagal!

Berkaca pada musim lalu (2009), gw berpikir bahwa musuh terbesar Garuda adalah Garuda sendiri. Dengan sekelompok pemain yang ada sekarang Garuda masihlah sekuat tahun lalu dan masih sangat berpotensi meraih gelar juara IBL 2010.

Keluarnya Kelly Purwanto bukanlah masalah besar. Karena seiring perginya Kelly, Andre Tiara mulai aktif kembali setelah hampir sepenuh musim 2009 dirundung cidera. Potensi Garuda sangat besar dan menyeramkan. Tim-tim manapun masih akan tetap keder melihat kekuatan Garuda; Wiwin, Lolik, Denny, Tiara, Mario, Gagan, Bagong, Donnda, Tedy, Hendrik, Hendru, Octo, dan Aguy (siapa yang belum gw sebut yaa?).

Kendalanya hanya satu, melawan diri sendiri. Tak perlu mengetahui secara gamblang apa yang terjadi pada diri Garuda, melihat lima pertandingan terakhir mereka di tahun 2009 sangatlah jelas, tim ini tidak kompak! Bahkan sangat mungkin ada konflik di dalamnya. Apapun yang terjadi, semoga Garuda bisa bangkit melawan dirinya sendiri. Amin.

Karena, buat gw, Garuda hanya punya satu lawan sepadan yaitu Garuda sendiri! Kekalahan melawan dirinya sendiri membuat Garuda babak belur oleh Aspac! Catat!!

Selamat Idul Fitri 1430 H, Ayo Main Basket Lagi!

Gw minta maaf kepada semua pembaca Mainbasket. Baik itu tim maupun perorangan. Gw sangat sadar, beberapa kata-kata gw terasa sangat menyakitkan bagi sebagian pembaca. Gw pernah mengkritik tim favorit gw, Garuda Flexi Bandung atas penampilannya yang buruk, pernak-perniknya yang norak, pemainnya yang nggak kompak, pelatihnya yang biasa-biasa saja, dan lain-lain.

bc58eedd70a34e990245fa361ad8ed537da8f9e6_m

Gw juga suka melecehkan tim-tim lain. Merendahkan lawan-lawan Garuda. Mencela Satria Muda BritAma Jakarta karena kehebatannya, menganggap enteng Aspac Jakarta, CLS Knights Surabaya, dan tim-tim yang lain. Beberapa kali gw mengkritik IBL karena pelayanan dan hal-hal lain yang tidak memuaskan hati gw. Perbasi pun seringkali gw kata-katain karena seperti tak banyak berguna.

Itu semua hanya segelintir dan sedikit dari yang gw ingat. Tulisan-tulisan gw sangat mungkin malah menyakiti lebih banyak orang lagi yang telah membacanya. Oleh karena itu, gw minta maaf. Gw minta maaf atas tulisan-tulisan gw. Baik itu di blog Mainbasket maupun di twitter Mainbasket. Semoga para pembaca gw sadar bahwa apa yang gw lakukan semata-mata karena gw cinta kepada permainan basket terutama basket Indonesia.

Gw nggak janji nggak akan mengulanginya. Gw akan tetap mengeluarkan pandangan pribadi gw tentang dunia yang gw cintai ini. Dunia main basket. Syukur-syukur kalau ocehan gw ternyata berguna. Kalaupun tidak, dan atau malah terasa seperti sampah kata-kata, semoga dimaafkan (lagi) dan bisa dimengerti setidaknya bahwa niatan gw positif (menurut gw..hehee).

Love you all :D Maju terus basket Indonesia!!

Azrul’s Insights: Sehari-hari, Garasi Formula 1 Berisikan Lapangan Futsal

Tulisan di bawah ini adalah tulisan (ke lima/terakhir) atau mungkin tepatnya catatan perjalanan Azrul Ananda, Wakil Direktur Jawa Pos dan Commissioner DetEksi Basketball League (DBL), ke Australia memenuhi undangan untuk mengikuti special program dari pemerintah Negeri Kanguru itu. Buat gw, catatan perjalanan ini lebih mirip sebuah insight karena walau seolah berisi narasi pengalaman jalan-jalan, ia juga dilengkapi pandangan-pandangan tersirat visi seputar kepedulian Azrul pada dunia basket terutama basket Indonesia bahkan kemajuan bangsa.

Azrul’s Insights akan terbagi menjadi menjadi beberapa tulisan yang akan gw terbitkan di hari-hari berbeda. Selamat membaca :D

AZA AUSTRALIA 09

(Azrul Ananda (tengah) bersama Ron Walker (kanan) dan Drew Ward, chairman dan CEO Australian Grand Prix Corporation di kantor mereka, di dekat Albert Park, Melbourne. Foto oleh Broughton Robertson)

Ke Melbourne, tidak lengkap kalau tidak mengunjungi Albert Park, taman yang setiap Maret digunakan untuk balapan Formula 1. Lalu bertemu langsung dengan para petinggi penyelenggara lomba.

Azrul Ananda, Melbourne

Dari Darwin ke Sydney, dari Sydney ke Canberra, dari Canberra ke Melbourne. Meski hanya sehari di Melbourne, tapi kunjungan di ibu kota Victoria itu yang paling padat dan variatif.

Melbourne merupakan kota terakhir yang saya kunjungi dalam program Special Visit ini. Seharian di Melbourne Rabu lalu (9/9), tengah malamnya langsung terbang kembali ke Indonesia via Singapura.

Rabu lalu di Melbourne, total enam program dilakukan dari pagi sampai malam. Ada wawancara dengan dua radio (Radio Australia dan SBS Radio), pertemuan people to people dengan Asialink di University of Melbourne, bicara dengan editor harian The Age, juga mengunjungi markas Essendon Football Club (Australian Football).

Sebelum kelima program itu, paginya lebih dulu bicara Formula 1 dengan para “empunya” Grand Prix Australia di Melbourne.

Sejak 1996, Melbourne sudah menjadi tuan rumah seri balap mobil paling bergengsi di dunia itu. Sangat sering, Melbourne menjadi seri pembuka.

Di antara semua balapan di dunia, GP Australia termasuk yang paling populer. Melbourne kota yang indah, dan balapan diselenggarakan di Albert Park, salah satu taman kota. Kalau di negara lain dan di lomba “tradisional,” penggemar butuh banyak waktu untuk menuju sirkuit, yang letaknya biasa jauuuuh dari kota.

Bagi saya, GP Australia merupakan lomba favorit. Puluhan kali sudah saya meliput balapan F1 untuk harian Jawa Pos, Melbourne merupakan tempat paling asyik. Beberapa kali sudah saya meliput di sana, sejak 2001 dan terakhir 2007 lalu.

Namun, saya belum pernah ke Melbourne (dan ke Albert Park) di saat tidak ada balapan. Dan bedanya luar biasa. Rabu pagi itu, saya dijadwalkan bertemu dengan Ronald J. Walker, chairman Australian Grand Prix Corporation. Sebenarnya, pertemuan itu dirancang bukan untuk F1. Sebab, Ron Walker juga chairman dari Fairfax Media Limited, salah satu grup media terbesar di Australia. Di dalamnya antara lain harian The Age dan Financial Review.

Dasar maniak F1, mengapa tidak bertanya-tanya saja tentang F1 kepada orang nomor satu di GP Australia itu. Selama ini, saat meliput F1, saya memang sering berpapasan dengan Walker. Hanya saja, saat lomba, fokus saya biasanya kepada tim dan para pembalap.

Sebelum bertemu di Grand Prix House di Albert Road (di seberang salah satu sudut Albert Park, saya lebih dulu keliling “sirkuit.”)

Karena itu taman publik, jalanannya pun bebas dipakai publik. Kami –bersama driver dan Broughton Robertson dari departemen luar negeri Australia– menyusuri taman itu searah jarum jam, sesuai rute balapan. Hanya ada beberapa perbedaan rute, karena beberapa tikungan dibuat khusus untuk F1, tidak bisa dilalui saat taman berfungsi “normal.”

Dari perbedaan itu, bisa dibayangkan betapa rumitnya pekerjaan “menyulap” taman kota jadi sirkuit standar F1. Tidak cukup dua sampai tiga minggu sebelum lomba. Kabarnya, untuk lomba di bulan Maret, pekerjaan sudah dimulai sejak awal tahun baru. Setelah lomba, butuh waktu lagi untuk membongkar semuanya. Dan itu dilakukan setiap tahun, selama 13 tahun terakhir!

Kami lantas berhenti di kompleks garasi dan paddock “sirkuit.” Sebuah bangunan permanen dua lantai. Ketika lomba setiap maret, di sinilah tim-tim F1 bermarkas.

Lantai dasarnya adalah garasi mobil. Lantai di atasnya multifungsi. Sebagian jadi media center, tempat ratusan wakil media dari berbagai penjuru dunia bekerja. Sebagian besar menjadi kompleks hospitality, tempat tim-tim dan para sponsornya menjamu para tamu VIP dan pemegang tiket Paddock Club (tiket termahal yang harganya di kisaran Rp 30 juta per orang).

Media center, tempat yang paling berguna bagi saya kalau liputan, berada di bagian paling ujung. Alangkah kagetnya saya, ketika di depan pintu masuknya ada lapangan basket mini. Saya tahu di sana ada kotak lantai beton, tapi selama ini saya pikir berfungsi sebagai jalan masuk ke kompleks paddock.
Lebih kaget lagi ketika melihat lantai dua bangunan itu (yang berdinding kaca, jadi terlihat dari luar). Terlihat ada beberapa gawang kecil. “Lapangan futsal?” begitu tanya saya dalam hati.

AZRUL AUSTRALIA 09

(Azrul Ananda di depan garasi dan paddock Albert Park, Melbourne. Ketika balapan Formula 1, bangunan ini menjadi markas tim. Ketika hari biasa, di dalamnya menjadi lapangan futsal, netball, dan basketball. Foto oleh Broughton Robertson)

Saat berada di Grand Prix House, Walker menjelaskan bahwa bangunan itu memang harus multifungsi. “Menurut aturan, tidak boleh ada bangunan permanen di taman. Tapi kami membuat kesepakatan dengan parlemen. Bahwa bangunan itu bakal multifungsi. Bisa digunakan publik ketika tidak ada balapan,” terangnya.

Drew Ward, CEO Australian Grand Prix Corporation, menambahkan bahwa bangunan itu bukan hanya berisikan lapangan futsal. “Juga bisa dipakai untuk netball dan basketball,” ungkapnya.

Dalam pertemuan itu, Walker menanyai popularitas F1 di Indonesia. Tentu saya jawab luar biasa. Hanya saja, termasuk berat bagi banyak penggemar untuk nonton ke Australia. Selain butuh waktu untuk mengurus visa, juga biayanya lebih tinggi dari nonton ke Malaysia.

Walker tampak terkejut, ketika diberitahu penggemar F1 Indonesia bisa menikmati GP Malaysia dengan hanya mengeluarkan sedikit di atas USD 500 (Rp 5 juta). Itu cukup untuk pesawat, hotel murah, dan tiket nonton.

Grand Prix Australia sendiri telah menjalani masa-masa cukup “mendebarkan” belakangan ini. Terakhir, pada lomba Maret lalu, ada perubahan jam lomba. Dari start pukul 14.00, mundur ke pukul 17.00. Semula, F1 ingin lomba malam hari, supaya mendapat perhatian pemirsa televisi lebih baik di Eropa (basis utama penggemar F1). Kalau start pukul 14.00, maka penonton di Eropa harus bangun sekitar pukul 03.00 dini hari.

Semula, Walker dan perusahaannya mengajukan permintaan ke pemerintah untuk menginstalasi lampu, supaya bisa menyelenggarakan lomba di malam hari. Tapi ditolak. Start pukul 17.00 adalah kompromi. Dan Walker mengaku mendapatkan manfaatnya. “Pemirsa televisi di Eropa melonjak tiga kali lipat. Dengan total pemirsa di seluruh dunia mencapai 100 juta orang,” ungkapnya. “Jadi kami senang dengan format baru ini,” tandasnya.

Pemerintah memang punya peranan besar untuk GP Australia. Pemerintah-lah pemilik Australia Grand Prix Corporation. Walker dan Ward mengakui bahwa perusahaan ini merugi setiap tahun. “Kami rugi sekitar 40 juta dollar (Australia, Red) setiap tahun. Tapi Australia mendapat banyak manfaat dari situ. Melbourne dikenal di seluruh dunia. Karena itu, lomba ini akan terus dilanjutkan. Kami sudah memperpanjang kontrak dengan F1 hingga 2015,” papar Walker.

Kerugian itu, lanjut Walker, tidaklah seberapa bila dibandingkan beberapa penyelenggara lain. “Tahun lalu, Grand Prix Singapura rugi sampai 100 juta dollar,” ungkapnya. Walker tidak bilang itu dollar Australia atau Amerika Serikat. Tapi nilainya tidaklah terlalu jauh berbeda. Antara Rp 850 miliar (dollar Australia) atau Rp 1 triliun (dollar AS). Gengsi memang mahal sekali.

(habis)

Azrul’s Insight sebelumnya: AFL Ratusan Kali Lebih Besar dari Sepak Bola

Lebaran-selamat

Jadwal Pertandingan ASEAN Basketball League (ABL 2009-2010) di Jakarta

Pertandingan diadakan di BritAma Arena Sportsmall Kelapa Gading, Jakarta.

10 Oktober 2009
17.00 WIB Satria Muda BritAma Indonesia VS Phillipines Patriot

25 Oktober 2009
17.00 Satria Muda BritAma Indonesia VS KL Dragons

8 November 2009
17.00 Satria Muda BritAma Indonesia VS Brunei Barracudas

14 November 2009
15.00 Satria Muda BritAma Indonesia VS Singapore Slingers

28 November 2009
15.00 Satria Muda BritAma Indonesia VS Thailand Tigers

12 Desember 2009
15.00 Satria Muda BritAma Indonesia VS Singapore Slingers

10 Januari 2010
15.00 Satria Muda BritAma Indonesia VS Brunei Barracudas

23 Januari 2010
15.00 Satria Muda BritAma Indonesia VS KL Dragons

—–
Harga tiket

VVIP : Rp.100.000 (sisi samping lapangan)
VIP : Rp. 60.000 (belakang ring)
Festival 1 : Rp. 35.000 (lantai 3 sisi samping lapangan)
Festival 2 : Rp. 20.000 (lantai 3 belakang ring)

Harga tiket untuk SM Fanatics

VVIP : Rp.85.000 (sisi samping lapangan)
VIP : Rp. 45.000 (belakang ring)
Festival 1 : Rp. 35.000 (lantai 3 sisi samping lapangan)
Festival 2 : Rp. 20.000 (lantai 3 belakang ring)

1. Pemesanan awal: Sekarang – 4 Oktober 2009.
2. Setiap pembelian 10 tiket, gratis 1 tiket +merchandise.
3. Reservasi ticket: 021-9352408/021-28507712/021-28507726.

Azrul’s Insights: AFL Ratusan Kali Lebih Besar dari Sepak Bola

Tulisan di bawah ini adalah tulisan (ke empat) atau mungkin tepatnya catatan perjalanan Azrul Ananda, Wakil Direktur Jawa Pos dan Commissioner DetEksi Basketball League (DBL), ke Australia memenuhi undangan untuk mengikuti special program dari pemerintah Negeri Kanguru itu. Buat gw, catatan perjalanan ini lebih mirip sebuah insight karena walau seolah berisi narasi pengalaman jalan-jalan, ia juga dilengkapi pandangan-pandangan tersirat visi seputar kepedulian Azrul pada dunia basket terutama basket Indonesia bahkan kemajuan bangsa.

Azrul’s Insights akan terbagi menjadi menjadi beberapa tulisan yang akan gw terbitkan di hari-hari berbeda. Selamat membaca :D

AZA AUSTRALIA 09

(Azrul Ananda bersama Patrick Mills, pemain muda Australia yang tahun ini masuk NBA bersama Portland Trail Blazers. Dia sedang cedera kaki, menjalani proses pemulihan di Australia Institute of Sports di Canberra. Foto oleh Broughton Robertson)

Pemulihan Cedera Lebih Baik daripada di Amerika

Tujuan utama kunjungan seminggu di Australia ini adalah mempromosikan hubungan people to people. Khususnya lewat jalur olahraga. Sebagai bonus: Bertemu bintang basket Aborigin yang sukses menembus NBA.

Azrul Ananda, Canberra

Australia negara gila olahraga. Selama di Australia, kebanyakan pertemuan saya adalah dengan orang-orang olahraga. Ketika di Darwin, pada dasarnya saya melihat semua tim profesional Negeri Kanguru yang tergabung di National Basketball League (NBL), bertemu pemain-pemain bintang, dan melakukan pertemuan dengan Larry Sengstock, CEO Basketball Australia (semacam Ketua Perbasi).

Saya juga bertemu menteri olahraga di beberapa kawasan. Selain di Northern Territory, juga Kevin Greene, menteri olahraga dan rekreasi New South Wales (negara bagian dengan penduduk terbanyak) di Sydney.

Kemudian, di Canberra Selasa lalu (8/9), saya diajak ke tempat yang sangat mengagumkan: Australian Institute of Sports (AIS).

Pada dasarnya, AIS merupakan tempat pemusatan latihan untuk atlet-atlet Australia. Mulai dari tingkat junior sampai elit. Di sana, berbagai fasilitas kelas dunia tersedia untuk puluhan macam olahraga. Di sana, sejak berdiri pada 1981, tak terhitung jumlah atlet-atlet elite kelas dunia yang “lulus”.

Dari basket saja ada berapa nama kondang. Yang utama adalah Luc Longley, pemain basket yang pada pertengahan 1990-an meraih popularitas luar biasa di NBA. Waktu itu, dia bermain di Chicago Bulls, menjadi salah satu rekan setim Michael Jordan.

Selain Longley, ada pula Andrew Bogut, yang sekarang menjadi pilar klub Milwaukee Bucks di NBA. Ada juga Lauren Jackson, salah satu pemain wanita terbaik di dunia.

Menurut Marty Clarke, pelatih kepala basket pria di AIS, mungkin 40-50 persen pemain di NBL Australia merupakan lulusan AIS.

Clarke –yang juga pelatih tim nasional junior Australia– menjelaskan, dia konstan berkomunikasi dengan asosiasi-asosiasi di berbagai penjuru Australia. Pihaknya terus mencari pemain-pemain muda berbakat, maksimal kelas XI SMA (kalau kelas XII sudah harus siap ujian).

Kadang tidak harus pemain paling berbakat, tapi pemain yang dianggap punya potensi besar bila dikembangkan dengan tepat. “Untuk putra lebih sulit daripada putri. Karena pertumbuhan postur putri lebih cepat dari putra. Kadang, kemampuan pemain putra berkembang pesat di akhir masa remaja,” ungkapnya.

Setiap dua tahun, AIS “merekrut” sekitar 12 pemain putra dan putri untuk pindah ke Canberra. Sekolah di ibu kota Australia itu, dan menjalani latihan khusus pada pagi dan sore di luar jam sekolah.

Ada pula camp-camp basket khusus selama empat hari untuk calon-calon pemain lain. Serta program bagi pihak-pihak asing yang ingin mendapatkan bantuan pengembangan dari AIS. Baru-baru ini, katanya, ada tim junior Filipina datang untuk menjalani camp di Canberra.

Fasilitas di AIS memang super-komplet. Selain gedung khusus basket berisikan empat lapangan, ada pula pusat rehabilitasi dan fitnes yang besar dan komplet. Juga ada tempat khusus di mana atlet bisa berlatih dalam cuaca di negara tempat mereka kelak bertanding (misalnya simulasi tropis dan panas).

Dasar nasib baik, di AIS kami bertemu dengan Patrick “Patty” Mills. Bagi kebanyakan orang, nama itu mungkin belum terlalu dikenal. Tapi lihatlah dalam lima tahun ke depan, ada peluang nama itu bakal dikenal di berbagai penjuru dunia.

Mills, 20, merupakan salah satu produk sukses AIS. Dia salah satu pemain basket Aborigin pertama yang sukses menembus level tertinggi. Bukan hanya di Australia, tapi di dunia. Point guard ini termasuk pemain termuda yang pernah bergabung di Boomers, julukan tim nasional Australia.

Dia sudah berkiprah dan meraih banyak pujian di Olimpiade Beijing tahun lalu. Pada Juni lalu, Mills berhasil menembus ranking NBA. Dia dicomot oleh salah satu tim kuat di liga paling bergengsi itu: Portland Trail Blazers. Salah satu pelatihnya di Blazers adalah Joe Prunty, yang pada Agustus lalu hadir di Surabaya, melatih pemain-pemain SMA terbaik dari 15 provinsi di Indonesia, dalam even Indonesia Development Camp 2009 (hasil kerja sama NBA dan DetEksi Basketball League).

Sayang, tidak lama setelah bergabung di Blazers, Mills patah kaki. Sudah sepuluh pekan terakhir ini dia harus berjalan memakai kruk (setelah operasi). Mungkin baru pulih satu sampai dua bulan lagi.

“Nasib buruk,” katanya singkat. Saya pun bertanya, ngapain rehabilitasi di Canberra? Bukankah di Amerika lebih lengkap? Ternyata, Mills bilang tidak ada yang lebih lengkap dari AIS di Canberra. “Kalau ada yang lengkap di Amerika, saya lebih baik rehabilitasi di sana. Karena pada prinsipnya saya sudah pindah, dan segala milik saya sudah ada di sana. Karena tidak ada, maka saya balik ke sini. Bahkan, begitu cedera, Marty Clarke merupakan salah satu orang pertama yang saya hubungi,” tuturnya.

Tidak ada pujian lebih tinggi dari pengakuan seorang atlet elit.

***

Mills merupakan atlet Aborigin yang sukses. Selama di Australia, beberapa kali pula saya bertemu dengan perwakilan organisasi yang bekerja membantu anak-anak aborigin lewat jalur olahraga.

Ada pertemuan dengan Clontarf Foundation di Darwin, yang banyak bekerja di kawasan utara atau barat Australia. Mereka mencoba membantu anak-anak Aborigin yang punya latar belakang sulit atau kekerasan lewat permainan Australian Football. Syarat untuk ikut: Harus masuk sekolah.

Di Marrickville High School di Sydney, saya bertemu dengan National Aboriginal Sporting Chance Academy (NASCA), yang juga melakukan kegiatan lewat Australian Football.

Sebagai informasi balasan, saya pun banyak mempresentasikan DetEksi Basketball League (DBL), selain bicara soal media di Indonesia. Apalagi misinya agak mirip. Lewat DBL, kami pun ingin mempromosikan konsep student athlete. Kalau mau main basket di liga pelajar terbesar di Indonesia itu, harus selalu naik kelas.

AZA AUSTRALIA 09

( Azrul Ananda (berdasi) di tengah-tengah pelajar Indonesian Studies University of Sydney, setelah memberi materi tentang perkembangan DetEksi Basketball League (DBL) di Indonesia. Ada mahasiswa yang ternyata pernah menonton langsung pertandingan DBL di Mataram. Foto oleh Broughton Robertson)

Ketika menyampaikan DBL di University of Sydney, ternyata ada sambutan menarik. Anthony Fine, 21, salah satu mahasiswa Indonesian Studies di situ, ternyata sudah pernah nonton langsung pertandingan DBL. Dia menyaksikan final Honda DBL 2009 seri Nusa Tenggara Barat, di Mataram.

Dengan antusias, Fine mengaku geleng-geleng kepala melihat hebohnya DBL. “Penonton sampai harus gantian memenuhi gedung. Saya tidak menyangka ada even olahraga sehebat itu di Indonesia. Di Australia saja tidak seperti itu,” katanya kepada rekan-rekan lain di kelas.

Di Australia, basket memang maju pesat, tapi sekarang lebih bersifat olahraga partisipasi di tingkat grass root. Di tingkat profesional, harus diakui kalau National Basketball League (NBL) memang sedang menjalani masa sulit. Tim-timnya kesulitan keuangan, duit sponsor makin mengering.

Pertandingan-pertandingan basket di Australia berkualitas sangat tinggi, namun penontonnya sepi. Ada banyak teori mengapa itu terjadi, tapi pada dasarnya kalah bersaing dengan berbagai olahraga di negara yang gila olahraga ini.

Olahraga nomor satu, sudah bukan rahasia lagi adalah Australian Football. Dan itu nomor satu jauh di atas nomor dua yang lain. Australian Football League (AFL), liga tertinggi olahraga itu, kini memiliki 16 tim, dan memiliki perputaran uang fantastis.

Saat hari terakhir kunjungan di Melbourne, Rabu kemarin (9/9), saya diberi tur fasilitas Essendon Football Club (Bombers), salah satu dari sepuluh (!) tim AFL yang bermarkas di kawasan Melbourne. Tim ini merupakan salah satu yang memiliki member terbesar dan perputaran uang tertinggi.

Simon Matthews, General Manager Media and Community Essendon Bombers, menjelaskan bahwa timnya memiliki sekitar 60 karyawan. Perputaran uang mencapai 40 juta dollar Australia semusim. Dari jumlah itu, sekitar 7 juta dollar untuk gaji pemain.

Pemasukannya? Sebagian dari member, yang menyumbang sampai 5 juta dollar semusim. Lalu 7 juta dollar dari pembagian hasil penjualan hak siar televisi. Setelah itu pemasukan lain-lain.

Pemasukan televisi AFL sangatlah fantastis. Kontrak lima tahun mencapai hampir 800 juta dollar Australia! “Kontrak itu habis dua tahun lagi. Kemungkinan, ketika perpanjangan, nilainya bisa mencapai 1 miliar dollar untuk lima tahun selanjutnya,” jelas Matthews.

Angka itu jauuuuuuh lebih tinggi dari yang lain. A-League, liga sepak bola Australia yang sedang melangkah maju, hanya punya kontrak televisi sekitar 1 sampai 2 juta dollar Australia semusim! Ya, AFL ratusan kali lebih raksasa! Bahkan rugby, yang juga populer, tidaklah sekaya AFL.

“Tim termiskin AFL punya perputaran uang sekitar 20 juta dollar semusim. Tim terkaya rugby mungkin hanya 15 atau 16 juta dollar semusim,” jelas Greg Baum, sports editor The Age, koran di Melbourne.

Saking jauhnya, AFL pun menyedot perhatian media terbesar. Menurut Baum, saat musim AFL (sekitar tujuh bulan, berakhir September ini), 80 persen porsi halaman olahraganya tercurahkan untuk AFL.

Azrul’s Insight sebelumnya: Azrul’s Insights: Paling Enjoy jika Tahan 3,5 Jam tanpa ke Toilet

(bersambung)

Wawancara Eksklusif dengan Pelita Jaya Esia Jakarta (Target, Juara IBL 2010)

Musim kompetisi 2009 berakhir dengan sebuah anti-klimaks. Harapan besar pecinta Indonesian Basketball League untuk menyaksikan munculnya juara baru pupus, setelah tim yang sangat diharapkan memenuhi impian tersebut, Garuda Flexi Bandung, tanpa disangka tertendang di semi final oleh Aspac Jakarta.

Menghadapi musim kompetisi 2010, Satria Muda Britama Jakarta masih menjadi kekuatan yang berusaha ditumbangkan oleh tim-tim peserta IBL lain. Tetapi untuk mengatakan bahwa Garuda Flexi Bandung akan kembali menjadi penyeimbang sang juara bertahan mulai dan semakin dipertanyakan.

Tim-tim seperti CLS Knights Surabaya, Garuda Flexi Bandung, Aspac Jakarta, dan tentunya Pelita Jaya Esia Jakarta kini dipandang memiliki potensi yang sangat berimbang.

Fix3_

Berikut petikan wawancara gw dengan manajemen Pelita Jaya Esia Jakarta mengenai kesiapan mereka menghadapi IBL musim kompetisi 2010

Dari kompetisi tahun 2009 lalu, apa yang menjadi kelemahan utama Pelita Jaya Esia (PJE)?

Kelemahan kami sebagai tim tahun ini sebetulnya paling besar di mental para pemain. Sebelum manajemen baru masuk, kami bermain tanpa objektif yang kuat. Pada saat Ebos memilih untuk tidak melatih PJE lagi, kami sempat ditinggalkan beberapa bulan tanpa pelatih dan pada saat itu ada sedikit rasa bingung di antara para manajemen dan pemain. Saat ini pak Rastafari dan manajemen sedang membantu para pemain untuk membangun mental yang kuat dengan objektif yang lebih jelas. Mudah mudahan kedepannya kelemahan kami ini dapat teratasi.

Hal apa yang paling membuat PJE optimis menghadapi musim kompetisi 2010?

Pertama, kekompakan dari owner sampai ke player sudah terbentuk. Kedua, dengan masuknya saat ini dua pemain Kelly dan Komink (adminstrasi sedang diurus, tawaran sudah diberikan ke Bima Sakti, semoga semua lancar) kami optimis bisa memberikan yang terbaik. Tapi sekali lagi optimisme kami lebih besar karena jiwa kekeluargaan PJE yang semakin solid dengan tujuan bermain karena alasan sayang terhadap tim dan teman satu tim.

Tim mana saja yang akan menjadi tantangan utama bagi PJE di musim 2010? Mengapa?

Bagi kami semua tim adalah tantangan. Setiap tim memiliki kesempatan untuk menang. :)

Biasanya akan muncul pertanyaan ini dari pembaca, bagaimana caranya agar bisa bermain untuk PJE?

PJE Junior sedang dibentuk saat ini kami lagi merekrut pemain pemain basket dari tanah air. Bapak Ronald dengan senang hati akan menerima try-out setelah calon home base kami di Rasuna kuningan selesai direnovasi

Sejauh mana pengaruh masuk kembalinya Kelly ke skuad PJE terhadap kekuatan di 2010 nanti?

PJE mengharapkan Kelly bisa bermain seperti dulu saat dia di tim kami, tanpa rasa bingung atau persaingan di dalam tim tapi bermain lebih karena rasa sayang terhadap tim. Karena seluruh pemain PJE adalah sahabat lama Kelly dan persaingan di dalam tim adalah salah satu hal yang paling ingin kami hindari. Kami yakin dia akan memberikan pengaruh yang sangat besar bersama teman temannya di musin depan untuk PJE.

Jika nanti Ali Budimansyah melatih Kelly, menurut Ali, apa kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh Kelly?

Ali Budimansyah: 2 points field goal ok, assist bagus, dan Kelly sangat mampu membaca situasi pertandingan dan kemudian mengontrol pertandingan tersebut. Kekurangan dari Kelly: pengalamannya masih belum teruji, walaupun safety-nya sudah matang, tapi Kelly tembakan 3 points-nya masih perlu diasah. Overall Kelly akan sangat membantu PJE secara keseluruhan.

Sebagai kapten tim, bagaimana Andi Batam melihat tim PJE. Apa harapan Andi Batam terhadap setiap pemain PJE?

Andi Batam: PJE sekarang menurut gue tim yang potensional bisa menjadi tim finalis. Memang butuh kerja keras dan proses. Kalau harapan gue dari pemain, mereka harus mempunyai ambisi dan mental “Jangan Mau Kalah” buat bawa PJE jadi tim juara.

Sebuah tim akan lebih solid dengan fans yang fanatik, bagaimana strategi atau cara PJE merebut fans di dalam satu kota yang dihuni lebih dari 3 tim IBL ini (Jakarta)?

Sepertinya saat ini hanya Garuda Flexi yang mempunyai fans fanatik. untuk bersaing masalah fans sepertinya PJE akan butuh waktu; ditambah lagi fans saingan satu kota kami adalah Aspac Jakarta dan Satria Muda yang merupakan dua tim yang sangat kuat. Fans kami saat ini rata-rata penggemar bola basket zaman dulu, jadi untuk menarik hati penggemar basket di era sekarang spertinya akan jauh lebih sulit. strategi mungkin kita cukup mencoba bermain bagus dan fans mudah mudahan terkumpul dengan sendirinya.

Jika saya adalah fans fanatik PJE, bagaimana caranya agar bisa tetap berhubungan dengan tim ini?

www.pelitajayabasketball.com, kami sebagai admin siap mencoba menjawab keinginan fans. Minta support dari Mainbasket juga dong ya?

(Foto dari Richard “Insane”)

Kelly Purwanto dan Pelita Jaya Esia Jakarta Bidik Juara IBL 2010

Fix1

IBL 2010? Here Pelita Jaya Esia come!

Siapa yang tak kenal Kelly Purwanto? Pemain yang cukup dikenal lewat kepiawainanya memainkan si kulit bundar dengan berbagai trick dan style. Pemain eksentrik yang memiliki hampir 25 tato yang menghiasi tubuhnya. Yup, Kelly saat ini merupakan buah bibir hangat IBL [Indonesian Basketball League]. Mantan Point Guard Klub Garuda Flexi Bandung [yang saat ini sudah bergabung dengan Pelita Jaya Esia sejak bulan September 2009] ini dua hari yang lalu [Senin, 14 September 2009] resmi menjadi “Property of Pelita Jaya Esia Jakarta”.

Acara press conference yang sengaja diadakan oleh manajemen Pelita Jaya Esia ini berlangsung sangat fun dan penuh kehangatan. Acara yang berlangsung di Planet Hollywood Cafe memang sengaja di-set berbarengan dengan jam buka puasa. Makanan buffet untuk para wartawan cetak dan elektronik yang datang saat itu pun menjadi acara penutup press conference yang memang sengaja disiapkan oleh pihak manajemen [yang saat itu memang terlihat hampir semua hadir]. “Acara ini memang sengaja kami [pihak manajemen] buat untuk mendekatkan diri dan silahturahmi kepada teman-teman media, sekaligus memberitahukan kemabalinya Kelly si anak yang hilang dan beberapa perubahan yang akan kami buat di Tim Pelita Jaya Esia itu sendiri,” jelas Andiko Ardi Punomo, selaku Ketua Umum PB Pelita Jaya Esia.

Di waktu yang bersamaan pula, Pelita Jaya Esia juga menjelaskan tentang Ali Budimansyah yang telah mengambil masa pensiunnya sebagai pemain basket profesional dan bergabung dengan Coaching Staff Tim Pelita Jaya Esia. Ini semua dilakukan untuk mempertajam stategi permainan di kubu Pelita Jaya Esia. “Dengan adanya Kelly Purwanto diharapkan permainan di Klub ini pun menjadi semakin solid dan siap untuk mencapai target Juara yang telah ditetapkan untuk tahun 2010,” tambah Rastafari Horongbala, pelatih Pelita Jaya Esia.

Target, Juara IBL 2010! Tampak sulit? Kenapa tidak. Dengan squad, pelatih dan manajemen yang seperti sekarang, bukan sebuah ‘mimpi di siang bolong’ apabila Pelita Jaya Esia membuat target seperti itu. Lihat saja berbagai macam perubahan yang telah terjadi dan berbagai hal nyata yang telah diperlihatkan manajemen dalam hal membangun dinasti Pelita Jaya Esia seperti era 1990 & 1991 [saat tim Pelita Jaya berhasil menjadi juara Kobatama]. “Peringkat 5 [lima] yang kami capai di IBL 2009 merupakan target yang telah kami tentukan untuk tahun ini, namun kami tidak akan berpuas diri pada posisi tersebut sehingga kami melakukan berbagai pembenahan untuk mencapai target yang lebih baik untuk kompetisi 2010 mendatang,” ujar Ronald Simanjuntak selaku Manajer Klub Pelita Jaya Esia.

Hmmm, yakin dengan semua itu? Harus! Ada pepatah yang mengatakan bahwa “Perjalanan yang bermil-mil jauhnya dimulai dari selangkah” Dan Pelita Jaya Esia telah memulai langkah itu ..

regards,
-Insane-

contact me at insane_minusplus@yahoo.com

Azrul’s Insights: Paling Enjoy jika Tahan 3,5 Jam tanpa ke Toilet

Tulisan di bawah ini adalah tulisan (ke tiga) atau mungkin tepatnya catatan perjalanan Azrul Ananda, Wakil Direktur Jawa Pos dan Commissioner DetEksi Basketball League (DBL), ke Australia memenuhi undangan untuk mengikuti special program dari pemerintah Negeri Kanguru itu. Buat gw, catatan perjalanan ini lebih mirip sebuah insight karena walau seolah berisi narasi pengalaman jalan-jalan, ia juga dilengkapi pandangan-pandangan tersirat visi seputar kepedulian Azrul pada dunia basket terutama basket Indonesia bahkan kemajuan bangsa.

Azrul’s Insights akan terbagi menjadi menjadi beberapa tulisan yang akan gw terbitkan di hari-hari berbeda. Selamat membaca :D

AZRUL AUSTRALIA 09

(Azrul Ananda berpose di atas Sydney Harbour Bridge, saat berjalan menuju titik tertinggi jembatan. Sejak 1998, sudah lebih dari 2 juta orang menjalani tur BridgeClimb. (BridgeClimb))

Azrul Ananda, Sydney

SETELAH tiga hari di Darwin, Northern Territory, waktunya melanjutkan perjalanan ke kota lain. Tujuan: Sydney, New South Wales. Naik pesawat ke kota terbesar Australia itu menegaskan betapa terpisahnya Darwin dari ”keramaian”. Penerbangannya memakan waktu 4,5 jam!

Sebenarnya, saya bukan tipe yang suka kota-kota terbesar. Saya lebih menikmati mengunjungi tempat-tempat ”tenang”. Namun, ada banyak jadwal sudah menunggu di Sydney. Mulai mengunjungi grup media besar, bertemu dengan menteri olahraga (lagi), hingga diwawancarai saluran televisi Australia Network.

Sebelum menjalani rangkaian acara itu, saya diajak untuk menikmati salah satu tujuan wisata yang makin lama makin naik daun di Sydney: Mendaki Sydney Harbour Bridge.

BridgeClimb di Sydney bukanlah atraksi baru. Sudah tersedia sejak 1998. Total, lebih dari 2 juta orang diklaim pernah merasakan wisata itu.

Ide dasarnya sangat sederhana, tapi brilian: Paksa orang membayar ratusan dolar Australia, lalu ajak mereka mendaki jembatan ikon kota Sydney yang diresmikan pada 1932 tersebut. Proses mendakinya menyusuri lengkungan jembatan, hingga ke puncak tertinggi yang mencapai 134 meter.

Bagi yang tidak suka berjalan jauh (dan banyak orang Indonesia mungkin tidak suka berjalan terlalu jauh), program tersebut mungkin ”menyeramkan”. Dan, memang cukup melelahkan karena kita berjalan (termasuk mendaki dan memanjat tangga) lebih dari dua kilometer dalam waktu sekitar 3,5 jam.

Kalau suka berjalan jauh dan merasa kuat, itu benar-benar program menarik. Saya yakin, kalau dibandingkan dengan mendaki bukit atau gunung sungguhan, memanjat Sydney Harbour Bridge bukanlah apa-apa!

***

Entrepreneur Sydney, Paul Cave merupakan pencetus hadirnya BridgeClimb, perusahaan swasta pengelola wisata BridgeClimb. Pada 1989, dia diberi kesempatan mengorganisasi acara panjat internasional di sana. Kemudian, dia pun punya mimpi memberikan kesempatan kepada lebih banyak orang menikmatinya.

Sembilan tahun kemudian, lewat kengototan dan kerja keras, pada 1 Oktober 1998, impian itu menjadi kenyataan. Kabarnya, dia mendapatkan hak ”mengontrak” pengelolaan acara panjat selama 20 tahun dan harus membayar 3 juta dolar Australia per tahun.

Sekilas, 3 juta dolar merupakan angka fantastis. Namun, kalau dibandingkan dengan pemasukan yang dia dapat, itu merupakan angka kecil. Hebat!

Capek memanjat Sydney Harbour Bridge memang tidak murah. Pada dasarnya, setiap sepuluh menit ada jadwal memanjat. Setiap kelompok maksimal terdiri atas 14 peminat, dipandu seorang guide.

Harga beragam. Kalau siang, 198 dolar Australia per orang (satu dolar Australia sekitar Rp 8.500). Kalau malam, harganya 188 dolar. Yang mahal adalah paket Twilight (petang), mencapai 258 dolar per orang. Atau mau paket eksklusif Dawn (subuh), 295 dolar per orang.

Tiba di Sydney sekitar pukul 13.00, saya dan Broughton Robertson (wakil pemerintah Australia yang menemani saya selama kunjungan) bisa ikut rombongan Twilight pertama. ”Berangkat” pukul 15.25 dari pangkal jembatan di Cumberland Street, kawasan The Rocks.

Sebelum duduk di ruang tunggu, ada tulisan peringatan yang sangat-sangat penting. Bukan untuk keselamatan, melainkan peringatan bahwa begitu melewati pintu ruang tunggu tidak akan ada lagi kesempatan untuk mampir ke toilet (nanti dijelaskan mengapa ini sangat-sangat penting!).

Di ruang pertama, semua anggota rombongan dibrifing terlebih dahulu. Napas setiap anggota dites untuk memastikan tidak ada yang mengonsumsi alkohol berlebihan sebelum naik jembatan. Peserta juga diminta mengisi formulir, untuk keselamatan dan data diri.

Dari situ, peserta diminta untuk melepas semua aksesori. Jam tangan, cincin, kalung, dan anting yang terlalu besar. Kemudian, semua perlengkapan turis, seperti kamera dan telepon, harus dimasukkan ke loker. Untuk memastikan tidak ada barang terbawa, semua peserta harus melalui metal detector.

Lalu, peserta diberi baju overall ala balap, tapi dengan ritsleting di belakang (setelah memakai baju, ke toilet menjadi mission impossible!). Sabuk perlengkapan dipasangkan. Peralatan terpenting: Kabel yang bakal dikaitkan dengan railing jembatan selama pendakian. Kabel itu menjamin kita selalu ”bersama” jembatan, tak mungkin jatuh jauh ke bawah.

Berbagai aksesori itu harus dilepas karena bisa berbahaya ketika terlepas dan jatuh. Maklum, di bawah ada delapan jalur mobil berseliweran, plus dua jalur kereta. Plus, tanpa kamera, kita pun ”terpaksa” membeli ke BridgeClimb, menambah pemasukan perusahaan itu.

Perlengkapan lain adalah jaket ekstra (karena di atas sangat berangin dan dingin, khususnya menjelang malam), lampu yang diikatkan di kepala, earphone untuk mendengarkan penjelasan dan instruksi guide, plus opsi tambahan seperti topi dan sapu tangan (untuk bersin atau menangis haru).

Semua perlengkapan itu dikaitkan dengan pakaian overall sehingga tidak akan ada yang terlepas ketika di atas jembatan. Proses brifing sampai selesai memasang perlengkapan itu hampir satu jam.

***

Sehari, ratusan hingga ribuan orang menjalani tur tersebut. Saking banyaknya, ada 70 guide bertugas setiap hari, membawa rombongan yang jumlahnya maksimal 14 orang. Masing-masing guide mendaki dua hingga tiga kali sehari.

Ketika musim panas (akhir hingga awal tahun), jumlah guide melonjak hingga 100 orang atau lebih. Total peserta tur bisa lebih dari 1.500 orang sehingga tur itu beroperasi nyaris 24 jam. Ada yang larut malam, ada yang dini hari.

Guide yang membawa rombongan saya bernama Nick. Orangnya suka bercanda (kebanyakan mungkin begitu karena tugasnya memang untuk membahagiakan peserta yang membayar mahal).

Setelah semua peserta memasang perlengkapan, dia bilang untuk bersiap menjalani bagian paling berat. ”Bagian paling berat adalah keluar dari pintu ruangan ini, menyusuri jalanan kota Sydney sebelum mencapai kaki jembatan. Kita harus tahan malu karena kita akan berjalan berkelompok di pinggir jalan seperti pasukan Ghostbusters,” ucapnya disambut tawa.

Kami semua memang terlihat seperti anggota tim penangkap hantu di film zaman lama itu. Pakai overall abu-abu, dengan berbagai perlengkapan mengelilingi pinggang.

Sebelum menaiki tangga kaki jembatan, tersedia tempat minum. ”Tapi ingat, semua yang kita minum harus tetap berada di dalam badan sampai tur ini berakhir,” ingat Nick.

Proses mendaki tergolong biasa saja. Pertama, kita menyusuri catwalk yang berada di bawah jembatan. Lalu, naik tangga sempit satu per satu ke atas, sebelum mendaki bagian atas lengkungan utama jembatan. Sebentar-sebentar kami berhenti, mendengarkan penjelasan Nick tentang pemandangan sekeliling di Sydney Harbour. Termasuk tentang sejarah jembatan itu.

”Ketika jembatan ini dibangun, banyak orang heran. Sebab, ada jalur mobil begitu lebar. Padahal, pada 1932 itu, jumlah mobil hanya puluhan. Ini menunjukkan betapa desainer jembatan ini punya visi yang begitu hebat,” terang Nick.

Sebelum mencapai puncak, ada grup foto dulu, lalu foto satu per satu. Di bagian puncak (yang dipasangi dua bendera Australia), rombongan berhenti dulu untuk menikmati pemandangan sekaligus menunggu matahari terbenam. Hanya rombongan Twilight yang bisa menikmati pemandangan indah itu. Naik jembatan masih terang, turun jembatan gelap.

Bagi yang ingin pengalaman beda, ada pula paket Discovery Climb. Bedanya, sambil menuju puncak, paket yang kedua itu mengajak peserta menyusuri komponen-komponen dalam jembatan. Belajar tentang kehebatan desainnya.

Di puncak, Nick menjelaskan bahwa ada warna baru dalam beberapa waktu belakangan. Sekarang mulai banyak orang ingin menjalani proses pernikahan di puncak Sydney Harbour Bridge. ”Tidak semua lancar. Tiga bulan lalu, pasangan yang akan menikah itu kehilangan cincin. Jatuh ke bawah jembatan. Ini tidak bohong!” katanya.

***

Kunci menikmati BridgeClimb sebenarnya satu: Tahan tidak ke toilet selama 3,5 jam. Saya sendiri tergolong orang yang ”rajin” ke toilet. Jadi, ini bukan tur yang terlalu menyenangkan. Di saat semua orang menikmati matahari terbenam di puncak jembatan, saya sudah tak sabar segera turun. Dan, saya yakin tidak sendirian karena beberapa peserta yang lain juga goyang-goyang kaki dan terus bergerak di tempat.

Apesnya, dari puncak masih ada proses sekitar 45 menit lagi untuk turun, plus 15 menit ekstra untuk melepas segala perlengkapan.

Gara-gara itu, pengalaman terindah tur ini bagi saya ada dua: Mencapai puncak dan mengakhiri di toilet!

(bersambung)

Azrul’s Insight sebelumnya: Azrul’s Insights: Azrul’s Insights: Jualan Barbeque untuk Bantu Biaya Tim ke Surabaya

Substitusi Ceramah Taraweh dengan Main Basket :D (Buka Puasa Bareng Masa Depan Basketball)

Image024

Ada ketentuan berbusana untuk acara berbuka ini, “baju koko-hip hop”. Demikian tertulis pada poster acara buka akbar bersama Masa Depan Basketball hari Sabtu, 12 September kemarin. Kecuali gw yang sering tidak mematuhi ketentuan berbusana, anak-anak Masa Depan Basketball Bandung (yang punya hajat), Masa Depan Basketball Jakarta, Ballstar Indonesia, 8 PM, Double G, dan Future Basketball, semuanya berbusana atasan baju koko. Tetapi jangan harapkan bawahan atau celana padanan yang rapih, bawahan tetap berbau basket, dan tentunya sneakers atau sepatu basket. Sejenak gw berpikir, “it’s a cool style.

Gw skeptis, ngapain sih buka puasa dibarengi dengan main basket? Bukankah sebaiknya mendengarkan ceramah agama? Lebih bermanfaat?

Ketika gw sampai di Lapangan Basket Saparua sekitar pukul 5 sore, gw disambut ramah oleh anak-anak Masa Depan. “Halo bang, makasih bisa datang.” Gw lalu diberikan sebuah kartu pengenal dan pin lalu dipersilahkan menempati tempat yang telah mereka sediakan.

Anak-anak Masa Depan Basketball Bandung mengatur semua acara buka puasa ini. Mulai dari sebelum hari-H hingga kegiatan siap-siap di lokasi yang membuat mereka terlihat sangat sibuk. Para tetamu dan undangan yang sebagian besar adalah anak-anak basket juga mulai berdatangan dan disambut dengan sangat ramah oleh anak-anak Masa Depan. Mereka bahkan menyediakan satu kain putih sepanjang sekitar tiga meter untuk ditulisi apapun; tanda tangan, ucapan selamat, pesan moral, dll.

Saat adzan Maghrib berkumandang, semua yang datang disuguhi sup buah dan kolak pisang. Shalat Maghrib didirikan di Masjid Kologdam di Jalan Aceh yang berjarak sekitar 100 meter dari Lapangan Saparua. Usai Shalat Maghrib, nasi kotak menunggu :D

3

Acara dilanjutkan dengan three point contest dan pertandingan persahabatan antara Masa Depan Basketball Bandung melawan Masa Depan Basketball Jakarta. Postur Jakarta lebih besar, namun semangat gw rasa tak ada yang berbeda. Disaksikan lebih dari 100 penonton, pertandingan yang bersamaan dengan waktu Shalat Taraweh ini berjalan seru. Jakarta menang (skornya gw lupa..hehe).

Gw kembali membayangkan skeptisisme gw di awal tadi, bukankah ceramah taraweh lebih baik daripada main basket? Hmm, mungkin ada benarnya. Tetapi kemudian gw membayangkan lagi, jika dalam sebuah ceramah taraweh dalam waktu bersamaan gw mendapatkan sebuah petuah mengenai pentingnya rasa kekeluargaan, gotong-royong, mempererat silaturahmi, toleransi, pentingnya menjaga kesehatan jasmani dan rohani, memperkuat rasa persahabatan, atau mungkin patuh kepada orang tua, atau bahkan memberi makan orang yang berpuasa, maka apa yang dilakukan oleh yang hadir saat itu sudah bukan lagi berada dalam tataran mendengarkan ceramah atau petuah. Mereka sedang mengaplikasikannya :D Alhamdulillah, wallahu’alam (hanya Allah yang mampu memberi penialaian terbaik).

Usai pertandingan persahabatan antara Masa Depan Basketball Bandung melawan Jakarta, masih ada pertandingan antara Future Basketball melawan Masa Depan All-Star. Saat itu gw agak dongkol a.k.a. sebal, fasilitas publik tempat menyatukan anak muda kreatif seperti lapangan dan GOR Saparua tidak punya toilet yang layak. Ada sih sebenarnya, dulu mungkin layak, tapi saat itu tidak terlintas untuk pipis di situ. Gw kebelet, pamit, dan pulang.

“Dalam satu kata, bagaimana acara ini menurut lu bro?” tanya Richard Insane.

Great.” :D