Selamat Tahun Baru 2009. Bersyukurlah Kita Tidak Tinggal di Jalur Gaza!

Standar

84141703

Boro-boro mikirin main basket atau merayakan tahun baru, yang ada sungguh tak terbayangkan!

Kadang kala terpikir, untuk apa main basket atau hidup jika sebagian orang masih harus menghadapi kenyataan yang tak terbayangkan terkecuali kita mengalaminya sendiri. Bersyukurlah kita masih bisa main karena sebagian yang lain nggak bisa.

Semoga apa yang kita mainkan dan lakukan berguna buat diri kita sendiri dan juga orang lain dalam hal yang positif tentunya. Selamat tahun baru 2009. Rayakan dengan cara biasa-biasa saja..

Belajar Main Basket dari: Hanamichi Sakuragi

Standar

hanamichi_sakuragi_of_shohoku_by_dutdrew1

Sakuragi who? Hanamichi Sakuragi adalah tokoh fiksi protagonis dalam serial komik manga “Slam Dunk” karya Takehiko Inoue. Komik ini bercerita seputar dunia main basket anak SMA di Jepang. Komiknya laris manis bak gorengan. 100 juta lebih komik terjual hanya di Jepang saja. Tahun 1997 menjadi komik terbaik di Jepang.

Sakuragi awalnya adalah seorang pemain dengan skill biasa saja dan emosi yang sangat meluap-luap. Di awal pertandingan-pertandingan resminya tiada satu pun pertandingan yang dilewati tanpa fouled out! Seiring barjalannya seri pertandingan, skill bermain basket dan emosi Sakuragi pun mulai membaik. Sakuragi mulai memperbaiki kelemahan-kelemahan mendasarnya dalam main basket. Lewat bimbingan Akagi, Sakuragi pelan-pelan menjadi seorang rebounder yang menakutkan. Mengingatkan kita pada Dennis Rodman. Coach Anzai juga melatih keahlian menembak Sakuragi dengan memaksanya berlatih menembak sebanyak 20.000 kali tembakan per minggu!

Sakuragi adalah sosok yang pantang menyerah, baik di dalam maupun di luar lapangan. Cintanya pada Haruko dan persaingannya dengan Rukawa membawanya semakin serius dalam mendalami dan semakin mencintai dunia basket. Bagi yang ingin mengenal Hanamichi Sakuragi lebih jauh, silahkan baca komik yang membuat anak-anak Jepang keranjingan untuk main basket, Slam Dunk. Great comic/manga!

Yang menarik sebenarnya, bagaimana orang Jepang menumbuhkan semangat dan kecintaan atas sesuatu yang bukan berasal dari kebudayaannya sendiri namun bernilai sangat baik bagi masyarakat, anak muda bahkan bangsanya. Ingat kapten Tsubasa? Seorang tokoh sepak bola rekaan yang komiknya lahir di tahun 1981. 20 tahun kemudian, pelan namun pasti Jepang menjadi negara yang disegani di kancah sepak bola dunia. Padahal dulu nggak ada apa-apanya. Bukan nggak mungkin Hanamichi Sakuragi pun akan membawa pengaruh yang sama bagi Jepang dalam hal main basket!

sakuragi1

Sakuragi pas gondrong

sakuragi21

Sakuragi pas cepak

Indonesian Basketball League (IBL) Butuh Berubah

Standar

image020

Kemarin kita baru melewati hari besar untuk umat Nasrani. Selamat Natal ya bagi teman-teman yang merayakan. Natal, Idul Fitri, Nyepi, Waisak, Imlek, dan hari besar agama lainnya datang hanya satu kali setahun. Satu hari di mana para penganut yang merayakannya menyambutnya dengan suka cita. Kalau setiap orang menyambutnya dengan suka cita, mengapa hanya dirayakan 1 kali setahun? kenapa nggak ditambah aja? Selain aturannya memang begitu, kalau terlalu sering, ntar malah membosankan dan kehilangan makna.

Nah sekarang kita ngomongin IBL, setelah dipikir-pikir, perhelatan liga basket nasional ini menghampiri setiap kota (yang punya tim basket IBL) tidak pernah lebih dari seminggu dalam setahun! What the hack?!! Padahal setiap IBL, misalnya di Surabaya atau di Bandung, hadir, penontonnya selalu membludak! IBL adalah sesuatu yang dinanti-nantikan.

IBLĀ  harus lebih dekat dengan para fansnya. Setiap tim kota harus lebih akrab dengan para suporternya. Kedekatan tidak harus berlangsung saat digelar acara formal (kompetisi reguler) tapi juga dalam kegiatan-kegiatan informal.

NBA punya NBA Goes to School, NBA Cares, dll di mana setiap tim melakukan kegiatan-kegiatan non-formal dengan masyarakat kota yang diwakilinya. Tidak jarang malah setiap pemain melakukan kegiatan sendiri untuk lebih mendekatkan diri dengan pendukungnya. Steve Nash (Phoenix Suns) atau Stephon Marbury (Knicks) sering mengadakan kompetisi atas nama mereka untuk anak-anak sekolah.

IBL seharusnya juga punya kayak begituan. IBL Cares, IBL Goes to School, atau kompetisi basket antar SMA atau SMP memperebutkan piala Garuda Bandung atau piala Citra Satria di Pontianak, dll. IBL kudu lebih dekat dengan fansnya. Tak kenal maka tak sayang. Saat Garuda bertanding di GOR C-Tra Arena, penontonnya membludak. Tapi sebatas nonton dan mendukung. Belum seperti penonton tim NBA yang rela bersusah payah dari rumah membuat spanduk dukungan, mengecat muka, membawa embel-embel dukungan dll. Bahkan bukan hal yang aneh banyak fans yang mentato tubuhnya dengan gambar tim NBA. Bagaimana ini bisa terjadi? Ini karena mereka (tim NBA) dekat dengan fans dan warga kotanya sehingga warga kotanya pun kenal dan sayang dengan tim tersebut.

IBL kudu berubah. IBL suatu saat akan ke sana. Gw yakin!

House of Pain, Jump Around

Standar

A one hit wonder. Dalam 100 one hit wonder paling populer yang dikeluarkan oleh VH1 pada tahun 2002 Jump Around menempati urutan ke 63. Pada saat kemunculannya, lagu ini menempati urutan ke-3 di tangga lagu Amerika Serikat. ke-6 di Irlandia, dan ke-8 di Inggris.

The rap is cool, the video is hot. But what best is Erik Schrody a.k.a. Everlast, the frontman of House of Pain in this video is wearing the jersey of Larry Bird. Nice pick Erik!

1212417384_7840

Belajar Main Basket dari: Lawrence Joseph Bird a.k.a. Larry Bird

Standar

POD008649004

Lupakan gaya fashion keren di luar lapangan. Nggak perlu juga punya gaya slam dunk atau crossover yang indah. Yang penting adalah efektifitas permainan.

Bird adalah tipe pemain pekerja keras dengan konsistensi tingkat tinggi. Ia mencetak skor bagi timnya, seorang pembagi bola, tukang rebound, pemain bertahan, dan tidak egois. Komplit. Bird melatih tembakannya ratusan kali perhari. Ia bahkan melatih tembakan 3 angka sambil merem!

Pernah sebelum pertandingan, Bird mendatangi tim lawan yang sedang berkumpul lalu bilang ke mereka “tim kalian akan kalah dan gw akan cetak 40 poin.” dan Bird kemudian benar-benar melakukan itu. Menerjang jumpalitan menyelemati bola hingga ke kursi penonton atau meja juri adalah hal biasa untuk Bird.

Suatu Saat Ironi Ini Akan Berakhir, Racun Mensponsori Basket

Standar

logoamildvertikal1

Racun? Kalian boleh tidak setuju dengan pernyataan gw. Tapi menurut gw, rokok adalah racun. “Wah lu nuduh sembarangan.” Nggak kok, orang si rokoknya ngaku sendiri. Lihat saja peringatan yang selalu menempel pada bungkus rokok atau peringatan yang menyertai iklan rokok “Merokok dapat menyebabkan kangker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin.” Dengan kata lain, “Merokok adalah meracuni”.

Tapi inilah salah satu ironi paling besar di negeri ini. Ajang olah raga disponsori oleh produk rokok. Memang sih produsen rokok duitnya kenceng banget, namun seharusnya pula panitia atau induk organisasi basket menyadari hal ini. Setiap nonton basket (IBL atau Streetball) rasanya selalu diingatkan untuk hidup sehat dengan rutin berolah-raga, rutin bermain basket, sekaligus ada suara sepoi-sepoi “ayo hisap racun ini.” dari spanduk dan umbul-umbul bahkan atmosfir di sekitar tempat penyelenggaraan.

“Ah masalah itu sih udah klasik mas.” Aha, gw ngerti karena opini ini gw angkat di sini hanya untuk menegaskan bahwa gw juga pernah memikirkan hal yang sama, bahwa perusahaan rokok mendukung olah raga khususnya main basket adalah sesuatu yang keliru. Solusinya? Jangan minta disponsori oleh perusahaan rokok. Gampang kan? Hahaha.

Entah ini salah satu efek langsung atau tidak dari fenomena ini, seringkali setelah selesai bermain basket bersama teman-teman, bukannya menenggak air, minuman atau makanan penambah energi, beberapa orang teman malah merokok. Sinting!!

Mahaputri Juara Liga Kobanita 2008

Standar

n573291389_1071645_10361(Thanks again to Naniek Gomez for these girls’ sweet photo :))

Tulisan di bawah ini gw sadur plek-plek dari Kompas (thank u Kompas). Setidaknya jadi tahu perkembangan perbasketan cewek Indonesia :)

JAKARTA,MINGGU – Mahaputri Britama Jakarta, Minggu (21/12), di GOR Soemantri Brojonegoro, Jakarta, menjuarai turnamen basket Liga Kobanita 2008. Mereka menghancurkan Rajawali Sakti Master Mild Surabaya 82-47 pada final.

Patrick Gosal, pelatih Mahaputri, memuji penampilan pemainnya. “Mereka bekerja sangat keras,” ujarnya. Ia kian gembira karena gelar juara kali ini merupakan gelar juara ketujuh kalinya bagi Mahaputri.

Mahaputri tampil dominan dalam duel final. Mereka langsung tidak terbendung dengan mengantongi 30 poin pada kuarter pertama, sedangkan Rajawali hanya menghasilkan 10 angka.

Pada kuarter kedua, Mahaputri terjebak dalam ritme permainan Rajawali yang lambat. “Saya melakukan rotasi. Pemain justru ikut ritme lawan, ” ujar Patrick.

Selama kuarter kedua, Mahaputri mencetak 10 angka. Rajawali lebih unggul dengan 16 poin. “Perubahan yang kami lakukan membuahkan hasil. Fast break kami menuai hasil memuaskan,” jelas pelatih Rajawali Ferry Setiawan.

Mahaputri bangkit pada kuarter ketiga. Dua pemain mereka, Marina dan Wulan Ayu Ningrum, tampil mengesankan. Penetrasi Marina kerap tidak terbendung. Berkali-kali layup yang dilakukannya membuahkan poin. Mahaputri membukukan 21 poin pada kuarter ketiga, sedangkan Rajawali hanya menghasilkan sembilan angka.

Usaha keras center Rajawali Lili Pande Seilia Senduk untuk memotori rekan-rekannya membongkar pertahanan Mahaputri tidak membuahkan hasil berarti. Pada kuarter keempat, mereka menuai 12 poin dan Mahaputri lagi-lagi mencetak 21 poin.

Marina tampil paling produktif dengan 23 poin. Wulan mencetak total 22 poin. Nelly Markus Sapan dari Rajawali membukukan 11 poin, sedangkan Senduk menghasilkan 10 poin.

Merah Putih Jakarta menempati urutan ketiga setalah menghajar Scorpio Jakarta 69-61 pada perebutan posisi ketiga Liga Kobanita 2008.
Tomy Trinugroho A